
Setibanya di rumah Ilona, ia segera masuk ke dalam rumah sedangkan Igan menunggu di ruang tamu sambil bermain game kesukaannya di ponsel.
Saat ia sedang asyik bermain, tiba-tiba saja ia teringat Tia dan Hendra. Igan jadi tertegun dan tidak melanjutkan permainannya.
Ia justru tampak menggunakan ponselnya untuk menelepon Bintang, ayahnya.
"Assalamu'alaikum ...." Sapa Bintang.
"Wa'alaikum salam ... lagi sibuk enggak Yah?"
"Hmmm ... enggak sih, biasa. Kenapa?"
"Enggak apa-apa sih Yah, bukan hal penting banget. Tapi Igan mau tanya sesuatu ke Ayah."
"Soal apa, Nak?"
"Petugas keamanan di kantor Ayah ada yang namanya Hendra?"
Bintang tak langsung menjawab. Ia terdengar menggumam, tampaknya sedang coba mengingat-ingat.
"Ya udah deh Yah kalau belum ingat, enggak apa-apa."
"Eh-eh sebentar, Ayah mulai ingat. Yang orangnya gagah, ganteng, alisnya tebal kan?"
"Iya Yah, betul."
"Kenapa sama Hendra? Kok kamu bisa kenal?"
"Tadi Igan enggak sengaja ketemu dia sama adiknya di bengkel, dia kenal sama Igan terus ngenalin dirinya. Dia bilang pernah lihat Igan ke kantor Ayah waktu dia lagi tugas pagi."
"Oh ... Hendra itu satpam teladan di kantor Ayah. Dia pernah pimpin sesama petugas jaga malam waktu itu, buat gagalin sekawanan orang yang coba merampok dan bobol brankas kantor. Makanya Ayah kasih dia dan regunya, bonus."
Igan tampak simpati saat mendengarkan cerita ayahnya tentang Hendra dan ingin semakin mengenal dekat dengan keluarganya.
"Oh iya Yah, tadi dia bilang mau antar adiknya ngelamar kerja di kantor Ayah, tapi di jalan motornya enggak sengaja ditabrak."
"Astagfirullah ... terus gimana kondisinya?"
"Hendra sama adiknya sih enggak apa-apa Yah, tapi motornya bagian belakang lumayan rusak."
"Ada-ada saja ya musibah. Memangnya apa yang nabrak motor mereka, mobil?"
"Hmmm ... iya Yah, mobilnya Ilona."
"Apa?? Bisa nyetir enggak itu anak? Sudah punya SIM belum sih?"
"Ssst ... tenang Yah, Lona enggak sengaja kok." Ujar Igan dengan lembut.
"Ya enggak sengaja sih jelas, tapi namanya dia itu enggak hati-hati."
"Iya Yah, tapi dia udah tanggung jawab kok. Ini Igan lagi di rumahnya, mau berangkat bareng ke mal Artha soalnya ada manggung bareng di sana."
"Ya sudah kamu hati-hati ya Nak?"
"Iya Yah, pasti."
Sambungan telepon pun berakhir, namun bayangannya tentang Tia serta rasa penasarannya terhadap gadis itu dan keluarganya belum berakhir, bahkan baru dimulai.
Igan bertekad ingin lebih mengenal Tia, entah kenapa ia merasa kalau gadis itu begitu istimewa di matanya.
Ia juga bisa merasakan karakter positif dari kakak beradik itu, walaupun pertemuan mereka tak sengaja dan hanya berlangsung singkat.
Namun, Igan tersentak ketika menyadari Ilona tak juga muncul menemuinya. Ia pun coba memanggil-manggil Ilona dari ruang tamu dengan suara lantang, berharap gadis itu menjawab dan mereka segera berangkat.
"Lon ...!! Lona ...!!! Udah belum? Lama banget sih!?" Seru Igan.
Karena tak juga direspon, akhirnya Igan memberanikan diri untuk masuk ke ruang tengah dan kembali berseru memanggil rekan duetnya itu.
Igan terus coba masuk semakin jauh ke area dalam rumah Ilona itu sambil terus memanggil namanya. Ruangan demi ruangan ia sambangi demi menemukan rekannya itu, namun nihil.
Ia terus mencari Ilona dengan menyisir lantai dua, di mana terdapat kamar pribadi Ilona.
"Lon, kamu jangan ngajakin petak umpet sekarang deh, enggak lucu tahu?! Udah jam berapa nih, kita nanti enggak keburu lo ke Artha." Ujar Igan dengan lantang sambil menyisir ruangan di lantai dua.
Di lantai dua, Igan melihat ada tiga kamar dan ia tak tahu yang mana kamar pribadi Ilona. Setelah tetap tidak ada jawaban, akhirnya Igan pun nekat membuka satu per satu kamar yang ada.
Namun, ada satu kamar yang terkunci dari dalam dan ia yakin kalau Ilona ada di dalam, karena di dua kamar sebelumnya Ilona tidak ada.
"Lon, kamu di dalam situ ya? Jawab Lon!"
Hening, tak ada sahutan atau pun tanda-tanda kehidupan.
Aduh, ini cewek lagi ngapain sih di kamarnya? Gue dobrak enggak ya? Batin Igan, ia sangat bingung.
Igan memutuskan untuk tidak langsung mendobrak pintu kamar yang terkunci itu, ia memilih untuk menelepon Om Bono terlebih dahulu.
"Ya, Gan? Kenapa?" Tanya Om Bono via telepon.
"Om maaf ganggu, Ilona kamarnya yang sebelah mana ya?" Igan balik bertanya tanpa basa-basi.
"Kamarnya Lona? Eh, mau ngapain kamu nanyain kamarnya Lona?? Jangan aneh-aneh ya Gan! Saya cuma minta kamu antar keponakan saya untuk pulang terus kalian berangkat manggung bareng." Seloroh Om Bono.
"Astagfirullah, jangan salah paham Om. Saya curiga Ilona kenapa-napa soalnya dari tadi saya panggilin kok enggak jawab!" Ujar Igan.
"Hah?? Aduh, kenapa lagi itu anak! Coba kamu telepon HP-nya, udah?"
"Belum Om, saya langsung masuk cari dia. Ini coba saya telepon dulu, tapi Om standby ya?"
"Oke-oke."
Igan coba menelepon nomor ponsel Ilona, ada suara dering terdengar dari dalam kamar yang terkunci itu. Igan makin yakin kalau Ilona ada di dalam kamar tersebut. Ia pun kembali menghubungi Om Bono.
"Om, suara HP-nya Lona ada di dalam salah satu kamar di lantai dua, tapi kamarnya dikunci dari dalam."
"Coba kamu dobrak aja, Gan!" Perintah Om Bono, yakin.
"Se-serius Om?"
"Ya serius lah!"
"Ta-tapi kalau Lona lagi ...." Igan tak melanjutkan kata-katanya karena takut dianggap kurang ajar.
"Lagi apa?? Kamu mau Lona kenapa-napa di dalam kamarnya?"
"Oh, ng-enggak Om. Tapi posisi saya cuma sendirian Om, saya takut ada fitnah." Ujar Igan dengan lugunya.
"Pentingin dulu keselamatan Lona, kalau ada masalah nanti jadi tanggung jawab saya. Saya berani bersaksi kalau saya yang suruh kamu dobrak itu kamar. Ngerti?"
"Oke Om, saya coba dobrak pintunya."
"Oke, tapi jangan matikan teleponnya biar kamu bisa langsung kabari saya."
Igan meletakkan ponselnya di atas sebuah buffet kecil di sebelah pintu kamar lalu berupaya untuk mendobrak pintu kamar yang terkunci itu.
Sekali-dua kali belum juga berhasil, pintu itu terlalu kuat untuk didobraknya seorang diri. Namun Igan tak menyerah, ia terus mencoba mendobraknya dengan sekuat tenaga namun sayangnya belum juga terbuka.
Dengan agak emosi, ia berteriak memanggil nama Ilona.
"Lona ...!! Lu jangan ngerjain gue deh! Kalau marah ya ngomong aja, enggak usah nyengsarain orang! Buka dong pintunya, Lon!!!" Teriak Igan sambil menggedor pintu kamar itu.
"Gan, kalau enggak bisa coba kamu cepat keluar minta bantuan keamanan di pos. Om belum bisa ke sana, ini di bengkel belum kelar urusannya." Perintah Om Bono dari seberang telepon.
"Oke, Om."
Igan segera menuruni tangga dan keluar menuju pos satpam yang berjarak belasan meter dari rumah Ilona. Salah seorang satpam yang berjaga pun bergegas menemani Igan kembali ke rumah Ilona.
Sesampainya di lantai dua rumah tersebut, kedua orang lelaki tegap itu berjibaku berusaha untuk membuka pintu kamar.
Setelah berkali-kali dicoba, akhirnya mereka pun berhasil mendobrak pintu kamar Ilona dengan susah payah.
Namun keduanya tampak tercengang ketika melihat di dalam kamar tersebut, mereka kompak beristigfar karena merasa terkejut.
***