
❄️ SNOW FLOWER❄️
EPISODE 78
"Hui? Kenapa dia ada disini?"
Feng Hui menatap Tian Lan dengan tampang wajahnya yang biasa. Ia tak menunjukkan ekspresi terkejut ataupun tak yakin.
"Benar-benar Anda ya, Yang Mulia" ucapnya, senyum canggung tersungging di bibirnya.
"Apa, siapa?" Sembari berkerut kening ia bertanya.
"Hamba sangat senang bisa bertemu dengan Anda secara tak sengaja. "
Tian Lan berdecak remeh. Benarkah itu sekedar ketidaksengajaan, atau memang disengaja. "Benarkah?" balas Tian Lan, ia menyunggingkan senyumannya yang jelas ia paksakan.
"Anda pasti sudah mendengar kabar duka dari kekaisaran tang. Yang Mulia permaisuri Tian Lan wafat dan kebetulan Hamba bertemu Anda"
"Huh, jangan bilang kau berniat mengundangku ke peringatan hari kematianku sendiri" pikir Tian Lan, ia mendengus kesal.
Tian Lan memijat pelipisnya, ia sekilas menatap wajah pria itu. "Kakakku yang malang. Mungkin aku tidak bisa menghadiri peringatan kematiannya seperti upacara pemakamannya" jelas Tian Lan. Ia berniat berpura-pura sebagai Tian Ling, adik dari dirinya sendiri.
"Kakak?"
"Aku tidak tahu kalau dia adalah yang tertua. Yang aku tahu dia punya seorang saudari yang tampangnya tak jauh berbeda darinya"
Feng Hui kembali menatap wajah Tian Lan. Ia mulai berpikir dengan logikanya. "Walau kembar sekalipun pasti ada perbedaannya."
"Dia kakakku, dan kalian masih berutang penjelasan kepadaku!"
Ia berbalik hendak pergi meninggalkan Feng Hui, ia sekilas melihat kebelakang. "Jangan lengah, aku pasti akan membuat Feng Huang membayar kematian kakakku."
"Suruh saja dia bersiap, aku baru ingat ..."
Sembari tersenyum sinis Tian Lan mengalihkan pandangannya kedepan. " Aku punya begitu banyak waktu luang. Aku harap kau tak mencabut ucapanmu dan menyambut kedatanganku di istanamu," imbuhnya. Ia pergi selepas mengatakan itu.
Feng Hui berpikir sejenak, ia mulai ragu dengan ucapannya sendiri. Jelas mereka adalah orang yang berbeda.
Tian Lan, dia wanita yang lemah lembut. Sedangkan dia Da Ziran, jelas bahwa keduanya bertolak belakang.
Wanita yang barusan ia temui adalah pembunuh berdarah dingin. Dia pasti mendapatkan apapun yang ia inginkan hanya dengan sekejap mata.
"Aku tidak yakin kakak bisa menyaingi wanita itu" Ia langsung menyimpulkan. Feng Hui sekarang ragu dengan keputusan kakaknya.
___________________________________
"Yang Mulia, apa Anda akan kembali kesana?" tanya Tao, ia tampak khawatir.
"Ada urusan yang belum aku selesaikan disana," balas Tian Lan. Ia beranjak setelahnya.
Tao berjalan beriringan dengan majikannya itu. Ia kini hanya bisa terdiam, ia tak bisa menghentikan apapun yang Tian Lan perbuat.
Dia hanya khawatir, Tian Lan kembali lemah setelah berbalik melihat kebelakang. Ia takut masa lalu Tian Lan kembali menjeratnya.
Beberapa minggu kemudian ...
Di jalanan pasar Kota Chang'an, Ibukota Negeri Tang ...
Dari balik tirai kereta kuda yang tersibak, Tian Lan memandang kearah jalanan. Tak sadar senyum samar mulai menghiasi wajahnya.
Baru saja ia menginjakkan kakinya di tanah, seorang anak menenggor tubuhnya. Hampir saja Tian Lan kehilangan keseimbangan tubuhnya dan nyaris roboh.
Wanita itu agaknya teringat akan kali pertama ia menginjakkan kakinya di negeri itu. Suasananya masih sehangat kali pertama.
Pasar yang ramai dan bising. Kini ia beralih memandang kesebuah restoran di pinggir jalan. Makan, sepertinya sudah lama dia tak merasakan masakan luar.
"Anda mau makan Yang Mulia?" Tao bergegas mengikuti langkah cepat majikannya itu. Dengan langkah tergopoh-gopoh ia membawa kantong uangnya.
Ia duduk menunggu pelayan restoran itu menghampirinya. Ia memesan begitu banyak makanan, sepertinya ia ingin kembali di saat-saat dirinya masih status buronan dari alam bunga.
Dirinya akan makan begitu banyak lalu menghabiskan seluruh waktunya untuk bersenang-senang. Entah itu merampas semua uang di tempat perjudian, ataupun taruhan. Dengan keahliannya dalam berjudi mungkin dia bisa disebut'Ratu Judi'
"Tao, makanlah bersamaku!" Itu lebih terdengar seperti perintah daripada permintaan. Ia seperti tak ingin di bantah untuk saat ini.
"Ya sudahlah, suasana hati Yang Mulia sedang bagus jadi makanlah dengan tenang Tao" Tao meyakinkan dirinya sendiri.
Tao pada akhirnya hanya bisa mengiyakan titah majikannya, makan dan duduk bersamanya.
Namun ketenangan itu tak berlangsung lama setelah seorang pencuri berlari melompat keluar jendela dengan bantuan meja makan Tian Lan agar bisa mencapai jendela anak itu benar-benar membuat suasana hati Tian Lan berubah.
"Cepat kejar dia!" teriakan para pelayan makin membuat Tian Lan terusik.
Raut wajahnya kini benar-benar masam. Tian Lan beranjak mendekat kearah pelayan yang sedari tadi membuatnya mendengar suaranya yang membuatnya jengkel.
"Tutup mulutmu!" bisik Tian Lan di telinga pelayan wanita itu.
Wanita itu berbalik melihat kearah Tian Lan. Dengan raut wajahnya yang congkak, ia malah membentak Tian Lan dengan suaranya yang begitu buruk itu.
"Kenapa kau ikut campur, cepat makan saja dan entahlah!" balasnya, dia benar-benar memandang remeh Tian Lan
"Kau hanya seorang pelayan, berani sekali membentak majikanku!" Tao mendorong bahu pelayan itu. Ia mulai kesal juga.
Semua orang menatap Tian Lan, pandangan aneh namun mereka takjub dengan keindahan yang kini memanjakan mata mereka.
"Aku akan membayar semua yang dicuri anak itu!" Tian Lan beranjak pergi. "Tao cepat bayar semua dan cepat pergi dari sini. Ck aku kehilangan nafsu makan setelah melihat wajahnya!" Tian Lan tersenyum sinis.
"Dasar, wanita aneh!" umpatnya. Ia langsung berbalik hendak kembali ke tempatnya.
"Kau yang wanita aneh. Dasar wanita rendahan!"
"Atas dasar apa kau mengatai majikanku wanita aneh. Kau benar-benar cari mati!"
Tao dengan sergapnya menarik kerah belakang baju wanita itu dan menghempaskan tubuh wanita itu ke lantai. Tepat di depan kaki Tian Lan.
Tian Lan memutar bola matanya. Ia hanya ingin menyantap makanan enak untuk memperbaiki suasana hatinya.
Tapi lihatlah, dimana-mana ia selalu mendapatkan masalah. Itu membuat muak.
"Kau beraninya ..." Kata-katanya terhenti. Tian Lan menginjakkan kakinya di kepala wanita itu dan menghantamnya ke lantai hingga berdarah-darah.
"Katakan berapa hargamu! Huh sekarang aku benar-benar kesal," Tian Lan menyibakkan rambutnya.
"Aku akan bayar berapapun, asal aku bisa menghabisimu saat ini juga!"
BERSAMBUNG ...
...❄️我爱你❄️...