
Setelah meraih gelar sarjana dengan nilai memuaskan, tentu membuat Tia berpikir ulang jika harus tetap menjadi karyawan paruh waktu. Ia akhirnya mengundurkan diri dari toko buku tersebut karena pengajuan dirinya sebagai karyawan tetap tidak dapat dikabulkan dengan alasan pemasukan toko sedang menurun.
Tia yang tak ingin bergantung kepada sang kakak pun sudah banyak mengajukan lamaran pekerjaan ke berbagai intansi, namun keberuntungan belum berpihak padanya.
Menjelang sore ketika Hendra sedang duduk santai di teras rumah, Tia pun ikut duduk di sebelah sang kakak dengan wajah yang tampak cemberut.
"Kenapa itu muka ditekuk begitu, Dek?" Tanya Hendra sebelum menyeruput secangkir kopi.
"Kak, aku kok belum dapat kerjaan juga ya?" Keluh Tia.
"Ya sabar ... jaman sekarang emang enggak gampang cari kerjaan, Dek."
"Tapi aku bosen di rumah terus, aku juga kan enggak mau bergantung sama Kakak."
"Kakak enggak merasa terbebani kok, kamu itu tanggung jawab Kakak sekarang setelah ayah dan bunda enggak ada. Kamu usaha aja terus, jangan lupa berdoa. Kakak yakin suatu saat kamu bakal dapat kerjaan yang kamu mau."
Tia tersenyum tipis lalu mendengus.
"Oh iya Dek, Kakak baru ingat nih! Waktu bos kakak melayat pas ayah meninggal kan, beliau bilang supaya kamu coba melamar ke perusahaan Erlangga. Kenapa enggak kamu coba?"
Sontak mata Tia berbinar, ia tampak antusias.
"Iya sih Kak, aku juga dengar waktu itu. Tapi ... emang bos itu serius ya?"
"Coba aja, enggak ada salahnya kan? Toh IPK kamu juga cukup tinggi, siapa tahu di sana jadi rejeki kamu?"
Tia terdiam sejenak, ia tampak menerawang ke atas pepohonan di depan rumahnya.
"Udah ... jangan kebanyakan mikir, kalau misalnya kamu diterima kerja di sana kan berarti kita satu perusahaan walaupun belum tentu satu kantor." Tegur Hendra sambil mengibaskan telapak tangannya di depan muka Tia.
Tia mengerjapkan mata lalu tersenyum dan dengan mantap ia berujar, "Oke deh Kak!" Sahutnya antusias.
"Ya udah, besok pagi kamu Kakak antar ke bagian personalia untuk taruh lamaran. Berkasnya udah ada semua kan?"
"Udah, Kak. Aku siapin dulu ya biar besok enggak gugup. Tapi Kakak enggak apa-apa besok antar aku? Kan baru pulang tengah malam?"
"Bisa ... Kakak kan masih sempat tidur dulu, sekitar jam sembilan kita ke sananya."
"Oh gitu, ya udah deh. Aku masuk dulu ya Kak?"
Hendra mengangguk melihat sang adik yang mulai beranjak masuk.
Hendra yang sebelumnya tinggal di kos dekat kantornya, kini memilih untuk pulang ke rumah karena merasa tak tega jika Tia tinggal sendirian di rumah.
Hendra yang seorang petugas keamanan di perusahaan Erlangga bekerja tiga shift, dan hari itu ia mendapat jatah shift kedua yaitu dari sore hingga tengah malam.
Hendra kembali menyeruput kopi hitamnya yang masih panas itu, sebagai bekalnya berjaga nanti malam.
Pagi hari setelah Hendra sudah pulang dari tugas jaga malamnya, ia memenuhi janji untuk mengantar Tia ke kantornya untuk melamar pekerjaan.
Namun pagi itu, Tia tampak gelisah. Ia berkali-kali bertanya pada Hendra apakah dia sudah cukup istirahat, karena Tia sejak bangun tidur mendapatkan perasaan yang tak enak.
"Kak, udah hilang belum capek sama ngantuknya?"
"Udah lumayan kok, kenapa?" Sahut Hendra sembari melakukan gerakan-gerakan supaya badannya lebih rileks.
"Enggak, aku kok dari pagi ada perasaan enggak enak tapi aku sendiri enggak tahu apa."
"Bismillah aja, niat kita kan baik. Mudah-mudahan enggak ada masalah."
"Eh jangan ..., lebih cepat lebih baik. Katanya kamu pengin cepat dapat kerjaan?"
"Hmmm ... iya sih."
"Ya udah, yuk berangkat?"
Tia tak bisa memaksa lagi, ia pun duduk di belakang Hendra dengan wajah gelisah sambil menyangklongkan tas di pundak kanannya.
Motor melaju stabil melewati jalan menuju perusahaan Erlangga. Di perjalanan, mereka mengobrol supaya lebih santai namun ketika di lampu merah, mendadak dari arah belakang motor mereka ditabrak oleh sebuah mobil yang terlambat mengerem.
Keadaan pun mendadak bak karambol yang saling bertabrakan. Motor Hendra yang terdorong dari belakang sontak mendorong motor yang ada di depannya, dan begitu seterusnya. Secara bergiliran motor-motor itu pun roboh beserta para pengendaranya, termasuk Hendra dan Tia.
Hendra berusaha bangkit sambil meringis menahan sakit, ia pun membantu Tia untuk berdiri. Orang-orang yang ada di sekitar itu pun sontak mendatangi mobil yang menjadi biang keladi tabrakan beruntun tersebut.
Beberapa orang menggedor kaca dari sisi kanan dan kiri mobil, berharap si pengemudi segera keluar dan bertanggung jawab. Namun, pintu mobil tetap terkunci membuat mereka menjadi emosi.
Hendra melihat hal tersebut dan segera menghampiri kerumunan orang di mobil itu, ia coba melihat ke dalam dan ternyata pengemudinya adalah seorang perempuan, ia tampak panik melihat banyak orang yang mengerubungi mobilnya.
"Mbak, keluar dulu Mbak. Kita enggak main hakim sendiri kok, ayo keluar!" Seru Hendra coba membujuk.
"Coba kita tenang dulu, jangan bikin dia takut. Kita kan mau dia tanggung jawab, jadi biar dia keluar dari mobilnya." Seru Hendra menenangkan massa.
Ketika suasana sudah kondusif, si pengemudi mobil itu pun keluar juga.
"Loh, ini kan ....?" Seru salah seorang yang ada di sana ketika melihat wanita itu keluar dari dalam mobilnya.
"Ilona woy! Dia Ilona, yang penyanyi itu!" Timpal yang lainnya.
"Ilona?? Masa sih? Kok begini?" Tanya seseorang sambil menatapnya tak percaya.
Hendra memandang gadis itu yang terlihat kusut dan mata yang agak merah seperti kurang tidur.
"Mbak ini benar Ilona?" Tanya Hendra pelan-pelan.
"Ya, gue Ilona. Kenapa lu semua?? Mau nangkep gue, hah??" Tukas gadis yang tampak seperti masih dalam pengaruh alkohol.
"Yeee ... udah salah nyolot lagi nih! Ya udah sini gue bawa ke polisi lu!" Sahut seorang wanita penuh emosi sambil berusaha merangsek dan meraih lengan Ilona.
Hendra dan beberapa orang dengan sigap menahannya untuk menghindari tindakan anarkis.
Tia yang tadi masih duduk di tepi trotoar pun merasa tertarik untuk mendekat. Ia berjalan menyusul kakaknya di tengah kerumunan itu.
Matanya terbelalak ketika melihat sosok Ilona yang dikerubungi massa. Tia mendekati Hendra sambil menatap penuh selidik ke arah Ilona.
"Kak, itu orang yang nabrak kita?" Tanya Tia, lirih.
"Iya, dia Ilona. Tapi dia kayak habis mabuk deh, lihat aja penampilannya." Ujar Hendra, agak berbisik.
Ilona masih berdiri dengan kondisi belum sepenuhnya sadar dari pengaruh alkohol itu pun melihat Tia yang sedang menatapnya.
"Eh, gue kayak pernah lihat, tapi ... siapa lu??" Tanya Ilona, sompral.
Tia menatap Ilona dengan tatapan tak biasa, ia hanya terdiam dan tak menimpali ocehan Ilona itu.
Kenapa gue ngerasa ada keterkaitan sama cewek nyebelin ini? Tapi apa?? Dan kenapa ada rasa kasihan ke dia, padahal dia itu nyebelin? Batin Tia bertanya-tanya, karena ia merasakan intuisinya tengah menangkap sesuatu yang ia sendiri tak tahu.
***