Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Penasaran


"Lu kenapa, Ti? napas lu sampe segitunya?" Tanya Gugun.


"Gue ... Gue habis mimpi aneh, Gun." Sahut Tia seraya mencoba mengatur napasnya yang masih tersengal.


"Ini diminum dulu, Ti." Ucap Teguh sambil menyodorkan segelas air putih.


Setelah agak tenang dan napasnya sudah kembali teratur, Tia mulai bercerita kepada dua rekannya itu.


"Mimpinya tuh cukup serem." Tia terdiam sejenak mengingat kejadian di mimpi tadi.


"Mimpi apa sih?" Tanya Teguh.


"Aku beberapa kali mimpi ketemu cewek, namanya Susan. Tapi tadi ujung-ujungnya dia marah sama aku cuma gara-gara aku ...." sahut Tia ke Teguh.


Cerita Tia terhenti ketika ponselnya berdering panjang. Ia menghela napas dalam-dalam lalu mendengus, kesal. Baru saja ia ingin berbagi cerita untuk mengurangi beban pikirannya, tetapi harus tertunda.


"Halo Pak Rey?" ucap Tia ketika menerima telepon.


Teguh dan Gugun saling pandang dengan ekspresi heran.


"Kamu sudah makan siang, Ti?" tanya Rey di seberang telepon.


"Belum, Pak."


"Kok belum?"


"Iya, tapi ini sudah dibeliin kok sama Mas Teguh. Tadi saya titip minta beliin."


"Oh, ya sudah nanti dimakan ya? Kerjaan gimana, lancar semua kan? Laporan yang diminta sama Pak Bintang sudah dikasih belum?"


"Sudah sih Pak, tadi sama Gugun. Ini ada Gugunnya, mau bicara Pak?"


"Ah, enggak usah. Cukup sama kamu saya bicaranya. Ya sudah Ti, jangan lupa makan siang dulu ya?"


"Iya Pak, habis ini saya makan kok. Selamat siang ...."


"Saya sayang kamu, Tia."


Tia terhenyak mendengar kalimat itu keluar lagi dari bibir Rey, sebuah kalimat yang seharusnya membuat bahagia bagi yang saling cinta. Namun bagi Tia, justru membuatnya sedikit tertekan.


Tia memilih untuk pura-pura tidak dengar dan langsung menutup teleponnya. Raut wajahnya yang sedikit tegang menarik perhatian Teguh dan Gugun.


"Pak Rey bilang apa, Ti?" tanya Teguh.


"Cuma nanyain kerjaan sama laporan yang diminta sama Pak Bintang udah belum? Aku jawab udah sama Gugun tadi."


"Ah, tapi gue rasa Pak Rey enggak nanyain itu doang deh ke lu. Ada lagi kan?" tebak Gugun.


"Euh? emang apaan, Gun?" tanya Teguh.


"Pak Rey kayaknya nanyain si Tia udah makan siang apa belom deh, iya kan Ti?"


Teguh dan Gugun menatapnya dengan intens, berharap Tia segera menjawab. Tia menghela napas lalu tersenyum tipis.


"Tuh kan, gue bilang juga apa! Tia senyum, berarti tebakan gue bener! Ti, gue rasa Pak Rey suka deh sama lu." ujar Gugun, penuh semangat.


Tia kembali tersenyum, lalu tangannya mengambil dompet dari dalam tas, kemudian menyodorkan selembar uang dua puluh ribuan kepada Teguh.


"Mas, ini aku bayar nasi bungkusnya. Makasih banyak ya?" ucap Tia sambil tersenyum kepada Teguh.


Teguh yang tampak sedang tertegun itu pun agak kaget.


"Euh? Apa Ti?" tanya Teguh.


"Ini aku bayar nasi campur yang tadi aku nitip minta beliin."


"Oh itu? Udah ... enggak usah-enggak usah! Makan aja Ti, buat kamu. Kita sengaja agak cepet di sana, biar bisa cepet kasih nasi ini ke kamu." tolak Teguh seraya mendorong pelan lembaran uang yang Tia sodorkan.


"Hooh, Ti. Si Teguh nih kuatir lu kelaperan!" celetuk Gugun.


"Tapi kan aku tadi nitip, Mas. Aku jadi enggak enak nih kalo Mas Teguh enggak mau nerima." ujar Tia.


"Udah sih Guh terima aja duitnya, kan emang Tia bilangnya titip, bukan minta beliin gratisan. Inget, akhir bulan, Bro!!" bujuk Gugun sambil menepuk pundak Teguh.


Teguh sejenak terdiam, namun Tia dan Gugun terus mendesaknya untuk menerima uang dari Tia hingga akhirnya Teguh mau juga.


"Mau ngapain, Mas?" tanya Tia.


"Nyari buat kembalian."


"Enggak usah, santai aja lah, Mas." tolak Tia sambil tersenyum.


Teguh kembali menatap Tia dengan lekat, lalu ia mengucapkan terima kasih dan bergegas kembali ke meja kerjanya.


Kenapa jantung gue mendadak jadi dag-dig-dug gini ya pas liat Tia senyum? padahal kan ini bukan pertama kalinya gue liat dia senyum? batin Teguh sambil mengurut pelan dadanya.


Namun Teguh tak ingin berlarut-larut terbawa perasaan, ia kembali fokus dengan pekerjaannya. Begitu pun dengan Tia dan Gugun.


*


Pukul lima sore, Tia dan para karyawan di kantor itu bersiap untuk pulang. Mereka membereskan segala perlengkapan yang ada di atas meja kerja masing-masing, lalu mematikan perangkat komputernya.


Setelah yakin semua sudah beres, Tia pun meraih tas cangklongnya dan mulai berjalan keluar ruangan menuju ruang absensi di lantai satu.


"Duluan ya Mas Guh, Gun?" sapa Tia, pamit kepada dua rekannya.


"Eh Ti, bareng dong!" seru Teguh.


Tia menoleh dan menghentikan langkahnya.


"Gun, lu yang pegang kunci ya? Gantian." pinta Teguh seraya dengan cepat menaruh kunci ruangan itu di meja Gugun.


"Lah, kenapa gue, Guh??" protes Gugun.


"Gantian! Biar lu enggak siang mulu datengnya." ujar Teguh.


"Ah, rese' lu!" gerutu Gugun.


Teguh terkekeh namun tak peduli dan mengajak Tia untuk turun bersama.


Setibanya di ruang absensi ternyata sudah ada beberapa karyawan yang sedang dan akan melakukan absen.


Mereka pun harus berdiri menunggu giliran untuk absen menggunakan finger scan.


Setelah menunggu sebentar, akhirnya tiba giliran Tia dan Teguh untuk menekan finger scanner menggunakan ibu jari, untuk mencatatkan waktu kepulangan mereka.


"Ti, emang yang tadi siang Gugun bilang tuh bener ya?" tanya Teguh tiba-tiba, saat mereka berjalan menuju area parkir.


"Euh? Yang ... mana?" tanya Tia, lupa.


"Itu loh ... yang katanya Pak Rey nanyain kamu udah makan siang apa belum?"


"Oh, iya bener. Emang kenapa, Mas?"


"Pak Rey perhatian banget ya ke kamu?"


Tia tersenyum tipis lalu mengangkat bahu, ia malas membahas Rey sore itu karena semakin mengingatkannya pada mimpinya saat tertidur di ruang kantor siang tadi.


"Apa jangan-jangan kalian ada hubungan khusus?" tebak Teguh.


Tia terkejut dan menatap Teguh.


"So-sori Ti, aku bukannya mau kepo tapi ...." ujar Teguh, panik karena takut Tia marah padanya.


"Udah deh Mas, jangan bahas Pak Rey. Aku jadi inget mimpi tadi siang, serem!" elak Tia.


"Emang kamu mimpi apaan sih tadi?"


"Nanti aja deh aku ceritain, sekarang aku pengin cepetan nyampe rumah terus cerita ke Kak Hendra dulu."


"Oh ... ya udah enggak apa-apa. Tapi janji ceritain ya ke aku?"


Tia mengangguk lalu tersenyum manis.


Plis deh, Ti ... jangan senyumin gue begitu terus, gue takut oleng! batin Teguh.


Mereka pun berpisah setibanya di area parkir, karena letak motor mereka berada di tempat yang berbeda.


***