SNOW FLOWER

SNOW FLOWER
PELELANGAN


❄️ SNOW FLOWER ❄️


EPISODE 75


Tian Ling mengerenyitkan dahinya, kegusaran mulai menyelimuti ekspresinya yang masam. "Kenapa mukamu masam sekali?" tanya Xuan Yu. Ia memasang tampang wajahnya seolah tak kaget dengan apa yang terjadi kepada Tian Ling.


"Kenapa kau bertanya jika sudah tahu? Mau mengejekku?" tanyanya balik. Wajahnya makin masam saja.


Xuan Yu memijat pelipisnya. Ia heran dengan sikap wanita yang ada dihadapannya itu. Sekilas jika hanya melihat keduanya mungkin semua orang mengira bahwa mereka mengalami masalah yang biasa dialami pasangan.


"Aku terkadang berpikir, bagaimana cara idi*t itu naik tahta menjadi kaisar langit. Sekilas orang pasti tahu kalau dia bodoh!" umpatnya. dia berpaling dan melipat tangannya.


"Anak ini benar-benar ... Haizzz!" balas Xuan Yu. pria itu lagi-lagi menghela napasnya untuk kesekian kalinya.


"Bagaimanapun dia calon ayah mertuamu! setidaknya tunjukkan bahwa kau menghormatinya sebagai kaisar langit walau saat di depan umum saja," pinta Xuan Yu.


Xuan Yu memasang tampang wajahnya yang benar-benar tak bisa di ungkapkan. Raut wajahnya seperti orang yang tengah kebingungan sekaligus tak puas.


Dia melirik ke punggung Tian Ling. Wanita itu berpaling darinya dan memunggunginya. "Aku begitu heran, apa bagusnya balok es itu hingga kedua saudaraku yang tak tau diri itu menyukainya!" cetusnya. Pria itu kini menggerutu hal yang tak jelas.


Tian Ling mengerenyitkan alisnya ia makin dibuat kesal ketika Xuan Yu mengatakan 'Balok es' Ia tahu jelas bahwa yang dia sebut sebagai 'Balok es' adalah Tian Lan, Kakaknya.


"Bolehkah aku menyampaikan ini kepadanya (Tian Lan) Aku takut jika kau akan babak belur dibuatnya," jelas Tian Ling. Secara tak langsung wanita itu mengancam Xuan Yu.


_____________________________________________


Di pelelangan kuangwu ...


Tao berjalan beriringan dengan majikannya. Wanita bercadar yang tak jauh di sisinya itu tampak tenang dengan seuntai benang merah di tangannya.


"Ck, kenapa aku malah membeli barang tak berguna ini!" cetusnya. Dia melemparkan untaian benang merah ditangannya ke arah Tao.


"Orang tua itu tidak ingin menerima uang Anda dengan percuma. Hamba pikir ini juga tidak ada salahnya kan," jelas Tao yang ikut berpendapat.


Tian Lan terdiam, ia kini menyapukan pandangannya menatap ke arah sekitar. Ini kali pertama dirinya menghadiri pelelangan. Biasanya ia akan mengutus seseorang untuk mewakilinya membeli barang lelang.


Di depan pintu masuk, seorang pria menghadang keduanya. Ia sekilas melihat pakaian yang Tian Lan dan Tao kenakan. Tampak sangat kalau dia berasal dari keluarga berlatar belakang tak mampu.


"Maaf Anda tidak bisa masuk! Silahkan kembali!" pintanya dengan sopan.


Tian Lan tak menggubris perkataan pria itu, ia langsung menerobos masuk tanpa peduli dengan keadaan sekitarnya, ataupun orang-orang yang memperhatikan dirinya.


"Tolong hentikan wanita itu!" teriaknya.


Tian Lan tetap berjalan di jalannya, ia seolah tak mendengar apapun dan terus melangkahkan kakinya masuk ke aula tempat pelelangan berlangsung.


Seorang pria dari belakang menarik paksa lengan baju Tian Lan dan ... SRAKKKK


Seluruh tubuhnya kini mengeluarkan cahaya yang begitu menyilaukan pandangan semua orang. Dalam sekejap kini tubuh terbalut pakaian yang begitu indah. Permata biru menjuntai sepanjang lingkar pinggangnya.


"Cari mati!" lirihnya. Nada bicaranya terdengar begitu menyeramkan.


Tubuh pria itu kaku. Hawa dingin mulai menyeruak, pria itu kini bahkan tak sanggup menggerakkan seujung jarinya. STRIIIIING, BRUKKKKK


Tian Lan menghunuskan pedang esnya. Tubuh pria itu roboh tak lama setelah Tian Lan mencabut pedangnya. Pemandangan yang membuat bulu kuduk orang berdiri.


Sekarang semua orang tahu jelas identitasnya. Dengan cadarnya yang menjuntai, Tian Lan kembali melangkahi orang yang sudah siap menghalangi jalannya didepannya.


Semua penjaga itu lantas berlutut di sepanjang tepi karpet yang mengarahkan jalan ke aula utama tempat pelelangan. "Tunggu apalagi, singkirkan mayatnya sebelum Dewi terusik karena bau darah ini!"


Tian Lan dengan tampang dinginnya berjalan menuju tempat pelanggan istimewa di lantai 2 sesuai dengan arahan dari penjaga di sana.


"Aku tidak menyangka bisa bertemu Dewi Da Ziran yang konon menguasai 7 elemen itu!"


"Jadi ini wujud aslinya. Benar-benar seorang wanita yang begitu cantik"


"Rumor itu benar, kalau dia wanita berdarah dingin yang kejam"


"Hus, diamlah jika masih ingin hidup!"


Banyak dari mereka bertanya-tanya maksud kedatangannya Tian Lan. Ia memang memiliki julukan 'Da Ziran' karena memiliki semua elemen alam termasuk elemen surgawi yang begitu langkah.


"Dulu kau tak sekejam ini. Aku akui menempatkan dunia ini dibawah kakimu itu mudah bagimu jika kau memang mau!"


"Dewi, tadi hamba melihat Pangeran Ming di pintu masuk."


Ia diam melihat wajah Tian Lan yang masih memasang tampang wajah dinginnya. Ia juga sadar Tian Lan tidak pernah peduli dengan urusan orang lain ataupun pendapat orang lain tentangnya.


"Anda melepas cadar?" tanya Tao melihat majikannya melepaskan sampul pita cadarnya. Tian Lan hanya mengibas-ngibaskan tangannya tanda ia kepanasan.


Wanita itu tak menjawab dengan omongan melainkan langsung dari tindakannya. "Pangeran Hui dari Kerajaan Dinasti Tang juga hadir, Hamba takut Beliau melihat Anda, Yang Mulia."


"Jadi tolong kenakan kembali cadar Anda!" pinta Tao dengan sopan. Ia juga sekilas membungkukkan badannya saat bicara.


"Lantas? Toh dia sudah melihat jasadku dengan mata kepalanya sendiri. Palingan dia pikir aku hanyalah seorang yang mirip dengan Tian Lan," jelasnya tak mau tahu.


Tian Lan menyeruput tehnya, Ia bersikap acuh tak acuh. Jasad dirinya yang sudah dikremasi itu menurutnya sudah cukup membungkam mulut siapapun yang mengira dirinya masih hidup.


Dirinya yang sekarang dikenal sebagai 'Da Ziran' Dewi dengan 7 elemen. Sedangkan dirinya yang dulu bukanlah apa-apa di bandingkan dengan identitasnya yang sebenarnya sebagai Dewi dari alam bunga. Da Ziran.


BERSAMBUNG ...


...~❄️我爱你❄️~...