
❄️ SNOW FLOWER❄️
EPISODE 67
Dari balik ruangan, seorang wanita yang tak lain Yun Fei berteriak mengumpat seorang Tian Lan dengan mulutnya yang tajam. Matanya bergetar, urat merah matanya membuatnya begitu menggerikan. Tian Lan sendiri kaget, ia tak tahu apapun juga.
"Kau telah membunuh putraku!, huhuhu putraku.
"Jika kau tidak ingin Feng Yu lebih menonjol daripada putramu katakan saja padaku! Aku akan menasehatinya supaya tidak merenggut apapun dari Ling jika itu tahta sekalipun!" wanita itu makin menjadi-jadi. Ia berteriak histeris.
Usia keduanya masih sama-sama belia, 3 tahun kedua pangeran yang pertamakali lahir setelah kenaikan Feng Huang menuju tahtanya. Siapa sangka diawal pemerintahannya ia malah mendapati masalah semacam ini. Ia dilanda kemarahan, kekecewaan dan kebingungan. Ia bingung 'Memangnya apa keuntungan yang Tian Lan peroleh dengan menyingkirkan Feng Yu?'
Di dalam kegaduhan, Tian Lan terdiam. Ia menundukkan kepalanya wajahnya menghadap ke bawah karpet. Kebisuannya dimata semua orang adalah tanda pengakuannya, karena dia tidak ada bukti untuk membela dirinya sendiri. Namun, dia sebenarnya memendam kekecewaannya terhadap sang kaisar, Feng Huang ... dia suaminya. Dia kira tak ada yang lebih mengenalnya daripada pria itu sendiri selaku suaminya.
Namun ia harus menelan pil pahit karena suaminya itu tak mempertimbangkan kembali ucapannya, walau sudah ia tarik sekalipun apa gunanya?
Jika kau menikamnya walau kau mencabut pisau mu kembali ... apakah itu tak berbekas?
Sekecil apapun itu pastilah berbekas walau hanya berupa goresan halus yang masih luput dari pandangan mata. Namun kebisuan Tian Lan malah membuat Feng Huang makin percaya wanita itu adalah pelakunya. Jika saja ia membela dirinya. Jika saja, mungkin ia akan menyelidiki hal ini lebih jauh. Namun siapa sangka wanita itu malah diam. Jika seperti itu, bukti sudah ada. Saksi pun sudah ada juga. Jika ia menyelamatkan permaisurinya saat ini, keadilannya sebagai seorang kaisar akan dipertanyakan.
"Karena tidak ada pembelaan dari dirimu sendiri ... maka kuputuskan kau akan menerima hukuman kurung di istana dingin selama kurun waktu setahun!
"Berpikirlah dengan bijak, jika kau ingin diberi waktu untuk membuktikan sendiri dirimu tidak bersalah. Aku akan memberi waktu juga keleluasaan untukmu mengikut sertakan prajurit ataupun pejabat pengadilan."
Lama , sangat lama wanita itu terdiam. Hingga suara lantang Yun Fei memecah keheningan di kala itu Wanita itu terus mengumpat Tian Lan tanpa memandang posisinya sendiri. Hong Lian kini angkat bicara, ia berlutut. Pembelaan keluar dari mulut gadis itu. Ia dengan lancarnya mengatakan apa yang ia ketahui.
"Ampun beribu ampun Yang Mulia! Hamba tidak percaya jika permaisuri ... " kata-katanya terhenti saat ia mendapati rintikan air yang membasahi karpet tempat dimana telapak tangannya menempel. Ia beralih menatap kearah Tian Lan yang diam tak bergeming. Tangannya yang mengepal gemetaran. Apa yang membuatnya takut?
"Kau diamlah!" titahnya, nada bicaranya terdengar begitu lirih namun penuh dengan tekanan. Hong Lian terdiam seketika. Ia tak lagi mengatakan apapun.
Setelah setengah tahun Istana begitu tentram. Kehampaan melanda walau suasananya begitu tentram. Tak ada candaan dari seorang Tian Lan yang merupakan permaisuri yang begitu berbeda dengan seorang permaisuri ataupun istri sah pada umumnya. Ia begitu baik walaupun kepada selir suaminya.
Bukan tanpa alasan, ia tahu pasti bahwa burung phoenixnya itu hanya mencintainya seorang. Dan juga wanita-wanita itu. Betapa malangnya nasib mereka. Dipaksa untuk tinggal di istana untuk mengadu nasib. Siapapun disayang akan hidup dengan baik, dan yang tidak ... jangan tanya seperti apa kehidupan mereka. Entah itu ditindas oleh yang lainnya atau mungkin pengaruhnya yang tak cukup untuk mempertahankan martabatnya sebagai selir kekaisaran.
Di serambi kuil Dewi Bunga ...
Mu Qing menggenggam erat jemarinya. Ia ketakutan seolah akan menemui ajalnya. Di hadapannya, seorang pria berambut perak menyibakkan rambutnya yang panjang. Ia tersenyum sinis, sekejap mata ... tiba-tiba saja Mu Qing terpental jauh. Tubuhnya menabrak dinding, tubuhnya jatuh setelah punggungnya merosot dari dinding setelah itu.
Mu Qing duduk tersungkur dilantai, ia mengelus lehernya hingga terbatuk-batuk dan seteguk darah keluar dari mulutnya.
Liliang berjalan mendekat kearahnya. Mu Qing dengan antusias langsung saja menyeret tubuhnya mundur berharap pria itu tak berbuat macam-macam terhadapnya.
"Aku mohon lepaskan aku!, Aku katakan, permaisuri sudah tahu semuanya.
"Dan dia hanya diam dan tak menyalahkanku karena aku memang terpaksa. Kenapa kau malah begini? Apa kau masih mencintainya? Hah?
"Katakan padaku! Kau kabur dari istana langit hanya untuk berada di sisinya kan?" tanyanya, ia makin menjadi-jadi. Liliang terdiam, Walau begitu haruskah dia mengorbankan persahabatannya untuk kepentingannya sendiri?
"Apa kau merasa bahwa kau begitu bodoh? Kau punya kami. Kenapa kau tidak meminta bantuan saja kepadaku atau Lan'er?
"Walau kekuatanmu tersegel, bukan berarti aku juga. Kenapa kau malah menyeret Lan'er kedalam masalah, bukannya meminta bantuan dariku?" Liliang meninggikan nada bicaranya. Ia benar-benar tak habis pikir oleh wanita yang ada di hadapannya itu.
Di balik dinding istana dingin yang begitu dingin pula. Punggung rapuh bersandar kepada-nya, mata sayu, pakaian lusuh, bibir mungil yang kering dan rambutnya yang panjang terurai. Ia begitu cantik namun keadaannya membuat kesan menyedihkan yang begitu dalam. Hatinya terasa seperti tercabik-cabik. Teringin ia teriak, ingin ia menangisi nasibnya yang begitu malang ini.
Dulu ... ia berpikir bahwa dirinya akan hidup bahagia jika memiliki kekuasaan, ia tak akan menderita namun ... Kini ia sadar, matanya seolah terbuka lebar setelah terhalang oleh silaunya cahaya harapan. Kekuasaan akan membuat seseorang menjadi tak bermoral, tidak lagi memiliki hati nurani. Banyak orang akan melakukan hal yang buruk hanya untuk memperkuat pengaruhnya.
Ini juga bisa membuat orang selalu haus akan kekuasaan. Tak akan merasa puas walau dipuncak tertinggi sekalipun. Dan selalu merasa tak puas.
"Feng Huang, aku pernah mengatakan ini kepadamu, untuk terakhir kalinya aku akan tersenyum dan selamat tinggal!"
"Aku sudah bertahan sampai titik terendah. Aku berharap setidaknya kau percaya kepadaku walau kau tak angkat bicara untuk membelaku di depan umum. Namun ... kurang lebihnya aku tak sebanding dengan tahta yang kau miliki!"
"Selamat tinggal Peri Buah, Sekarang aku Tian Lan. Jika kau tanya siapa aku. maka aku adalah seorang wanita yang berhati dingin. Hatiku kini telah mati dan Dunia baru ... tunggulah aku!"
Wanita itu mulai terlelap, pandangannya mulai buram hingga ditelan kegelapan.
Sekedar informasi
Selama seminggu dihitung dari hari ini. Senin, 30 November 2020. Aku berfokus ke ujian akhir semester. Ya ... kalau up-nya makin ga nentu aku minta maaf sebesar-besarnya. Karena ini juga kendala dari aku sendiri.
Stay safe Ok
...~❄️我爱你❄️~...