
❄SNOW FLOWER❄
EPISODE 21
Malam harinya sesuai kabar yang Hong Lian katakan, Pangeran Ling mengunjungi kediaman ibundanya.
"Pangeran pertama tiba!"
Mendengar penyambutan itu, permaisuri lekas bergegas menuju aula istana phoenix.
"Salam ibunda!"Ucap Pangeran Ling memberi salam kepada ibunda tercinta.
Permaisuri memegang kedua pundak putranya dan membantunya bangun dari posisinya.
"Kau datang tepat waktu!, ayo makan malam bersama ibu!"Kata permaisuri memberikan senyuman akrab.
Sembari menuju meja makan permaisuri merangkul pundak putranya itu lalu duduk berhadapan di meja makan.
Di sana tampak juga Hong Lian dan Nu Shen yang mulai menyajikan makanan untuk permaisuri dan putranya.
Pangeran Ling menatap sekilas ke arah
Nu Shen dengan tatapan menyidik.
Ia mencurigai Nu Shen bagaimana tidak, seorang dayang memiliki paras yang begitu elok bak putri bangsawan.
Tak heran memang jika saja Nu Shen memakai pakaian yang agak bagus mungkin orang akan mengira ia putri dari keluarga bangsawan.
Setelah makan malam...
Permaisuri duduk di tepi kolam di temani oleh putranya, menghirup udara segar untuk melepas rasa letih.
Dalam keheningan itu terdengar suara air yang bergemericik dari pipa bambu yang ada di dekat mereka.
Pangeran yang sudah tidak bisa menahan rasa keingin tahuannya pun bertanya kepada ibundanya.
"Wanita itu..."
Pangeran Ling hendak meneruskan perkataannya namun di sela langsung oleh sang permaisuri.
"Itu pelayan pribadiku"Jawab permaisuri singkat.
"Aku menunjuknya secara langsung!"Lanjut sang permaisuri menjelaskan.
"Emmh"
"Jika ibunda sendiri yang memilihnya, aku juga tidak bisa mengkritik pelayan itu!"Pikir Pangeran Ling menatap kearah ibundanya.
Pangeran menatap permaisuri sekilas.Lalu merebahkan kepalanya di paha permaisuri.
Melihat tingkah putranya itu senyuman mulai menghiasi wajah permaisuri.Ia berpikir di kehidupan terakhir kala itu, betapa hampa nya kehidupannya tanpa kasih sayang orang tua.
Sembari mengelus kepala putranya permaisuri berkata"Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?"Tanya permaisuri dengan senyum hangatnya.
Pangeran mendongakkan kepalanya mengarahkan pandangannya ke arah ibundanya.
Sembari membalas senyum permaisuri ia menjawab"Ananda baik-baik saja!"
"Ibu kenapa ada saja orang yang ingin mencelakaimu?"Tanya Pangeran Ling.
Sembari bangun dari pangkuan ibundanya pangeran lantas menatap permaisuri dengan tatapan menyidik.
"Saat ini aku memiliki tahta dan kedudukan yang tinggi, membuat siapapun ingin menjatuhkan ku"Pikir permaisuri.
"Kekuasaan, tahta, martabat dan cinta"
"Itu bisa membuat orang buta, dan banyak dari mereka melakukan segala cara agar bisa memperolehnya"Lanjut permaisuri menjelaskan.
Permaisuri menatap lembut putranya itu mengelus puncak kepalanya.
Entah sejak kapan ia memiliki rasa keibuan yang kuat.
"Jika ananda terpilih menjadi putra mahkota, ananda tidak akan membiarkan siapapun menyakiti ibunda"Kata pangeran bangun dari duduknya.
Permaisuri tersenyum pahit, ia tahu benar bagaimana persaingan perebutan tahta.
Begitu keras dan kejam.
Banyak dari mereka mengorbankan persaudaraan hanya karna tahta.
Banyak darah yang tertumpah hanya
karna tahta.
Entah seberapa banyak yang mereka lakukan hanya karna sebuah tahta yang bahkan tidak bisa menjamin kelangsungan hidup dalam jangka waktu yang panjang.
Kedamaian sesaat dan kesengsaraan
seumur hidup.
Permaisuri menatap putranya kembali.Ia lihatnya tampang polos putranya itu lalu berkata"Walau kau tidak terpilih menjadi kandidat putra mahkota, ibumu ini akan tetap bangga kepadamu"
"Tahta hanya akan merusak moral"Lirih permaisuri.
Lagi-lagi permaisuri mengelus puncak kepala pangeran seperti memanjakan seekor anak kucing.
"Ibu ini sudah mulai larut mari kita kembali!"Sahut pangeran menarik pelan tangan ibundanya.
Keesokan harinya.
Sinar matahari pagi mulai menyelinap dari sekat jendela kamar permaisuri.Ia raihnya kalambu ranjang yang menyelimuti dirinya dari silaunya mentari pagi.
"Selamat pagi Yang Mulia"Kata Hong Lian, Min Ru dan Nu Shen serempak.
Permaisuri turun dari ranjangnya meregangkan badannya yang kurus itu.
Lalu membiarkan para pelayannya menggantikan pakaiannya.
"Biar hamba melukis alis anda Yang Mulia!"Sahut Min Ru.
Permaisuri menatap Min Ru sekilas lalu tersenyum pahit ke arahnya.
"Tidak perlu, hari ini aku tidak ada keperluan di luar jadi untuk apa menghias diri?"Tanya permaisuri membenarkan lengan bajunya.
Mendengar itu Min Ru hanya menganggukkan kepalanya tanpa berkata apapun lagi.
Lalu sedikit mencuri pandang ke arah permaisuri melihat ekspresi wajah beliau yang tampak seperti biasanya.
"Yang Mulia, selir tinggi Ning menunggu anda di aula istana!"Hong Lian membantu permaisuri nya bangun dari duduknya.
Sembari membalikkan badannya permaisuri menatap sekilas ke arah Nu Shen.
Dan memberinya sebuah isyarat mata.
"Yang Mulia permaisuri tiba!"
Selir tinggi Ning yang mendengar penyambutan itu lantas bangun dari duduknya, untuk menyambut kedatangan sang permaisuri.Ia sedikit membungkukkan badannya saat permaisuri berjalan melewatinya.
"Bangunlah!"Titah sang permaisuri.
Selir tinggi Ning hanya menganggukkan kepalanya, dan bangun dari duduknya.
Permaisuri mengayunkan telapak tangannya ke samping mengisyaratkan selir tinggi Ning untuk duduk di sisinya.
"Apa selir kehormatan Yun mempersulit dirimu?"Tanya permaisuri menyodorkan secangkir teh kepada selir Ning.
Selir tinggi Ning menggeser cangkir teh yang permaisuri sodorkan mendekat ke arahnya.
"Tidak Yang Mulia, beliau hanya bersikap dingin kepada hamba"Jawab selir Ning.
Benar saja,,,sejak saat itu selir kehormatan Yun tidak menyerang lagi.
Namun tatapannya terhadap selir tinggi Ning seolah mengingatkan dirinya untuk bungkam atau,,,,,,kau akan mati.
Dalam benak selir tinggi Ning, ia masih takut namun tak kuasa menunjukkan rasa takutnya.
Mengingat sekarang permaisuri
ada di pihaknya.
Salah satu dari 3 diantara paling di muliakan.
Putri dewi bunga, sang permaisuri.
Tak lama kemudian.....
Permaisuri meneguk tehnya, selepas itu meletakkan cangkir teh nya di meja.
"Kau hanya harus pura-pura berpihak kepada selir kehormatan Yun dan mengawasinya untukku!"Kata permaisuri menjelaskan.
Permaisuri menyilangkan kakinya. menompang kepalanya dengan tangan kirinya yang ia tegakkan di atas meja.Ia menghela napas pelan lalu ia tatapnya selir tinggi Ning yang ada di hadapannya.
"Baik Yang Mulia!"Jawab selir tinggi Ning bangun dari duduknya.
"Hamba izin undur diri"Lanjut selir tinggi Ning membungkukkan badannya.
Selir tinggi Ning berjalan untuk keluar dari aula istana phoenix.
Sedangkan permaisuri menghela napas panjangnya melihat punggung selir tinggi Ning yang semakin menjauh dari pandangannya.
Dengan tatapan tajam nya senyum sinis permaisuri mulai terukir di bibir mungilnya membuat para dayang yang ada di sana merinding di buatnya.
"Yun Fei ini adalah giliranmu!"Gumam sang permaisuri.
"Sekarang waktunya kau yang di kelilingi
rasa takut yang sama seperti yang dulu ku rasakan karena mu!"Pikir permaisuri.
"Ini giliranmu!"
BERSAMBUNG.....
PENGUMUMAN
Para pembaca SF❄, di beritahukan besok author tidak bisa update seperti hari biasa dikarenakan beberapa urusan di dunia nyata yang tidak bisa di tunda.
Saya harap kalian semua sehat selalu.
Salam SF❄
Mohon maaf sebesar-besarnya
~❄ WO AI NI ❄~