
Setelah bertemu dengan kedua orang tua Igan, Tia pun makin mantap menatap masa depannya bersama sang pujaan hati, karena restu sudah mereka kantongi. Segala persiapan menuju hari bahagia mulai mereka rancang.
Segala rencana dan pembicaraan tentang masa depan berdua pun tak dilewatkan oleh Igan dan Tia. Tia berencana ingin mundur dari pekerjaannya dan lebih memilih berbisnis kuliner, karena ia memang menyukai bidang tersebut dan agar lebih banyak waktu sambil mengurus suami dan anak di rumah.
Igan mendukung penuh keinginan sang kekasih dengan niat baiknya. Igan pun berkeinginan untuk perlahan mundur dari dunia hiburan dan fokus bekerja di perusahaan.
Igan merasa jam kerjanya sebagai artis yang tak pandang waktu itu pasti akan banyak menyita waktunya di luar rumah, dan ia tak menginginkan itu jika kelak sudah menikah.
Saat mereka utarakan niatan masing-masing pada kedua orang tua Igan, mereka pun mendukung. Mereka justru menawarkan bantuan untuk membuatkan toko kue bagi usaha sang calon menantu, tapi Tia menolak dengan sopan.
Ia merasa masih ada waktu untuknya bekerja di perusahaan Erlangga, dan ia bertekad untuk lebih banyak menabung sebagai modal usahanya kelak.
"Ya sudah kalau memang begitu niat kamu, kami pasti mendukung. Tapi kalau kamu butuh bantuan, jangan sungkan bilang ke kami ya, Tia? Kalau kamu sudah menikah sama Igan, otomatis kamu juga sudah jadi anak kami." ujar Bulan.
Tia tersenyum, "Terima kasih banyak Bu, yang pasti saya akan butuh bantuan doa dari Ibu dan Pak Bintang untuk kelancaran rencana saya dan Mas Igan."
"Iya, kami pasti doakan." Bulan tersenyum lalu mengusap lengan calon menantunya penuh kasih seperti pada anak sendiri.
Bintang menoleh ke arah putranya yang duduk bersebelahan dengan Tia.
"Kamu sendiri, sudah yakin Nak untuk fokus di perusahaan?" tanya Bintang pada Igan.
Igan mengangguk, "Insyaa Allah yakin Yah. Dunia hiburan nanti Igan jadiin selingan aja, bukan kerjaan utama. Bener kata Ayah dulu, jam kerjanya yang enggak kenal waktu itu pasti banyak menyita waktu di luar rumah."
"Hmmm ... kamu baru pikirkan hal itu sekarang ya Nak, waktu sudah kenal Tia. Dulu kalo ayah singgung soal itu, kamu pasti menghindar." singgung Bintang sambil melirik dan tersenyum pada sang putra.
Igan terdiam, ia menatap ayahnya sambil meringis.
"Iya, maaf Yah. Bukan maksud Igan enggak nurutin kata-kata Ayah, tapi ... ternyata ego Igan baru bisa luntur sekarang." sahut Igan.
"Saya enggak nyangka, ternyata orang yang bisa melunturkan ego anak saya itu kamu, Tia." puji Bintang sambil tersenyum pada Tia.
Tia tersipu, ia tersenyum malu dan menunduk.
*
Malam hari, Tia tiba-tiba terbangun dari lelapnya. Ia tersentak karena wajah sang kakak membayangi tidurnya.
Ia lantas melirik ke arah jam di dinding kamarnya.
"Jam 11, masih dua jam lagi Kak Hendra selesai jaga malam. Ya Allah, tapi kenapa perasaanku enggak enak ya soal Kak Hendra?" gumam Tia, kemudian duduk dan mengambil ponselnya dari laci meja kecil di kamarnya.
Ia tampak fokus menelepon seseorang.
"Assalamu'alaikum, Dek?" suara Hendra menyapa di ujung telepon.
"Wa'alaikum salam. Kakak masih di kantor kan?"
"Iya, masih jaga. Kan kakak shift sore jadi pulangnya nanti tengah malem. Kamu kok belum tidur?"
"Aku kebangun, Kak. Perasaanku mendadak enggak enak soal Kakak."
"Enggak enak gimana?"
"Aku ngerasa ... bakal ada sesuatu yang terjadi sama Kakak. Kakak hati-hati ya?" ucap Tia dengan nada cemas.
Hendra terdiam sejenak, terdengar ia menghela napas panjang.
"Iya Dek, doain kakak supaya selamat dan sehat ya?"
"Iya Kak, pasti. Ya udah, aku mau sholat dulu ya Kak?"
"Iya. Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikum salam ...."
Tia menekan tombol merah untuk mengakhiri percakapannya di telepon. Matanya menerawang ke arah jam dinding, tampak raut kecemasan terpancar. Namun ia memilih bergegas keluar kamar untuk mengambil air wudu dan menunaikan salat qiyamul lail.
Tia melaksanakan salat sunah dua rakaat dengan khusyuk sampai selesai. Di akhir salatnya, tangannya menengadah bermunajat memohon perlindungan kepada Sang Maha Hidup untuknya dan juga orang-orang yang ia sayangi, termasuk Hendra kakaknya.
Air matanya mengalir saat bersimpuh di atas sebuah sajadah berwarna hijau muda. Doanya teruntai dengan penuh harap diijabah oleh Sang Maha Mendengar.
Doa yang terucap diiringi isak tangis yang tertahan, ia kembali terbayang tentang apa yang tadi ia lihat dalam tidurnya. Dengan penuh keikhlasan dan pengharapan pada Sang Khaliq, ia mohonkan perlindungan khususnya untuk sang kakak.
Pukul 01.00 dini hari, Hendra baru akan meninggalkan kantor setelah serah terima tugas dengan rekannya yang bertugas shift malam sampai pagi, menggantikan ia dan beberapa rekannya yang selesai bertugas.
"Gue balik dulu ya?" seru Hendra pamit pada rekan-rekannya.
"Yoi, gue juga mau balik nih." sahut rekan Hendra yang juga selesai bertugas malam itu.
"Pada ati-ati ya baliknya!" seru Rustam, petugas keamanan yang siap bertugas malam itu sampai pagi.
"Siap, Tam!" sahut Hendra sambil tersenyum.
Hendra menaiki punggung kuda besinya melewati jalanan kota yang cukup sunyi malam itu. Maklum, waktu sudah beranjak dini hari saat Hendra pulang dari tugasnya. Hanya beberapa kendaraan yang kebetulan terlihat melintas di jalanan kota itu.
Jaket tebal yang membalut tubuh Hendra sedikit membantu melindungi tubuh atletisnya dari angin malam yang menerpa.
Tiba-tiba ia teringat dengan ucapan adiknya di telepon tadi malam. Sang adik yang memiliki kemampuan yang tak banyak dimiliki orang lain itu berpesan padanya agar berhati-hati, karena ia merasa akan ada suatu kejadian yang menimpa kakaknya itu.
"Kejadian apa yang Tia liat di mimpinya tentang gue ya? Ya Allah, tolong lindungi hamba dari segala marabahaya apapun yang mengancam. Aamiin ...." batin Hendra.
Ia kembali menyusuri jalan dengan terus berzikir mengingat Rabb-nya Yang Maha Pengasih. Ketika ia akan melewati sebuah jalan pintas beberapa meter di depannya, Hendra memutuskan untuk tidak melewati jalan yang biasa ia lalui itu.
Entah kenapa batinnya merasa ragu jika harus melewati jalan pintas yang dikenal sepi itu. Logikanya berkata, jika kejahatan mungkin lebih memilih wilayah yang lebih sepi untuk mencari mangsa, untuk itu Hendra memilih untuk menghindarinya.
Hatinya mantap memilih jalan utama walau jaraknya sedikit lebih jauh. Namun malang tak dapat dicegah. Ketika Hendra dengan tenang melintas di jalan utama kota, dari arah belakangnya tiba-tiba melaju tiga buah motor dengan pengendara yang saling berboncengan melesat cepat mendekat ke arah Hendra.
Hendra terkejut dan melihat ke arah spion, perasaannya menjadi tak enak. Ada kekhawatiran yang mendadak hinggap di benaknya.
"Astagfirullahal'adzim!" Seru Hendra, panik.
Dua motor berhasil mengapit motor Hendra lalu mereka menghardik Hendra agar menghentikan motornya.
"Berhenti!" hardik orang itu.
Hendra tak peduli, ia justru berusaha tancap gas dan mendahului orang-orang yang ia yakin berniat jahat itu. Namun usahanya sia-sia, tiga pengendara motor itu justru makin garang dan mengepung Hendra.
Salah satu motor memepet motor Hendra, lalu orang yang membonceng menendang bagian samping motor Hendra hingga rubuh dan tubuh Hendra terpental ke jalan aspal.
Kawanan penjahat yang ternyata pembegal itu berhenti, lalu salah satu di antara mereka mendekat ke arah motor Hendra, berniat untuk membawa kabur.
Hendra yang masih merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya itu melihat salah satu begal yang sedang berusaha membawa kabur motornya. Lalu dengan sekuat tenaga yang tersisa, ia berteriak dan berusaha bangkit.
"Woy, berhenti! Jangan bawa motor gue!" bentak Hendra sambil berusaha bangkit.
Namun para begal itu tak peduli, salah satu dari mereka pun menghampiri Hendra lalu hendak menendang Hendra, tapi dengan sigap Hendra menangkap kaki orang itu dan menariknya hingga terjatuh.
Melihat rekannya terjatuh karena Hendra melakukan perlawanan, membuat begal yang lainnya geram. Mereka turun dari motor lalu berniat untuk mengeroyok Hendra beramai-ramai.
"Bismillahirrohmanirrohim ...." ucap Hendra lirih kemudian ia seperti mendapat kekuatan baru untuk bangkit dari posisinya yang tadi terjerembab.
"Masih bisa ngelawan juga lu?!" hardik salah satu begal yang bertato namun berbadan kerempeng.
"Pergi kalian kalo mau selamat!" gertak Hendra.
Kawanan penjahat itu justru saling tatap dan terbahak mencibir Hendra.
"Harusnya lu yang pergi kalo mau selamat! Tapi tinggalin motor lu sama barang berharga yang ada di tas lu itu!" sahut si begal tak kalah gertak.
Hendra tersenyum, "Jangan mimpi!" tukas Hendra.
"Kurang ajar!" teriak salah seorang begal itu, kemudian ia menyuruh kawanannya untuk bersama-sama melumpuhkan Hendra yang sudah berdiri tegak dan siap bertarung.
Perkelahian sengit dan tak seimbang itu pun pecah. Hendra yang memiliki keterampilan ilmu bela diri yang cukup mumpuni tak mudah mereka tumbangkan. Ia terus melakukan perlawanan walau raganya terasa sakit sekujur badan.
Dari kejauhan, tampak sebuah motor sport melaju mendekat ke arah lokasi kejadian. Pengendara motor itu dua orang yang berboncengan, memakai jaket denim, celana jeans dan sepatu kets, dipadu dengan helm full face yang menutup wajah mereka.
Sementara itu, Hendra mulai terkuras tenaganya karena meladeni enam orang begal yang terus menyerang. Ia pun mulai lemah dan dapat dengan mudah diombang-ambing oleh pukulan demi pukulan dari para keparat itu.
Hendra terus berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya agar tak limbung, ia tak mau mati konyol di tangan bandit-bandit itu.
"Allahu Akbar!!" teriak Hendra sekuat tenaga, ia berusaha memulihkan kesadaran dan tenaganya kembali. Namun, sebuah pukulan keras menghujam di perutnya dan membuat Hendra ambruk.
****