
❄️ SNOW FLOWER❄️
EPISODE 44
Sekembalinya dari halaman kuil Dewi bunga ...
Sudah begitu lamanya waktu berjalan, entah kenapa sekarang ia tak begitu ingin melihat keadaan kaisar, seolah-olah hatinya berubah.
'Apa ini perasaan yang sama, yang Lan rasakan?'
Ia masih terpikirkan oleh perkataan yang Liliang ucapkan sebelum meninggalkan halaman kuil.Apa maksud dari perkataannya itu?
'Jiwaku telah melekat pada raga permaisuri Lan?'
'Apa artinya aku tidak akan bisa kembali lagi?'
Wanita itu mulai bingung sendiri, ia memijat pelipisnya dengan kencang.Dan menghela napas beratnya.Biji matanya kini menatap ke arah langit yang luas, iya ... sekarang tujuannya adalah untuk balas dendam, dan target utamanya untuk sekarang ini adalah 'Selir Kehormatan Yun!'
Wanita itu bangun dari duduknya, ia mulai jenuh dan mulai melangkahkan kakinya tanpa tujuan yang jelas, mungkin ia sedang ingin melepaskan beban yang membuat pikirannya bekerja keras.Sekedar jalan-jalan mungkin bisa melepaskan kejenuhannya untuk sementara waktu.
Ia berjalan cukup lama, pandangannya melayang ke segala arah, tak sadar jika kedua pelayan pribadinya mengikuti langkah kakinya.Lama wanita itu berjalan hingga tak sadar memasuki kawasan para selir, pemandangan di sana cukup memanjakan mata, walau tak seindah pemandangan di istananya. Pemandangan baru mungkin membuat merasa takjub untuk pertama kalinya.
Di atas air bunga lotus mengambang, ikan yang berenang berirama juga bebek-bebek yang berenang pula di kolam yang sama.Para selir tampak berkumpul di sebuah gazebo dekat kolam, salah seorang selir yang memberi makan ikan yang berlalu lalang di genangan air yang ada di dekatnya.Ia melihat lurus ke arah wanita berjubah peach dengan kombinasi warna merah yang begitu memanjakan setiap mata yang memandang.
Penampakan datangnya permaisuri ini begitu memanjakan mata, bahkan pemandangan di sekitarnya seolah makin menonjolkan pesonanya.Selir yang tadinya begitu asyiknya memberi makan ikan itu ... kini melayangkan pandangannya ke arah sesosok wanita cantik yang ada di hadapannya.
"Kudengar permaisuri jatuh sakit!" tukas seorang selir bergelar resmi itu.
Selir itu adalah salah seorang putri menteri, ia begitu di sanjung karena bisa langsung menyandang gelar tinggi tak lama setelah di angkat menjadi selir kekaisaran.
"Beliau kan sakit-sakitan, wajar saja!" jawab yang lain.
"Jika begitu, sepertinya pengaruhnya akan semakin berkurang, dan selir Kehormatan Yun lambat laun pasti akan menggantikan posisinya sebagai permaisuri!" lanjut selir tersebut
Mendengar apa yang lainnya bicarakan mata selir tersebut terbelalak, ia lantas menarik lengan baju seorang wanita yang duduk bersebelahan dengannya.
"Isshh, ada apa?" tanyanya seolah kesal, pembicaraannya terpotong karna itu.
Wanita itu melirik dengan ekor matanya, dan yang lain ikut mengarahkan pandangannya ke arah yang sama, alangkah kagetnya mereka.
Permaisuri dengan senyum seringainya berjalan menuju kerumunan wanita tersebut, semua orang lantas berlutut di hadapannya.Seolah memohon ampunan, seringai yang tertaut di wajah permaisuri mereka anggap sebagai peringatan.Dengan tubuhnya yang agak gemetar, mereka memberi salamnya kepada sang ibu negara yang tengah berdiri di hadapannya.
"Ada apa?, apa aku mengganggu pembicaraan kalian yang begitu hangat ini?" tanyanya seolah mempermainkan, ia begitu senang membuat para bawahannya itu ketakutan.
"Siapa namanya dan apa marganya?" tanya permaisuri kepada Hong Lian, ia bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari selir itu.
Hong Lian sekilas membungkuk lalu menjawab"Menjawab Yang Mulia, beliau adalah putri bungsu dari menteri Yu, Yu Meiyan!"
Mendengar penjelasan itu permaisuri dengan seringai yang masih saja tertaut lengket di wajahnya semakin memandang rendah wanita itu, ia berjalan melewatinya dan duduk serta memakan camilan dari piring yang sama dengan yang tadi para selir itu makan.
"Oh, menteri Yu ya ...," singkatnya.
Selir Yu sekilas menelan ludahnya dalam sekali tegukan, ia mulai merinding"Sejak kapan permaisuri bisa menekan orang dengan auranya, dia seperti seorang yang berbeda dari sebelumnya" pikirnya.
Suasana menjadi hening seketika, hingga lirih suara merdu permaisuri memecahkan keheningan kala itu.Selir Yu mulai berdalih.
"Kau bilang apa tadi?, aiiyaa, apa pendengaranku mulai memburuk?" wanita itu sengaja memancing amarah para selir namun agaknya, para selir itu hanya diam tak berkutik, mereka masih duduk tersungkur di hadapannya.
Suara mereka seolah menghilang, mulut mereka juga terkunci rapat.Permaisuri mengambil secangkir teh yang ada di meja tengah, ia hendak meminumnya namun ... PYAAARRRR, dalam sekali hentakan ia membanting cangkir itu di atas meja.Teh yang tertadah di dalam cangkir itu mengalir hingga mengenai tangan para selir yang terpaku di lantai kayu.
"Upssss, maaf aku lupa ini adalah teh bekasmu, maafkan atas ketidaksopananku!" lanjut permaisuri yang makin membuat para selir itu merinding.
Permaisuri itu berniat memancing amarah para selir hingga membuat mereka menunjukkan wajah aslinya, namun ... siapa sangka mereka malah membisu di hadapannya, mereka dengan raut wajah penuh penyesalan menundukkan kepalanya dan menatap lantai kayu dan juga punggung tangannya yang masih terpaku dan gemetar.
"Kenapa kalian membisu?, apa kalian berani mendiamkan diriku dan tak menyapa ataupun berbincang denganku?"
"Huh, lancang sekali!" lanjut permaisuri menekan nada bicaranya.
Sontak saja para selir mendongakkan kepalanya, ia tatap wajah masam permaisuri dengan wajah bersalah mereka, sedangkan di mata permaisuri, bukan wajah bersalah yang mereka suguhkan kepadanya namun ... permohonan ampun agar ia tak mempermasalahkan tentang mereka yang membicarakan hal buruk tentangnya di belakangnya lebih dalam lagi.
Lagi-lagi wanita itu menghela napas panjang untuk kesekian kalinya, ia memijat pelipisnya dan membuka telapak tangannya serta mengayunkannya ke atas bawah berulang kali, memberi isyarat kepada para selir itu untuk bangkit.
Tanpa berkata panjang lebar lagi, mereka lekas bangun dari posisinya menangkupkan kedua telapak tangannya dan sedikit membungkuk.Mereka mulai membuka suaranya.
"Ampun Yang Mulia!, hamba tidak ikut-ikut, selir Yu yang memulai topik ini!" kata seorang selir yang lain.
Permaisuri hanya diam, ia menyilangkan kakinya dan menyipitkan matanya pula, menatap tajam ke arah selir Yu yang masih saja gemetaran.
"Aku ingat wajahmu ini, lain kali mungkin aku tidak akan mengampuni dirimu lagi, kali ini anggap sebagai peringatan!" lanjut permaisuri bangun dan beranjak melewati para selir tersebut.
Sesaat langkahnya terhenti, tanpa berbalik ia berkata"Yang tertawa di akhir adalah pemenangnya, jika kau memandang rendah lawanmu maka bersiaplah untuk kalah!"
Dengan raut wajah penuh kemenangan, permaisuri berjalan meninggalkan para selir tersebut di ikuti oleh Hong Lian juga Nu Shen yang ikut senang dengan pertunjukan yang barusan mereka saksikan.
BERSAMBUNG ...
...~❄️我爱你❄️~...