
Hari terus berganti, Igan berharap sudah dapat bernapas lega dan hidup dengan lebih tenang setelah memberikan klarifikasi. Ia juga berharap agar rivalnya yaitu pihak Om Bono cs, tak lagi mengganggunya.
Pihak-pihak yang sempat meminta ganti rugi pun memaksa Igan dan Ilona agar memenuhi kontrak yang sudah disepakati. Akhirnya, Igan dan Ilona kembali bertemu di panggung yang sama untuk menuntaskan kontrak kerja yang sudah terlanjur ditandatangani.
Igan juga bersyukur karena setelah proyek duet mereka rampung, masih banyak yang mau mengundangnya untuk bernyanyi sebagai solois, walaupun hanya membawakan lagu-lagu hitsnya di awal karir sebagai penyanyi solo.
Ia juga masih dipercaya untuk menjadi duta dari sebuah instansi yang concern dibidang pendidikan dan moralitas masyarakat, khususnya yang berusia muda.
Namun, sebuah berita miring tentangnya kembali menghentak dunia hiburan, membuat banyak pihak tercengang.
"Apaan lagi sih ini? Baru aja gue mulai tenang, muncul lagi yang beginian!" Igan emosi ketika melihat berita infotainment di televisi yang menunjukkan sebuah foto dirinya sedang ber-swa foto bersama seorang wanita, dan lebih mencengangkan lagi ketika wanita itu mengaku sedang mengandung anak Igan.
Bulan melihat ekspresi kesal putranya dari atas ketika ia hendak menuruni anak tangga menuju ruang keluarga, dimana Igan tengah berada.
"Ada apa, Nak? Kok marah-marah?" tegur Bulan kepada Igan..
Igan lantas menengadahkan kepala, terlihat sang bunda tengah terpaku menatapnya dengan heran.
"Itu lho, Bun! Ada yang mau cari perkara lagi sama Igan, pake nyebarin foto dan berita hoax segala!" sahut Igan.
Bulan makin penasaran kemudian bergegas menuruni satu persatu anak tangga menuju ruang keluarga.
"Memangnya itu siapa yang foto sama kamu?" tanya Bulan ketika sudah duduk dan sama-sama sedang menyimak berita tersebut.
"Igan agak lupa Bun, tapi Igan yakin dia itu cuma penggemar yang lagi minta selfie bareng."
"Coba kamu ingat-ingat, biar kita cepat tau." desak Bulan.
Igan terdiam sejenak, ia mengerahkan daya ingatnya untuk menemukan kapan peristiwa itu terjadi, dan siapa wanita itu.
"Igan lupa Bun, bener-bener belum bisa inget!" seru Igan sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan, ia tampak tertekan.
Bulan menghela napas panjang, ia bisa merasakan apa yang sedang putranya rasakan.. Ia merangkul pundak putra tercintanya itu, berusaha memberikan dukungan moril dan menguatkannya.
"Yang sabar, Nak.. Kamu enggak usah panik, Bunda percaya kok itu cuma hoax. Nanti kita cari tau siapa wanita itu, terus kita kasih somasi."
"Tapi gimana kalau pihak lainnya pada percaya sama berita itu, Bun? Karir Igan bakal terancam!"
"Udah ... kamu tenang aja." bujuk Bulan, terus menguatkan putranya.
Tak lama kemudian, Jio menelepon. Igan segera menerima panggilan telepon dari manajernya itu.
"Halo Bro, lu udah liat berita pagi ini?" tanya Jio.
"Udah." sahut Igan.
"Itu cewek siapa Bro? fans lu yang lagi minta foto bareng apa temen lu?"
"Bukan, gue aja enggak kenal sama dia. Gue yakin dia itu fans yang lagi minta foto bareng, Bro! Tapi gue lupa kapan kejadiannya. Gue enggak ngerti, kenapa dia ngaku-ngaku hamil anak gue?? Masa foto bareng doang bisa hamil!"
"Hahaha ... ya kali hamilin orang bisa lewat bluetooth!" seloroh Jio, serampangan.
"Jangan cengengesan deh, Bro! Lu enggak tau apa gue lagi pusing? Coba deh lu cari tau siapa tu cewek? Mau gue kasih teguran keras dia!"
"Sori-sori ... gue cuma enggak mau lu spaneng, Bro!"
"Pokoknya lu tolong bantu gue buat cari tau cewek itu, oke Bro?"
"Siap! Lu enggak minta tolong juga pasti gue lakuin kok. Tapi. ... apa ini ulah Om Bono, Ilona, atau ... si sekuter itu?"
Igan terdiam sejenak, dahinya berkerut.
"Sekuter siapa?" tanya Igan.
"Ya si Yongki lah, siapa lagi?"
"Dia itu udah terkenal sekarang, bukan sekuter lagi."
"Ya kan gara-gara digaet Om Bono buat gantiin posisi lu! Sebelumnya juga gue enggak tau dia siapa."
"Hmmm ... gue sih enggak mau asal nebak Bro. Tapi kalo emang mereka pelakunya ya ... kita harus cari buktinya dulu."
"Iya, sekarang langkah pertama kita cari tau soal cewek itu. Ya udah sekarang lu jangan panik, gue janji bakal ngusut perkara ini. Lagian ... bunda lu kan pengacara Bro, don't worry lah ...."
Igan melirik ke arah bundanya yang masih setia mendampingi. Bulan tersenyum melihat putranya, lalu mengusap lembut punggung Igan.
"Iya Bro, Bunda juga tadi bilang bakal dukung gue dan kasih somasi ke cewek itu."
"Pastinya lah, Bro. Ya udah deh, gue mau mulai bergerak buat cari tau cewek itu. Kebetulan, temen gue ada yang kerja di TV. Bisa kan gue jadiin koneksi buat nanya ke bagian infotainment?"
"Ya lu atur aja deh, Bro. Gue juga mau coba hubungin admin akun gosip itu."
"Oke, bagus. Kita harus gercep biar enggak berlarut-larut masalahnya. Ya udah Bro, salam buat ayah sama bunda lu ya?"
"Oke, makasih banyak ya Bro?"
"Sama-sama."
Percakapan pun berakhir, Igan menghela napas dalam-dalam lalu berusaha tersenyum.
"Bun, dapet salam dari Jio." ucap Igan pada bundanya.
Bulan tersenyum dan mengangguk.
"Iya Bun, Igan usahain tetap jaga kondisi kok. Tolong doain Igan ya Bun biar bisa lewatin ini semua dengan baik."
"Iya Nak, pasti."
Igan mencium punggung tangan bundanya dengan takzim beberapa kali, ia merasa sangat beruntung karena terlahir dalam keluarga yang penuh kehangatan dan kasih sayang.
*
Jam pulang kantor tiba, divisi promosi terlihat sangat antusias saat bersiap pulang. Bukan tanpa alasan, karena Jeni dan Teguh mengajak rekan divisi mereka untuk makan-makan sebagai syukuran kenaikan jabatan.
"Jen, Guh, jadi nraktir kita-kita kan?" tanya Gugun sembari mengunyah permen karet rasa mint kegemarannya.
"Jadi lah, kenapa? Lu enggak mau ikut?" timpal Jeni.
"Eits, enak aja! Jelas ikut lah ...."
"Kirain enggak, lumayan buat ngurangin jatah pengeluaran." seloroh Jeni, kemudian terkekeh.
Gugun manyun, "Kagak ikhlas banget lu mau nraktir temen!"
"Ikhlas kok, ikhlas ... Ya udah yuk buruan, biar enggak kemaleman pulangnya." sahut Jeni.
"Bu Jeni sama Pak Teguh mau ngajak kita-kita makan dimana?" celetuk Tami sambil tersenyum, meledek.
"Apaan sih Tam, biasa aja lah manggilnya. Berasa tua banget gue dipanggil 'Pak'. " timpal Teguh.
"Tapi kan kalian udah lebih tinggi jabatannya dari kita-kita. Jeni udah jadi kadiv, nah lu jadi wakadiv." ujar Tami pada Teguh.
"Jangan bikin tembok pemisah gitu dong, Tam ... kita cuma beda jabatan kok, tapi friendship divisi kita jangan sampe berubah. Tetep aja ngobrol kayak biasa sama gue, jangan sungkan. Malah aneh tau enggak dengernya!" tegas Jeni.
Jeni dan Tami berpelukan, tak lupa juga mengajak Tia. Mereka bertiga larut dalam kebahagiaan dan rasa haru.
"Eh, kok gue enggak diajakin sih?" celetuk Gugun, protes.
"Ye ... lu pelukan aja sono sama Teguh!" timpal Jeni yang direspon tawa oleh Tami dan Tia.
"Ih, ogah!" sahut Gugun dan Teguh bersamaan.
"Ya udah yuk jalan?" ajak Teguh.
Semua mulai beranjak keluar ruangan, menuju ruang absensi lalu ke area parkir untuk mengendarai kendaraan masing-masing menuju sebuah mal yang tak terlalu jauh dari kantor.
Setibanya di sebuah mal, mereka langsung menaiki lift untuk menuju ke area foodcourt.
Setelah keluar lift, tampak kerumunan wartawan sedang mewawancarai seseorang di sebuah ballroom tepat di seberang lift.
"Ada apaan tuh rame banget? Ada artis lagi wawancara ya?" celetuk Jeni.
"Apa jangan-jangan ... Mas Igan? Kan lagi santer tuh beritanya. Tapi, gue enggak yakin deh kalo perempuan itu hamil anaknya Mas Igan." imbuh Tami.
"Gue juga enggak yakin, keluarga Pak Bintang kan keluarga baik-baik dan terhormat. Mas Igan juga pasti hati-hati lah kalo bergaul." sahut Gugun.
"Iya, enggak kayak lu ya Gun? Yang penting cewek, maen embat aja!" ledek Jeni.
"Justru gue jauh lebih hati-hati Jen, buktinya sampe sekarang gue masih jomblo!" Gugun tegas membela diri.
"Iya deh, iya ...." ujar Jeni, mengalah.
"Kita ke sana aja yuk? tempatnya enak tuh, menunya juga banyak, terus enak-enak." ajak Teguh.
"Lu udah pernah makan di situ, Guh?" tanya Gugun.
"Udah beberapa kali, makan sama tunangan gue." sahut Teguh.
"Oh, oke deh." sahut Jeni.
Tami, Jeni, Teguh dan Gugun berjalan cepat menuju gerai makanan di foodcourt yang Teguh maksud. Namun Tia justru terfokus pada kerumunan wartawan di ballroom itu.
Gue penasaran deh, siapa sih yang lagi diwawancara? batin Tia.
Disaat rekan-rekannya fokus untuk menuju tempat makan, Tia justru melangkah menyimpang. Ia menghampiri kerumunan wartawan itu untuk melihat siapa yang sedang diwawancara.
Matanya membelalak ketika sudah berada di belakang kerumunan wartawan yang riuh berebut untuk dapat bertanya pada sang artis.
Ilona?? seru Tia dalam hati.
"Menurut Mbak Lona, berita yang sedang menimpa mantan tunangan Mbak itu benar atau cuma hoax, Mbak?" tanya salah satu wartawan.
"Hmmm ... menurut saya sih mungkin bener ya, soalnya dia juga tiba-tiba putusin hubungan tunangan sama saya. Bisa aja karena dia ngerasa salah udah bohongin saya, jadi dia mutusin." sahut Ilona dengan percaya diri.
"Jadi Mbak Lona yakin kalau Mas Igan ada hubungan sama perempuan itu?"
"Ya pastinya mereka ada hubungan dong, buktinya si cewek sampe hamil gitu kan?"
Ilona, bener-bener jahat! Tega banget jelek-jelekin Mas Igan, padahal dia sendiri yang ngebet pengin dapetin Mas Igan! Pake cara gaib segala juga! Gimana kalo orang lain sampe tau soal itu? pasti menarik! Tapi ... gue enggak punya bukti secara nyata, soalnya itu magis. pikir Tia.
"Tia! Ayo sini, ngapain berdiri di situ??" seru Teguh memanggil Tia.
Ilona yang mendengar nama Tia pun langsung berdiri dan beranjak untuk mencari keberadaan Tia.
****