Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Sang penolong


Tubuh Hendra terjerembab ke jalan aspal untuk kedua kalinya, kali ini ia betul-betul sudah kepayahan. Dalam kondisinya yang setengah sadar, ia melihat dua orang turun dari motor sport dengan masih mengenakan helm full face.


Tanpa banyak bicara, kedua orang itu langsung menyerang para begal tanpa ampun. Mereka seolah memiliki tenaga yang tak habis-habis untuk meladeni serangan demi serangan dari para penjahat itu.


Hendra yang masih terduduk di jalan aspal dan mulai sadar penuh pun menelepon kantor polisi terdekat, untuk melaporkan kejadian kriminal yang ia alami.


Hendra coba mengumpulkan seluruh tenaganya kembali untuk membantu dua orang yang sedang menolongnya membekuk bandit-bandit tersebut.


Namun ketika Hendra sedang mencoba berdiri dengan tubuh yang masih sempoyongan, seorang bandit melihatnya dan merangsek untuk kembali menghajarnya.


Beruntung salah seorang penolong Hendra dengan cekatan menarik kerah jaket bandit itu dari belakang untuk mencegahnya mendekati Hendra.


Tanpa memukul, ia hanya membenturkan helm yang masih dipakainya ke kepala bandit itu sampai tersungkur.


Perkelahian masih terus berlangsung ketika mobil polisi datang untuk menggiring mereka ke polsek terdekat.


Hendra bersyukur dan bernapas lega melihat kawanan begal itu tak berkutik saat diringkus polisi. Ia dibantu petugas untuk berdiri.


"Anda yang tadi melapor ke polsek kami, Mas?" tanya petugas itu.


"Iya Pak, saya Hendra. Korban dari kawanan begal itu."


"Keliatannya Anda luka-luka, mari kami antar ke klinik terdekat dari sini."


"Hmmm ... enggak usah Pak, saya ... enggak apa-apa kok. Saya pengin cepat pulang aja, adik saya pasti sudah nungguin di rumah."


"Tapi lukanya memang harus diobati dulu, Mas. Jangan ditunda." desak petugas.


Tiba-tiba salah seorang yang memakai helm full face yang tadi menolong Hendra merintih sembari memegangi perutnya.


Hendra terkejut, ia menatap ke arah orang tersebut.


Kok suaranya kayak cewek? pikir Hendra.


"Are you okay?" tanya rekan yang tadi memboncengnya.


Orang itu melepas helm rekannya yang merintih.


Hendra terperangah, matanya tak berkedip melihat paras Danisha yang khas orang western dengan mata biru cerahnya dan rambut kecoklatan.


Waduh, ternyata yang nolongin gue bule cantik?? batin Hendra.


"Ayo Mas, kami antar ke klinik di ujung jalan sana. Sekalian kami mau minta keterangan tentang kronologi kejadian tadi." ajak salah seorang petugas.


Hendra terkesiap, ia segera memalingkan pandangan dari bule cantik itu.


"Danisha, we have to go to clinic!" ajak orang yang tadi membonceng gadis bule yang ternyata bernama Danisha.


"Sorry, can we ask for your testimony about the incident that just happened?" tanya petugas dengan cepat sebelum Danisha dan rekannya itu pergi.


"But we have to go to clinic, they hitted my sister!" sahut bule lelaki yang ternyata kakak Danisha yang bernama Darren, setelah membuka helmnya.


Hendra kembali tertarik melihat wajah pemuda tampan itu yang juga berwajah bule seperti Danisha.


"Pak, maaf. Mungkin lebih baik kita ke klinik saja sama-sama. Nanti mereka kasih kesaksian di sana saja." saran Hendra.


"Ya, saya setuju!" celetuk Darren.


Hendra kembali terperangah, ia menatap Darren dengan kagum.


"Lho, bisa bahasa Indonesia?" tanya Hendra.


"Ya, bisa. Kami sudah setahun tinggal di sini." sahut Darren.


Hendra manggut-manggut.


"Kalau begitu, mari kita ke klinik sama-sama. Nanti saya minta keterangan kalian di sana, mengingat kondisi kalian yang tak memungkinkan kami mintai keterangan di kantor." sahut petugas dengan bijak.


"Baik, terima kasih Pak." sahut Hendra.


Setibanya di klinik, ia segera mendapat penanganan medis yang sigap dari para petugas medis yang bertugas malam itu.


Saat sudah diperiksa oleh dokter jaga, dan polisi sudah meminta keterangan dari mereka bertiga, akhirnya Danisha dan Darren pamit pulang.


"Maaf, kami permisi dulu ya? Kamu semoga cepat membaik." ujar Darren dengan ramah.


"Tunggu, saya belum ucapkan terima kasih sama kalian. Terima kasih banyak sudah menolong saya tadi. Kalau enggak ada kalian, saya enggak tau apa jadinya." ucap Hendra.


Darren dan Danisha tersenyum, "Ya, sama-sama. Kami juga dulu pernah jadi korban hmmm ... begal di jalan, seperti kamu." sahut Darren dengan aksen western yang masih terasa, walau ia sudah bisa berbahasa Indonesia.


"Thanks, sudah telepon polisi. Hmmm ... mereka datang on time." imbuh Danisha.


Hendra tersenyum mendengar Darren dan Danisha berbicara, karena baru kali ini Hendra berhadapan langsung dengan orang berwajah bule dan berbicara dengan aksen bulenya yang masih cukup kental.


"Oh iya, bagaimana kondisi kamu, hmmm ....?" Hendra coba bertanya pada gadis bule itu, tapi ia lupa siapa namanya.


"Danisha." sahut Danisha, cepat sambil tersenyum.


"Oh, iya maaf. Danisha?"


"I'm okay. Mereka pukul perut saya tadi, tapi ... tidak apa."


Hendra tersenyum, "Syukurlah kalau begitu." timpal Hendra.


"Oh ya, nama kamu ... siapa?" tanya Darren, ramah.


"Hendra." sahut Hendra sambil menjabat tangan Darren, namun hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum pada Danisha.


Darren dan Danisha saling tatap dengan alis terangkat, "Oh, wow! nama kamu seperti nama papa kami." seru Darren, tak menyangka.


"Oh ya?? Kebetulan sekali ya? Apa papa kalian orang Indonesia?" sahut Hendra sumringah.


"Ya, papa orang Indonesia, and mommy ... Australian."


"Oh begitu? tapi wajah kalian lebih dominan bule ya? Makanya saya kaget ternyata kalian bisa bahasa Indonesia."


"Ya, di rumah kami bicara dua bahasa. Mami juga bisa bahasa Indonesia, dan papa sudah jelas bisa bahasa Inggris." papar Darren.


Hendra kembali manggut-manggut mendengar penjelasan dari Darren.


"Hmmm ... kamu ... baik-baik saja, Hendra?" tanya Danisha seketika melihat luka-luka lebam di wajah dan beberapa bagian tubuh Hendra.


Hendra sontak salah tingkah, kemudian ia tersenyum.


"I'm okay." sahut Hendra menirukan ucapan Danisha, membuat Darren dan Danisha pun tertawa.


"Maaf Mas Hendra, sudah mau pulang sekarang? Biar kami kawal. Mas Hendra silakan naik ke mobil kami, biar anggota kami yang bawakan motor Mas Hendra sampai ke rumah." salah seorang petugas polisi mendatangi Hendra yang masih berbincang dengan Darren dan Danisha.


"Oh, apa tidak merepotkan, Pak?" tanya Hendra, tak enak hati.


"Sudah menjadi tugas kami mengayomi masyarakat. Apalagi kondisi Mas Hendra sedang luka-luka."


"Hmmm ... ya sudah kalau begitu, terima kasih banyak ya Pak sebelumnya. Oh iya, buat kalian juga saya ucapkan terima kasih sekali lagi, karena sudah menolong saya."


"Sama-sama, Hendra. Mungkin untuk selanjutnya ... kita bisa berteman?" ujar Darren.


Hendra sumringah menanggapi usulan Darren, dengan mantap ia pun mengangguk.


"Boleh. Mungkin bisa diawali dengan tukeran nomer HP?" ujar Hendra, bersemangat.


Darren dan Danisha mengangguk dan tersenyum pada Hendra. Mereka pun saling bertukar nomor ponsel, kemudian akhirnya mereka berpisah untuk kembali ke rumah masing-masing.


****