
❄️SNOW FLOWER ❄️
EPISODE 36
Mereka menikmati malam yang sepi ini dengan berbincang, tertawa bersama dan minum teh bersama pula.Angin malam berhembus kencang menerpa jendela kamar permaisuri, sinar bulan mulai memancar masuk dari jendela.Begitu jauh ia memandang ke arah bulan yang bulat sempurna.Kerlip bintang-bintang yang menambah pesona gemerlap malam itu, begitu memanjakan mata.
"Kau tidak makan berapa hari, makin hari kau makin kurusan" ujar sang kaisar melingkari pergelangan tangan permaisuri dengan jarinya.
Permaisuri memutar bola matanya, menghela napas panjangnya.Sembari menarik tangannya kembali ia menjawab"Aku ....?" tanyanya merudungkan telunjuknya ke arah wajahnya.
Kaisar mendengus, ia dari dulunya memang gadis yang konyol.Kaisar memetak pelan kepala permaisuri.Senyum nakalnya mulai tersungging melihat permaisurinya yang mulai gusar.
"Kalau mukul yang feminim sedik...." kata-kata permaisuri menggantung, ia teringat akan sesuatu.
"Apa?" tanya kaisar penasaran.
Permaisuri memutar otak dengan cepat, tak lama setelah terbesit topik pengalihan ia langsung membuka suaranya kembali.
"Aku baru saja mendengar kabar baik, katanya selir kehormatan Rong hamil?" tanya permaisuri mengalihkan topik pembicaraan.
Raut wajah kaisar berubah seketika, raut wajahnya tampak masam.Ia sekilas melirik ke arah permaisuri, ia lihatnya tatapan permaisuri yang tampak biasa saja, tanda tak ada keganjalan di hatinya.
"Huh hampir keceplosan, ini zaman apa, kok gak pikir-pikir dulu sih kalo ngomong, kebiasaan ini mulut ceplas-ceplos" batinnya.
Permaisuri mengusap-usap dadanya lega.Tak menyadari sepasang mata kaisar yang tengah memperhatikan gerak-geriknya.Permaisuri mengalihkan pandangannya kembali ke arah kaisar ia mendapatinya diam tak bergeming menatap dirinya dengan tatapan sayunya, permaisuri mengerang pelan, keraguan mulai menyelimuti dirinya.
"Bukankah seharusnya kau menemaninya di kala seperti ini?" tanya permaisuri duduk di pangkuan kaisar.
"Badannya seperti tak berbobot, begitu ringan" pikir sang kaisar merangkum pipi permaisurinya.
Ia mengangkat alisnya, menatap dalam-dalam ke arah kaisar, wajah polosnya memenuhi pandangannya.
"Phoenix!" permaisuri menggeramkan nada bicaranya, melihat sang kaisar tak meresponnya.
Kaisar terpaku, ia balasnya tatapan mata yang permaisuri berikan, tatapannya begitu lekat.Ia tak menemukan celah dalam matanya.
"Aku ingin menemanimu malam ini, aku sudah bertanya kepada Rong, ia tak keberatan" tukasnya.
Permaisuri mengusap-usap dagunnya, menimbang pikirannya seraya bertanya"Kalau begitu, bisakah besok kita mengunjunginya?"
Kaisar sekilas tersenyum, senyuman canggung tersungging di wajahnya.Ia berpikir sejak kapan hubungan mereka begitu akrab?, bukankah selir kehormatan Rong sendiri jarang sekali berbaur dengan para selir yang lain, permaisuri menatap wajah kaisar yang menurutnya semakin aneh saja, apa yang tengah ia pikirkan?.
"Kau ingin seorang bayi laki-laki atau perempuan?" tanya permaisuri, suaranya memecahkan keheningan kala itu.
Permaisuri terheran-heran melihat tingkah laku kaisar yang tidak biasa.Dengan senyum canggungnya ia berkata"Kalau dia punya seorang putri, pasti akan secantik ibundanya"
"Terlebih banyaknya pangeran di istana penitipan, kau bahkan belum memiliki seorang putri sekalipun" ejek permaisuri, ia bangun dari pangkuan kaisar namun ....
Sebuah tangan menarik pergelangan tangan permaisuri dan menariknya kembali ke pangkuannya.Dengan senyum nakalnya yang tertampang jelas di bibirnya, seolah ide konyol telah terbesit di pikirannya.Ia mendengus pelan, mendekatkan bibirnya ke telinga permaisuri dan berbisik"Jika kau hamil, aku akan memohon kepada dewa, agar di berikan seorang putri yang mirip denganmu, tak boleh ada selisih perbedaan sekalipun!" selekas setelah kaisar menyelesaikan perkataannya, ia menggigit telinga permaisuri yang sudah memerah bak buah plum.
Ia tepuknya dada bidang milik sang kaisar pelan, lagi-lagi ia menghela napasnya, melihat tingkah laku kaisar yang membuatnya jengkel.
"Jangan terlalu berharap kepadaku, apa kau percaya bahwa aku tidak memiliki keraguan terhadapmu, kau harus tau walau sekecil apapun aku masih meragukanmu!" permaisuri bangun dari pangkuan kaisar untuk sekian kalinya, ia berjalan ke arah beranda.
Ia raihnya tirai putih yang terbang di terpa angin malam.Ia sisihkan selagi ia menatap ke arah langit yang gemerlap.Lagi, ia lagi-lagi menghela napasnya seolah menghela napas adalah kebiasaan yang sudah begitu sering ia lakukan, atau mungkin suasana hatinya sangat mudah berubah-ubah.
"Aku bahkan tidak mengingat sepotong memori apapun, tidakkah kau berpikir terlalu mudah untukku percaya kepadamu?"
Kaisar diam seribu bahasa, ia tercengang mendengar pernyataan permaisuri yang tak pernah ia duga.Ia melewatkan sesuatu yang begitu besar.Ia tak habis pikir, namun ia lebih tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar dari mulut permaisuri.Lama ia membisu, begitu pula permaisuri, ia tak lagi berkata-kata.Suasana menjadi sangat hening, canggung dan sepi.Bibir mereka sama-sama terkatup rapat, tak ada yang berniat untuk memecah keheningan di antaranya.
Cukup lama mereka membisu.Permaisuri menoleh ke belakang ia lihatnya raut wajah kaisar yang begitu sendu.Ia tak bisa berdalih bahwa memang, ada perasaan yang aneh, dan perasaan itu terasa nyata, membuat tekadnya untuk tak terlalu terlibat lebih dalam lagi kehidupannya dengan permaisuri Lan, karena ia tahu sendiri, peri buah phoenix telah lama pergi.Mengingat itu membuat hatinya tersayat.Tanpa ia sadari air mata yang telah terbendung di sudut matanya merintik.Hatinya begitu terisak, ia berpikir untuk sesaat, sebentar saja ia ingin bahagia walau ia tahu kebenaran bahwa kebahagiaan yang ia rasakan bukan tertuju kepadanya.
Permaisuri begitu terisak, namun tak bersuara.Serasa ada yang menyayat hatinya ratusan kali.Ia diam tak bergeming.Rasa sakit mulai ia rasakan di sekujur tubuhnya.Rasa sakit itu merasuk hingga ke tulang membuatnya tak lagi kuat menompang tubuh keringnya itu.Kakinya gemetar sesaat hingga hampir terjatuh.Ia bersandar di dinding berusaha menompang tubuhnya yang hampir saja roboh dengan kekuatannya yang tersisa.
Kaisar yang melihatnya, langsung saja menghampirinya, menggendongnya dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.Ia menggosok-gosokkan tangannya di antaranya sela-sela jari permaisuri, menghangatkan tangannya yang serasa telah membeku.Ia hendak berteriak, memanggil siapapun yang ada di sekitar kamar tidur permaisuri.Namun permaisuri lagi-lagi menghentikan niatan sang
kaisar itu.
"Tidak, tidak perlu!"
"Tetaplah di sini" pintanya.
"Tapi ...." kata kaisar menggantung di sela langsung oleh permaisuri"Tetaplah bersamaku, denganmu aku tak perlu apapun lagi!"
Dengan berat hati, kaisar mengiyakan permintaan sang permaisuri.Ia duduk di bibir ranjang membenahi selimut permaisuri dan membuka pakaiannya, ia telanjang dada tidur di sisinya, mendekapnya erat di tubuhnya yang hangat.Permaisuri membenamkan wajahnya di dada bidang milik sang kaisar, entah kenapa itu membuatnya begitu nyaman, ia meliriknya ia lihatnya raut wajah kaisar yang begitu sayu.Timbul rasa bersalah di hati permaisuri, seharusnya sekarang ia tengah bersama menikmati secangkir teh di iringi dengan canda tawa, bukan malah dengan kecanggungan yang ia rasakan saat ini.
"Maaf, aku terlalu egois"
"Lain kali aku akan menebusnya, kau benar seharusnya aku tidak terlalu bersedih akan hal ini" permaisuri melanjutkan kata-katanya.
Kaisar tertegun, sekaligus terharu.Ia pelukannya permaisurinya itu lebih erat lagi.Ia takkan membiarkan peri buahnya itu melewati malam dingin ini sendirian .....
BERSAMBUNG .....
...~❄️我爱你❄️~...