Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Berkunjung


Ketika di perjalanan, Igan tampak serius sedang menelepon seseorang.


"Lu nelepon siapa?" tanya Jio sembari fokus menyetir.


"Temen yang mau gue datengin, mau tanya alamat rumahnya." sahut Igan, santai.


Jio menoleh dengan mata membelalak ke arah Igan.


"Ja-jadi, lu belom tau rumahnya??" tanya Jio.


Igan meringis, "Lupa." sahutnya sambil menggeleng.


Jio kontan menepuk dahinya, ia tak habis pikir dengan Igan.


"Assalamu'alaikum?" sapa orang yang ditelepon Igan, yang ternyata adalah Tia.


"Wa'alaikum salam. Tia, kamu lagi di rumah?" tanya Igan.


"Di rumah, Mas. Ada apa ya?"


"Coba share loc dong, Ti. Saya lagi di jalan nih mau ke rumah kamu."


"Euh? Jangan becanda ya, Mas!"


"Eh ... saya serius! Ini lagi di mobil dianterin manajer saya."


"Tapi ... bukannya Mas Igan udah pernah ke rumah saya?"


"Iya, tapi saya lupa Ti. Nanti share loc aja ya?"


"Oh ... ya udah, Mas. Ini langsung saya share lokasinya. Cat warna biru ya rumahnya."


"Oke Tia ... Makasih ya?"


"Sama-sama, Mas. Hati-hati ya?"


"Iya Cantik, eh maaf keceplosan." ucap Igan, cengengesan.


Panggilan telepon berakhir, namun senyuman masih setia melekat di wajah pemuda tampan itu.


"Cie ... yang lagi jatuh cinta! Bawaannya langsung bahagia aja pas denger suara pacar." ledek Jio.


"Belom jadian, masih temenan." timpal Igan.


"Ya udah jadiin, entar keburu digaet orang nyesel lu!"


"Sabar lah, Bro ... Slowly but sure! Kalo gue grubak-grubuk ngejar cewek, yang ada malah lari dianya."


"Iya sih ... tapi kalo kelewat slow, malah keburu dibawa lari sama cowok lain!" timpal Jio kemudian terbahak.


"Ah, kayak lu udah punya pacar aja pake nasehatin gue!" timpal Igan, balik meledek.


"Rese lu!" sahut Jio.


Igan tertawa lepas. Ia mendadak lupa kejadian tak mengenakkan yang tadi ia alami. Fokusnya hanya ingin cepat bertemu Tia dan melihat senyumannya.


Mobil Jio akhirnya memasuki kawasan rumah Tia. Mereka menelusuri jalan untuk mencari rumah yang dituju.


"Nah, yang itu tuh Bro!" seru Igan sembari menunjuk ke sebuah rumah tak jauh dari keberadaan mereka.


Jio bergegas melajukan mobilnya mendekat ke rumah bercat biru yang hanya ada satu di lingkungan itu.


"Ini?" tanya Jio, menegaskan.


"Iya, kan cat biru katanya. Ya udah yuk turun?" sahut Igan.


"Hmmm ...."


"Alah, kelamaan!" Igan membuka pintu mobil dan keluar lebih dulu sambil menenteng dua kotak martabak yang tadi dibelinya.


Ia berjalan menuju depan pintu rumah tersebut. Beruntung situasi agak sepi jadi tidak sampai mengundang kerumunan warga.


Jio geleng-geleng. "Orang kalo lagi jatuh cinta begitu tuh! Bawaannya enggak sabaran aja pengin cepet ketemu gebetannya, sahabat mah lewat!" gumamnya sambil geleng-geleng.


Jio bergegas menyusul Igan yang sudah berdiri dan sedang mengetuk pintu rumah Tia. Tak perlu menunggu lama, pintu rumah itu pun terbuka.


"Assalamu'alaikum... Maaf ya udah ganggu istirahat kamu." Igan mengucap salam dengan ramah.


"Wa'alaikum salam ... Enggak kok Mas. Mari, silakan masuk?" sahut Tia seraya mempersilakan tamunya untuk masuk.


Igan mengangguk, "Oh iya, ini martabak keju buat kamu sama Mas Hendra. Tadi di jalan saya liat ada tukang martabak, langsung inget kalo kamu suka."


Senyum Tia sontak mengembang sempurna. Matanya berbinar bukan lantaran apa yang Igan bawakan, melainkan perhatian dari sang idola yang begitu ia kagumi, sekaligus ia cintai.


"Mas Kok masih inget kalo saya suka martabak keju?" tanya Tia dengan malu-malu.


"Ehhem, gue balik dulu deh ya? Engap gue ngeliatin orang pacaran, mending cari pacar juga deh!" seloroh Jio, berdehem.


Igan dan Tia terhenyak, mereka seakan baru menyadari jika ada orang lain di dekat mereka.


"Eh, sori-sori Bro! Kenalin, ini Tia. Tia, ini Bang Jio manajer saya." ujar Igan.


"Oh, iya maaf. Ayo silakan masuk dulu?" ajak Tia, mempersilakan.


"Enggak usah Mbak, lagian saya buru-buru mau pulang." tolak Jio, sopan.


"Loh, enggak duduk dulu, Mas? Lha terus nanti Mas Igan pulangnya gimana?"


"Dia sih gampang, Mbak. Kalo enggak dijemput supir rumahnya, ya ... mungkin nginep di sini." celetuk Jio, asal.


"Eh, bohong-bohong! Jangan dengerin dia, Ti!" timpal Igan.


Jio terkekeh melihat reaksi Igan.


"Ya udah Mbak, saya pamit dulu ya? Titip Igan dulu di sini, sama ...."


"Sama ... tolong terima dia setulus hati, hehehe ...." seloroh Jio yang direspon tinju kecil di lengannya dari Igan.


Tia tersenyum, jelas sekali jika ia tersipu malu.


Jio pun beranjak kembali menuju mobilnya dan pulang.


"Masuk, Mas Igan!" ajak Tia, mempersilakan.


"Iya, makasih Tia. Hmmm ... Mas Hendra mana?"


"Kak Hendra lagi siap-siap mau berangkat tugas malam, sebentar saya panggilin dulu." sahut Tia kemudian bergegas masuk ke ruang tengah untuk memanggilkan kakaknya.


Tak lama kemudian, Tia kembali menemui Igan di ruang tamu bersama dengan Hendra, kakaknya.


"Wah, ada Mas Igan ternyata? Mimpi apa kita Dek kedatengan tamu istimewa begini?" ujar Hendra, antusias.


Igan tersenyum malu, "Bisa aja, Mas! Sudah mau berangkat tugas malem ya?"


"Iya, tapi masih setengah jam lagi kok, Mas.


Dek, buatin minum ya buat Mas Igan."


"Eh, enggak usah-enggak usah. Saya cuma sebentar kok, cuma mampir." cegah Igan, menolak.


"Kak, Mas Igan bawain martabak keju spesial buat kita lho!" ujar Tia, senang.


"Kenapa repot-repot segala, Mas Igan? Kami jadi enggak enak. Kalau mau mampir silakan datang saja, enggak usah repot-repot begini." ujar Hendra.


"Enggak repot kok, santai aja. Kebetulan saya juga suka jadi beli sekalian. Enggak tau kenapa ... kalau liat martabak langsung inget Tia, eh maksud saya ... inget ke sini." tutur Igan.


Hendra tersenyum melirik reaksi sang adik yang sedang berusaha menahan diri agar tidak terbawa perasaan.


"Mas Igan tadi habis syuting di mana?" tanya Tia, coba mengalihkan pembicaraan.


"Oh, tadi habis syuting iklan, enggak jauh kok dari sini. Alhamdulillah masih ada kerjaan." sahut Igan.


"Saya prihatin, Mas Igan ada masalah sama perusahaan rekaman itu." ujar Tia.


Igan tersenyum tipis, sejujurnya ia sudah lupa tentang hal-hal tak mengenakkan yang sedang menimpanya ketika melihat Tia. Namun ... memang berita tentang didepaknya ia dari perusahaan itu sedang banyak menyita perhatian.


"Kamu ... ngikutin berita tentang saya, Tia?"


Tia mengangguk mantap, "Sejak awal saya emang mengidolakan Mas Igan, apalagi pas setelah kita ketemu enggak sengaja di jalan waktu itu."


Igan memandangi wajah Tia yang tampak berkata apa adanya, tanpa unsur ingin dipuji atau sekedar cari sensasi karena sudah merasa dekat dengan sang idola.


"Tia memang ngefans sama Mas Igan. Setiap ada berita tentang Mas Igan, pasti dia pantengin." imbuh Hendra, membenarkan ucapan sang adik.


Igan tersenyum, "Makasih ya Tia, sudah menjadikan saya idola kamu. Saya harap kamu tetap dukung saya, walaupun rumor di luar sana lagi gencar menjatuhkan saya."


"Iya Mas, saya sudah tau kok ini bakal terjadi. Makanya saya pernah bilang kan supaya Mas Igan hati-hati dan waspada, inget enggak?"


Igan terhenyak, jujur saja ia tak terlalu ingat.


"Tapi Mas Igan enggak usah kecil hati, masih banyak kok yang sayang sama Mas. Masih banyak juga yang mengidolakan Mas Igan, walaupun dibilang ini-itu."


"Apa itu termasuk kamu?" tanya Igan.


Tia terdiam, wajahnya merona. Namun dengan sangat sadar ia menganggukkan kepala, mengiyakan pertanyaan Igan tersebut.


Igan lantas tersenyum, senyuman yang menyiratkan ketenangan hati dan rasa bahagia yang teramat sangat.


"Tapi, kalau saya sudah enggak laku lagi jadi artis gimana, Ti? Apa kamu tetap akan ingat saya?"


"Mas Igan gabung aja di perusahaan Erlangga, saya pasti enggak akan lupa." celetuk Tia, cengengesan.


Gabung di perusahaannya Ayah? pikir Igan.


"Hmmm ... oh iya sudah agak malam. Saya mau telepon supir dulu biar dijemput." ucap Igan.


"Mau saya antar, Mas? Tapi pakai motor." ucap Hendra.


"Oh, enggak usah repot-repot Mas. Nanti malah takutnya telat mau tugas malam." tolak Igan, sopan.


"Enggak kok, Mas. Kalau Mas bersedia, nanti saya antar. Kan searah sama kantor."


"Hmmm ... beneran enggak apa-apa?"


"Enggak, Mas."


"Ya udah kalau memang enggak keberatan, terima kasih ya Mas Hendra? Lagian ... saya lama enggak naik motor."


Hendra dan Tia tersenyum menimpali celetukan Igan itu.


"Kakak anterin Mas Igan dulu sekalian berangkat ya, Dek? Kamu hati-hati di rumah." pamit Hendra pada Tia.


Tia mencium punggung tangan kakaknya dengan takzim, membuat Igan tertegun melihatnya.


Mereka benar-benar kakak beradik yang santun dan akur. puji Igan dalam hati.


"Ayo, Mas?" ajak Hendra, mengagetkan Igan yang sedang tertegun.


"Oh, i-iya. Tia, saya pamit dulu. Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikum salam, hati-hati ya Kak, Mas Igan!"


Hendra mengacungkan ibu jari, sedangkan Igan menoleh dan tersenyum manis ke arah Tia.


Ya Allah, Mas ... Malem-malem gini disenyumin kamu, apa aku bisa tidur ya nanti? batin Tia dengan bibir tersenyum.


****