SNOW FLOWER

SNOW FLOWER
PRIA KETUS


❄️ SNOW FLOWER❄️


EPISODE 77


Feng Hui terkesan, ia tak menyangka bahwa dirinya bisa bertemu dengan Tian Lan di pelelangan ini. Ia benar-benar melihatnya setelah dengan berani memalsukan kematiannya dan lepas dari tanggung jawabnya begitu saja.


Tian Lan menyeruput secangkir teh nya kembali. Ia merasa lega. Setelah hilang begitu lama, akhirnya ia menemukan kembali kalung mendiang ibunya yang di curi tepat pada hari peringatan kematiannya.


Ia tak bisa berbuat banyak, mengingat Feng Huang dulunya membatasi apapun yang ia lakukan. Ia tak ingin pria itu membantunya, ia pun tak bisa berbuat banyak.


"Dewi, kalung Anda!" ucap seorang pelayan yang mengantarkan kalung yang telah ia beli. Tian Lan mengisyaratkan kepadanya untuk meletakkan kalung itu di meja yang ada di hadapannya.


"Aku ingin bertemu pemiliknya (pemilik kalung sebelumnya)" Tian Lan menggosok kuku jari tengahnya lalu meniupnya. Ia lantas menatap pelayan itu dengan senyumannya yang menggerikan.


"Ba ... baik, Hamba akan segera mengatur pertemuan Anda" balasnya ragu. Pelayan itu keluar setelahnya.


"Yang Mulia, Anda benar-benar ingin menemuinya?" tanya Tao. Ia hanya sekedar bertanya.


"Walau aku sudah mendapatkan kalung ini kembali. Tetap saja , bukankah terlalu disayangkan jika aku mengeluarkan begitu banyak uang untuk barang yang pada dasarnya adalah milikku," jelasnya. Ia mengangkat kait kalung itu dan membelainya.


BRAKKK ... tidak ada suara pintu berderet melainkan suara pintu yang menghantam ke arah dinding.


Tian Lan masuk dan langsung duduk di tempat yang telah tersedia untuknya. Tak menghiraukan orang yang ia buat terkejut akan kedatangannya.


"Aku ingin bicara empat mata denganmu" pinta Tian Lan, ia menengadahkan wajahnya mendekat kearah pria dihadapannya.


Semua orang lantas keluar, meninggalkan keduanya agar bisa bicara dengan leluasa.


"Kenapa kau ingin menemuiku?" tanya pria itu, ia menatap aneh kearah Tian Lan.


"Jika kau sudah mendapatkan kalungnya ya sudah. Aku mohon jangan membuang waktuku!" ucapnya berterus terang. Harus diakui pria itu punya nyali yang besar juga.


Tian Lan memutar bola matanya, ia menyatukan dan mengepalkan kedua tangannya lalu memasang tampang wajahnya yang dingin.


"Darimana kau mendapatkan kalung ini?" tanya Tian Lan sembari menjuntai kalung ke depan pria itu.


"Itu harta peninggalan mendiang ayahku!" balasnya ketus. Ia menjauhkan wajahnya dari Tian Lan.


"Oh, benarkah?" tanya Tian Lan, ia bertingkah dan memasang tampang wajah tak percaya.


"Perempuan ini sangat aneh!"


"Harus ku akui tampang dinginnya hanyalah topeng untuk menakuti dunia akan kekejamannya. Huh, haruskah aku mulai bersikap ramah kepadanya?" pikirnya, ia merasa tidak yakin dengan sikapnya terhadap Tian Lan sebelumnya.


"Kupikir kau seorang pria bernyali yang berani bicara tak sopan kepadaku. Huh, aku terlalu memandang tinggi dirimu" cetusnya, wanita itu tersenyum sinis.


"Sudahlah, aku tidak ingin membuang-buang waktuku lagi."


"Aku ingin pengembalian uang sebanyak 20.000 Tael emas" ucapnya mengangkat dua jarinya.


Pria itu menatap bingung ke arah Tian Lan. Apa maksud wanita itu sebenarnya?


"Apa maksudmu? Kau memintaku mengembalikan uang mu?" tanyanya, raut wajahnya terlihat masam.


"Haruskah aku mengeluarkan begitu banyak uang hanya untuk sesuatu yang pada dasarnya adalah milikku?" tanya Tian Lan. Kata-katanya menghentikan langkah kaki pria itu.


"Apa maksudmu?" ia berbalik memandang Tian Lan


"Aku tidak mengerti, jadi jangan berbelit-belit!"


Tian Lan menghela napas panjangnya, ia berjalan mendekat kearahnya dan menepuk pelan bahu pria itu.


"Kalung ini bukan kalung biasa, sedangkan kau hanyalah rakyat jelata."


"Dan apa kau tahu ... Di dalam batu Bing Feng terukir namaku" pungkasnya, ia memberikan kalung itu, membuktikan kebenaran dari ucapannya.


"Darimana kau mendapatkan kalung itu jika bukan mencuri?" Tian Lan langsung menyimpulkan.


"Kau mengatai ayahku pencuri, atas dasar apa?" balasnya tak terima.


"Ini adalah kalung peninggalan mendiang ibuku, Dewi Bunga!"


"Kau masih bertanya atas dasar apa, aku sudah tahu kalung ini ada padamu sejak kau masih seorang bocah ingusan!"


"Aku tahu hampir semua riwayat hidupmu dan orang di sekitarmu"


Pria itu terdiam, ia berbalik hendak keluar. Langkahnya terhenti sesaat, ia berbalik ke belakang dan berkata "Aku akan mengembalikan uangmu, namun ... aku berharap kau tak menyeret orang lain kedalam masalah ini"


"Orang lain? maksudmu adik perempuanmu itu?" Melihat eskpresi pria itu, kelihatannya Tian Lan menebak dengan benar.


Pria itu lagi-lagi hanya bisa diam, ia mengangguk dan berkata


"Jika ini bisa membuatku lepas darimu akan aku lakukan. Kupikir hidup keluargaku sengsara itu juga karena ulahmu" Dia berjalan melewati pintu, meninggalkan Tian Lan sendiri didalam ruangan.


Tian Lan menatap punggung pria itu menjauh dari pandangannya. Senyum samar tertaut di bibir pria itu. Ia tidak meninggalkan kesan manis maupun pahit.


Kepiluannya terpampang jelas dibalik senyum samarnya dan cara bicaranya yang kasar.


"Jangan menyeret orang lain, Hmmm aku bahkan tak mencabut sehelai rambutnya."


"Kalau bukan aku ... lalu siapa?" pikir Tian Lan. Wanita itu pada akhirnya hanya bisa menghela napas dan keluar dari tempat itu.


Seorang pria menatap punggungnya, pria itu makin mendekat kearah Tian Lan dan menepuk pundak wanita itu.


"Bisa bicara sebentar, Nona Qin."


"Ah, maaf maksudku Da Ziran"


"Kau ... "


BERSAMBUNG ...


...~❄️我爱你❄️~...