SNOW FLOWER

SNOW FLOWER
ALASAN MEMBENCIMU


❄️ SNOW FLOWER❄️


EPISODE 69


Kaisar mulai melangkahkan kakinya ke ruang utama istana phoenix. Feng Huang langsung menatap tajam kearah Tian Lan. Wanita itu begitu santai, menarik paksa Hong Lian yang memberi salam kepada Feng Huang yang baru saja tiba.


Sambil berkacak pinggang Tian Lan memerintah Hong Lian yang sudah ia tarik untuk berdiri. Tentu saja ini sebuah penghinaan untuk tahta kaisar. Namun pria itu lebih memilih untuk diam.


"Ambilkan aku sepasang sumpit lagi!" titahnya, ia seolah tak melihat kehadiran sang kaisar yang tengah berdiri di antara keduanya.


"Ta, tapi ..." jawabnya ragu. Hong Lian benar-benar tak habis pikir. "Tapi apa?" Tian Lan bangun dari duduknya. Ia menatap tajam kearah Hong Lian. Pupil mata wanita itu bergetar seolah menahan amarahnya.


Feng Huang, pria itu seolah lupa tujuannya ke istana phoenix. Ia terkejut melihat tatapan mata Tian Lan yang begitu menusuk. Ia tak pernah seperti ini sebelumnya. Walau marah sekalipun, ia dulu tak pernah seperti itu. Dan hari ini, hanya karena masalah sepele ia meninggikan nada bicaranya dan melayangkan tatapan menggerikan seperti itu.


"Kalian berdua, buang semua makanan ini! Dan kau, mungkin lebih baik aku membuang pelayan tak berguna sepertimu!" Ia beralih memerintah dayang yang berjaga di ruangan yang sama.


"Kau lebih takut mati daripada menjalankan perintahku! lanjutkan saja, berlututlah sepuasmu. Aku tak peduli!" Tian Lan mengeraskan rahangnya Dengan wajah masam ia beranjak keluar. Namun Feng Huang, pria itu tak tinggal diam. Ia menahan lengan istrinya dan membuatnya menatap langsung kearahnya.


"Kenapa kau seperti ini? Bukankah Hong Lian sudah kau anggap seperti kakakmu sendiri ..." Kata-katanya langsung saja mendapat balasan pedas dari Tian Lan. "Semua orang berubah mengikut masa. Orang juga berubah karena kekuasaan. Bukankah itu wajar? Lihatlah dirimu sendiri! Jika dia beranggapan buruk tentangku apa urusannya denganku, itu urusan dia sendiri!"


"Hong Lian adalah pelayanku, bukan pelayanmu. Tapi dia berani membantahku demi memberi salamnya kepadamu.


"Kau pikir semudah itu? aku tidak ingin memelihara anjing yang tak patuh!" Ia mendorong dahi Hong Lian dengan telunjuknya.


Entah ide aneh apa yang terbesit di pikirannya. Seringai mulai menghiasi bibir mungilnya, ia membelai lembut pipi Hong Lian dan menepuknya pelan. "Jika kau ingin menjadi pahlawan yang menyelamatkan seorang wanita dari majikan yang kejam ... aku punya saran, lebih baik jadikan dia sebagai selirmu saja!"


Kata-katanya begitu aneh. Wanita itu seolah tak keberatan jika suaminya mengangkat selir baru. Ia bahkan menawarkan pelayan pribadinya untuk melayani Feng Huang.


"Kenapa diam? Apa kau tak puas? kupikir kau sudah gonta-ganti teman ranjang selama aku begitu terpuruk mendekam di ruangan yang begitu dingin dan gelap itu.


"Lihatlah semua wanita yang menikah denganmu itu, begitu sial! Diantara mereka akulah yang paling sial karena menjadi permaisurimu!"


"Matamu itu, tatapan mata yang sama yang begitu aku benci. Terkadang aku merasa jijik denganmu. Kau sama seperti orang buta yang tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah,"


Tian Lan terang-terangan mengumpat pria itu. Ucapan yang begitu tajamnya membuat semua orang merinding dengan sesuatu yang keluar dari bibir mungilnya.


"Aku sudah terlalu sabar menghadapimu, tadi kau juga mengadu kepada ibu suri. Mengatakan hal buruk tentang Yun'er!" Feng Huang meninggikan nada bicaranya. Ia mulai mengutarakan maksud kedatangannya.


"Oh, jadi dia mengadu kepadamu. Dia pikir aku takut?" cemoohnya. Tian Lan berdecak kagum dengan keahlian Yun Fei dalam bersandiwara. Yang benar saja, ia selalu memperlihatkan sisi dirinya yang lemah lembut kepada Kaisar.


"Tujuanmu kesini untuk wanita jal*ng itu? kau benar-benar pria yang perhatian terhadap istrimu ya!" Feng Huang terdiam, ia tak bisa berkata-kata lagi.


"Bukankah kau yang lebih tahu kenapa dia kehilangan putranya? jangan berpura-pura lupa akan itu!" tuturnya, pria itu mulai kewalahan dan mengungkit hal yang paling Tian Lan benci.


"Huh, itu karma. Bukankah dia pernah bersumpah bahwa aku yang meracuni putranya. Jika ia berani berbohong ia takkan pernah memiliki anak sendiri!


"Apa tak ada sedikit keraguan pun yang ada di hatimu? Kau langsung saja percaya jika aku benar-benar melakukannya. Ingatlah, 'Mata bisa di tipu' Namun hal yang begitu sangat di sayangkan, hatimu pun juga buta!"


Tian Lan meninggalkan istananya, ia berlari tanpa arah yang jelas. Yang ia pikirkan sekarang, ia ingin berada di suatu tempat dimana ia bisa mengeluarkan Isak tangisnya. Ia menangis sejadi-jadinya, kali ini mungkin menjadi kali terakhir ia menunjukkan kelemahannya hingga hari dimana jiwanya melayang. Berkeliaran memasuki ruang waktu.


Bukan tanpa dalang, Kaisar Langit amat menyayangkan kematiannya hingga membuat tubuhnya seolah tidur begitu lamanya. Siapa yang tahu, wanita itu merusak raganya sendiri hanya karena tak ingin menjalani kehidupan yang seperti itu.


Racun dingin yang merusak jantung. Membekukan hati, tubuhnya yang sudah digerogoti oleh rasa sakit kini kosong. Jiwanya sengaja dipindah tubuhkan. Lalu dikembalikan seperti semula namun ... pasti dengan adanya kekurangan. Ia tak mengingat apapun akan kehidupannya di zaman lampau.


Yang ia ingat hanyalah ingatannya akan kehidupannya di zaman modern. Zaman yang akan datang. ber-abad abad yang akan datang. Ia lupa jika dirinya sebenarnya tak hanya menjelajahi waktu, tapi juga kembali ke kehidupannya sendiri, kembali ke raganya sendiri.


FLASHBACK END


Tian Lan mengedarkan pandangannya menyapu langit-langit kamarnya. Tatapan matanya kosong, hati juga kehidupannya yang begitu hampa.


Suasana kala itu begitu sepi, senyap dan dingin. Tak ada siapapun yang berjaga di sana. Hanya Kasim Fu yang kini berdiri di depan pintu kamarnya. Hal pertama yang ia pikirkan adalah "Berapa lama aku tak sadarkan diri?"


Ia ingat betul terakhir kali di hari itu. "Memang tak salah, sekarang aku tahu betul alasan kenapa dulu aku begitu membencimu. Feng Huang!" Kata-kata yang terucap saat kaisar menjatuhkan hukuman kurungan terhadapnya kini tergiang di pikirannya.


Sekarang jauh dari kata mengerti, melampauinya ia sekarang faham betul kenapa dia benar-benar membenci Feng Huang. Yang paling tak berani ia sangka-sangka dirinyalah yang selama ini ia kasihani. Dulunya ia begitu mengasihani Tian Lan, wanita itu memiliki lika-liku kehidupan yang begitu sulit. Memiliki begitu banyak rahasia, Tak luput ia juga begitu menyayangkan kejadian dimasa lalu.


"Jika bukan karena kau, aku tak akan jadi seperti ini!


"Iya, jika saja aku tak memiliki hati nurani. Mungkin sudah lama kau mati ditangan ku Feng Huang!"


Sedangkan di sisi lain, Feng Huang. Pria itu mengingat ucapan yang begitu menusuk yang kali terakhir ia dengan dari bibir mungil Tian Lan. Ia berbalik melihat ke belakang. Saat dimana Tian Lan dirundung atas tuduhan pembunuhan keturunan kaisar. Ia tahu hatinya ragu namun ia lebih memilih untuk lebih percaya dengan Yun Fei. Ia beranggapan bahwa seorang ibu tidak akan melukai anaknya sendiri hanya untuk naik pangkat dengan begitu pesatnya.


"Apa aku harus menyelidiki kembali masalah ini? Namun jika iya. Berapa luka yang akan kubuka kembali?"


"Ini aib, tapi ... jika aku melakukannya. Apa Tian Lan akan memaafkan ku?"


BERSAMBUNG ...


...~❄️我爱你❄️~...