SNOW FLOWER

SNOW FLOWER
GULUNGAN SURAT


❄️ SNOW FLOWER❄️


EPISODE 70


Suara pintu berderet memecah keheningan malam itu. Angin menerpa rambut panjang dan menyibakkan jubahnya. Feng Huang masuk kedalam kamar tidur Tian Lan, ia langsung terkejut melihat ranjang tempat dimana Tian Lan sebelumnya terbaring kini kosong.


"Dimana dia?" Feng Huang mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kamar. Ia kini beralih berjalan keluar. Memanggil kasim yang berjaga juga memerintahkan dayang yang masih berlalu lalang di sekitar untuk memanggil pelayan pribadi istrinya itu.


Di kuil Dewi Bunga ...


Di ruang bawah tanah, seberkas cahaya menyinari tubuh wanita yang duduk di tengah kegelapan. Tian Lan duduk bersila, matanya tertutup dengan selembar kain putih. Ia mulai mengucapkan mantra.


Cahaya makin menyilaukan pandangan. Sekejap, hingga tubuhnya hilang bersama berkas cahaya yang sama. Ia pikir ini waktunya tersenyum dan mengucapkan selamat tinggal kepada dunia fana, juga putranya.


"Aku pasti kembali, tapi dengan keteguhan hati. Kali terakhir aku akan mengatakannya 'Aku mencintaimu!"


Di istana, kediaman Selir Kehormatan Rong.


Lu Bing San memandang teduh kearah istana seberang. Istana phoenix kediaman sang permaisuri. Ia beralih melihat kearah gulungan kertas surat yang ada di meja di hadapannya. Angin berhembus menerpa kelambu bambu gazebo di tengah kolam itu. Suasana yang begitu ia nikmati.


Namun kini ia mendapati kehampaan yang sama, yang menimpa Tian Lan selama beberapa tahun terakhir. Ia membuka kembali lembaran itu ia bentangkan hingga memenuhi pandangannya. Ia lihatnya tulisan tangan indah milik Tian Lan. Sekilas ia ingin menangis.


"Kau mungkin tak mengingat ku, tapi aku masih ingat betul dirimu yang dulu!"


"Kau hanya mengingatku sebagai selir suamimu. Tapi aku mengingatmu sebagai putri mahkota alam bunga."


Malam harinya. Semua orang berlalu lalang di istana phoenix. Suasana malam itu begitu tenang walau semua orang berkumpul di sana, suasana kala itu begitu tenang.


Feng Ling, tangisan anak itu terdengar begitu keras. Ia terus menangis hingga sesegukan. Ia terus menerus memanggil ibunya. Namun apa daya, ibunya kini terbujur kaku dibalut dengan senyum samarnya yang masih tertaut di wajahnya. Raganya memang mati, senyumannya justru membuat Isak tangis orang-orang makin menjadi-jadi.


Terkecuali Yun Fei, wanita itu kini menanti kenaikan posisinya. Ia berniat makin menekankan usahanya mengingat ia masih memiliki 2 saingan lainnya. Lu Bing San adalah lawan terberatnya saat ini. Selir bergelar 'Rong' tersebut akan segera melahirkan juga dia memiliki pengaruh besar di harem. Mengingat sebelumnya ia sepihak dengan permaisuri Tian Lan.


"Hanya sebuah bidak catur Tian Lan, dia belum layak menjadi lawanku!"


Ia membanggakan dirinya sendiri. Ia seolah lupa dirinya yang beberapa kali dibuat sial oleh Tian Lan. "Posisi permaisuri sekarang kosong!" gumamnya. suaranya hampir tak terdengar.


Selir Tinggi Wei menanggapi gumaman Yun Fei. Wanita itu seolah tak senang dengan Yun Fei. "Tolong jaga bicara Anda!" Ucapnya memperingatkan. ia berbicara dengan berbisik.


"Huh, tunggu saja. Bagaimana kau masih membela orang mati yang sama sekali tak berguna lagi untukmu!"


"Pikirkan saja jika aku menjadi permaisuri aku akan memberimu pelajaran terlebih dahulu!" Yun Fei menutup mulutnya. Ia tengah mengolok-olok Selir Wei.


"Kita lihat saja. Sulit untukmu naik tahta menjadi permaisuri.


"Beraninya kau mengatakan itu selagi jasad ibu masih ada di hadapan kita!" teriak Pangeran Ling. Matanya merah, sayu. Ia mengusap air matanya dan bangun dari duduknya.


"Aku tidak sudi jika kau menggantikan posisi ibuku sebagai permaisuri dinasti ini!"


Feng Huang mengepalkan tangannya. Kedua selirnya itu lupa jika mereka tak hanya sendirian. Mereka fokus pada ucapannya masing-masing tak sadar jika kaisar juga yang lainnya masih ada diruang yang sama.


"Kalian berdua sungguh keterlaluan! Kalian membicarakan pengalihan tahta saat Tian Lan seperti ini!"


Selir Kehormatan Shu menarik lengan sang kaisar. Ia menambahkan bahwa ia mendengar jelas apa yang sebenarnya keduanya perdebatkan.


"Yang Mulia, Selir Tinggi Wei hanya membela permaisuri. Ia hanya membalas perkataan Selir Kehormatan Yun yang menurut hamba juga kurang pantas!"


Feng Huang menatap wajah selirnya selama ia mengutarakan pendapatnya. Ia lalu berpaling menatap tajam ke arah Yun Fei. Pria itu makin memandang rendah selirnya yang satu itu.


"Ampun Yang Mulia, Hamba tak bermaksud! Hanya saja hamba tidak rela Selir Kehormatan Yun membandingkan dirinya dengan permaisuri! Ia membeberkan bahwasannya dia akan menjadi pengganti mendiang permaisuri!" ucap Selir Tinggi Wei berterus terang. Ucapannya sukses membuat Yun Fei terduduk lemas. Wanita itu mulai berdalih.


"Kau sungguh berani ya, aku terlalu meremehkanmu. Aku pikir kau akan berubah jika menyadari kesalahanmu yang dulu. Tak sadar aku bahkan selalu memihak kepadamu dan terus merusak hubunganku sendiri dengan Lan'er!"


"Aku sudah melihat pesan terakhir Lan'er. Ia tak akan tenang jika kau menggantikan posisinya sebagai permaisuri. Dan kau bukanlah orang yang pantas mendapatkan posisi itu!.


"Selir kehormatan Rong, dia adalah orang yang dipilih sendiri oleh Lan'er. Atas dasar apa aku harus memilihmu sebagai permaisuriku?


"Walau begitu. Apa kau pernah bertanya apa pendapat Selir Rong?"


Selir kehormatan Rong berlutut. Ia membeberkan bahwa ia masih tak percaya akan kepergian Tian Lan. Ia tidak bisa menggantikan posisi Tian Lan begitu saja.


"Hamba mohon, jangan bahas pengalihan tahta selama masa berkabung! Terlebih beliau meninggal bunuh diri. Hamba yakin ada seseorang yang memprovokasi Beliau. Mengingat Beliau juga sempat kehilangan bayinya. Hamba tak berani membayangkan bagaimana perasaan Beliau!"


Kata-katanya membungkam seluruh orang di sana. Wanita itu memang benar, Tak pantas jika membahas hal ini untuk saat seperti ini. Ini bukan saat yang tepat.


Di alam bunga ...


"Salam Yang Mulia!"


Seluruh alam menyambut kedatangan Sang Dewi. Pemimpin baru yang akan menempati tahta yang sudah begitu lamanya kosong. Singgasana yang dingin, Tangannya menyentuh singgasana itu. Ia tersenyum teduh. Wanita itu memejamkan matanya mengingat masa dimana ia begitu ingin menduduki singgasananya yang mendingin itu.


BERSAMBUNG ...


...~❄️我爱你❄️~...