Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Kejutan


Beberapa bulan berlalu, Tia yang sudah benar-benar pulih dari luka tikam pun sudah kembali sibuk dengan rutinitasnya di kantor. Sedangkan Igan lebih disibukkan dengan jadwal roadshow ke berbagai daerah, seiring dengan kembali menanjaknya karir keartisannya.


Igan yang sudah mendapat restu dari kedua orang tuanya untuk kembali terjun ke dunia hiburan merasa tenang, sebab ia dapat dengan mudah membagi fokus dan waktunya antara dunia hiburan dengan urusan kantor.


Ayahnya pun tak lagi terlalu memaksa agar ia cepat naik tahta ke pucuk pimpinan kerajaan bisnisnya. Bintang menyadari jika sang putra memang memiliki dunia yang dapat membuatnya nyaman dan berkarir tanpa beban.


Lain halnya dengan Ilona, karirnya justru semakin terpuruk karena perangainya yang semakin arogan pada orang lain.


Ilona kedapatan berkali-kali berurusan dengan kasus hukum karena bersitegang dengan rekan sesama artis. Dan kasus yang paling anyar adalah ketika Ilona kedapatan sebagai salah satu pengguna sekaligus pengedar narkoba di kalangan artis.


Ia diciduk polisi saat sedang pesta sabu di rumah salah satu rekannya, yang ternyata juga seorang residivis kasus narkoba kelas kakap.


Kabar lainnya adalah ternyata Ilona dan rekannya yang seorang residivis itu sedang menjalin asmara. Awalnya, Ilona yang sedang kalut bertemu dengan rekannya itu di sebuah klub malam.


John, begitu pria itu disapa menawarkan Ilona barang haram tersebut secara cuma-cuma untuk menjerat gadis itu. Ilona yang tengah mabuk pun menuruti apa kata John.


Ia mulai mengkonsumsi barang haram itu dan menjadi seorang pecandu. Ia terus bergantung pada John hingga akhirnya John menyuruhnya untuk ikut mengedarkan sabu di kalangan artis dan sosialita.


Beberapa lama aksi John dan Ilona berjalan mulus hingga akhirnya polisi mendapat laporan dari salah satu rekan artis yang melaporkan Ilona sebagai pengguna sekaligus pengedar narkoba.


Setelah dilakukan pengintaian selama beberapa waktu, akhirnya polisi berhasil menciduk Ilona dan John beserta barang bukti sabu dan alat hisap yang sedang mereka pakai.


Kasus penangkapan Ilona membuat jagad hiburan gempar, karena kasus itu yang dinilai akan membuatnya mendekam lebih lama di penjara setelah beberapa kasus receh dengan sesama artis.


Tia bersyukur karena Ilona akhirnya mendapat balasan tanpa ia harus repot-repot melaporkannya ke polisi, atas ancamannya waktu Tia di rumah sakit.


Hubungannya dengan Igan pun dapat berjalan lebih mulus, tanpa ada bayang-bayang ancaman Ilona.


Ponsel Tia berdering saat ia baru saja selesai makan siang, kebetulan hari itu hari libur. Ia segera mengambil ponselnya dari atas meja.


Bibirnya tersenyum saat melihat nama Igan yang melakukan panggilan.


"Assalamu'alaikum, Mas?" sapa Tia di telepon.


"Wa'alaikum salam, maaf apa benar ini dengan Mbak Tia?" suara di ujung telepon terdengar asing di telinga Tia, membuatnya mengerutkan alis.


"I-iya, saya sendiri. Saya bicara dengan siapa ya? Kenapa pakai nomer pacar saya?" tanya Tia, mulai panik.


"Maaf Mbak Tia, kami dari kru roadshow nya Mas Dirgantara. Mas Igan pingsan di lokasi, apa Mbak bisa tolong datang kemari??"


"Apa? Pingsan?? Ke-kenapa, kok sampai pingsan??"


"Kami juga tidak tau, tapi Mas Igan terus-terusan menyebut nama Mbak Tia. Tolong Mbak Tia cepat datang ke mal Nusantara, kami sedang ada acara di sana."


"Lho, kenapa masih di mal sih Mas?? Harusnya cepat bawa Mas Igan ke rumah sakit!" ujar Tia.


"Pokoknya Mbak Tia datang dulu kemari, kami tunggu."


Panggilan telepon langsung diakhiri oleh si penelepon, membuat Tia semakin panik dan kesal.


Tia bergegas masuk ke kamar dan bersiap untuk menuju lokasi. Hendra yang baru selesai salat Dhuhur tampak heran melihat sang adik yang terlihat panik.


"Kamu mau kemana, Dek?" tanya Hendra.


"Kak, aku mau ke mal Nusantara. Tadi ada kru roadshow nya Mas Igan telepon, katanya Mas Igan pingsan di sana."


"Apa? Kenapa?? Apa Mas Igan kecapekan??"


"Aku juga enggak tau, Kak. Udah ya, aku jalan dulu."


"Eh-eh, ayo kakak anterin! Kamu panik begini jangan nyetir motor, bahaya. Tunggu sebentar, kakak siap-siap."


Hendra bergegas masuk ke dalam kamar untuk bersiap mengantar sang adik.


"Yuk, berangkat?" ajak Hendra ketika ia sudah keluar kamar dan siap.


Mereka berdua berboncengan motor menuju ke lokasi yang tadi disebutkan. Namun kecepatan motor yang Hendra kendarai terlalu santai bagi Tia, karena ia sudah tak sabar ingin segera menemui sang kekasih untuk mengetahui keadaannya.


"Kak, bisa agak cepet enggak sih?? Masa santai banget nyetirnya?? Aku khawatir kalo Mas Igan kenapa-napa, Kak!" omel Tia.


Hendra melirik spion lalu tersenyum tipis tanpa diketahui oleh Tia.


"Jangan ngebut dong, Dek. Kalo ngebut kan bahaya!"


"Enggak usah ngebut Kak, tapi agak cepet aja jalannya! Kalo begini kan terlalu santai."


"Iya-iya ... Ternyata gini ya kalo lagi khawatir sama pacar? Kamu cepetan nikah aja deh Dek, jadi kakak juga bisa cari jodoh. Ngeliat kamu sama Mas Igan saling bucin jadi bikin kakak iri." seloroh Hendra sambil terkekeh.


Refleks tangan Tia memukul pelan pundak kakaknya karena kesal.


"Ada orang lagi panik kok malah diajak curhat sih, Kak?"


Hendra justru makin terkekeh mendapati respon adiknya yang ngambek.


Akhirnya mereka tiba juga di mal Nusantara, Tia bergegas masuk untuk mencari keberadaan Igan namun Hendra dengan cepat memanggilnya.


"Eh, Dek! Mau kemana??"


"Ya mau cari Mas Igan lah, Kak!"


"Emang kamu tau dia lagi di sebelah mana? di lantai berapa?"


Tia menggeleng, "Tapi kan kita bisa tanya ke bagian informasi." sahutnya.


"Mendingan kamu telepon, tanyain langsung."


Tia agak ragu namun ia tetap menuruti saran kakaknya.


"Halo, Mas Igannya ada di lantai berapa, Mas?" tanya Tia segera saat panggilan teleponnya dijawab.


"Rooftop, Mbak. Langsung naik aja ya?"


"Oke."


Tia langsung memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Rooftop katanya, Kak. Yuk?" ajak Tia pada Hendra.


Hendra mengangguk, ia tampak begitu santai membuka ponselnya sambil berjalan di belakang sang adik.


Bibirnya sedikit menyungging senyum namun ia buru-buru memasukkan kembali ponselnya ke saku jaket.


Kasian kamu, Dek! batin Hendra sambil tersenyum menatap sang adik dari belakang.


"Kak, kenapa di rooftop ya?" tiba-tiba Tia bertanya pada Hendra.


Hendra mengangkat bahu, "Ya ... mungkin emang bikin acaranya di sana?" sahut Hendra.


Mereka berdua terus menaiki lift hingga ke area rooftop. Tampak sepi, tak ada tanda-tanda jika sedang atau sudah ada acara di sana.


"Kok sepi sih??" gumam Tia.


Ia kembali mengambil ponselnya dan hendak menelepon ponsel Igan, namun urung karena ia melihat seorang pria berjalan ke arahnya.


"Mbak Tia ya?" tanya pria itu.


"Iya-iya. Mas Igan mana??" Tia langsung menanyakan Igan tanpa basa-basi.


"Ada di sana. Ayo ikut, Mbak!" ajak pria itu sembari menunjuk ke slah satu sudut di area rooftop itu.


Tia menoleh ke arah Hendra seperti meminta izin, dan mendapat anggukan dari kakaknya itu.


Mereka pun berjalan mengikuti pria tadi hingga tiba di sebuah ruangan yang berukuran agak kecil.


"Masuk aja, Mbak. Mas Igan di dalam." ujar pria itu.


Namun Tia tak serta merta menuruti, ia tampak menaruh curiga.


"Mas Igan! Ini aku, Tia. Coba jawab aku, Mas!" seru Tia dari luar ruangan.


Tak ada sahutan.


"Mas Igannya kan lagi pingsan, Mbak." ucap pria tadi.


"Kenapa dia ada di ruangan sempit begini?? Saya enggak mau masuk! Sebenarnya ada apa??" tukas Tia dengan lantang.


Hendra yang menyadari karakter sang adik yang teliti dan hati-hati pun beranjak masuk, namun Tia menahan tangannya.


"Jangan masuk dulu, Kak! Kita enggak tau di dalam ada apa!"


"Ya kalo enggak masuk kita enggak bakal tau, Dek!"


"Jangan, aku curiga sama dia! Mas ini sebenarnya siapa??" tegas Tia.


Hendra segera menjauh dan tampak menelepon seseorang.


"Kamu ada niat jahat kah ke saya??" tanya Tia pada pria itu.


"Lho Mbak, kok jadi nuduh saya??"


"Saya enggak percaya sama kamu! Mana Mas Igan??"


"Sayang, saya di sini!" tiba-tiba Igan keluar dari dalam ruangan itu sambil membawa buket bunga mawar.


Tia terkejut melihat sang kekasih yang tampak baik-baik saja keluar dengan wajah sumringah.


"Mas Igan?? Katanya ... lagi pingsan??" tanya Tia, heran.


"Maaf ya, semua ini memang ide saya supaya kamu datang ke sini. Mas Priyo, Mas Hendra, makasih ya?" ujar Igan seraya mengucapkan terima kasih pada pria tadi dan Hendra.


Tia menoleh ke arah kakaknya dengan tatapan heran.


"Kak Hendra tau soal ini??"


Hendra meringis, "Iya, maaf ya Dek? Mas Igan yang atur semuanya."


"Iya Sayang, saya sengaja atur begini untuk ...." Igan mengeluarkan sebuah kotak transparan berisi sebuah kalung bermata biru nan cantik.


"Untuk apa, Mas??" desak Tia dengan terus menatap Igan.


"Untuk meminta kamu nikah sama saya. Apa kamu mau jadi istri saya, Celestia Amanda?" ucap Igan penuh harap sambil membuka kotak kalung itu dan berlutut di hadapan sang kekasih.


Tia terperangah, ia tak menyangka jika Igan akan merencanakan hal romantis yang baginya hanya ada di drama.


"Mas Igan ... serius??" tanya Tia.


"Saya enggak pernah main-main kalau soal hati." sahut Igan, mantap dengan menatap Tia dengan lekat.


"Terima aja Dek, jangan lama-lama. Kasian tuh Mas Igan udah pegel berlutut begitu." bisik Hendra, meledek.


Tia tertawa kecil kemudian mengangguk penuh yakin.


"Iya Mas, saya mau jadi istri Mas Dirgantara Erlangga." ucap Tia dengan haru.


"Alhamdulillah ...." Igan berucap syukur dengan kencang, pertanda ia sangat bahagia.


"Selamat ya Mas Igan, enggak sia-sia saya dicurigai sama pacarnya, hehehe ...." ucap pria tadi yang bernama Priyo.


Igan dan Tia serta Hendra tertawa lepas mendengar ucapan Priyo.


"Maaf ya Mas, habisnya saya tadi udah curiga takut kenapa-napa. Tapi untung Mas Igan langsung keluar."


"Iya Dek, kakak yang telepon Mas Igan biar langsung keluar aja nemui kamu, daripada orang lain yang jadi sasaran." celetuk Hendra.


"Berarti Kak Hendra beneran udah tau semua ini ya? Pantesan tadi santai banget bawa motornya, padahal aku udah panik parah!" gerutu Tia dengan cemberut.


"Udah dong Sayang cemberutnya ... Enggak bahagia ya?"


"Bahagia kok Mas, banget malah!" sahut Tia tersipu.


"Terus rencana nikahnya kapan, Mas? Soalnya biar saya juga bisa cepet cari jodoh." celetuk Hendra.


Igan tertawa, "Insya Allah secepatnya, Mas. Mohon doa dan dukungannya aja ya supaya rencananya lancar."


"Aamiin ...."


Igan pun mengalungkan kalung indah itu di leher Tia yang jenjang. Tia terlihat semakin cantik mengenakan kalung itu.


"Kamu tambah cantik, Sayang. Habis ini kita langsung ke rumah ayah sama bunda ya?"


"Hari ini, Mas?"


"Iya, kenapa?"


"Memangnya ... Pak Bintang sama Bu Bulan enggak kaget kalo kita berencana nikah dalam waktu dekat?"


"Ya enggak dong, malah mereka seneng. Bunda juga sering nanya ke saya, kapan hubungan kita mau diresmikan?"


"Oh begitu ... ya sudah, saya ikut aja." sahut Tia tersenyum malu.


Igan pun mengucapkan terima kasih pada kru yang sudah mendukung rencananya hari itu. Kemudian ia pamit pulang untuk mengajak sang kekasih ditemani kakaknya menemui kedua orang tuanya.


****