SNOW FLOWER

SNOW FLOWER
MENJALANI HUKUMAN


❄️ SNOW FLOWER❄️


EPISODE 65


Feng Hui tersenyum teduh, sudah hampir sebulan ia di kurung di dalam istananya sendiri. Ia bertanya-tanya, 'Bagaimana keadaannya. 'Apa dia sudah makan?'


Pria itu berpikir banyak, kini pada akhirnya ia hanya bisa menghela napas dari balik sekat kamarnya yang tertutup rapat. Ironisnya wanita itu kini harus menghabiskan hari-harinya di istana dingin sedangkan dirinya ... Ia hanya di kurung di dalam istananya sendiri. Ia masih bisa makan makanan yang layak sedangkan Tian Lan. Jangan tanya seperti apa makanan di istana dingin. Mungkin saja makanan sisa atau juga. Bisa saja makanan yang tak layak untuk dimakan.


Di sisi lain, Feng Huang. Pria itu kini menghabiskan lebih banyak waktunya dari biasanya. Jika bukan mengunjungi permaisurinya kemana pria itu pergi?


Ya pastinya dia akan pergi ke tempat selir-selirnya yang sudah lama menganggur. Lama sejak kali terakhir ia mengunjungi tempat selirnya. Sedangkan Tian Lan, wanita itu hanya bisa meratapi nasibnya yang kini berada di istana dingin walau dirinya tak sampai di asingkan.


"Permaisuri, pelayan Anda datang mengirim makanan dari dapur istana!" sahut seorang dayang dari balik pintu. Wanita itu agaknya mogok makan selama ini, bisa dilihat dari perawakannya yang makin kering saja.


Ia mendengkur di atas terpal rotan dan hampir menutupi seluruh tubuhnya setelah itu. Wanita itu tak menghiraukan apapun yang ada di balik pintu kamar sempit yang ia tempati sekarang. Dia mengunci pintunya dari dalam tak ingin siapapun melihat kondisinya yang seperti sekarang ini.


"Pergi!" lama ia terdiam hal itulah yang pertamakali terucap dari bibirnya yang mungil. Ia membenamkan wajahnya di terpal rotan yang kini menjadi alas kamarnya.


Malam harinya ...


Terdengar ketokan pintu dari luar. Suaranya terdengar lirih dengan getaran yang khas, Suara wanita itu agaknya sampai di telinga Tian Lan walau begitu lirih. Pendengarannya yang tajam itu patut di puji.


"Yang Mulia!" sahut wanita yang tak lain dayang istananya sendiri. Tian Lan tetap tak meresponnya. "Ck," Tian Lan berdecak kesal. Ia menyembunyikan wajahnya dari balik selimut.


"Yang Mulia, Hamba tahu suasana hati Anda tidak begitu baik, tapi ... Hong Lian punya informasi yang harus ia sampaikan secara langsung kepada Anda.


"Hamba akan mengantarkan Yang Mulia kepadanya. Itu juga bila Anda berkenan," lanjutnya menjelaskan. Ia tak lagi berbasa-basi.


Lama dayang itu menunggu, ia tak kunjung mendapat sahutan apapun dari balik pintu tempat ia berada. Angin yang begitu kencang itu membuat dayang itu menggigil, ia hampir saja kehabisan kesabaran.


KRIEEET ...


Tian Lan muncul dari balik pintu, wajahnya begitu pucat, tubuhnya semakin kurus saja. Tatapan matanya sayu. Dengan bibirnya yang kering ia berkata "Antar aku!" singkatnya, ia diam setelah itu.


Dalam kesunyian, tetesan air mengiringi langkah kakinya yang jenjang. Keduanya sekarang berada di samping istana dingin. Seorang wanita berjubah hitam mengenakan tudung yang menyamarkan rupa wajahnya. Tian Lan sekilas menatapnya dengan tampang wajahnya yang meragukan.


"Ap ..."


BYUUURRRRR ...


Keesokan paginya ...


Semilir angin dingin masih berhembus menerpa rambut panjangnya yang masih tergerai. Feng Huang berdiri tegak merentangkan tangannya, membiarkan beberapa pasang tangan memakaikan pakaiannya. Hari masih begitu pagi. Bahkan matahari belum naik dengan sempurna.


Feng Huang termenung begitu lama, ia duduk sendirian di gazebo yang letaknya tak jauh dari istananya. Ia berpikir, apa keputusannya kali terakhir itu benar, ia pikir dirinya begitu berlebihan. Setelah waktu yang cukup lama, pria itu membuang semua bebannya, ia berpikir untuk mengunjungi permaisurinya yang mendekam di balik dinding istana dingin dan mengeluarkannya dari tempat itu.


Mengingat Tian Lan yang dulu begitu takutnya dengan kegelapan membuat hatinya sedikit luluh, sepertinya begitu berat baginya jika membiarkan wanita itu menjalani hari-harinya seperti itu. Ia bangun, lalu berjalan menuju ke halaman depan istananya.


Di sisi lain, di istana dingin ...


Kamar tempat dimana Tian Lan mendekam begitu ramai, Mungkin para dayang yang ada di sana berkumpul di sana. Pintu kamar yang akhir-akhir ini selalu tertutup rapat sekarang terbuka lebar. Tampaklah Tian Lan yang terbaring di atas kasur lantai putih seperti seorang putri tidur. Bibirnya yang memucat, kulitnya begitu putih seperti mayat.


"Kenapa kalian diam, cepat panggilkan tabib!" titah Hong Lian yang hampir kehilangan kesabarannya melihat tak ada seorangpun yang terperanjat dari tempatnya untuk mencari bantuan.


Tak lama setelah itu. Qi Shua, wanita paruh baya yang terakhir kali menyelamatkan nyawa Tian Lan ada di dalam kerumunan dayang tersebut. Entah kapan ia datang, tak ada satupun dari mereka yang tahu. Wanita itu seolah bisa muncul dan menghilang dalam sekejap. Hong Lian yang menyadari kehadirannya lantas menghampiri wanita paruh baya tersebut dan meminta bantuannya.


Sedangkan Tian Lan wanita itu mengalami pendarahan yang hebat. Qi Shua menatap wajah seorang permaisuri yang begitu sayu ia terlihat seperti mayat hidup. Entah sudah berapa lama wanita itu berada di dalam air.


"Semua orang yang tak bersangkutan harap keluar!" titah Qi Shua, tatapan mata wanita paruh baya tersebut kiranya membuat semua orang merinding hanya dalam sekali tatap.


Pintu tertutup rapat, kini semua orang berhamburan entah kemana. Ada yang berdiri bersandar pada tiang-tiang dan dinding kamar. Apa juga yang duduk di anak tangga yang jumlahnya tak mencapai jumlah kelopak bunga. Ada juga yang masih berdiri kokoh tak beranjak, mereka semua merasakan perasaan yang sama yaitu 'Takut'


Jika kaisar tahu bagaimana?


Kini mereka hanya memikirkan bagaimana cara mereka untuk menjelaskan semua ini kepada ibu suri ataupun kaisar. Walau ia sekarang tengah menjalani hukumannya, mereka tak bisa memungkiri bahwa wanita ini adalah kesayangan ibu suri dan tak luput wanita yang begitu dicintai oleh sang kaisar.


Ibu suri diam karena berpikir ini sudah kelewatan. Ia tak mengatakan banyak hal yang menentang keputusan anaknya.


Tak lama, rombongan kaisar sampai di depan istana. Kasim yang berjaga begitu paniknya menyambut kedatangan sang kaisar. Feng Huang tanpa melihat ke arah sekitar, langsung saja berjalan menuju kamar tempat dimana istrinya terkurung selama ini dengan langkah kaki yang cepat.


"Yang Mulia kaisar tiba!" penyambutan itu sukses membuat semua orang tersadar. Mereka langsung berdiri, berbaris di sejajar pintu masuk kamar permaisuri mereka.


BERSAMBUNG ...


...~❄️我爱你❄️~...