
Sebuah senyuman khas tampak membingkai di wajah orang yang mengunjungi Tia tersebut, membuat Tia harus meningkatkan kewaspadaan.
Tia berusaha untuk bisa duduk di tempat tidurnya walau dengan susah payah.
"Sini gue bantu!" ucap orang itu yang tak lain adalah Ilona.
"Stop! Gue bisa sendiri!" tegas Tia.
Tia sudah berhasil duduk bersandar bantal di tempat tidurnya dengan salah satu tangan yang diam-diam sibuk membuka aplikasi perekam suara untuk merekam percakapan yang akan terjadi.
"Mau ngapain kemari?" tanya Tia, datar.
"Jutek amat?! Gue mau nengokin lu, boleh kan??"
"Harusnya lu tanya begitu sebelum nongol di depan muka gue. Gue ngerasa enggak butuh ditengokin sama lu, jadi mendingan lu balik aja."
"Hmmm ... sebenernya gue juga males sih nemuin lu di sini, tapi gue ngerasa perlu ngomong sama lu."
Tia bergeming, ia hanya menatap tajam ke arah Ilona.
"Gini ya, lu pasti udah tau kan kalo yang nikam lu itu si Yongki? Dan dia begitu bukan tanpa alasan. Dia itu benci banget sama Igan, makanya dia jadiin lu sasaran."
Tia tersenyum sinis, "Lu jauh-jauh dateng ke sini cuma mau bilang soal berita basi itu doang?? Gue udah tau!" tukas Tia.
"Makanya gue saranin, jauhin Igan demi keselamatan lu!"
"Kalo gue enggak mau, gimana??"
Ilona tersenyum mencibir, "Lu yakin enggak mau dengerin kata-kata gue?" tanya Ilona.
"Buat apa gue dengerin lu?"
"Ya biar lu save! Karena selama lu ada di deket Igan, lu enggak bakal aman, tau??"
"Oya??"
"Iya lah, lu ragu sama ucapan gue?? Si Yongki boleh aja masuk penjara, tapi masih ada orang yang jelas-jelas bakal jadi penghalang lu deket sama Igan."
"Lu kan orangnya??"
Ilona tertawa, "Nah, lu udah tau kan? Makanya, cari aman aja. Oke?" ucap Ilona bak seorang psikopat.
"Harusnya yang cari aman itu lu, Ilona. Lu enggak takut bakal ikutan nyusul om lu masuk bui?"
"Keluarga gue itu bukan keluarga yang takut dibui. Yang penting tujuan tercapai, masalah bui itu belakangan! Toh di penjara juga masih tetep bisa hidup kan?" sahut Ilona dengan tertawa.
"Dasar enggak waras! Udah sana lu balik, gue mau istirahat!" usir Tia.
Tia menekan bel untuk memanggil suster jaga.
"Gue ingetin sekali lagi, jauhin Igan atau lu bakal jauh lebih parah dari ini!" ancam Ilona.
Tia sudah sangat jengah, beruntung seorang suster dengan cepat datang ke ruangannya.
"Sus, tolong usir wanita itu! Dia ngancam-ngancam saya terus, bikin saya enggak tenang!" pinta Tia.
"Oh, baik Mbak.
Maaf Mbak, pasien sudah merasa terganggu. Sebaiknya Anda segera pergi dari sini." pinta suster tersebut.
"Tapi kan saya cuma mau nengokin dia, Sus!"
"Iya, tapi pasien merasa terganggu Mbak. Maaf, lebih baik Anda pulang saja."
"Saya ini artis lho, Sus! Jangan ngusir-ngusir gitu dong!"
"Makanya kami minta Anda supaya kooperatif, jangan sampai saya panggilkan sekuriti."
Ilona menatap Tia dengan tajam, lalu dengan mendengus dan langkah menghentak ia akhirnya keluar dari ruangan tersebut.
"Suster, tolong jangan tinggalin saya sendirian. Saya takut dia dateng lagi. Dia tadi udah ancam saya, Sus!" pinta Tia.
"Tapi saya masih harus mengurus pekerjaan saya, Mbak." tolak suster itu dengan lembut.
"Kalo dia balik lagi gimana?"
"Mbak tenang saja, ada beberapa perawat yang berjaga di lobi dan ada sekuriti juga. Nanti setiap ada orang yang ingin berkunjung ke kamar ini, akan kami kawal. Memangnya, keluarga Mbak sedang kemana?"
"Kakak saya lagi pulang dulu sebentar Sus."
"Oh begitu? Ya sudah, nanti saya minta sekuriti supaya lebih waspada dengan orang yang datang ke kamar ini."
Tia mengangguk, ia tampak sedikit lega dengan ucapan sang suster.
"Kalau begitu, saya permisi dulu ya Mbak?" pamit suster itu.
"Iya Suster, terima kasih." ucap Tia.
Suster itu mengangguk dan tersenyum, kemudian keluar ruangan untuk kembali ke tempatnya bekerja.
Tia kemudian menelepon Hendra untuk menceritakan apa yang terjadi barusan.
"Halo Dek? Ada apa?" sahut Hendra to the point karena ia masih di jalan.
"Kakak masih lama ya balik ke sininya?"
"Hmmm ... iya Dek, agak macet nih. Ni kakak baru mau ke tempat laundry, habis tu balik ke rumah dulu. Kenapa, ada masalah?"
"Barusan Ilona ke sini, Kak!"
"Dia ngancam aku supaya jauhin Mas Igan kalau mau aman."
"Sialan tu orang!! Tapi sekarang dia udah pergi??"
"Udah, tadi aku panggil suster. Kakak cepetan ke sini ya? Aku takut dia ke sini lagi pas aku lagi tidur."
"Iya-iya, kakak usahain secepatnya. Kamu jangan tidur dulu ya, Dek? Hati-hati."
"Iya Kak, Kakak juga hati-hati ya?"
"Iya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Baru saja Tia meletakkan ponsel di sisi kiri tubuhnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan cepat Tia mengambil ponselnya itu.
"Mas Igan?" gumam Tia.
Ia segera menerima panggilan telepon dari Igan.
"Assalamu'alaikum, Mas?"
"Wa'alaikum salam. Kamu lagi ngapain, Ti?"
"Lagi was-was nih Mas sendirian di kamar."
"Lho, Mas Hendra kemana?"
"Lagi pulang dulu ambil baju. Oh iya Mas, tadi tuh Ilona ke sini lho!"
"Hah, serius kamu?? Mau ngapain??"
"Dia minta saya supaya jauhin Mas Igan."
"Kurang ajar si Lona! Pantesan perasaan saya enggak enak tadi, pengin cepet-cepet ke sana. Barusan nelepon kamu juga lagi sibuk, ini baru bisa masuk."
"Iya Mas, tadi saya habis telepon Kak Hendra soalnya."
"Saya ke sana sekarang ya, Ti? Saya enggak tenang."
"Eh, enggak usah Mas! Mas Igan kan lagi kerja, saya enggak mau ganggu."
"Tapi Lona itu nekat, Ti! Dia bisa lakuin apa aja demi tujuannya."
"Iya, saya tau. Tapi saya juga enggak mau jadi penyebab Mas Igan jadi enggak profesional kerja. Saya enggak apa-apa kok, Mas. Paling sebentar lagi Kak Hendra juga dateng."
"Ya sudah, kamu hati-hati ya di sana?"
"Iya, Mas."
Panggilan telepon berakhir. Tia kembali menghela napas dan meletakkan ponsel di sampingnya.
Igan tampak gelisah di dalam pantri. Ya, Igan sengaja keluar ruang kerjanya agar bisa menelepon Tia karena perasaannya memang tidak tenang.
Ia bergegas menuju ruang kerja sang ayah untuk membicarakan soal Tia.
"Masuk!" ucap Bintang dari dalam ruangannya ketika Igan mengetuk.
"Yah, maaf Igan ganggu." ucap Igan seketika memasuki ruang kerja sang ayah.
"Kenapa, Nak?"
"Ilona Yah, dia datengin Tia di rumah sakit terus ngancam Tia. Barusan Igan nelepon Tia, soalnya perasaan Igan enggak enak banget."
Bintang yang semula masih fokus menatap layar komputernya, seketika beralih menatap sang putra yang sudah duduk di hadapannya.
"Tapi Tia enggak apa-apa kan??" tanya Bintang.
"Untungnya begitu, Yah. Tapi dia jadi was-was, soalnya tadi Hendra juga lagi pulang ke rumah ambil pakaian. Jadi Tia cuma sendirian di rumah sakit."
Bintang tertegun sejenak, ia tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Yah, apa kita kirim satu petugas jaga ke kamar Tia?" usul Igan.
"Iya, ayah juga mikir begitu. Coba ayah koordinasi dulu sama HRD buat nentukan siapa yang bakal diutus jaga di sana."
"Ya sudah Yah, tolong dikondisikan ya? Igan enggak mau Tia kenapa-napa lagi gara-gara Igan."
Bintang tersenyum, "Kamu khawatir banget ya sama Tia?"
Igan terdiam sejenak lalu menatap sang ayah, "Iya Yah. Igan nyaman sama Tia. Tapi ... gara-gara dia ditikam sama Yongki, jadi ...."
Bintang mengerutkan alis tebalnya lalu menatap seksama pada sang putra.
"Jadi kenapa, Nak??"
"Mas Hendra jadi kurang suka Igan deket sama Tia. Dia khawatir kalo Tia kenapa-napa lagi."
Bintang kembali tersenyum, "Sudah, kamu tenang aja. Biar ayah yang urus. Kamu kembali lagi sana ke ruang kerja. Kerja yang bagus dan disiplin, oke?!"
Igan mengangguk dan tersenyum, "Makasih ya Yah? Igan ke ruangan dulu."
Bintang tersenyum seraya menatap punggung sang putra yang beranjak menjauh dan menghilang di balik pintu ruang kerjanya.
Kamu benar-benar enggak bisa sembunyikan perasaan kamu buat Tia, Nak. batin Bintang.
*****