Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Kebaikan Rey


"Tia, nanti pulang kantor kamu ada acara enggak?" Tanya Rey ketika ruang divisi tengah sepi, hanya ada ia dan Tia.


Tia terdiam sejenak untuk berpikir lalu menjawab, "Enggak ada, Pak. Kenapa, mau lembur lagi?"


"Oh ... enggak ... bukan, saya pengin ajak kamu makan di luar. Mau enggak?" Ajak Rey.


"Euh? Makan di luar? Tapi saya pulang bareng sama Kak Hendra, Pak." Sahut Tia, polos.


"Ya enggak apa-apa, nanti ajak Hendra juga sekalian." Ujar Rey mantap sambil tersenyum.


"Emang kita mau makan di mana, Pak?"


"Ada nanti di salah satu rumah makan langganan saya, dijamin enak makanannya."


"Oh ...." Timpal Tia singkat sembari manggut-manggut.


Mereka kembali fokus pada pekerjaan karena masih ada yang harus diselesaikan dan waktu pulang kantor masih sekitar setengah jam lagi.


Selang lima menit kemudian, Jeni dan Tami datang setelah ada keperluan di gudang perlengkapan.


"Tia, nanti pulang kantor ikut yuk ke mal? Ada toko baju yang baru buka loh, masih banyak promo! Nih liat deh, aku dapet selebarannya tadi dari Bang Jack." Ujar Tami sambil menunjukkan sebuah selebaran.


"Iya Ti, yuk ikut? Kalo rame-rame kan seru!" Imbuh Jeni.


Rey mendengar itu sontak menatap ke arah Tia dengan tatapan khawatir jika Tia akan menerima ajakan mereka, dan membatalkan untuk ikut ajakannya makan bersama.


Tia pun bingung harus bagaimana. Disatu sisi ia ingin ikut bersama Tami dan Jeni ke mal, namun ia tak enak hati jika harus menolak ajakan Rey.


"Hmmm ... aku pengin sih ikut, tapi ...." Sahut Tia, ragu.


"Tapi kenapa?" Tanya Jeni.


"Aku udah ada rencana nanti pulang kantor." Imbuh Tia seraya menatap ke arah Rey.


Rey sontak memberi isyarat pada Tia agar tak memberitahukan rencana mereka kepada Tami dan Jeni.


"Oh ... penting banget ya? Kalo enggak urgent mendingan ikut kita dulu nge-mal, kita kan belum pernah hangout bareng." Bujuk Tami.


"Iya Ti, mumpung si Tami lakinya lagi keluar kota tuh! Kalo enggak, mana bisa dia jalan bareng temen-temennya." Ledek Jeni pada Tami yang berbuah cubitan pelan di lengannya.


"Hmmm ...." Tia tampak masih bingung.


"Udah deh Ti, jangan bingung-bingung! Ikut aja, yuk?" Ujar Tami sedikit memaksa.


Melihat situasi yang membuat rencananya terancam gagal, Rey sontak berdehem dan menegur anak buahnya itu supaya kembali kerja.


"Ehhem!! Jam pulang masih sekitar setengah jam lagi, tapi udah geger mau ke mal aja kalian. Ayo pada kerja dulu! Lagian ... kalo Tia udah ada acara sendiri ya jangan dipaksa dong, Tam" Ujar Rey dengan santai namun berwibawa.


"Hehehe ... biasa lah Pak, kita kan kaum pemburu diskon, jadi kalo denger ada diskonan tuh bawaannya wajib dateng!" Timpal Tami sambil terkekeh.


"Hadeh ... dasar cewek! Ya udah kalian aja yang ke mal, Tia kan udah ada acara sendiri katanya." Ujar Rey.


"Pak Rey kok kayak enggak bolehin Tia ikut kita sih? Jangan-jangan ... Tia pergi acaranya sama Pak Rey ya?" Seloroh Jeni.


Wajah Rey sontak memerah dan tampak salah tingkah.


"Kayaknya bener deh Jen, Tia ada acara sendiri sama Pak Rey. Liat tuh mukanya Pak Rey, mendadak salting begitu!" Bisik Tami pada Jeni sambil senyum-senyum.


"Iya, hehehe ...." Timpal Jeni, terkekeh.


"Udah jangan bisik-bisik gitu, buruan kerja! Jangan lupa, lusa acara anniversary kantor ya?" Tukas Rey coba mengalihkan pembicaraan.


"Beres Pak ....!!" Sahut Jeni dan Tami nyaris bersamaan.


Suasana kembali hening, hanya tampak kesibukan para karyawan di dalam ruangan tersebut.


Teguh dan Gugun datang setelah ikut mendekor area gedung bersama beberapa staf dari divisi lain.


Jam pulang kantor pun tiba, semua bersiap untuk pulang setelah membereskan pekerjaan mereka dan memastikan perangkat komputer masing-masing sudah dimatikan.


Rey, Teguh dan Gugun keluar ruangan lebih dulu, sedangkan Tia, Tami dan Jeni masih beres-beres.


"Tia, yakin nih enggak mau ikut kita?" Tanya Tami lagi, menegaskan sebelum ia pergi bersama Jeni.


"Udah ... lu nanyain mulu sih Tam, udah tau dia mau jalan sama bos kita." Timpal Jeni dengan ekspresi wajah meledek ke arah Tia.


"Eh Ti, sini deh!" Panggil Tami.


Tia mendekat, lalu Tami terlihat sedang membisikkan sesuatu.


"Jujur sama aku, kamu lagi deket sama Pak Rey kan?" Bisik Tami di telinga Tia.


Tia hanya diam, membuat Tami makin penasaran.


"Aku enggak bakal cerita ke siapa-siapa kok, percaya deh!" Ucap Tami lagi.


Tia tersenyum lalu menggeleng pelan.


"Masa sih?" Tanya Tami dengan mata membulat.


"Beneran!" Sahut Tia, yakin.


"Tam, yuk buruan! Katanya mau ke mal?" Tegur Jeni yang sudah menunggunya di depan pintu.


"Oh, iya-iya bentar Jen!" Sahut Tami seraya kembali berbicara lirih kepada Tia.


"Pak Rey itu orang baik, dia duda udah lama banget. Kalo dia ternyata naksir kamu, berarti dia udah bisa move on dari mendiang istrinya." Ujar Tami seraya menepuk pundak Tia, dan berlalu untuk menyusul Jeni yang sudah menunggunya.


"Happy shopping ya Mbak, Kak! Borong yang banyak!" Seru Tia bersemangat kepada dua seniornya itu.


"Iya ... kamu juga have fun ya sama ... Pak Rey! hehehe ...." Ledek Jeni sambil tertawa.


Tami pun ikut tertawa, sedangkan Tia kembali cemberut.


"Kak Jeni sama Mbak Tami tuh ngeledek aja deh, orang aku sama Pak Rey enggak ada apa-apa juga." Gumam Tia seraya keluar dari ruangan.


Namun ia teringat bahwa kunci ruang divisi itu ada di Rey, karena yang diamanati untuk memegang kunci ruang divisi masing-masing adalah sang kepala bagian.


Tia bergegas turun untuk mencari Rey, namun saat di tangga lantai satu ia berpapasan dengan Rey.


"Tia, kamu jangan pulang dulu. Ingat kan sama ajakan saya?" Ucap Rey.


"Iya Pak, saya tadinya mau cari Pak Rey. Kan ruangan belum dikunci Pak." Ujar Tia.


"Iya, saya juga baru ingat kalau kuncinya ada di saya. Ya sudah, kamu tunggu dulu di parkiran ya sekalian ajak Hendra. Saya mau kunci ruangan dulu."


Tia mengangguk lalu kembali menuruni anak tangga untuk menuju ke area parkir.


"Dek, yuk pulang?" Ajak Hendra yang ternyata sudah menunggunya.


"Hmmm ... anu Kak, a-aku ... eh, maksudnya kita diajakin Pak Rey makan-makan." Ujar Tia tergagap, takut Hendra marah.


"Makan-makan? Di mana?" Tanya Hendra.


"Aku juga enggak tahu, tapi katanya di rumah makan langganan Pak Rey."


"Siapa aja yang diajak?"


"Cuma kita."


"Kok aneh? Emang dalam rangka apa?"


Tia mengangkat bahu, tanda tak tahu.


Dari beberapa meter di depan mereka, tampak Rey tengah berjalan mendekat.


Hendra menatap Rey dengan tatapan menyelidik.


"Gimana, kalian sudah siap kan?" Tanya Rey ketika sudah tepat berada di dekat Tia dan Hendra.


"Emang kita mau kemana Pak?" Tanya Hendra.


"Saya mau ajak kalian makan-makan di rumah makan langganan saya." Sahut Rey, santai.


"Dalam rangka apa Pak? Siapa lagi yang ikut?" Selidik Hendra.


Rey tersenyum, ia sepertinya paham jika Hendra menaruh heran pada niat baiknya.


***