
Tia dan Rey bersama pulang ke rumah Tia untuk mengambil pakaian dan keperluan lainnya setelah Rey selesai makan.
Di perjalanan, Tia coba mengajak Rey berbincang untuk mencairkan bongkahan emosi yang masih tampak di sorot mata Rey.
"Ngomong-ngomong, Pak Rey rumahnya di mana?" Tanya Tia.
"Kenapa, kamu mau main?" Rey balik bertanya.
"Hmmm ... enggak sih, nanya aja." Sahut Tia, tersenyum.
"Kapan-kapan kamu harus main ke rumah saya ya?"
Tia hanya tersenyum, ia merasa terjebak oleh kata-katanya sendiri.
Tak lama kemudian, mereka pun tiba di rumah Tia.
"Silakan duduk Pak Rey, saya ke dalam dulu ambil pakaian dan lain-lain yang mau saya bawa." Ucap Tia kemudian masuk ke ruang tengah, sedangkan Rey duduk di ruang tamu untuk menunggunya.
Rey mengambil ponsel dari sakunya, ia membuka galeri foto lalu tampak fokus memainkan jarinya di atas layar ponsel.
Jarinya berhenti bergerak tepat ketika bibirnya bergumam, "Susan ...."
Rey memandangi layar ponselnya yang menampilkan foto Susan, mendiang istrinya.
Aku rasa, aku sudah menemukan pengganti kamu Susan. Semoga kamu sudah bahagia di sana, karena aku juga yakin akan bahagia bersama dia. Batin Rey sambil memandangi foto Susan.
Sementara itu, Tia sedang sibuk mengemas pakaiannya dan pakaian Hendra serta beberapa perlengkapan lalu ia masukkan ke dalam travel bag.
Ia tampak terburu-buru sebab tak ingin Rey menunggunya terlalu lama. Namun ketika ia hendak keluar kamar menemui Rey di ruang tamu, langkahnya terhenti karena ia ingat sesuatu.
"Tuh kan hampir lupa!! Gue kan mau buka kado dari Pak Rey." Ujarnya.
Ia menuju sebuah meja kecil di sudut kamarnya lalu membuka laci meja tersebut. Tampak sebuah kotak kecil terbalut bungkusan kertas kado.
Tia duduk dan mulai menyobek kertas yang membalut sisi kotak tersebut hingga tampak sebuah benda yang membuatnya terperangah.
"Gila, ini ... beneran kado buat gue??" Gumam Tia, tak percaya.
Tia terus memandangi benda yang ada di tangannya itu dengan takjub, sebuah kalung dengan bandul bermata biru.
Namun ia segera tergerak untuk menemui Rey sembari membawa tas berisi pakaian dan perlengkapan yang tadi ia siapkan.
Tia membawa tas itu keluar dari kamar menuju ruang tamu, di mana Rey berada.
"Sudah semua, Ti?" Tanya Rey ketika melihat Tia datang membawa tas.
"Sudah Pak."
"Ya sudah, yuk?" Ajak Rey seraya mengambil alih tas yang ada di genggaman Tia.
"Sebentar Pak, saya mau tanya sesuatu."
Rey berhenti lalu menatap Tia, heran.
"Ada apa?" Tanya Rey.
Tia tampak mengeluarkan kotak berisi kalung cantik itu dari dalam sakunya. Rey melihatnya lalu tersenyum.
"Sudah kamu buka?" Tanya Rey.
Tia mengangguk lalu bertanya, "Pak Rey enggak salah kasih saya hadiah sebagus ini? Ini berlebihan Pak, saya enggak bisa terima."
"Enggak Tia, saya memang sengaja kasih kalung itu buat kamu. Itu kalung istimewa buat saya, jadi saya mau kasih ke orang yang juga istimewa di hati saya." Ucap Rey seraya menatap Tia dengan dalam.
"Euh? Istimewa?"
"Iya, semakin hari saya semakin tertarik sama kamu Tia. Ada rasa yang beda di hati saya kalau lihat dan dekat sama kamu, dan rasa itu bikin saya nyaman."
Tia terdiam, ia coba menelaah maksud ucapan atasannya itu agar tak salah mengartikan.
Tia terhenyak, ia makin tak dapat berkata-kata. Rey menatapnya dengan lekat, membuat jantung Tia berdebar tak karuan.
Gue harus bilang apa nih?! Batin Tia, bingung.
"Kamu mau kan jadi pendamping hidup saya?" Tanya Rey.
Tia menahan napas, ia menatap ke dalam manik mata Rey untuk menelisik kesungguhan ucapannya.
*P*ak Rey kenapa tiba-tiba 'nembak' gue gini sih? Kenal juga baru beberapa bulan, masa iya dia langsung cinta? Batin Tia, heran.
"Kenapa Ti? Kamu ... mau kan nerima saya? Ya ... walaupun saya seorang duda, tapi kamu enggak harus ngurusin anak tiri dari saya kan?" Bujuk Rey, agak mendesak.
"Hmmm ... saya ...." -Tia celingukan salah tingkah sembari coba mencari kalimat yang tepat sebagai jawaban- "Saya rasa kita belum lama kenal Pak, terlalu cepat kalau Pak Rey bilang cinta ke saya." Imbuhnya.
"Loh kenapa enggak, Ti? Saya aja percaya kok adanya cinta pada pandangan pertama. Dulu, saya juga jatuh cinta sama mendiang istri sejak pertama kali ketemu." Ujar Rey, coba meyakinkan gadis pujaannya itu.
"Ya mungkin Pak Rey bisa begitu, tapi saya enggak."
Rey menghela napas dalam lalu tersenyum seraya menatap Tia yang tampak canggung.
"Ya sudah enggak apa-apa, terserah kamu aja. Tapi boleh kan kalau saya pakaikan kalung itu?"
Tia kembali terhenyak, rasa canggung kembali menyergap. Dia teringat oleh nasehat sang kakak yang memintanya agar pandai menjaga diri.
"Enggak usah Pak, saya bisa pakai sendiri kok." Elak Tia.
Tia segera membuka kotak kecil itu lalu memakai sendiri kalung cantik tersebut di lehernya, karena ia tak mau jika Rey sampai memakaikannya.
Rey tersenyum sumringah, dan menatap Tia tanpa berkedip.
"Kamu makin cantik, Tia." Puji Rey.
Jantung Tia makin berdegup kencang, ia berusaha sebisa mungkin menahan rasa agar tak terbawa suasana.
"Makasih, Pak. Lebih baik kita cepat ke rumah sakit, kasihan Kak Hendra." Ujar Tia seraya menjinjing tas dan berjalan cepat menjauh dari Rey.
Rey pun segera menyusul Tia untuk membawakan tas yang sedang Tia bawa.
Pak Rey sebetulnya baik, tapi kadang sikapnya agak memaksa. Gue jadi serba salah gini gara-gara dia 'tembak'.
Di perjalanan kembali menuju rumah sakit, Tia merasakan lelah dan kantuk yang teramat sangat. Ia pun tertidur di dalam mobil, tepat di sebelah kursi kemudi.
Rey yang melihat Tia tertidur hanya tersenyum dan membiarkannya nyenyak. Rey tetap fokus menyetir mobilnya dengan hati-hati.
Lagi tidur aja kamu kelihatan cantik,Tia. Bagaimana saya enggak jatuh cinta sama kamu, apalagi kamu ada kemiripan dengan mendiang Susan. Ucap Rey dalam hati.
Dalam tidurnya, Tia kembali bermimpi bertemu dengan wanita muda yang sempat hadir di alam bawah sadarnya tadi pagi saat masih di kantor.
Wanita itu tersenyum pada Tia, lalu memandangi kalung yang Tia kenakan.
Tia merasa heran, siapa wanita itu? Dan kenapa ia memandangi kalung yang baru saja ia pakai?
Dalam alam bawah sadarnya, Tia bertanya pada wanita tersebut.
"Maaf, kamu siapa? Sudah dua kali saya ketemu kamu."
Wanita itu tak menjawab, ia tetap tersenyum sambil memandangi kalung itu.
Kenapa dia ngeliatin kalung ini terus ya? Batin Tia.
Kemudian tiba-tiba wanita muda itu menunjuk kalung yang Tia kenakan hingga membuat Tia keheranan.
Siapa ya namanya? Dia pernah sebut namanya tapi gue lupa, suaranya enggak kedengaran jelas. Sekarang dia muncul lagi dan lihat ke kalung ini terus, ada apa sebenarnya? Batin Tia bertanya-tanya.
***