
❄️ SNOW FLOWER❄️
EPISODE 61
Di tengah hutan bambu istana timur, Suasana di sekitar begitu sepinya. Liliang duduk di kursi bambu di seberang tempat dimana Tian Lan duduk bersila. Matanya terpejam, Kedua tangannya yang terkatup di depan dadanya. Ia tengah bersemedi.
Bersama semilirnya angin, seorang gadis terbang menaiki pedang sebagai tempat injakan kakinya yang kurus nan putih itu. Gadis itu mendarat turun tepat di hadapan seorang Master Liliang. Liliang sekilas membungkuk memberi hormat, dan kini kedua pasang mata itu mengedarkan pandangannya kearah Tian Lan yang matanya masih tertutup rapat.
"Apa yang membuat Anda datang kemari?" tanya Liliang mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu. Tian Ling, siapa yang tidak mengenalnya di alam atas. Dialah calon permaisuri langit yang di angkat langsung oleh kaisar langit sendiri.
Namun dibalik semua itu, ia berubah menjadi sosok yang begitu asing Dimata semua orang karena wataknya yang berubah drastis. Ia sudah beribu-ribu tahun mengurung diri di dalam gua. Dan kini ia menampakkan dirinya untuk pertama kalinya.
"Kau masih bertanya? Ya tentu melihat kondisi kakakku!" Tian Ling memandang remeh Liliang yang membuang waktunya bertanya hal yang tak perlu lagi di pertanyakan.
Tian Ling menatap wajah kakaknya itu dengan tatapan teduh. Ini pertama kalinya sejak beribu tahun sejak kepergiannya. Liliang kini membungkuk, menunjukkan jalan ke arah gazebo dekat kolam ikan di sisi lain hutan bambu tersebut. Keduanya berbincang dengan serius.
"Apa dia mengingat sesuatu?" tanyanya seolah tak sabaran.
Tian Ling agaknya tak bisa menahan diri untuk bertemu dengan sang kakak, mendengar berita bahwa kakaknya itu mulai teringat akan masa lalunya walau hanya sekecil putik bunga, ia begitu senang.
Setelah mereka berbincang cukup lama, mereka kembali ke tempat dimana Tian Lan bersemedi. Sesampainya di sana ... alangkah terkejutnya mereka mendapati Tian Lan tak ada di sana. Di tempat yang sama sehelai kelopak bunga lotus biru mencuri perhatiannya. Ia ambilnya dan baliknya kelopak bunga itu.
......Aku kembali ke istana......
...Menunggumu terlalu lama itu sangat membosankan...
......Bisa-bisa seisi istana panik mencariku ......
...kalau aku tak kunjung kembali...
......Dan juga, jangan sembarangan membaca pikiranku.......
......Itu privasi!......
Liliang tersenyum samar, bahasa macam apa itu?
Ia tak menggubrisnya lagi. Memikirkan bahasa orang yang telah menjalani kehidupan di masa depan begitu sulit.
Permaisuri melangkahkan kakinya menuju kamar tidurnya. Ia bersiap untuk tidur mengingat hari menjelang malam. Ia melihat keluar jendela, cahaya jingga yang begitu indah menghiasi cakrawala. Malam mulai merambat menggantikan sore yang berangin ini.
Musim dingin akan segera datang. Ia teringat lagu yang biasa ia nyanyikan di kehidupan kali terakhir sebagai Amyra.
"Angin mulai berhembus, aku bisa merasakan. Musim dingin akan segera datang. Melanda kota ini, dipenuhi kebahagiaan," ia menyanyikan potongan lagu itu, kata-kata yang terdengar dengan indah yang terucap dari bibirnya.
Salju sudah turun dari tadi, walau tak sederas rintikan air hujan. Itu cukup menyejukkan mata yang memandang. Kini angin membawa hawa dingin, Salju yang turun hampir menutupi halaman tempat ia menyapukan pandangannya saat ini.
Di balik tirai, sepasang tangan hangat meraih pinggang mungilnya dan menguncinya dalam sekali cengkraman. Tian Lan terkesiap, ia menatap wajah Feng Huang dengan tampang bingung. "Apa yang kau lihat dari balik jendela? Apa kau tidak takut kedinginan?"
"Lepaskan aku dulu!" Tian Lan mendorong pelan dada bidang suaminya itu. Respon tangannya yang kurus itu tak memberikan dampak apapun. Ia akhirnya diam dalam kurun waktu yang cukup lama.
"Kenapa malah diam?" goda Feng Huang. Pria itu mengangkat alisnya yang membuat raut wajah istrinya makin kecut saja.
Feng Huang memutuskan melepaskan pelukannya yang membuat keduanya berdiri terkunci cukup lama. Kini Tian Lan langsung beranjak menjauh darinya. Berada di dekat pria itu membuat instingnya sebagai seorang wanita terancam.
Ia melangkah ke kamar mandi, air panas sudah di siapkan sedari tadi. Hong Lian sengaja menyiapkan air panas bukan air hangat. Karena ia tahu junjungannya itu akan menghabiskan waktu yang cukup lama untuk memandang keindahan di luar jendela kamarnya itu.
"Bagaimana kalau kita mandi bersama?" goda Feng Huang yang membuat pipi istrinya itu bersemu merah.
Tanpa berpikir Tian Lan langsung menepis omongan pria itu. Ia tak menggubris perkataan suaminya dan berjalan masuk kedalam kamar mandi dan menutup sekatnya rapat-rapat. Ia masih saja merasa terancam.
________________________________________________
Tian Lan memandangi bunga persik di halaman istananya. pohon yang bunganya berguguran itu mewarnai salju yang menutupi permukaan tanah. Perpaduan warna yang begitu indah. Ia meneguk secangkir teh hangat sekedar melepas rasa letih. Di sisinya, Selir Kehormatan Shu ikut duduk bersamanya menikmati pemandangan musim dingin yang begitu indah ini.
Warna merah muda bunga persik di gundukan tipis salju itu sukses membuat keduanya merasakan ketenangan. Sejak Kaisar menjatuhkan hukuman kepada Selir Kehormatan Yun, mulai saat itu ia jarang terlihat walau sudah bebas dan di pulangkan ke istananya.
Entah karena rasa malu, atau mungkin saja ia menyiapkan rencana busuk barunya. Agaknya kegagalannya untuk kesekian kalinya membuatnya makin memantapkan tekadnya untuk melengserkan Tian Lan dari tahta permaisuri. Namun targetnya ini malah dengan santainya menikmati teh hangat dan mengagumi keindahan bersama Selir suaminya yang satu itu.
BERSAMBUNG ...
...~❄️我爱你❄️~...