Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Hari Baru Tia


Tepat pada waktu yang telah ditentukan, Tia sudah berada di ruang personalia dan sesuai dengan apa yang diharapkan, ia diterima bekerja di perusahaan tersebut.


Ia ditetapkan untuk menambah personel di divisi promosi dan diperkenalkan ke tiap divisi yang ada di sana.


Pak Irwan mengantarnya untuk ke ruang divisi promosi yang akan menjadi tempatnya menghabiskan waktu selama jam kerja.


Di sana sudah ada beberapa orang staf yang sedang berkutat dengan tugasnya masing-masing. Pak Irwan mempersilakan Tia untuk berkenalan dengan para staf tersebut, ada Jeni, Teguh, Gugun, Tami, dan Rey.


"Pak Irwan bisa aja nemuin karyawan baru yang bening begini." Celetuk Gugun meledek Kepala Divisi HRD itu sesaat setelah bersalaman dengan Tia.


Pak Irwan tersenyum lebar mendengar celetukan Gugun.


"Tia, hati-hati sama Gugun. Dia tuh pacarnya ada lima! Kamu jangan mau kalau dirayu sama dia." Celetuk Jeni yang bermata sipit.


"Lu kira balon Jen, ada lima?" Timpal Gugun.


Tia tersenyum lebar mendengar candaan mereka.


"Tia, meja kamu di sebelah sana ya?" Ujar Rey, si kepala divisi yang sedari tadi hanya menyimak.


Tia menoleh ke arah yang Rey tunjukkan, meja kerjanya tepat berada di antara meja Teguh dan Tami.


"Baik Pak." Sahut Tia.


"Ya sudah, kamu bisa mulai menempati 'singgasana' itu sekarang. Berikan kinerja terbaik kamu buat perusahaan ya Tia?" Ujar Pak Irwan dengan menyunggingkan senyum berwibawa.


"Baik Pak, saya akan berusaha sebaik mungkin." Sahut Tia.


Pak Irwan tersenyum dan mengacungkan ibu jarinya, memberi semangat kepada Tia. Kemudian ia bergegas keluar untuk kembali ke ruangannya.


"Tia, kalau ada yang kamu kurang paham, tanyain aja. Enggak usah malu-malu." Ujar Rey.


"Iya Pak." Sahut Tia sambil tersenyum.


Tia mulai mendekat ke meja kerjanya. Ia letakkan tas di atas meja lalu mulai beradaptasi dengan sekitarnya.


"Kamu tinggal di mana Tia?" Tanya Tami yang berusia tiga tahun lebih tua darinya dan sudah menikah.


"Di jalan Baruna Mbak. Mbak di mana?"


"Oh, kalau aku di perum Mutiara."


Tia mengangguk-angguk.


"Tia, kamu jangan kaget ya jadi bagian divisi ini. Kami memang suka bercanda, ngomongnya juga ceplas-ceplos, tapi itu cara kita menjalin kekompakan dan keakraban. Kamu keberatan enggak?" Papar Rey.


"Iya betul, walaupun kelihatannya kami enggak punya akhlak kalau ngomong, tapi kekompakan kami udah benar-benar teruji loh. Hasil kerja tim divisi kita, selalu berhasil." Sambar Jeni, antusias.


"Iya Tia, mudah-mudahan dengan adanya kamu bergabung sama kami, bisa makin meningkatkan kinerja tim kita." Imbuh Teguh.


"Iya, aamiin ... Makasih ya semuanya, saya butuh pengarahan dari senior-senior hebat di sini. Hmmm ... soal kebiasaan ceplas-ceplos, saya sih enggak masalah Pak, soalnya saya juga orangnya suka ceplas-ceplos." Sahut Tia, sumringah.


"Berarti kamu memang enggak salah masuk, welcome to the jungle Tia!" Timpal Gugun yang paling slengean di antara rekan-rekannya.


"Thank you, Pak."


Mendengar jawaban Tia, Gugun tampak menepuk dahinya dan membuat yang lain tertawa.


"Kenapa Pak?" Tanya Tia, heran.


"Gugun itu paling anti dipanggil 'Pak', anak orok tetangganya aja disuruh manggil dia 'Abang'!" Celetuk Jeni sambil terkekeh.


Tia tertawa, dia benar-benar merasa rileks berada di antara mereka padahal baru beberapa menit bergabung dan berbincang bersama. Dengan begitu, ia semakin bertekad dan bersemangat untuk bisa menjadi karyawan yang baik di perusahaan itu.


Setelah puas saling melempar candaan, mereka kembali sibuk di meja kerja masing-masing, sedangkan Tia yang masih harus lebih mengenal job desk nya didampingi oleh Tami dan Teguh yang berada tepat di sebelah kanan dan kirinya.


*


Sore hari pun tiba, saatnya jam pulang kantor bagi Tia dan rekan-rekan di kantornya. Tia berjalan ke area parkir untuk menuju ke pintu keluar. Ia ingin berpamitan dengan Hendra yang sedang kebagian tugas jaga sore sampai malam.


Hendra yang sudah mulai bertugas melihat sang adik menghampirinya.


"Udah mau pulang, Dek?" Tanya Hendra.


"Iya ... Insya allah. Kamu juga hati-hati ya di jalan?" Sahut Hendra sambil menepuk pundak adiknya.


Tia tersenyum dan mengangguk, namun fokusnya tiba-tiba teralihkan ketika melihat seorang lelaki yang lewat di dekat mereka.


Hendra menatap adiknya dengan heran, karena Tia tampak begitu intens memandang orang tersebut.


"Dek, kenapa? Kok ngeliatin dia begitu amat? Ada apa?" Tegur Hendra.


"Hmmm ... enggak apa-apa sih Kak, cuma aku kasihan sama dia."


"Emang kamu udah kenalan sama Bang Yunus?"


Tia menggeleng.


"Lah terus? Apa jangan-jangan ... kamu ... lihat 'sesuatu' tentang dia?" Tanya Hendra dengan suara yang agak lirih.


Tia mengangguk.


"Aku lihat ... dia bakal ada masalah Kak, tapi mudah-mudahan 'penglihatanku' salah." Jawab Tia, pelan.


"Masalah gimana maksudnya?" Desak Hendra, agak berbisik.


"Masalah keluarga, tapi lumayan ribet sih menurut aku, tapi ... insya allah dia bisa lewati walaupun harus ada kesedihan."


Hendra tertegun lalu menatap dari jauh punggung rekan yang sedang ia bahas itu.


"Ya udah, kamu bantu doa aja supaya apapun masalahnya teman Kakak itu, dia bisa kuat dan sabar." Ujar Hendra.


"Iya Kak, insya allah aku bantu doain abang itu. Walaupun aku belum kenal, tapi aku bisa rasain kalau dia itu orang yang baik."


"Betul, Bang Yunus itu emang baik banget orangnya."


" Ya udah Kak, aku pulang dulu ya? Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikum salam .... Hati-hati ya Dek?"


Tia mengangguk sembari mengacungkan ibu jarinya ke arah Hendra sambil tersenyum, dan mulai melangkah untuk pulang.


*


Dari hari ke hari hingga menginjak beberapa bulan tak terasa sudah, Tia lewati sebagai karyawan di perusahaan Erlangga, ia begitu menikmati rutinitasnya. Tak ada kendala berarti yang ia alami di kantor tersebut, bahkan bisa dibilang ... ia sangat beruntung karena mendapatkan rekan-rekan kerja yang menyenangkan.


Pagi itu seperti biasanya, Tia berangkat ke kantor dengan mengendarai sepeda motor peninggalan ayahnya, melewati rute demi rute perjalanan yang sudah hafal ia lalui selama beberapa bulan ini.


Setibanya di area parkir kantor, Tia memarkirkan motornya lalu beranjak masuk ke dalam gedung kantor yang berlantai tiga itu.


Tia yang ruang kerjanya berada di lantai dua lebih memilih untuk menaiki tangga agar lebih sehat, karena jika sudah mulai berkutat dengan pekerjaan, ia akan lebih banyak duduk.


"Pagi Pak Rey." Sapa Tia saat memasuki ruang kerjanya.


"Pagi Tia ... Hari ini kita kayaknya bakal lembur nih."


"Oh, buat acara anniversary nanti ya Pak?"


"Iya, walaupun acaranya masih tiga minggu lagi tapi saya mau kerjaan kita selesai jauh sebelum deadline, jadi kalau ada yang harus diperbaiki masih ada waktu." Sahut Rey.


Tia mengangguk-angguk, lalu melihat seisi ruang kerjanya. Ia baru menyadari kalau hanya ada dia dan Rey di ruangan.


"Yang lain kemana, Pak? Tumben belum datang?" Tanya Tia.


"Sudah datang, tapi Tami dan Jeni lagi ke pantri. Gugun sama Teguh enggak tahu pada kemana."


Lagi-lagi Tia hanya mengangguk-angguk lalu mulai menyalakan komputernya dan tampak fokus menatap ke layar.


Tia yang hari itu memakai kemeja panjang warna peach, dipadu celana panjang hitam, dengan yang rambut diikat bak ekor kuda membuatnya tampak menawan, walaupun hanya didukung riasan wajah yang natural namun tampak flawless di wajah Tia yang memang sudah diberi anugerah wajah menawan.


Tanpa Tia sadari, ada sepasang mata yang diam-diam menatapnya penuh kekaguman.


***