SNOW FLOWER

SNOW FLOWER
PENYESALAN TERBESAR


❄️SNOW FLOWER❄️


EPISODE 50


Mentari pagi mulai naik, garis cakrawala memerah menyambut kedatangan sang mentari.Dahi kaisar mengerenyit, ia mengucek sebelah matanya serta tangannya yang lain meraba-raba kasur mencari keberadaan sang istri.


Mendapati sisi ranjang yang kosong, ia sesegera mungkin menjelaskan pandangannya, bangun dari tidurnya.Kini biji matanya berkeliaran mencari sosok permaisuri, lama ia terdiam dan tak mendapati adanya pergerakan di sekitarnya ...


"Sepertinya ia sudah bangun"


Kaisar melangkahkan kakinya turun dari ranjang, ia memijat-mijat pelipisnya lalu melanjutkan langkahnya yang mengarah ke kamar mandi.Ia mulai bebersih diri di bantu oleh Ye Yin yang baru saja datang dengan bawahannya yang tampak membawa ember berisikan air hangat.


Kaisar melayangkan pandangannya ke arah Ye Yin seraya bertanya"Dimana permaisuri?" hal itu yang pertama kali terlontar dari mulutnya selepas setelah pria itu bangun.


Tak lama setelah hal itu terucap dari mulut sang kaisar terdengar suara lantang Nu Shen, sepertinya suaranya berasal dari pintu belakang istana phoenix.


"Astaga Yang Mulia!" suara ricuh mulai mewarnai pagi hari, hal ini begitu menggegerkan kediaman permaisuri ini.Jangankan permaisuri bahkan jika ada orang lain di posisi yang sama seperti permaisuri orang tak akan tinggal diam.


Dengan langkah tergopoh-gopoh kaisar menghampiri kerumunan, sekilas terdengar suara lantang penyambutan kaisar yang membuat orang-orang menyingkir memberi jalan dengan menundukkan kepalanya.Matanya mulai terbelalak, dengan tatapan teduhnya ia menghampiri tempat dimana permaisuri terbaring, ia duduk di atas tanah memangku kepala wanita yang paling dicintainya itu.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya sang kaisar tanpa mengalihkan pandangannya, ia masih saja sibuk dengan raga permaisuri yang di temukan telah tergeletak di tanah.


"Menjawab Yang Mulia, tadi subuh permaisuri mengunjungi tempat hamba, saat kembali beliau berpesan tidak perlu menemani beliau kembali, namun saat hamba hendak menuju kamar beliau hamba malah mendapati lebih dulu beliau terbaring dengan luka di dadanya!"


Nu Shen melirik dan menunjuk pisau bintang yang tergeletak tak jauh dari tempat dimana tubuh permaisuri tergeletak."Hamba mendapati pisau bintang itu, sepertinya benda itulah yang melukai permaisuri!"


Tanpa berkata apa-apa lagi kaisar menggendong tubuh permaisuri dalam dekapannya, sesaat langkahnya terhenti, tanpa berbalik pria yang memangku tahtanya sebagai kaisat itu bertitah"Panggil tabib, dan laporkan kejadian yang menimpa permaisuri kepada pengadilan pusat agar di selidiki lebih lanjut dan juga ... kabarkan ini ke istana pusat!"


Setelah menurunkan titahnya kini sang kaisar membawa permaisuri kembali ke kamarnya.Ia rebahkan tubuh permaisuri di kasur dan menyeka pipinya dengan lembut, lama ia memandang pria itu mulai tenggelam dalam pandangannya.


Kedatangan seorang wanita paruh baya membuyarkan lamunannya, sekilas wanita paruh baya tersebut membungkuk memberi salam kepada sang kaisar.Tanpa basa-basi lagi wanita paruh baya itu langsung menghampiri ranjang permaisuri, memeriksa lukanya, lama wanita itu terdiam hingga ia beralih mengambil peralatannya dan mengeluarkan sebuah jarum perak dari kotaknya.


Ia menancapkan jarum perak itu di dada sang permaisuri beberapa saat hingga ia mencabutnya kembali, ia hadapkan mata jarum itu di depan pandangannya, wanita itu kini mengerutkan keningnya tanda tak puas.


Kaisar yang sedari tadi terdiam dan mempertahankan wanita yang memeriksa kondisi permaisuri itupun memilih untuk membuka mulutnya"Ada apa?" tanya kaisar.


Wanita paruh baya tersebut menggelengkan kepalanya, tanda tak mampu.Apa yang sebenarnya terjadi terhadap permaisuri?


"Namun ..." penjelasan wanita paruh baya tersebut tergantung membuat sang kaisar tak sabaran menanti penjelasan lanjutan dari mulutnya.


Dengan berkerut kening kaisar menekankan nada bicaranya yang rendah itu"Namun apa? hah?" tanyanya mulai gusar.


Wanita itu menundukkan kepalanya dengan segenap keberanian yang masih tersisa pada dirinya wanita itu sekilas menatap wajah sang kaisar dan mengatakan"Senjatanya sudah di lumuri racun api naga biru, Hamba akan menemui guru saya di puncak gunung!"


"Hamba harus menambahkan bahwasanya racun ini belum ada penawarnya, jika Yang Mulia berkenan Hamba akan menemui guru terlebih dahulu," lanjut wanita paruh baya tersebut.


"Efek racun ini begitu lambat namun sangat mematikan, siapapun yang terkena racun ini biasanya akan tak sadarkan diri dalam kurun waktu yang terbilang cukup lama!"


"Namun akhir-akhir ini guru saya sendiri telah meneliti dan mencoba membuat penawarnya pula, hamba akan bergegas menuju tempat beliau!" lanjut wanita paruh baya tersebut.


Tanpa berpikir lebih jauh lagi kaisar lantas menghela napasnya dan mengiyakan penjelasan wanita itu.Wanita paruh baya tersebut lantas membungkuk mengundurkan diri dari hadapan sang kaisar untuk menemui sang guru.


Kaisar menatap punggung wanita paruh baya tersebut yang mulai rapuh dimakan usia, dan ... apa? wanita itu mau naik ke puncak sendirian untuk menemui gurunya?


"Yang benar saja!" lirih kaisar yang akhirnya memutuskan beberapa pengawal kekaisaran mengawalnya.


Dengan tatapan mata teduh sang kaisar menatap punggung wanita paruh baya tersebut hingga menghilang dari balik tembok.Kini pandangannya melayang ke arah permaisuri, wanita itu terbaring pucat, lukanya yang hanya berbalutkan perban, bibir wanita itu tampak bergetar.Dengan suara serak dengan getar yang khas, wanita itu mengingau"Air ... air ..."


Kaisar mengambil mangkok kecil di atas meja sebelah ranjang, ia menuangkan air kedalamnya dan mengambil pula sendok untuk memberi istrinya itu minum.


Berulang-ulang kali pria itu menyuapi air ke mulut istrinya itu namun ... tak ada satu tetes pun yang lolos dari bibirnya.Agaknya pria itu mulai kehabisan kesabarannya.


"Ingin minum tapi tidak mau membuka mulutnya" ucapnya nyengir.


Pria itu mendengus pelan, ia meminum air yang tadinya diperuntukkan bagi permaisuri.Pria itu mendekatkan wajahnya ke arah istrinya dan mengarahkan bibirnya ke arah buah bibir pucat milik permaisuri dan menempelkannya di sana.


Setetes demi setetes mulai ia masukkan, hingga sesaat kemudian bibir atasnya tenggelam ke dalam bibir sang kaisar.Begitu lama pria itu mempertahankan posisinya, ia tahu jelas sekarang hanya ada ia dan istrinya seorang di kamar.


Sesaat, hanya sesaat agar ia kembali tenang, agaknya pria itu hampir kehilangan kendali saat mengetahui kondisi istrinya itu.Ia dengan bertumpukan lengannya menyangga kepalanya dengan telapak tangannya.Menatap teduh ke arah permaisuri.Ia geram, juga sedih, namun tetap saja penyesalan terbesarnya adalah dirinya yang masih saja tak bisa memberikan kenyamanan hidup bagi istrinya.


BERSAMBUNG ...


...~❄️我爱你❄️~...