SNOW FLOWER

SNOW FLOWER
RENCANA


❄SNOW FLOWER❄


EPISODE 17


Sore harinya di halaman istana phoenix...


"Yang Mulia anda punya rencana?"Tanya Hong lian.


Hong Lian meletakkan teko teh di meja yang berada di hadapan permaisuri sekaligus menuangkan secangkir untuk permaisuri.


"Kau benar"


Permaisuri meneguk tehnya lalu meneruskan perkataannya.


"Selir kehormatan Yun berniat menjadikan selir Ning sebagai kambing hitamnya"Lanjut permaisuri.


"Jadi, aku perlu memihak selir tinggi Ning agar dia bisa bersaing dengan selir


kehormatan Yun"


Permaisuri memikirkan ini dengan matang, dengan kondisi selir tinggi Ning sekarang ini memang tidak memungkinkan untuknya bersaing dengan selir kehormatan Yun.


Terkecuali.....


Permaisuri ada di pihaknya.


"Dan aku hanya perlu menyusun strategi di balik layar"Lanjut permaisuri menjelaskan.


Menurut permaisuri ini kerja sama yang menguntungkan kedua belah pihak.


Jika bisa mencapai tujuan masing-masing...


Untuk apa melakukannya seorang.


Di saat yang bersamaan...


"Di lihat dari segi manapun permaisuri memang beribu-ribu kali lipat lebih baik daripada selir kehormatan Yun"Kata pelayan pribadi selir tinggi Ning


"Kaisar yang sebelumnya memihak selir kehormatan Yun pun beralih ke pihak permaisuri begitu pula ibu suri ditambah 2 selir kehormatan juga memihak kepadanya"Lanjut pelayan pribadi selir Ning.


"Hamba rasa memihak permaisuri juga tidak buruk, beliau juga selalu berpikir dengan kepala dingin, tidak seperti selir kehormatan Yun permaisuri tidak pernah membiarkan rekannya mengalami masalah karenanya"


Mendengar pengakuan pelayan pribadinya itu selir Ning memikirkan lebih dalam tentang tawaran permaisuri.


"Kala itu aku juga melakukan kesalahan namun beliau hanya menjatuhkan hukuman ringan"Pikir selir tinggi Ning.


"Kau benar"Kata selir tinggi Ning.


"Bahkan selir tinggi Wei yang awalnya sangat menentang permaisuri pun mulai berpihak kepadanya"Pikir selir Ning.


Memang benar dilihat dari kepribadian, watak, cara berpikir juga dukungan yang beliau miliki semua itu tidak di miliki oleh selir kehormatan Yun.Walau sikap beliau begitu dingin dan bengis bukan berarti beliau tak perduli dengan orang lain, walau tampak acuh tak acuh beliau memiliki rasa simpati yang berbeda dari lainnya.


Di sisi lain selir kehormatan Yun walau tampang nya dari luar seperti wanita yang lembut hatinya begitu busuk, ia kehilangan putranya karna kebencian yang ia miliki terhadap permaisuri.


Permaisuri yang dulu begitu polos dan lugu hingga dengan mudahnya terjebak dalam siasat selir kehormatan Yun.Sampai sekarang semua orang menganggap permaisuri lah dalang dari kematian pangeran kedua.


Semua orang tidak mengira bahwa ia hanyalah kambing hitam.Pelaku sebenarnya masih berkeliaran dengan bebas di luar sana.


Sedangkan selir kehormatan Yun menggunakan hal ini untuk menekan kaisar, siapa sangka kepedihanya atas kematian putranya hanyalah senjata semata, untuk menjauhkan kaisar dari permaisuri.


"Di mana dayang itu?"Bentak selir kehormatan Yun.


"Mo mohon maaf yang mulia hamba tidak menemukan jejaknya, dayang tersebut beserta adiknya...."Kata salah seorang kasim yang sedang berlutut, namun....


PLAKKK


"Dasar mencari 2 orang gadis saja tidak sanggup"Kata selir Yun dengan amarah yang menggebu-gebu.


"Ampun yang mulia!"Rintih kasim tersebut.


Tanpa mengatakan apapun selir kehormatan Yun lantas mengisyaratkan kepada yang lain untuk melakukan suatu tindakan.


Tak lama kemudian...


"Prok prok"Suara tepukan tangan selir Yun memecah keheningan kala itu.


"Ini Yang Mulia!"Kata seorang pelayan yang membawa nampan berisikan secangkir teh.


"Minum!"Kata selir kehormatan Yun dengan tampang bengis nya menyodorkan secangkir teh kepada kasim itu.


"A a apa ini Yang Mulia?"Tanya kasim itu ragu-ragu.


Sembari berjalan menuju arah kasim itu selir Yun berkata"Jangan banyak tanya!"


Tanpa berpikir lebih lama lagi selir Yun langsung mencekoki kasim itu dengan secangkir teh yang ada di tangannya.


"Ughhh"


Di sisi lain....


Di istana phoenix kediaman permaisuri.


Suasana malam hari itu sangat tenang, senyap tanpa kebisingan.Angin sepoi-sepoi yang berhembus dari jendela kamar permaisuri yang menyejukkan hati.


Begitu pula sinar bulan yang menerangi seluruh penjuru istana phoenix.Membuat mata yang memandang tak ingin berpaling.


"Yang Mulia!"


"Baik Yang Mulia!"Jawab Hong lian dan


Min ru serentak.


Setelah mendapati permaisurinya tertidur pulas, Hong lian menutup kelambu ranjang permaisuri dengan sangat hati-hati agar tidang mengganggu tidur nyenyak sang permaisuri.Ia lantas keluar setelah itu.Membiarkan junjungannya tidur dengan nyaman kala itu.


Di tengah kegelapan sinar bulan memancar.


Permaisuri mulai membuka matanya.


Menangis tanpa suara, begitu terisak.


Ia masih tidak bisa menerima apa yang ia dengar.


"Kalau saja bukan karna teriakan itu"Pikir permaisuri.


"Aku bersumpah akan tumbuh semakin jauh darimu dengan senyuman di wajahku!"Teriakan itu terlintas di pikiran permaisuri.


Permaisuri bangun dari tidurnya, dengan langkah kakinya yang berat berjalan ke arah jendela dan berusaha meraih jendela kamar dengan jari-jari kecilnya itu.


"Lan!"Kata permaisuri memijat pelipisnya.


Hari mulai pagi, matahari mulai menerangi seluruh penjuru istana kekaisaran.


Begitu pula istana phoenix tak luput dari hangatnya mentari pagi.


Tampaklah para selir sudah berkumpul untuk memberi salam kepada permaisuri.


Dengan wajahnya yang agak pucat dan langkah kaki yang berat permaisuri berjalan untuk menduduki tahtanya.


Di sambut para selir yang berjajar rapi menunggu pimpinannya menduduki tempatnya.


Tanpa berbicara sepatah kata pun permaisuri mengisyaratkan para selir untuk duduk kembali di tempatnya.


"Apa suasana hati permaisuri buruk?"Tanya selir tinggi Wei dalam hati.


"Kudengar kemarin beliau sempat berdebat dengan selir kehormatan Yun"Pikir selir kehormatan Rong.


'Yang Mulia jika anda tidak enak badan lebih baik istirahat saja"Sahut selir kehormatan


Shu cemas.


Selir kehormatan Shu memberanikan dirinya untuk bertanya kepada permaisuri namun permaisuri malah langsung saja menyela perkataannya"Masalah..."


"Benar aku sudah menemukan pelakunya"Jawab permaisuri dengan santainya menjawab pertanyaan selir Shu.


"Apa!"Sahut yang lain.


"Maaf jika hamba lancang, bolehkah kami tahu siapa dalang dari semua ini?"Tanya salah satu selir.


Tanpa menjawab permaisuri menatap tajam ke arah selir yang barusan melontarkan pertanyaan tersebut.


"Ma maaf atas kelancangan hamba


Yang Mulia!"


"Hem"Permaisuri hanya menanggapinya dengan deheman, lalu menatap ke arah selir kehormatan Yun sedari tadi diam ia tampak sedang mengelap keringatnya yang bercucuran dengan saputangan nya.


"Aiyaa, Ada apa denganmu selir kehormatan Yun?"Tanya permaisuri dengan


nada meledek.


"Jika kau tidak enak badan aku bisa saja mengijinkanmu untuk tidak memberi salam padaku pagi ini"Lanjut permaisuri.


"Tidak apa Yang Mulia!"Jawab selir kehormatan Yun bangun dari duduknya.


"Aihh, tidak usah bangun dari dudukmu!"


"Duduk saja sudah membuat mu berkeringat sebanyak itu apalagi berdiri"Lanjut permaisuri yang lagi-lagi tampak seolah sedang meledek selir kehormatan Yun.


"Kasih sayang anda sungguh tiada tara permaisuri!"Jawab selir kehormatan Yun duduk kembali di tempatnya.


"Yang Mulia, hamba berniat mengunjungi anda lagi nanti untuk belajar tarian sang dewi air namun..melihat kondisi anda mungkin lain kali"Sahut selir kehormatan Rong


menghela napasnya.


"Kau bisa datang kapanpun yang kau mau"Jawab permaisuri selepas setelah meminum teh nya.


"Anda begitu murah hati Yang Mulia, pantas saja kaisar begitu menyayangi anda"Puji selir kehormatan Rong.


"Hah!"Permaisuri hanya menghela napasnya tanpa mengatakan apapun.


"Aku harap kalian juga bisa mendapatkan kasih sayang yang sama seperti yang aku dapatkan"


"Tapi aku harap juga kalian mendapatkannya dengan cara yang benar tanpa merugikan pihak lain"Lanjut permaisuri menegaskan.


"Baik Yang Mulia"Jawab para selir serentak.


BERSAMBUNG....


 


~❄ WO AI NI ❄~