
Setelah Ilona cukup kuat, ia dibantu tante dan om nya pulang ke rumah. Sebenarnya Tante Ratih meminta Ilona untuk sementara tinggal di rumahnya mengingat kondisi Ilona yang masih terpuruk, namun Ilona menolak. Ia tidak ingin semakin merepotkan keluarga om dan tantenya itu.
Akhirnya ia pun diantar pulang menggunakan mobil Om Bono, sedangkan Igan mengendarai mobil Ilona yang tadi dipakai untuk membawa gadis itu ke klinik.
Igan tidak membawa mobil karena saat menyusul Ilona di bengkel pagi tadi, Om Bono yang menjemput Igan di apartemennya dan meminta supaya Igan yang menemaninya, serta memintanya untuk menyetir.
Sesampainya di rumah, Ilona memilih untuk duduk di sofa bed ruang tengahnya, karena malas untuk naik ke kamarnya di lantai dua.
Tante Ratih segera menuju dapur lalu membuka kulkas untuk melihat cadangan bahan makanan dan cemilan.
"Lona, ini masih ada sayuran sama daging ayam di freezer, tante masak aja ya?" Ujar Tante Ratih.
"Oh iya Tan, boleh. Maaf ngerepotin ya, Tan?"
"Enggak ... Ya udah kamu istirahat aja dulu di situ."
"Lon, Om carikan asisten rumah tangga ya buat kamu?" Usul Om Bono.
"Hmmm ... enggak usah lah Om, Lona bisa kok beresin rumah sendiri."
"Ya kalau kamu lagi sehat sih bisa, tapi kalau lagi sakit begini?"
"Iya Lon, lagian kalau kamu keluar kota kan jadi ada yang jagain rumah, kamu pulang juga enggak tambah capek beberes segala." Imbuh Igan.
"Hmmmm ... ya udah deh, oke."
"Eum ... kamu tuh, kalau yang ngomong Igan aja, langsung setuju." Ledek Om Bono.
Ilona tersipu, sedangkan Igan agak risih.
"Om, saya pamit ya?" Pamit Igan tiba-tiba.
"Loh, kamu mau kemana?" Tanya Om Bono.
"Mau ke kantor manajemen, saya kepikiran tadi enggak bisa datang ke mal Artha. Takut jadi masalah."
"Oh, ya sudah kalau begitu. Eh, tapi kamu naik apa? Kamu kan enggak bawa mobil tadi?" Tanya Om Bono.
"Nanti pakai taksi aja Om, gampang."
"Pakai mobilku aja dulu Gan, enggak apa-apa kok." Usul Ilona.
"Oh, enggak usah Lon. Aku pakai taksi aja. Kamu cepat sehat ya?" Sahut Igan seraya bangkit dan bersalaman dengan Om Bono, dan Ilona.
"Tante, saya pamit pulang ya?" Pamit Igan ke dapur menemui Tante Ratih.
"Lah kok pulang? Tante lagi masak buat kita semua loh ini."
"Enggak usah deh Tan, saya ada urusan lagi. Permisi ya Tan?"
"Ya sudah kalau begitu, terima kasih ya Mas Igan tadi sudah bawa Lona ke klinik. Hati-hati di jalan ya?" Ucap Tante Ratih.
"Iya Tan, sama-sama. Saya pamit dulu."
Igan bergegas keluar rumah setelah berpamitan. Ia menunggu pesanan taksi online-nya datang sambil menunggu di sebuah gazebo taman, dekat pos jaga.
"Nunggu siapa, Mas?" Sapa satpam yang tadi membantunya mendobrak pintu kamar Ilona.
"Nunggu taksi, Pak." Sahut Igan.
"Oh ... Oh iya Mas, Mbak Ilona bagaimana keadaannya?"
"Sudah baikan, Pak. Oh iya, makasih ya Pak tadi udah jagain rumahnya Lona."
"Sama-sama, Mas. Itu kan sudah jadi tugas saya."
Igan tersenyum. Ia kembali melihat layar ponselnya untuk mengecek keberadaan taksi online yang sedang ia tunggu.
"Udah dekat nih." Gumamnya.
Igan segera beranjak dari gazebo itu dan melangkah mendekati gerbang perumahan.
"Sudah dekat ya Mas taksinya?" Tanya satpam itu.
"Sudah Pak. Itu dia!" Sahut Igan seraya menunjuk ke sebuah mobil warna putih yang berjalan mendekat.
"Saya permisi ya Pak?" Pamit Igan dengan ramah kepada satpam itu.
Igan mengangguk lalu segera masuk ke dalam mobil.
***
Sementara itu Tia dan Hendra yang baru selesai memberikan berkas lamaran ke bagian personalia perusahaan Erlangga, tampak sedang berjalan menuju pintu keluar, namun tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Hendra.
Hendra sontak menoleh, begitupun Tia. Mereka pun berhenti melangkah.
"Hen, tunggu Hen!" Sergah seorang berpakaian pramukantor berusia lebih senior darinya.
"Ada apaan, Bang?" Sahut Hendra.
"Lu sama adek lu dipanggil lagi ke ruang personalia." Ujar lelaki yang akrab dipanggil Bang Jack itu.
"Euh? Mau ngapain Bang?" Tanya Hendra, heran.
"Ya mana gua tahu, udah sono buru!" Timpal Bang Jack dengan logat khas Betawi nya yang kental.
"Ya udah deh, makasih ya Bang?"
"Yoi." -Bang Jack melirik Tia, lalu tersenyum.- "Adek lu cakep ya Hen? Boleh dong buat adek gua noh si Yamin, masih jomblo dia tuh!"
"Bang Yamin? Lah, jangan ngajak ribut deh Bang ... Bang Yamin emang jomblo, tapi kan dia duda!" Seloroh Hendra, santai.
Bang Jack pun terkekeh.
"Ya kali aja adek lu mau, ya enggak Neng?"
Tia dengan santainya menyahut sambil tersenyum, "Makasih Bang, saya enggak tertarik."
"Ah Bang Jack ... Bang Jack!! Kalo mau ngenalin yang bagusan dikit kenapa!" Timpal Hendra sambil tertawa.
Bang Jack pun terkekeh lalu mereka berjalan sama-sama kembali ke dalam kantor menuju tujuan mereka masing-masing
Sampai di depan ruang personalia, Hendra mengetuk pintu dan perlahan masuk setelah mendapat sahutan yang memberinya izin untuk masuk.
"Bapak panggil kami?" Tanya Hendra kepada pimpinan personalia, Pak Irwan yang menggantikan posisi pimpinan lama yang telah purnatugas.
"Iya Mas Hendra, silakan duduk dulu." Ujarnya.
Hendra dan Tia duduk berhadapan dengan Pak Irwan.
"Maaf ya jadi bikin repot harus kembali lagi kemari, tapi ini atas perintah Pak Bintang. Beliau meminta saya supaya segera mengabarkan kalau ada pelamar yang datang sama kamu."
Hendra dan Tia mengernyitkan dahi, mereka tampak bingung.
"Begini-begini, intinya saya tadi lupa atas pesan Pak Bintang dan baru ingat tak lama setelah kalian keluar dari ruangan ini. Kebetulan Zakaria lewat, jadi saya suruh dia panggil kalian."
"Tapi maaf, terus maksudnya kita dipanggil ke sini lagi untuk apa Pak?" Tanya Tia dengan sopan.
"Nah itu, Pak Bintang sudah menunggu kalian di ruangan. Kalian bisa langsung ke sana menemui beliau."
Tia dan Hendra sejenak terdiam, macam-macam spekulasi berseliweran di benak mereka.
"Mas Hendra sudah tahu kan ruangan big boss kita di mana? Enggak perlu saya antar ya?" Tegur Pak Irwan seraya tersenyum, membuyarkan lamunan kakak beradik itu.
"Oh, i-iya Pak enggak usah. Saya dan adik saya langsung ke sana sekarang, terima kasih ya Pak?"
Pak Irwan mengangguk dan tersenyum lalu berujar, "Good luck ya!"
"Aamiin ... terima kasih Pak." Sahut Tia sambil agak sedikit membungkukkan badannya.
Hendra dan Tia bergegas keluar dari ruangan itu dan beranjak menuju ruang sang bos besar.
"Kak, tadi yang disebut Zakaria itu siapa? si Bang Jack itu maksudnya?" Tiba-tiba Tia menyeletuk yang membuat Hendra tertawa kecil.
"Iya, nama aslinya ya Zakaria itu. Tapi karena orangnya suka ngebanyol jadi dijulukin Bang Jack biar lebih gampang manggilnya. Kenapa, kok kamu mendadak kepo? Mau jadi adik iparnya?" Sahut Hendra yang diselingi ledekan kepada sang adik.
"Emang Kakak mau punya adik ipar duda lebih tua?" Tia balik bertanya.
"Euh? Ogah!" Timpal Hendra sambil bergidik hingga membuat Tia tertawa.
*****