SNOW FLOWER

SNOW FLOWER
BURUNG BIRU


Di kamar tidur Tian Lan ...


Wanita itu membanting tubuhnya di atas kasur, ia menyapukan pandangannya kearah langit-langit kamarnya. Seringai mulai tertaut di bibirnya, Tao yang melihatnya hanya bisa menggeleng dan terkekeh pelan.


Di sisi lain ...


Yumei berlutut memberikan salamnya kepada Feng Huang, pria itu menyuruhnya bangkit dan menegakkan kepalanya dihadapannya.


Feng Huang tersenyum teduh, ia lantas menyuruh Ye Yin mengumumkan titahnya.


Ye Yin maju selangkah di depan Feng Huang, membuka gulungan kertas yang ada di tangannya membentangkannya dan membacanya dengan keras.


Semua selir yang ada di sana berlutut untuk mendengarkan titah sang kaisar. "Sepertinya dia akan naik pangkat" cetus salah seorang selir.


Benar saja, tak lama setelah selir itu menggerutu Ye Yin mengatakan dengan lantangnya, "Duo Yumei, selir kekaisaran Dinasti Tang dengan pangkat selir tingkat 5"


"Karena memiliki perangai yang baik dan juga dengan penuh pertimbangan, Yang Mulia kaisar mengangkatmu menjadi selir resmi kekaisaran," Ye Yin menyunggingkan senyumannya kepada Yumei, wanita itu hanya bisa diam tercengang.


Ini seperti mendapatkan sesuatu tanpa berusaha, dirinya masuk ke istana sebagai dayang dengan bantuan sang kakak. Kini ia masuk ke harem sebagai selir berkedudukan tinggi karena kasih sayang permaisuri.


Wanita itu benar-benar beruntung, itulah yang dikatakan semua orang. Tidak, baginya itu bukanlah hal yang perlu dibanggakan.


Ia mau menjadi selir Feng Huang hanya karena desakan Yuque yang berambisi untuk mempersulit dirinya bahkan membunuhnya. Kematian, hal seperti itu sangatlah wajar terjadi dalam persaingan di harem kaisar.


Yumei terdiam cukup lama, tak sadar semua orang tengah melihat tingkahnya yang aneh. Suara berat Feng Huang membuyarkan pikiran wanita itu.


"Yumei?"


Yumei segera menundukkan kepalanya sembari membalasnya. "Iya, Yang Mulia," balasnya, raut wajahnya tampak gelisah.


Sebelum Feng Huang mengatakan sepatah katapun, seorang wanita menyelanya. Siapa ... ? Semua orang bertanya - tanya.


"Uh, tontonan yang begitu membosankan" umpatnya, wanita itu bermaksud mengatai Feng Huang bahwa dirinya begitu narsis jika beranggapan Yumei senang akan kenaikan pangkat yang ia berikan.


Semua orang bertanya - tanya darimana asal suara itu dan siapa yang begitu beraninya menyela omongan sang kaisar.


"Ziran ... " Nada bicara Feng Huang terdengar lembut, ia menyunggingkan senyumannya melihat kebelakang dan mendongak. Ia melihatnya.


Tian Lan dengan mata terpejam, selendangnya tersibak semilirnya angin. Pemandangan yang tidak asing bagi Feng Huang.


Ia seperti melihat sosok Tian Lan, Tian Lan yang dulu sering menyusup keluar masuk istana. Ia melihatnya lagi setelah sekian lamanya.


"Anginnya sangat sejuk ya" Tian Lan tak menoleh atau membuka pelupuk matanya. Ia tak peduli jika seisi istana melihatnya dengan tatapan canggung.


Ia menekuk kakinya dan melanjutkan menikmati angin yang ia buat. Jika ia berkata angin di paviliun selir sejuk saat ini, ya ... pasti. Siapa yang akan menyangka jika itu adalah angin buatannya.


"Turunlah!" pinta Feng Huang, nada bicaranya terdengar lembut. Hal ini membuat Tian Lan berpikir apa yang membuatnya seperti itu.


Tian Lan membenahi posisinya, ia duduk di dahan pohon yang ia tiduri tadinya. Dengan tatapan malas ia menjawab. "Atas dasar apa aku harus menuruti kemauanmu?" balasnya dengan santainya.


Semua orang hanya diam tak terkecuali Feng Huang, lama ia terdiam Feng Huang berkata. "Karena aku adalah keturunan burung phoenix. Jadi walaupun kau adalah dewi bumi sekalipun kau harus tunduk pada langit" lanjutnya tak mau kalah. Senyum kemenangan tertaut sudah di bibir pria itu.


Tian Lan mengangkat bahu mungilnya, seraya berkata dengan tampang polosnya. "Aku keturunan Dewi Bunga dan burung biru yang agung, kupikir kekuasaan langit ada dalam genggamanku," balasnya berterus terang. Ia lalu turun dari pohon itu.


Dia adalah keturunan burung biru yang agung. Bahkan burung phoenix pun memberi hormat kepadanya. Memiliki kemampuan bisa menghidupkan orang mati, Namun sayang sekali. Darah burung biru di dalam tubuh Tian Lan tidaklah murni. Sebagian ia mewarisi darah ibundanya.


Sedangkan Tian Ling, walau dia sama-sama keturunan burung biru. Hampir seluruh kekuatannya mewarisi dari Dewi Bunga, walau tak seutuhnya. Ia masih jauh dari Tian Lan, kakaknya.


Alasan kenapa Dewi Bunga bersikap tegas kepada Tian Lan adalah, karena dia akan menjadi penerus bangsa langit. Keturunan langsung dari dewa langit.


Burung biru terakhir adalah ayahnya dan ibunya adalah Dewi Bunga. Hal itu tentu membuat sang Dewi resah. Ia takut Tian Lan akan hancur karena kesombongan dan perangainya yang buruk.


Feng Huang tercengang, begitu juga yang lainnya. Burung biru adalah burung dewa yang kini tak di ketahui garis keturunannya. Sudah sejak seribu tahun sejak hilangnya burung tersebut. Sampai kini tak diketahui keberadaannya.


"Kau ... memiliki darah burung biru?" tanya Feng Huang ragu-ragu.


Ia terlelap dalam pikirannya sendiri, Berarti permaisurinya juga keturunan langsung burung biru. Itu yang ia pikirkan.


"Kekuatanku di segel hanya karena aku tak cukup mampu mengendalikan api phoenix. Dan satu-satunya cara agar nyawaku tak terancam saat menggunakan kekuatan ini adalah dengan menggunakan darah burung biru."


Tian Lan tersenyum sinis, mengetahui ini ...


Akankah Feng Huang tak berambisi mendapatkan darah burung biru yang ia miliki?


"Lupakan, aku tidak akan bisa!" Feng Huang menyakinkan diri untuk tidak bertindak lebih jauh.


Tian Lan berjalan mendekat ke arah Feng Huang, Ia mendekatkan wajahnya kearah pria itu lalu berkata dengan lirih. "Yang kau incar ada di hadapanmu, kau tinggal memutuskan."


"Kuharap kau bisa menjadi lawan terberatku suatu saat nanti," imbuhnya dengan seringai yang tertaut di wajahnya.


Tian Lan menarik wajahnya menjauh, ia berjalan melewati Feng Huang dan berhenti di depan Yumei. "Gadis kecil yang malang, kuharap kau tidak terlalu menyiksanya di atas ranjang nanti malam," Tian Lan terkekeh, ia membelai lembut ujung rambut Yumei.


Wajah Yumei bersemu merah, suasana menjadi begitu canggung setelah hal itu terucap dari bibir mungil Tian Lan.


Feng Huang mengerutkan keningnya, ia geram dengan ocehan Tian Lan yang pada dasarnya hanyalah sebuah candaan.


"Aku bukanlah pria seperti itu!" ucapnya geram, tangannya mengepal erat.


Tian Lan tertawa begitu keras, di luar dugaan. Tian Lan menyatakan bahwa dirinya hanya asal bicara saja.


"Lantas, toh aku hanya asal bicara" jawab Tian Lan enteng.


Feng Huang yang masih berkerut kening menimpalinya dengan tegas. "Tetap saja, atas dasar apa kau berpendapat atas apapun yang aku lakukan?"


"Atas dasar apa? Aku membencimu ... dan itu adalah alasan yang begitu jelas" Tian Lan berambisi membalas Feng Huang dengan mulut tajamnya.


"Dan kenapa juga kau meyakinkanku bahwa kau bukan pria yang bernafsu kepada selirmu? Ayolah meniduri selir sendiri tidak ada salahnya kan."


"Jadi, jika aku salah paham atau tak suka jika kau meniduri selirmu aku akan terlihat aneh."


"Jadi jangan membebani diri sendiri untuk meyakinkanku karena aku bukan Tian Lan" lanjutnya, ia pergi begitu saja setelah berbicara panjang lebar.


BERSAMBUNG ...


...~❄️我爱你❄️~...