SNOW FLOWER

SNOW FLOWER
KEMBALI


❄️ SNOW FLOWER❄️


EPISODE 40


Selepas setelah itu ...


Istana phoenix yang kacau, kembali tenang ketika sang kaisar di ikuti Tabib Tong yang berjalan menuju kamar tidur permaisuri.Tampaklah permaisuri tengah terbaring lemas, di ranjangnya.Kaisar dengan langkah cepatnya menghampiri tempat dimana wanita itu terbaring, tak menghiraukan para dayang dan pelayan pribadi permaisuri yang tengah berlutut memberikan salamnya kepadanya.


“Ada apa ini? kenapa kondisinya makin memburuk saja?” tanya kaisar menahan amarahnya, tangannya mengepal.


Semua orang terdiam, haruskah mereka memberi tahu kondisi permaisuri setelah sang kaisar tak mengunjunginya kala itu, mereka benar-benar bingung.Ragu namun juga takut, itu yang mereka rasakan.


“Kenapa kalian diam saja? jawablah! aku menunggu penjelasan dari kalian!” pria itu mengerutkan alisnya tanda ia mulai gusar.


Mereka masih terdiam, dengan keberaniannya yang masih tersisa, Hong Lian menjawab “Hamba tidak tahu pasti, namun selepas kembali dari istana Selir Rong, nafsu makan Yang Mulia berangsur menurun, Beliau bahkan tak menyentuh makanan yang telah kami sajikan, ”


“Beliau juga sering sekali mengalami insomnia, tak jarang kami mendapati lentera kamar beliau masih menyala di tengah malam,” lanjutnya menjelaskan secara rinci.


Kaisar terdiam, ia tak ingin menunggu lebih lama lagi.Tabib Tong yang sudah berdiri di sisinya sedari tadi pun di persilahkan untuk mengecek keadaan sang permaisuri, setelah mengecek denyut nadi sang permaisuri alangkah terkejutnya ia, tak bisa menjelaskan, nada bicaranya mulai gagap.


“I ... i, ini,” ekspresi wajahnya berubah seketika itu, ia panik dan keringat dingin mulai bercucuran.


Semua pandangan aneh tertuju kepada Tabib Tong, ia masih saja terdiam, wajahnya yang kurang menyakinkan membuat sang kaisar gusar.“Bagaimana keadaannya?” tanya kaisar, pria itu mengerutkan keningnya tanda mulai tak sabaran.


Pria paruh baya tersebut terdiam cukup lama, ia tak berani menatap ke arah kaisar, seolah membuat mereka gusar, ia membuat semua orang menunggu lama untuk mendengar penjelasannya.


“Cepat, katakan!” bentak sang kaisar, Tabib Tong terkejut dengan sekali hentakan.


“Ampun beribu ampun Yang Mulia, hamba masih belum bisa mengidentifikasi apa yang sebenarnya terjadi kepada permaisuri, denyut nadinya tak beraturan, pada awalnya denyutnya begitu cepat namun berangsur lambat, bahkan hampir tak memiliki denyut nadi lagi”


“Detak jantung beliau juga makin melambat” lanjut Tabib Tong menjelaskan dengan penuh canggungnya.


“Hamba menyarankan agar Anda meminta Master Liliang untuk melihat keadaannya permaisuri, mungkin ini bukan penyakit yang disebabkan oleh racun atau semacamnya” dengan penuh keyakinan Tabib Tong melanjutkan kata-katanya.Ia mencuri pandang ke arah kaisar dengan sedikit keberaniannya yang masih tersisa.


Kaisar menghela napasnya, memijat-mijat pelipisnya.Pandangannya kini terarah pada wanita yang ada di sisinya itu, entah sejak kapan wanita itu membuatnya begitu tak nyaman jika tak melihatnya sehari saja.Ia menganggukkan kepalanya tanda membenarkan perkataannya pria paruh baya yang duduk tersungkur di hadapannya.


“Cepat panggil Liliang!” titah sang kaisar yang mulai kehabisan kesabarannya.


Tak lama kemudian ...


Liliang dengan langkah kaki yang tenang ia menuju ke kamar tidur sang permaisuri, di dalam tampaklah sang kaisar dan yang lainnya menunggu kedatangannya.Alisnya yang tegas terangkat sesaat, pandangannya tertuju kepada wanita yang terbaring di atas ranjangnya, tatapannya terpaku pada wanita itu.


“Salam Yang Mulia!”


Tanpa berkata apa-apa lagi Liliang lantas langsung menghampiri tempat dimana permaisuri terbaring, ia memeriksa denyut nadinya, dalam sekali tekanan ia langsung mengerti apa yang telah terjadi terhadap tubuh wanita itu.


“Tidak perlu khawatir, permaisuri akan siuman sebentar lagi.”


“Kalian hanya perlu memberikan teh dan menambahkan bunga Lan di dalamnya dan juga berikan setiap hari hingga beliau terbiasa mengkonsumsinya,” lanjutnya.


Kaisar masih bertanya-tanya, pria berambut perak itu hanya memberikan solusinya namun tak menjelaskan secara detail, apa yang sebenarnya terjadi pada permaisuri.Kaisar menatapnya lekat-lekat, namun tetap saja tak menemukan celah apapun darinya.Ekspresinya selalu datar kaisar agaknya kesulitan mengetahui apa yang tengah pria itu pikirkan.


Liliang menatap tajam ke arah sang kaisar, tatapan mata yang begitu menusuk, kaisar yang masih saja menatap istrinya dengan tatapan mata yang teduh itu tak menyadari tatapan mata Liliang yang begitu lekat kepadanya.


Senyum seringai mulai menghiasi bibir seksinya, ia telah menantikan hari ini, hanya menunggu saat di mana semuanya terbongkar dan semua akan kembali seperti semula.


“Semua karena kau Feng Huang, namun ... Lan'er yang sesungguhnya telah kembali ”


“Hanya menunggu waktu untuknya mengingat segalanya dan ia pasti akan kembali meninggalkan dirimu! ”


Apa yang sebenarnya ia nanti-nanti?


Apa maksud Permaisuri Lan yang sesungguhnya telah kembali?


Liliang menepuk pelan bahu sang kaisar, di mata dunia mereka adalah sepasang sahabat, begitu pula di mata sang kaisar.Namun ... bagi Liliang, tali persahabatan itu telah lama terputus, ia menepuk bahu sang kaisar memang untuk menyemangati pria itu namun bukan karna melihat kondisi istrinya saat itu, Liliang merasa sangat kasihan dengan sahabat itu, tak lama lagi, ia akan kembali menelan pil pahit setelah tak lama merasakan manisnya cinta yang nantinya akan segera pudar.


“Aku kembali dulu, untuk beberapa hari kedepannya ... tolong usahakan beliau makan dengan baik!” tukasnya sembari meninggalkan kamar tidur permaisuri.


Kaisar terdiam, ia merasa ada yang tidak beres, sedangkan yang lain mengucapkan selamat jalan kepada Master Liliang.Dengan senyuman yang masih terpampang jelas di bibirnya selepas meninggalkan istana phoenix.


“Aku menunggu dirimu yang berbeda,” seringai kembali menghiasi wajahnya.


Ia beranjak menuju ke arah beranda, ia lihatnya lukisan yang terpajang di dekat jendela, lukisan yang tertutup oleh selembar kertas bambu yang sudah berdebu.Ia singkirkan debu yang melekat di sana dan ia bukanya lukisan itu, pria itu melihat senyuman permaisuri Lan yang terpampang jelas di dalamnya.


Dalam balutan sutra air, ia begitu anggun dengan mata bulatnya yang sempurna itu.Walau sekedar lukisan, ia ingin menjaganya dengan sangat baik.Tak seperti pria yang menduduki tahtanya itu, walau ia memiliki raga dan hati wanita itu, kebahagiaan yang ia janjikan hanyalah khayalan semata yang pada akhirnya melukai martabatnya.


BERSAMBUNG ...


...~❄️我爱你❄️~...