SNOW FLOWER

SNOW FLOWER
AMPUN?


❄️ SNOW FLOWER❄️


EPISODE 58


Di ruang tamu istana phoenix, wanita itu menyesap tehnya dengan lega.Teh bunga Krisan memang pas untuk menenangkan pikiran di sore menjelang malam ini.Tian Lan duduk menyilangkan kakinya sembari bersenandung kecil, sepertinya ia puas dengan pertunjukan tadi siang.


Seringainya tertaut lengket membuat aura yang ia keluarkan makin mencekam. Feng Huang melangkahkan kakinya menuju ke arah sang istri, wanita itu sadar, peka akan kehadirannya namun memilih untuk tetap diam. Tian Lan melirik dengan ekor matanya, wanita itu agaknya tidak senang akan kehadiran sang kaisar yang menunjukkan mengganggu waktunya untuk bersantai.


"Kenapa kau kemari?" tanya Tian Lan menyelonjorkan kakinya.


Feng Huang mempercepat langkahnya, ia lantas duduk di sisi permaisurinya dan menyesap teh yang sudah tersaji di hadapannya. Tian Lan melirik tak senang."Itu kan teh ku!" serunya menegaskan.


Feng Huang mengedikkan bahunya tanda tak mau tahu."Lantas, kan masih ada lagi. Tinggal tuang lagi apa susahnya?" ditanyai bukannya menjawab Feng Huang malah kembali bertanya.


"Ck, sebagai seorang kaisar kau lebih baik jangan memiliki kebiasaan merebut milik orang lain!" Tian Lan berdecak kesal.


"Kau bukan orang lain, kau istriku, kau permaisuriku!" serunya tak mau kalah.


Tian Lan menghela napas kesal, ia lebih memilih untuk diam daripada terus meladeni suaminya itu. Kini pandangannya kembali tertuju kepada Feng Huang."Ada apa kau kemari?" tanya Tian Lan memalingkan wajahnya.


"Mengunjungi tempat istri," pungkasnya selepas menyesap tehnya.


Lagi-lagi Tian Lan menghela napas panjangnya, Feng Huang yang melihat istrinya merasa kesal itupun kembali melayangkan beberapa pertanyaan. "Kenapa akhir-akhir ini suasana hatimu memburuk?" tanya Feng Huang mengusap-usap dagunnya.


"Dan kenapa tadi kau ada di istana barat?" tanyanya sekali lagi.


"Entahlah, suasana hatiku tiba-tiba buruk saja, bagaimana bisa negara ini memiliki keturunan dari wanita yang tak berkualitas seperti itu!"


"Bukankah kau menyaksikan dengan mata kepalamu sendiri, bagaimana sikap mereka, terutama calon selir yang akan kau angkat besok (Selir Xiao Yun). Harusnya kau mempertimbangkan lebih jauh lagi!"


"Apa karena ini permintaan Selir Kehormatan Yun, jadi kau tidak bisa mengelak?"


Tian Lan makin gusar, ia menggigit bibir bawahnya sebelum berkata lebih banyak lagi.


"Bukankah kau mengirimnya ke istanaku untuk di didik? Bukannya kau mengancam penurunan posisinya beberapa minggu yang lalu?"


"Sekarang aku mengerti kenapa ia tak langsung sergap menggubris omonganmu, dimana martabatmu sebagai kaisar? kau hanya memberikan peringatan sampah kepadanya!"


"Dia bahkan tak datang lagi ke istanaku seminggu terakhir, aku bahkan belum memperhitungkan hal ini. Dan sekarang, kau memberikan adiknya posisi di Harem!"


Feng Huang lantas terkejut mendengar penjelasan Tian Lan.Memang benar, berat baginya menyetujui permintaan selirnya yang satu ini, mengingat latar belakang keluarganya yang memiliki pengaruh besar pada kejayaan kekaisaran, Feng Huang tak bisa berbuat banyak walau ia mau.


"Lan ..., dia mengatakan kepadaku bahwa ia sangat kesepian, aku hanya ..." ucapnya menggantung."Lagipula aku juga sudah lama tak mengunjunginya hanya bisa mengunjungimu setiap hari!" imbuhnya menjelaskan.Tian Lan langsung saja menggubris perkataan suaminya.


"Walau kau mengunjungiku sesering apapun, kau bagiku sekarang hanyalah orang asing! aku tetap saja kesepian akan kehadiranmu. aku hanya mengingat secuil ingatanku tentangmu, aku tak bisa memperlakukanmu lebih dari seorang kaisar!"


"Jika kau beranggapan aku tak punya sopan santun ... terserah, aku tak ingin meladenimu lebih lama. Lebih baik kau mengunjungi tempat Selir barumu itu!" Tian Lan bangun dari tempatnya, meninggalkan Feng Huang begitu saja.Karakternya berubah menjadi sangat bengis semenjak ia tahu kaisar tak sungguh-sungguh mencari dalang siapa yang telah mencelakai dirinya kali terakhir.


Feng Huang berlari kecil, mengejar langkah kaki sang istri yang begitu cepat.Hingga keduanya sampai di kamar tidur.Keduanya terdiam, tak tahu harus bicara apa.Keheningan melanda mereka, Feng Huang mulai buka suara"Maaf!" ucapnya lirih.


"Maaf? Sudah berapa kali kau mengatakan hal yang sama?"


"Aku tidak tahu, apa yang dulu kau perbuat hingga aku begitu membencimu! Hingga sekarang hatiku masih belum tenang melihatmu selalu berada di sisiku ,hatiku seakan hancur melihatmu, walau aku mencintaimu sekalipun!"


Tian Lan berbalik memandang wajah suaminya itu, Feng Huang menatap kembali wajah istrinya yang tak memiliki ekspresi lain selain ekspresi wajah bingungnya.Benar, wanita itu bingung, ia tak tahu cintanya itu sebuah kesalahan atau apa.Haruskah dia menghancurkan perasaannya dan menguatkan egonya?


Kakinya kini berjalan mendekati istrinya yang berdiri terpaku di dekat ranjang.Ia peluknya istrinya itu seraya bertanya dengan nada bicaranya yang gemetar"Haruskah aku mengatakan segalanya kepadamu?"


"Aku benar-benar takut hatimu kembali hancur, aku takut kau meninggalkanku seperti kali terakhir," imbuhnya mencium leher Tian Lan dan menghirup aroma tubuhnya menyegarkan indra penciuman pria itu.


Tian Lan yang mendapati pria itu begitu terisak membuat hatinya sedikit luluh.Wanita itu melepaskan pelukan suaminya dan menyeretnya agar duduk di tempatnya kosong ranjang yang ada di sebelahnya."Sudahlah, aku tahu kau tak ingin aku seperti dulu lagi. Tapi aku harap kau tak akan mencampuri urusanku, apapun itu!" ucapnya mengingatkan, wajahnya bukan sekedar mengingatkan namun berkata'Jika kau ikut campur kau akan merasakan akibatnya!'


Setelah pengangkatan Selir Xiao Yun, ia wajib memberikan salamnya kepada sang ibu negara itu. Hal inilah yang membuat dirinya lebih memilih mati daripada bertemu dengan wanita yang membuatnya merasakan rasa takut hingga sekarang ini.


Pelajaran yang Tian Lan berikan kali terakhir agaknya membuatnya kehilangan muka juga membuatnya statusnya terpojokkan dalam Keluarga Yun. Bisa-bisanya dia mencari masalah dengan permaisuri yang kini telah memulihkan kembali kekuasaannya. Bahkan tak bisa di pungkiri lagi, kini pengaruhnya makin besar saja.


Di aula utama istana phoenix ...


Xiao Yun berjalan dengan langkah kakinya yang terasa begitu beratnya. Tian Lan yang menyaksikan kemenangannya itu mulai menampakkan seringainya, terbesit di pikirannya untuk memainkan trik kecil.


"Beraninya kau membuatku menunggumu cukup lama!" Tian Lan meninggikan nada bicaranya, Xiao Yun lantas terkesiap dan mempercepat langkahnya menuju ke hadapan salah satu dari penguasa kekaisaran saat ini.


"Hamba pantas mati Yang Mulia, Hamba tengah melamun tadi," ucapnya menjelaskan.


"Mohon Yang Mulia tak mempermasalahkan tentang hal ini!" imbuhnya sembari menempelkan dahinya di karpet merah aula.


Tian Lan memandang remeh kepadanya, kini wanita itu berkacak pinggang dan bangun dari duduknya. "Beraninya kau memerintahku? sungguh lucu, tadinya mengatai diri sendiri pantas mati, sekarang meminta pengampunan?" Tian Lan terkekeh. Begitu sangat gembiranya ia mempermainkan pion lawannya itu.


"Ampun? jangan harap!"


BERSAMBUNG ...


... ...


... ~❄️我爱你❄️~...