SNOW FLOWER

SNOW FLOWER
XUAN YU ZHAN


❄️ SNOW FLOWER❄️


EPISODE 81


Di kuil Dewi Bunga ...


Feng Huang menghela napasnya, keadaan istana yang akhir-akhir ini makin tidak stabil membuatnya pening. Ia mulai mengeluh.


"Apa kau tahu Tian Lan punya adik perempuan?" tanya Feng Huang. Dia merasa ada yang tidak beres.


"Kau tahu dari mana?" Liliang malah bertanya kembali, Ia terkejut Feng Huang tahu sejauh itu.


Liliang terdiam sejenak, melihat ekspresi wajah Feng Huang ia membalasnya agar tak menggali informasi tentang Da Ziran lebih jauh.


"Tian Lan memang punya adik perempuan, nama aslinya Tian Ling"


"Tidak banyak yang tahu nama aslinya, yang semua orang tahu dia adalah Da Ziran"


"Dia adalah tunangan putra mahkota kerajaan langit, calon putri mahkota" lanjutnya menjelaskan.


Feng Huang terdiam, ia masih ragu apa benar yang Liliang katakan. Secara tak langsung Liliang meyakinkan dirinya bahwa Da Ziran dan Tian Lan adalah orang yang berbeda.


"Jadi benar, lalu kenapa Selir Kehormatan Rong mengatakan kepadaku bahwa Da Ziran adalah Tian Lan"


" Da Ziran adalah Tian Lan? atau aku yang salah tangkap?" pikirnya, ia tidak sadar jika Liliang tengah membaca pikirannya.


Feng Huang terdiam cukup lama, ia terlelap dalam pikirannya sendiri. Liliang beranjak dari tempatnya berdiri dan duduk tak jauh dari tempat mereka berdua berada.


"Haruskah aku menemuinya?" gumam Liliang.


Ia menepis pikirannya itu, "Nanti saja, Cih lihatlah pria itu!"


"Sampai sekarang ia seperti orang linglung yang di permainkan Tian Lan"


"Benar-benar pria yang bodoh!"


Di sisi lain, Yun Fei ...


Wanita itu baru saja keluar dari istana dingin. Nasibnya benar-benar sial ia harus kembali merenungkan kembali perbuatannya di kamar yang gelap itu.


"Tian Lan!"


"Aku benar-benar meremehkanmu, bahkan setelah kematianmu kau masih menjadi batu sandunganku," Wanita itu begitu geram, ia mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangannya.


Angin berhembus kencang, membanting daun jendela kamar itu. Yun Fei memandang jauh ke luar jendela. Tubuhnya kini menggigil, ia bangun dari duduknya dengan tertatih dan tangannya meraih daun jendela.


Ia merasakan hawa dingin di sekitarnya, bulu kuduknya merinding. Ia sekilas melihat kebelakang. Tak berlangsung lama wanita itu berpaling menatap kearah bulan.


"Yun Fei," Suara yang begitu menggerikan itu berhasil membuat Yun Fei ketakutan. Ia ragu-ragu menengok kebelakang, tempat dimana sumber suara berasal.


Terdengar suara yang begitu menggerikan, seperti seorang wanita yang tengah tertawa. Suara itu makin jelas dan keras seolah mendekat kearahnya. Yun Fei mematung, ia mulai berpikir yang tidak-tidak.


"Siapa kau?" Nada bicaranya gemetaran, Yun Fei memutuskan memejamkan matanya.


_________________________________


Di atas atap tak bagian barat istana dingin ...


"Aaaaaaaaaaaaaaa!"


Senyum seringai menghiasi wajah Tian Lan, ia beralih memandang jauh keatas. Wajahnya yang terpapar sinar bulan begitu indah. Selendangnya tersibak saat angin berhembus. Matanya mulai terpejam, pikirannya seolah terbawa semilirnya angin


"Kupikir kau akan tertawa sangat keras hingga perutmu kesakitan," sahut seorang yang baru datang.


Tian Lan membuka pelupuk matanya, ia memandang Yun Fei dari balik jendela kamarnya. Wanita itu jatuh tersungkur, raut wajah linglung dan juga tak luput rasa takut kini menyelimutinya.


"Ini belum apa-apa, kita lihat saja ... sejauh mana ia bisa bertahan!" Tian Lan menyipitkan matanya, seringainya makin kentara.


Liliang melihat sosok Yun Fei, ia memasang ekspresi wajah yang tidak bisa di jelaskan. Ia beralih menatap punggung Tian Lan, senyum samarnya menghiasi tatapan matanya yang teduh.


"Aiyaaa, lihatlah!"


"Kau bodoh atau bagaimana? Jika aku punya kesempatan untuk balas dendam kenapa aku sia-siakan begitu saja" balasnya mengumpat. Ia berbalik memandang rendah Liliang.


"Feng Hui mengundangku untuk peringatan kematianku sendiri, lelucon macam apa ini," Tian Lan terkekeh.


Liliang terdiam sejenak, ia menatap wajah Tian Lan. Maju selangkah mendekatkan wajahnya kearah Tian Lan. Tian Lan menengadahkan wajahnya menatap Liliang. Ia sedikit mendongak.


"Sepertinya kau sudah tahu," pungkasnya, Liliang menatap wajah Tian Lan dengan tampang datarnya.


"Apa?" Tian Lan, wanita itu dibuat bingung oleh Liliang. "Tahu? tentang apa?" tanyanya lagi. ia mengerenyitkan alisnya.


"Lu Bing San"


Tian Lan terdiam, entah apa sebabnya. Wanita itu menjauhkan diri dari Liliang tak sadar dirinya sudah di ujung atap. Hampir saja ia jatuh. Liliang menariknya ke dekapannya.


"Apa dia Xuan Yu Zhan?" tanya Liliang, melihat ekspresi wajah Tian Lan Liliang makin yakin apa yang ia pikirkan memang benar.


Tian Lan masih terdiam. Ia melepaskan diri dari dekapan Liliang. Dan berpaling dari pria itu.


"Kau sudah tahu? Apa kau sudah lama menyadarinya?" tanyanya. Wanita itu bahkan tak menoleh saat bertanya.


Liliang menghela napas, ia lagi-lagi menyunggingkan senyum yang teduh. "Walau dia tidak memiliki kekuatan, auranya masih sama,"


"Mungkin mudah menyembunyikan dari manusia, tidak bagi dewa"


Tian Lan terkekeh, ia berbalik sembari menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Liliang, lagi-lagi pria itu melayangkan tatapan mata yang aneh.


"Kau jauh lebih baik sekarang."


"Sudah lama sejak kali terakhir kau tertawa seperti ini, aku berharap kau terus seperti ini"


Liliang tersadar, Tian Lan mendekatkan wajahnya kearahnya. Dan berkata dengan tampang datarnya. "Entah itu mitos atau fakta. Menurut legenda malam seindah yang membuatnya."


"Tampang Dewa Malam memang seindah bulan purnama, pffft ..." Tian Lan menahan tawanya. Ia menarik napas dalam-dalam dan melanjutkan kata-katanya. "Selain wajahmu tak ada yang spesial darimu"


"Lihatlah rambutmu! hati-hati mungkin saja nanti ada yang mengira dirimu kakek-kakek"


Liliang mengerenyitkan alisnya, ia mulai gusar. "Jangan mencoba mengalihkan pembicaraan!"


"Feng Ling, putranya kan?"


Tian Lan lagi-lagi hanya diam. Raut wajahnya berubah teduh. Liliang memijat pelipisnya, ia terlalu gegabah menanyakan hal semacam ini kepada Tian Lan.


"Ma ... " Permintaan maaf Liliang terpotong, Tian Lan menatap mata pria itu dan menyela pembicaraan. "Kau benar, Ling putranya dan Feng Huang"


"Sedangkan aku ... hanyalah wanita yang melahirkan dan membesarkannya, dia tidak ada hubungan darah denganku," jelasnya.


"Aku baru sadar, saat dia masuk ke istana


"Jadi aku membuatnya tinggal disini sebagai selir Feng Huang, ia berlagak seolah tak dekat denganku atau Feng Ling tapi aku tahu dia sangat menyayangi Feng Ling," lanjutnya. Ia menundukkan kepalanya.


Liliang menepuk pundak Tian Lan, mengelus puncak kepalanya dan menenangkannya. Terakhir kali, ia tak bisa melindungi darah dagingnya sendiri.


Miris sekali, ia bertaruh nyawa saat melahirkan anak hasil hubungan suaminya dengan wanita lain. Tapi dirinya tak bisa melakukan hal yang sama kepada calon bayinya.


________________________________


Keduanya menatap bulan dari atap, membiarkan tubuhnya di terpa semilirnya angin malam yang dingin. Liliang memalingkan wajahnya menatap wajah Tian Lan lalu berpaling lagi.


Mereka menghabiskan malam bersama, meminum arak dan memandang indahnya bulan bersama.


BERSAMBUNG ...


...~❄️我爱你❄️~...