
❄️ SNOW FLOWER❄️
EPISODE 66
Kaisar melangkahkan kakinya masuk, namun suara Qi Shua membuatnya terpaku di depan pintu. "Yang Mulia, jangan masuk sekarang!" wanita paruh baya tersebut agaknya sama sekali tidak takut dengan Feng Huang yang jelas-jelas bertahtakan sebagai seorang kaisar. Wanita itu benar-benar tak perduli.
Lama Feng Huang terdiam, ia akhirnya berbalik dan menatap ke sekeliling. Semua dayang masih berjajar rapi di tempat semulanya. Ia pun melontarkan hal yang membuat hatinya merasa terganjal. "Ada apa ini? Apa yang terjadi kepada permaisuri?" tanyanya dengan suara rendahnya, namun hal itu malah membuat pria itu semakin menakutkan ditambah dengan tatapannya yang dingin.
Sekilas semua terdiam, sedetik setelah itu semua gadis itu berlutut di hadapan kaisar mereka. Mereka menangkupkan kedua telapak tangannya di tanah di atas kepalanya untuk memohon ampunan dan belas kasih sang kaisar yang tiada tara itu.
"Ampun Yang Mulia, kami tadi hendak bebersih di sekitar istana. Kami terkejut mendapati pintu kamar beliau yang biasanya tertutup, terbuka begitu lebar.
"Saat kami masuk, kami tidak menemukan beliau, kami begitu panik namun lebih paniknya, Kasim Fu berlari dengan menggendong tubuh permaisuri yang basah kuyup dan berteriak sangat kencang bahwa permaisuri terjebur ke dalam kolam!" jelasnya, gadis itu diam setelahnya.
Kaisar melirik ke arah Kasim Fu, kasim muda itu tampak tenang. Nada bicaranya teratur dan melihat dari responnya. Tak ada alasan untuk Feng Huang meragukannya.Ia teringin sangat masuk kedalam dan melihat kondisi sang permaisuri.
Setelah setengah hari ...
Barulah Feng Huang dipersilahkan untuk masuk melihat keadaan sang istri. Qi Shua melayangkan tatapan tidak mengenakkan yang membuat Feng Huang sedikit merinding. Wanita paruh baya tersebut mengatakan apa adanya seputar kondisi sang permaisuri. Tian Lan masih terbaring di atas kasur, wajahnya masih saja pucat.
"Untuk beberapa hari kedepannya beliau akan tak sadarkan diri. Tapi ini jauh lebih baik untuk proses pemulihannya.
"Dan, jangan biarkan tubuhnya terkena angin luar. Itu tidak baik bagi wanita yang habis keguguran!" lanjutnya, kata-kata sukses membuat hati Feng Huang makin hancur berkeping-keping.
"A ..., apa? Keguguran?" tanyanya seolah tak percaya dengan apa yang telah ia dengar barusan. Pupil matanya bergetar melihat wanita paruh baya tersebut mengangguk pasrah. Ia sedih sekaligus marah. Tak luput ia begitu menyayangkan kejadian ini.
"Tapi, Yang Mulia masih bisa memiliki anak lagi. Hanya saja ... mungkin akan sulit bagi beliau menerima ini!" tukas Qi Shua sembari merapikan bahan obat-obatan.
Malam harinya, Di kamar yang lain. Tian Lan terbaring di kasur yang jauh lebih layak daripada kasur lantai yang tadinya ia tiduri. Benar, mereka menggantinya, setidaknya itu akan menjadikan istirahat wanita yang merupakan permaisuri mereka menjadi lebih berkualitas.
Tak luput, suasana kamar itu begitu senyap walau ada begitu banyak orang yang datang untuk melihat sosok Tian Lan yang kini terbaring di atas kasur ranjangnya. Masing-masing memiliki ekspresi wajah yang berbeda. Ibu suri dengan raut wajahnya yang cemas duduk di bibir ranjang, begitupula Feng Huang, ia duduk tak jauh dari tempat ibundanya.
Selir kehormatan Rong dan Shu juga tak luput. Mereka amat cemas dengan kondisi Tian Lan sekarang ini. Leng Bin San (nama asli Selir Kehormatan Rong) teringat bahwa wanita ini begitu ingin menimang calon bayi yang tengah ia kandung. Namun ironisnya bahkan ia belum sempat mengelus perutnya sendiri sebelum ia menyadari kehamilannya dan akhirnya kehilangan calon anaknya itu.
"Aku sungguh bod*h, kenapa? kenapa ini harus terjadi?" Ibu Suri.
Wanita paruh baya tersebut merintikkan air matanya, ia tak tahu harus mengatakan apa kepada wanita itu. Di samping dirinya yang mendambakan seorang cucu yang mirip dengan Tian Lan, wanita itu berharap hubungan putranya dengannya membaik. Tak peduli seberapa buruk dirinya.
"Jika aku tak bisa menemukan pelakunya seperti kali terakhir, aku tidak akan bisa tenang!" Kaisar.
FLASHBACK ON
"Hong Lian, kebetulan kau datang. Lihatlah bunga ini begitu cocok jika kau pakai!" Tian Lan menyandingkan bunga yang ada di tangannya untuk Hong Lian kenakan di rambutnya.
"Salam Yang Mulia!" Hong Lian sekilas membungkuk memberikan salamnya kepada sang permaisuri. Raut wajah Tian Lan langsung masam saja. "Sudah aku katakan, jika tak ada seorangpun diantara kita panggil aku 'Lan' !" cetusnya mulai kesal, entah berapa kali wanita itu menegaskan.
"Kau bahkan jauh lebih tua dariku, tak pantas jika kau membungkuk dihadapanku!" lanjutnya, ia diam setelahnya.
Tian Lan terdiam, begitu pula Hong Lian, namun ... raut wajahnya sungguh merusak wajahnya yang rupawan.
"Sebenarnya ada apa?"
Tak lama setelahnya, tampaklah Kasim Fu tengah berjalan kearah keduanya. Pria itu masih begitu muda, ia memberikan salamnya dan tanpa berbasa-basi lagi ia mengutarakan alasan kenapa dia menghadap kehadapan seorang permaisuri.
"Yang Mulia, kaisar meminta Anda ke istana bulan.
"Sekarang juga," lanjutnya, pria itu mengatakannya dengan begitu entengnya. Tanpa menatap kearah wanita yang bertahtakan permaisuri itu.
"Ck, apa-apaan ini!" cetusnya, ia kini mengumpat Feng Huang dalam hatinya sepanjang perjalanan.
Di istana bulan ...
Semua orang berlutut menyambut kedatangan sang permaisuri. Tak luput para selir yang juga berkumpul di ruang tamu istana bulan. Namun saat pertama kalinya ia masuk, bukannya memperhatikan jalannya. Ia malah menyapukan pandangannya mencari si empu istana tempat dimana ia menginjakkan kakinya sekarang ini.
"Dimana wanita jal*ng itu?"
"Huh entah kenapa melihatnya berlutut dihadapanku itu membuat mataku terasa sejuk!"
Kaisar terdiam, wajahnya penuh kekecewaan. Wanita itu diam dan sibuk dengan urusannya sendiri. Entah kemana ia memandang, pria itu tak mau tahu. Ia menghentakkan gumpalan tangannya pada kursi utama, membuat Tian Lan memalingkan pandangannya kearahnya. Ia masih diam tak memberikan salamnya kepada sang kaisar.
"Cih, kenapa galak sekali, tidak biasanya kau seperti itu!"
Kaisar memberikan tatapan mata yang kurang mengenakkan setelah mengejutkan semua orang. Ia masih menatap lekat ke arah istrinya itu. "Berlutut!" bentaknya. Tian Lan tersontak kaget dan langsung berlutut.
Ia terkejut tak main. ia menengadahkan wajahnya menatap lebih dalam wajah suaminya. "Ada apa ini?"
"Pikirkanlah sendiri apa yang telah kau perbuat!" Feng Huang makin meninggikan nada bicaranya. Ia meremas telapak tangannya menahan amarahnya, wajah pria itu memerah karena dilahap amarah.
BERSAMBUNG ...
...~❄️我爱你❄️~...