
"Pak Rey? Sudah sampai?" Sapa Tia yang sedang duduk.
"Iya." Sahut Rey, datar.
"Sini Pak, masuk!" Ajak Tia.
Rey tak mengindahkan ajakan Tia, matanya hanya terpusat kepada seseorang yang tengah duduk santai sambil menebar senyum ke arahnya.
Sialan! Ternyata dia masih ada di sini nemenin Tia. Gerutu Rey dalam hati.
"Pak Rey, ayo silakan masuk?" Tia mengulangi ajakannya.
"Oh, iya. Makasih." Sahut Rey, canggung.
Kalau aja lu bukan bos muda, gue enggak akan ragu ngajak lu duel demi dapetin Tia! Batin Rey, geram.
Tu orang kayaknya enggak suka banget ngeliat gue di sini. Gue yakin, dia itu naksir sama Tia. Perhatiannya terlalu lebay kalo cuma sebagai atasan ke stafnya! Ucap Igan dalam hati sambil membalas tatapan Rey yang menghujam.
Rey melangkah masuk mendekati Tia dan Hendra. Ia menyalami kakak beradik itu dengan baik, kemudian menyalami sang bos muda dengan singkat saja.
Tia melihat gelagat tak baik itu, namun ia tak mau ambil pusing. Fokusnya hanya pada kondisi sang kakak yang ia harapkan lekas membaik dan benar-benar sehat kembali.
"Pak Rey ada apa kemari? Kan saya sudah diantar sama Pak Igan?" Tanya Tia, tanpa basa-basi.
Igan agak terhenyak ketika mendengar Tia memanggilnya dengan sebutan 'Pak', terdengar tak nyaman di telinganya karena dianggap terlalu formal.
"Enggak ... enggak ada apa-apa kok, saya cuma mau memastikan kamu sampai dengan sehat dan selamat." Sahut Rey, berusaha santai.
Nyebelin banget ni orang! Dari kata-katanya, dia itu jelas enggak percaya sama gue! Omel Igan dalam hati.
"Tia akan saya pastikan sampai dengan selamat, sehat, dan tetap cantik kalau dia pulang sama saya." Timpal Igan dengan senyum penuh arti seraya menatap Rey.
Rey menoleh ke arah Igan dan tersenyum sinis, rasa cemburu sudah menghasut kalbunya hingga tak dapat lagi berpikir dengan tenang. Siapapun yang menjadi rivalnya untuk mendapatkan sang gadis pujaan pasti akan ia terjang, termasuk sang bos muda!
"Hmmm ... maaf, nama Anda siapa? Rey ya?" Tanya Igan.
"Iya, ada apa?" Tukas Rey.
"Enggak apa-apa, cuma mau tanya ... acara di kantor apa sudah selesai?" Tanya Igan, santai.
"Waktu saya kesini sih belum, bahkan Pak Bos dan istrinya juga masih ada di kantor. Tapi ... ada yang coba ngerjain saya atas nama Pak Bos lewat si Jack." Sahut Rey.
"Ngerjain gimana Pak?" Tanya Tia.
"Ya, kamu tadi dengar juga kan waktu si Jack ke ruang serbaguna terus bilang ke saya kalau ... Pak Bintang mau ketemu saya di lantai tiga?" Rey balik bertanya.
"Iya, dengar. Terus ada apa Pak?" Sahut Tia, penasaran.
"Ternyata di lantai tiga enggak ada siapa-siapa, pas saya tanya Jack ternyata dia bilang kalau disuruh seseorang buat ngerjain saya." Papar Rey.
"Ih, Bang Jack kok mau sih disuruh begitu?"
"Menurut kamu gimana Ti, kalau ada orang yang sengaja nyuruh si Jack begitu?" Tanya Rey, ingin mengetahui reaksi Tia.
"Ya saya enggak bisa respect sama orang yang sengaja mau ngerjain begitu." Sahut Tia.
"Siapapun?" Tanya Rey.
"Iya, siapapun." Sahut Tia dengan polos.
Rey sontak menoleh ke arah Igan sambil tersenyum menyeringai. Igan tahu jika Rey sengaja ingin membuat Tia membencinya.
Siap-siap aja enggak dapet simpati lagi dari Tia, Bos Muda! Batin Rey sambil menyeringai dan menatap Igan dengan tajam.
Hendra yang sedari tadi hanya diam, namun bukan berarti tak tahu. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik Rey dan Igan, ia juga dapat merasakan bahwa dua orang itu tengah berusaha meraih simpati dari adiknya.
"Ngomong-ngomong, apa kamu sudah benar-benar sehat Tia? Terus, Hendra kenapa sampai harus dirawat?" Tanya Rey, penuh perhatian.
"Kak Hendra kena tifus, Pak."
"Saya sudah enggak apa-apa kok Pak, alhamdulillah."
"Kalau kamu mau pulang atau perlu kemana-mana, panggil saya aja Ti." Ujar Rey.
"Apa di divisi promosi sudah enggak ada kerjaan lain yang lebih penting?" Sindir Igan dengan nada santai.
Tia dan Rey menoleh ke arah Igan, lalu Igan bangkit dan pamit.
"Ya sudah, berhubung kamu sudah ada yang temenin lagi ... saya pamit ya?" Ujar Igan, pamit.
"Iya Mas Igan, terima kasih banyak ya sudah mau direpotin?" Sahut Tia sambil tersenyum.
"Enggak masalah kok Tia, cuma bantuan kecil. Kamu jaga diri ya? jaga kesehatan juga." Ujar Igan.
"Iya, Mas Igan juga inget ya apa yang saya bilang tadi, hati-hati!" Tegas Tia namun dengan suara lirih.
"Apa-apa?? Suaranya enggak kedengeran nih! Bisikin aja deh!" Seru Igan kepada Tia seraya agak membungkuk dan mendekatkan telinga ke arah Tia, berpura-pura untuk membuat Rey kesal.
Tia pun berbisik ke telinga Igan dan tentu saja membuat Rey sangat kesal melihatnya. Ia berpaling ke arah Hendra dan ternyata Hendra sedang menatapnya.
Igan tersenyum puas melihat Rey yang tampak kesal. Setelah Tia selesai membisikkan kata ke telinga Igan, ia pun beranjak menghampiri Hendra yang terbaring.
"Mas Hendra cepat sehat lagi ya? Sekarang saya pamit dulu." Pamit Igan.
Hendra tersenyum dan mengangguk, ia mengucap terima kasih namun dengan suara yang lirih.
Igan menoleh ke arah Rey lalu mengulurkan tangan mengajaknya bersalaman.
"Saya pamit ya?" Ujar Igan pada Rey.
Rey menatap sang bos muda dengan datar, tak ada rasa hormat di sorot matanya.
"Saya tahu, Anda anggap saya saingan untuk dapatkan hati Tia kan? Asal Anda tahu, saya enggak takut bersaing dengan siapapun." Bisik Igan di telinga Rey seraya tersenyum lalu melangkah pergi.
Rey menatap punggung Igan yang makin menjauh dengan tatapan nanar, kecemburuan telah benar-benar menunjukkan karakter aslinya.
"Pak Rey silakan duduk." Ujar Tia mempersilakan.
Rey mengangguk lalu duduk di sebelah Tia.
"Saya enggak suka sama putra Pak Bos, gayanya nyebelin! Sok ganteng, sok keren!" Celetuk Rey.
Tia menoleh ke arah Rey dengan tatapan heran, sedangkan Hendra mendengarkan saja tanpa bereaksi apa-apa. Ia lebih fokus untuk bisa secepatnya sehat kembali.
"Kenapa Pak? Mas Igan itu kan baik, santai lagi orangnya. Enggak beda-bedain orang, apa adanya." Bela Tia.
"Kamu itu anak baru, enggak tahu-menahu soal dia. Kamu kan baru pertama ketemu sama dia, pasti belum tahu sifatnya." Cerocos Rey, menjatuhkan nama baik Igan.
Tia menyimak ucapan Rey, ingin sekali ia menyanggahnya namun hati kecil melarang. Tia lebih memilih diam tetapi nuraninya coba menelaah keadaan.
Rey tiba-tiba memperhatikan Tia, kemudian bertanya tentang hadiah yang ia beri untuknya.
"Ti, kamu sudah buka hadiah yang saya kasih belum?"
"Euh? Be-belum Pak, saya belum sempat." Sahut Tia, terkejut dan salah tingkah.
"Sayang banget, padahal saya pengin lihat kamu pakai hadiah yang saya kasih tempo hari." Ucap Rey menyayangkan.
"Hmmm ... memangnya, Pak Rey kasih saya apa?"
Rey tersenyum lalu berucap, "Nanti kamu lihat sendiri aja ya?"
Pak Rey ngasih apa ya ke Tia? Gue harus cepet sehat supaya bisa jagain Tia! Batin Hendra.
Saya harap kamu suka hadiah itu, Tia .... Harap Rey dalam hati.
***