Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
PeDeKaTe


Hujan turun dengan lebat, tepat sesaat sebelum jam pulang kantor. Tia hanya termangu memandangi rintik-rintik air yang membasahi jendela kaca besar tepat di belakang kursi kerjanya.


Hmmm ... mana jas hujannya ketinggalan lagi! huff ....! Gerutu Tia dalam hati sembari menyangga dagu dengan dua telapak tangannya.


Teguh, Jeni, dan Tami sudah pamit untuk pulang, Gugun pun tampak segera menyusul untuk pulang. Ia melihat Tia yang gelisah sambil memandangi hujan lewat jendela.


"Tia, lu enggak balik?" Tanya Gugun.


"Hujan, Bang. Ga bawa jas hujan gue!"


Rey sempat menatap Gugun yang berdiri tepat di samping Tia.


"Gue bawa dua tuh di jok motor, mau bareng gue?" Ujar Gugun.


"Enggak usah deh Bang, makasih. Nanti aja gue baliknya nunggu reda." Tolak Tia dengan sopan sambil tersenyum.


"Oh, ya udah deh. Gue duluan ya?


Pak Rey, saya duluan ya?" Pamit Gugun pada Tia dan Rey.


"Oke Gun, hati-hati ya?" Sahut Rey.


"Ya Bang, hati-hati ...." Imbuh Tia sambil melambaikan tangan pada Gugun.


Gugun pun mengacungkan ibu jarinya dan tersenyum seraya beranjak keluar ruangan.


Tia dan Rey sontak saling berpandangan ketika menyadari bahwa hanya ada mereka di dalam ruangan tersebut. Tia terlihat canggung dan buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah jendela besar untuk menatap rinai hujan.


Rey tersenyum tipis melihat reaksi Tia yang tampak canggung kepadanya, lalu kembali fokus menatap layar komputer. Rey masih merekap laporan-laporan yang dibuat oleh stafnya termasuk Tia, untuk lusa diserahkan ke pimpinan.


Menit sudah berganti jam, namun hujan belum juga mereda. Tia semakin panik, ingin sekali ia cepat pulang karena tubuhnya sudah merasa lelah.


Dalam kegelisahan itu, ponselnya berdering. Ia segera menerima panggilan telepon yang ternyata dari Hendra.


"Dek, kamu belum pulang? Kok motornya masih di parkiran?"


"Belum Kak, aku enggak bawa jas hujan tadi. Lupa banget, padahal udah aku siapin di meja. Sekarang masih di ruangan. Kak Hendra di bawah? Bawa jas hujan enggak?"


"Kakak juga enggak bawa. Tadi pas Kakak berangkat kan masih cerah, kirain enggak hujan ... dari pagi aja cerah banget!"


"Nah itu ... sebetulnya aku udah feeling sih kalau hari ini bakal hujan, tapi ... malah ketinggalan jas hujannya."


"Kamu naik taksi online aja Dek."


"Aku udah coba pesan tadi tapi aplikasinya lagi gangguan, Kak. Enggak bisa-bisa dari tadi!"


Hendra terdiam sejenak.


"Bareng saya aja, ini saya udah selesai kok laporannya." Ujar Rey disela-sela pembicaraan Tia dn Hendra.


Tia sontak menatap Rey dengan kikuk, ia tak enak hati jika atasan divisinya itu sampai harus mengantarnya pulang.


"Ah enggak usah Pak, nanti aja saya nunggu hujan reda." Sahut Tia.


"Siapa, Dek?" Tanya Hendra dari telepon.


Rey berjalan mendekat ke meja Tia lalu meminta ponsel yang sedang Tia pakai. Walaupun bingung, tapi Tia memberikan saja ponselnya ke Rey.


"Halo?" Sapa Rey di telepon.


"Ya, halo?"


"Ini saya, Rey. Kamu ... Hendra kakaknya Tia kan?"


"Oh iya, ada apa Pak Rey?"


"Ndra, saya minta ijin anterin adik kamu pulang ya? Kasihan sudah jam segini masih di sini. Pulang malam karena hujan kan enggak bisa dapat lemburan, sayang kan Ndra?" Seloroh Rey.


"Oh iya Pak, siap!"


"Maksudnya kamu siap kasih saya ijin?"


"Ya Pak Rey, silakan. Tapi kalau Pak Rey tidak keberatan."


"Tia nanti naik mobil sama saya, enggak saya gendong. Jadi ya ... saya enggak bakal keberatan." Kelakar Rey.


Hendra terkekeh mendengarnya.


"Ya sudah Pak, silakan. Maaf jadi merepotkan ya Pak Rey? dan ... terima kasih banyak."


"Oke ... sama-sama Ndra. Kamu selamat bertugas ya?"


"Baik Pak, terima kasih."


Panggilan telepon berakhir. Rey mengembalikan ponsel milik Tia.


"Saya sudah dapat ijin dari kakak kamu. Ayo pulang bareng sama saya." Ujar Rey.


Tia tampak masih tak percaya dengan kata-kata yang ia dengar, hingga Rey harus menegaskannya sekali lagi.


"Kamu mau nginep di sini? Lihat tuh, langit sudah gelap! Apa kamu enggak capek duduk terus di kantor? Udah yuk, saya antar kamu pulang?"


Keduanya beranjak keluar ruangan, tak lupa Rey mengunci pintu terlebih dahulu.


Di area parkir, mereka bertemu Hendra yang tengah bertugas. Ia kebagian jatah jaga malam hari itu.


"Pak Rey, maaf ya jadi merepotkan?" Ucap Hendra dengan sopan.


"Santai Ndra, lagian searah kok. Enggak repot ...." Sahut Rey, sangat santai namun tetap berwibawa.


"Kak, aku pulang dulu ya?" Pamit Tia seraya mencium punggung tangan kakaknya.


"Iya, hati-hati ya Dek?"


Tia mengangguk.


"Ya udah Ndra, kita duluan ya?" Pamit Rey.


"Baik Pak, silakan. Hati-hati di jalan." Ucap Hendra.


Rey mengangguk dan tersenyum, lalu melangkah mendekati mobilnya dan diikuti Tia.


Mobil pun perlahan melaju keluar area kantor dan menerjang derasnya hujan yang seolah tiada henti.


Rey melajukan mobilnya dengan santai, ia sangat berhati-hati karena pandangannya terhalang oleh derasnya hujan walau wiper telah diaktifkan.


Tia lebih banyak diam saat itu, ia bingung harus berbincang apa. Rey pun memulai obrolan untuk memecah kesunyian dan kecanggungan di antara mereka.


"Kamu enggak mau kasih tahu arah jalan ke rumah, Tia? Kok diem aja dari tadi? Nanti saya lupa loh kalau ada kamu di sini, terus langsung bablas pulang ke rumah." Tegur Rey dengan agak meledek.


Tia pun menoleh ke arah Rey lalu tertawa kecil.


"Kamu kalau di kantor dan ada teman-teman yang lain kok bisa biasa aja ke saya, tapi kalau pas cuma ada kita berdua kok mendadak canggung gitu? Kenapa? Apa tampang saya nakutin buat kamu?" Tanya Rey sambil tetap fokus menyetir.


"Hmmm ... enggak apa-apa kok Pak, biasa aja.


Pak, di depan sana belok kiri ya?" Sahutnya kemudian mengarahkan Rey untuk berbelok.


"Oh, oke." Sahut Rey.


"Nanti pas di tiang listrik itu, belok kanan ya Pak?" Ujar Tia kembali mengarahkan.


"Sudah dekat ya?" Tanya Rey.


"Sudah, Pak." Sahut Tia sambil fokus menatap jalan.


Rey begitu lihai mengendarai mobilnya dan membuat Tia merasa nyaman dan aman walau berada di tikungan dan jalan bergunduk-gunduk, Rey mampu mengendalikan laju mobilnya dengan halus dan stabil.


"Nah, sudah makin dekat nih Pak. Itu rumah yang cat biru." Ujar Tia sembari mengarahkan telunjuk kanannya ke depan, ke arah sebuah rumah sederhana bercat biru.


"Oke ...." Sahut Rey.


Mobil itu pun berhenti tepat di depan rumah yang Tia maksud.


"Terima kasih ya Pak?" Ucap Tia sebelum turun dari mobil.


"Iya, sama-sama ...." Sahut Rey sambil tersenyum.


Tia tertegun melihat senyuman Rey, senyuman yang terasa berbeda dengan senyuman yang biasa ia lihat saat jam kerja di kantor. Senyuman Rey malam itu terasa lebih hangat, bukan senyuman 'formal' antara atasan dan stafnya.


Namun Tia buru-buru menepis rasa itu dan bergegas membuka pintu mobil, namun Rey dengan sigap memegang tangan Tia untuk menahannya turun. Tia pun menoleh, ia terkejut.


"Di luar masih hujan, sebentar saya ambilkan payung lipat dulu. Kayaknya saya pasti sedia payung di dalam sini." Ujar Rey sambil membuka laci mobilnya dan mengambil sebuah payung lipat berwarna biru.


"Kamu tunggu di sini dulu." Pinta Rey pada Tia, lalu ia membuka pintu mobil, membuka payungnya dan turun, kemudian menutup kembali pintu di bagian kemudi.


Rey berjalan ke arah pintu penumpang, di mana Tia tengah duduk menatapnya dengan heran. Ternyata Rey membukakan pintu untuk Tia.


"Yuk turun?" Ajak Rey sambil memayungi tepat di depan pintu mobil.


Rasa canggung kembali menyergap Tia, namun ia dapat segera menguasai diri agar tak berlarut-larut.


Tia melangkah turun dari mobil lalu berjalan menuju rumahnya dengan dipayungi Rey, mereka berjalan dengan berlindung di bawah payung yang sama.


"Makasih ya Pak Rey, jadi ngerepotin." Ucap Tia sekali lagi sesampainya mereka di teras rumah.


"Sama-sama ... Ya sudah kamu masuk sana, di luar dingin. Besok tim kita masih harus kerja keras untuk event anniversary kantor, oke?" Ujar Rey sambil tersenyum, lagi-lagi senyuman yang terasa hangat diantara hawa dingin akibat guyuran hujan malam itu.


Tia pun tersenyum lalu mengacungkan ibu jarinya. Ia merogoh tasnya untuk mengambil kunci rumah dan mulai memasukkannya ke dalam slot. Namun Tia kembali menoleh ke belakang, ia masih melihat Rey yang sedang berdiri menunggunya.


"Pak Rey kok masih di sini?" Tanya Tia, spontan.


Rey terhenyak, dahinya kontan mengernyit.


"Oh, hmmm ... maksud saya ... Pak Rey kok belum pulang? Nanti Bapak kemalaman loh!" Ujar Tia, coba memperjelas maksudnya.


Rey terkekeh lalu berujar, "Saya kira kamu ngusir saya!"


Tia pun ikut tertawa. Tiba-tiba sebuah kilatan petir disertai guntur mengagetkan keduanya. Tia yang terkejut pun sontak menjerit dan Rey dengan sigap mendekapnya.


***