Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Permintaan yang Sulit


Igan dan satpam perumahan yang membantunya mendobrak pintu tercengang ketika melihat Ilona terkapar di atas tempat tidurnya, ia masih memakai pakaian yang tadi dikenakan saat baru pulang.


"Kayaknya Mbak Lona pingsan tuh, Mas!" Seru satpam itu.


"Iya, ayo Pak tolong bantu saya bawa Lona ke mobil, saya mau bawa dia ke klinik." Pinta Igan, lalu mereka berdua cepat masuk ke dalam kamar Ilona dan membawanya masuk ke dalam mobil Ilona. Sebelum pergi ke klinik, Igan berpesan supaya satpam itu menjaga rumah Ilona selama mereka belum kembali.


Setibanya di klinik, Ilona segera mendapat pemeriksaan dan setelah menunggu dengan rasa khawatir, akhirnya seorang dokter datang dan memanggil Igan.


"Bagaimana kondisi Ilona, Dok? Dia kenapa?" Tanya Igan saat menemui dokter.


"Mbak Ilona sebenarnya tidak apa-apa Mas, hanya saja ia kurang tidur dan ...."


"Dan apa, Dok?"


"Apa Mbak Ilona habis mengkonsumsi minuman beralkohol? karena dari hasil pemeriksaan yang kami lakukan, ada kadar alkohol di dalam tubuhnya."


"Alkohol?? Saya sendiri kurang tahu, Dok. Tapi memang dia kelihatan agak berantakan tadi dan lebih emosional, bahkan dia sempat histeris waktu di mobil, kelihatannya ... dia sedang tertekan."


"Bisa jadi Mas, dia sedang ada beban pikiran yang berat lalu pelariannya ke alkohol, padahal itu justru memperburuk keadaan." Papar sang dokter.


Igan manggut-manggut. Ia paham betul bahaya minuman keras seperti apa karena ayah dan ibunya selalu memberi wejangan, supaya menjauhi segala hal yang bisa menjerumuskannya ke dalam jurang alkohol dan obat-obatan terlarang.


Setelah banyak berbincang tentang kondisi Ilona, dokter pun mempersilakan Igan untuk membawanya pulang jika Ilona sudah sadar.


Igan pun masuk ke ruangan dimana Ilona terbaring lemah. Ia duduk di kursi sebelah ranjang pasien, lalu mengabari Om Bono tentang keadaan Ilona melalui pesan singkat. Tak lupa juga ia menelepon manajemennya memberi kabar bahwa dengan sangat terpaksa ia mangkir dari jadwal manggungnya siang itu.


Om Bono berjanji akan segera menyusul ke klinik karena urusan di bengkel sudah selesai.


Sekitar lima menit kemudian, Ilona mulai siuman dan perlahan membuka matanya.


"Lon, alhamdulillah akhirnya kamu sadar." Ucap Igan, lega.


"Ini di mana, Gan?" Tanya Ilona sambil memegangi pelipisnya, ia masih merasa pening.


"Di klinik. Tadi di rumah kamu, aku tungguin malah kamu asyik-asyikan tiduran di kamar, eh ternyata pingsan! ya udah aku bawa ke sini." Ledek Igan, berharap Ilona cepat semangat lagi.


Ilona melayangkan tangan kanannya ke lengan Igan, namun tak berdaya.


"Udah deh, masih lemes gini juga masih aja mau nabok-nabok? Gimana, kamu masih pusing ya?" Tanya Igan sambil tetap dengan candaan.


"Masih, tapi aku mau balik aja Gan."


"Eits, nanti dulu. Sabar Non, nunggu kamu beneran kuat dulu, baru kita balik. Lagian Om Bono nanti mau ke sini kok."


"Om Bono? Kamu kasih tahu Om Bono?"


"Ya iya lah, dia kan satu-satunya keluarga kamu yang aku kenal."


Ilona terdiam, air matanya tiba-tiba menetes hingga membuat Igan kebingungan.


"Kamu kenapa Lon, kok tahu-tahu nangis?"


Bukan jawaban yang Igan dapatkan, melainkan isak tangis Ilona yang semakin menjadi.


"Lho-lho, kenapa?" -Igan berdiri dan mengusap kepala Ilona, mencoba menenangkan temannya itu - "Kamu tenang dulu Lon, ada masalah apa sebenarnya? Aku siap jadi pendengar yang baik kok kalau kamu mau cerita, tenang ya?" Bujuk Igan.


Tanpa disangka, dengan cepat Ilona memeluk pinggang Igan dan menumpahkan air mata dengan suara isak yang seakan berasal dari beban batin yang teramat sangat.


Igan terkejut dan merasa risih, namun ia tak mungkin secara frontal melepaskan dekapan tangan Ilona dipinggangnya.


"Hmmm ... Lon, jangan begini Lon, risih." Ucap Igan, lirih.


Ilona tak juga melepaskan dekapannya, ia masih saja memeluk pemuda yang memang ia puja itu.


Akhirnya tega tak tega, Igan perlahan coba melepaskan dekapan tangan Ilona yang membelit pinggangnya. Walau awalnya Ilona bersikeras tak mau melepaskan, namun dengan suara yang lembut dan bujukan dari Igan membuat Ilona luluh. Ia kembali menelentangkan tubuhnya seperti semula.


"Nah ... begini kan lebih nyaman. Kamu enggak usah nangis terus Lon, ada aku yang mau jadi teman curhat kamu."


Ilona menoleh ke arah Igan dan menatapnya dengan mata yang sembab.


"Aku butuh kamu Gan, aku benar-benar mau kamu."


DEG !!!


"Gan, kamu beneran mau dengerin curhatan aku kan?"


"Hmmm ... iya, emang kamu mau cerita apa?"


"Papaku Gan ...." Ujar Ilona dengan raut wajah yang kembali sendu.


"He-eum? Kenapa papa kamu?" Tanya Igan perlahan.


"Papaku udah enggak ada, Gan ... Aku benar-benar sendirian sekarang! Aku enggak punya siapa-siapa lagi!" Tangisnya kembali pecah.


Igan dengan sigap mengusap kepala Ilona dan berusaha menenangkannya. Walau ia tak punya perasaan khusus kepada gadis itu, namun sebagai teman terlebih rekan kerja yang memiliki perasaan, ia sangat berempati pada kondisi Ilona.


"Sakit apa papa kamu?"


"Papa kena serangan jantung Gan, pasti karena dia mergokin Maya selingkuh! Soalnya dua hari lalu Papa telepon aku, bilang kalau dia habis baca chat romantis di HP Maya sama lelaki lain."


"Maya? Siapa Maya?"


"Maya itu ibu tiriku, tapi aku benci setengah mati sama dia! Gara-gara dia, papa-mama ku bercerai dan papa enggak sepenuhnya nafkahin aku." -Ilona menghela napas dalam-dalam - "Mama harus berjuang sendiri cari nafkah, sampai-sampai kehidupan kami makin terpuruk waktu mama ku ternyata sakit Leukimia dan akhirnya meninggal. Tante Ratih dan Om Bono yang selama ini menyokong keuangan ku dan Mama." Imbuhnya dengan suara parau, menahan tangis.


Igan tertegun, ia tak menyangka jika ternyata kehidupan Ilona cukup memprihatinkan. Igan memandang wajah Ilona yang sebelumnya garang dan emosional, kini tampak sangat terpuruk.


"Gan ...."


"Eum?"


"Aku butuh seseorang untuk jadi teman hidup, yang mau berbagi suka duka ku, dan bisa jadi sandaran kalau aku lagi terpuruk."


Igan kembali terhenyak, batinnya sangat berharap Ilona tidak menyatakan perasaannya karena ia tidak mungkin menerimanya.


"Hmm ... Om Bono kok belum datang juga ya Lon?" Tanya Igan, berusaha mengalihkan pembicaraan.


Ilona menghela napas, ia tahu jika Igan sedang mengalihkan topik pembicaraan.


Tak lama kemudian, yang ditunggu-tunggu pun datang. Om Bono datang tergopoh-gopoh bersama Ratih, istrinya. Tante Ratih segera memeluk putri mendiang kakaknya yang sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri.


"Gimana kondisi kamu Lona? Sudah baikan?" Tanya Tante Ratih setelah memeluk Ilona.


"Agak mendingan kok Tan, maaf ya Lona jadi ngerepotin semuanya." Sahut Ilona dengan sendu.


"Udah ... enggak usah ngomong begitu, yang penting sekarang kamu sehat dulu." Timpal Tante Ratih sambil mengelus kepala Ilona dengan lembut.


Om Bono menatap Igan lalu memberi kode untuk bicara di luar. Igan dan Om Bono pun pamit untuk keluar ruangan.


"Apa kata dokter soal Lona?" Tanya Om Bono.


"Dokter bilang Lona kurang istirahat, dan ...."


Om Bono menatap Igan dengan tatapan heran, dan berharap ia cepat memberi penjelasan.


"Kata dokter, ada kadar alkohol di dalam tubuh Lona Om." Lanjut Igan.


"Alkohol??"


Igan mengangguk.


"Ilona memang kelihatan berantakan dan emosional Om, dia juga cerita kalau papanya meninggal gara-gara serangan jantung."


"Apa?? Siapa yang kasih dia kabar itu, apa ibu tirinya?"


Igan mengangkat bahu, lalu berujar "Lona tadi cerita kalau dua hari lalu papanya telepon dia, bilang kalau beliau lihat chat romantis istrinya sama lelaki lain."


"Memang keparat itu si Maya!! Udah ngerebut Mas Gilang dari Mbak Dea sampai akhirnya mereka pisah, dan benar-benar menguasai papanya Lona itu sampai lupa menafkahi anaknya. Kenapa enggak si Maya aja yang mati??" Tukas Om Bono, ia tampak sangat geram.


"Sabar Om, sabar. Sekarang fokus kita ke Ilona dulu, biar dia enggak tertekan."


"Ya, kamu benar Gan. Om minta maaf ya, gara-gara Lona terpuruk kamu jadi ikut-ikutan mangkir dari jadwal kalian manggung."


"Iya Om, tadi saya sudah kasih kabar ke manajemen soal ini. Semoga enggak jadi masalah berarti."


***