
Tia mengguncang-guncangkan tubuh Ayahnya, berharap dapat tersadar lalu membuka mata. Namun sayang, semua hanya sebatas harapan. Tia memeriksa nadi di pergelangan tangan sang ayah lalu menempelkan jari telunjuknya di depan lubang hidung lelaki malang itu, dan ....
"AYAH ....!!! BANGUN YAH, BANGUN!!! JANGAN BIKIN TIA PANIK, AYO BANGUN!!!" Raung Tia seketika dengan suara tangis yang tak terbendung.
"Dek, Ayah kenapa?? Halo, jawab Dek!" Suara Hendra yang masih terdengar di ujung telepon.
Tia segera meraih ponselnya yang tergeletak di kasur.
"Kak ... Ayah, Kak ....!!!" Sahut Tia dengan meratap.
"Kenapa Ayah? Ada apa??"
"Pokoknya Kakak cepetan pulang ke sini, Ayah tadi batuk-batuk terus langsung enggak sadar."
"Ini Ayah masih enggak sadar? Cepetan kamu minta tolong tetangga, bawa Ayah ke rumah sakit. Nanti Kakak langsung ke sana."
"Iya Kak."
Tia bergegas keluar rumah menuju salah satu tetangga terdekat yang memiliki mobil untuk meminta pertolongan membawa Ayahnya ke rumah sakit terdekat.
Beruntung tetangganya sigap dan bersedia menolong. Tia ditemani beberapa tetangganya ikut di dalam mobil tersebut.
"Kamu yang tenang Tia, sabar ya?" Bujuk salah satu tetangganya.
Gimana gue bisa tenang, gue cuma bisa berharap keajaiban dari Tuhan supaya Ayah bisa kembali sehat. Tapi, gue bahkan takut berharap karena gue rasa Ayah udah pergi untuk selamanya .... Ratap Tia dalam hatinya.
Setibanya di rumah sakit terdekat, Pak Taufan dibawa ke Unit Gawat Darurat. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter menyatakan jika Pak Taufan sudah berpulang.
Tangis sedih dan hujan air mata pun tak terelakkan lagi. Tia terduduk lemas sambil terus meratapi kepergian sang ayah untuk selamanya.
"Ayah ... kenapa pergi secepat ini? Tia pengin bisa bahagiain Ayah, sebentar lagi Tia jadi sarjana Yah ....!" Ratap Tia tak ada hentinya.
Para tetangga bergantian menghibur gadis berparas ayu tersebut, berusaha menguatkan hatinya kendati mereka juga merasakan kehilangan yang mendalam atas kepergian mendadak sosok Pak Taufan yang dikenal baik.
Setelah merasa agak tenang, Tia segera menelepon Hendra untuk memberitahukan kabar tentang sang ayah.
Hendra yang menerima kabar duka itu sontak menangis histeris, ia yang menunggu kabar dari sang adik pun tak sanggup mengendarai motornya dan hanya bisa meratapi keadaan di dalam kamar kosnya.
Teman satu kos Hendra bernama Galih, yang juga bekerja di perusahaan Erlangga sebagai marketing berinisiatif mengantarkan Hendra menuju ke rumah orang tuanya, karena jenazah Pak Taufan sedang diurus untuk dibawa pulang dari rumah sakit.
Hendra dengan dibonceng Galih pun pulang ke rumah untuk menunggu sang adik dan jenazah Ayahnya kembali dari rumah sakit.
Sesampainya di rumah, Hendra berusaha tenang dan tabah sebab ia juga harus mengayomi Tia yang pasti sangat terpukul. Hendra meminta tolong kepada Galih agar memberitahukan bagian personalia perihal kabar duka itu saat nanti Galih berangkat kerja.
Hampir satu jam berselang, akhirnya iring-iringan mobil jenazah dan mobil tetangga Pak Taufan tiba di rumah.
Tampak Tia turun dari mobil jenazah dan menunggu peti jenazah Ayahnya diturunkan. Hendra segera menghambur lalu memeluk sang adik yang tampak sangat terpukul dan sembab.
"Kita harus kuat Dek, harus ikhlas. Ayah udah enggak sakit-sakitan lagi sekarang." Ujar Hendra lirih dengan suara bergetar.
Tia mengangguk pelan, air matanya kembali mengalir namun tak ada suara ratapan lagi seperti sebelumnya. Tia sudah tampak lebih kuat sekarang.
Kakak beradik itu berjalan lunglai mengikuti peti jenazah yang diusung masuk ke dalam rumah. Suasana rumah Pak Taufan pun sontak ramai oleh para tetangga yang bertakziyah.
Galih pamit kepada Hendra untuk berangkat kerja karena sudah waktunya ia berangkat. Galih berjanji akan menyampaikan kabar duka itu kepada pihak personalia perusahaan tempat mereka bekerja.
Hendra dan Tia bersyukur para tetangga mereka sangat berempati dan bergotong royong, para pelayat yang hadir berbela sungkawa pun tak terhitung jumlahnya.
Saat jam makan siang, suasana sudah tampak lebih lengang. Hendra dan Tia duduk bersama di ruang tamu rumahnya.
"Kakak beneran kaget Dek, waktu dengar Ayah tiba-tiba enggak sadar. Kamu apa enggak ada firasat sebelumnya?" Tanya Hendra.
Tia tidak langsung menjawab, ia masih tertunduk lesu.
"Biasanya kan kamu yang duluan dapat petunjuk atau firasat kalau mau ada terjadi sesuatu." Imbuh Hendra.
"Ada Kak, tapi salahnya ... aku enggak mau peduli. Aku berusaha membohongi diri sendiri, menolak kalo itu firasat."
"Apa yang kamu rasain?"
"Aku sempat mimpi Bunda datang jemput Ayah, terus mereka pergi berdua." Terang Tia yang kembali membuatnya terisak.
Hendra segera merangkul Tia, berusaha menenangkannya.
"Ya udah, yang penting sekarang kita harus doain Ayah sama Bunda. Kakak yakin mereka udah tenang sekarang."
Tia hanya mengangguk dengan masih terisak, ia kembali rapuh.
Disela-sela obrolan mereka, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Hendra bergegas bangkit lalu membukakan pintu.
"Pak Bintang? Pak Wayan? Galih? Ma-mari silakan masuk." Ujar Hendra ketika melihat CEO dan kepala personalia tempatnya bekerja datang ditemani Galih.
Ketiganya beranjak masuk lalu duduk di karpet yang digelar di atas lantai.
"Kami kemari untuk menyampaikan bela sungkawa atas kepergian Ayah kamu ya Ndra? Beliau sakit apa?" Ujar Pak Wayan membuka obrolan.
"Terima kasih banyak Pak Bintang dan Pak Wayan sampai datang ke sini. Saya memang minta tolong ke Galih untuk sampaikan kabar duka, karena otomatis saya tidak bisa berangkat kerja." - Hendra tertunduk lesu. - Ayah saya ada sakit paru-paru akut Pak, sudah menahun. Jadi ... mungkin ini jalan terbaik buat Ayah."
"Kamu berapa bersaudara Ndra?" Tanya Pak Wayan.
"Dua Pak, saya punya satu adik. Malah lusa adik saya mau wisuda. Itu keinginan almarhum Ayah saya, berharap supaya adik saya itu bisa jadi sarjana."
"Oh ... sayang sekali ya beliau jadi tidak bisa menyaksikan anaknya jadi sarjana." Ujar Pak Wayan.
"Lalu adik kamu itu rencana mau kerja di mana?" Tanya Bintang.
"Selama kuliah sih adik saya sambil kerja part time di toko buku Pak, bagian kasir tiap pulang kuliah. Tapi setelah lulus kuliah, masih belum tahu."
"Coba nanti minta dia mengajukan lamaran kerja ke Erlangga Grup. Saya mau lihat nilai-nilainya, siapa tahu nanti ada job vacancy yang cocok buat adik kamu itu." Ujar Bintang.
Mendengar kabar baik itu sontak membuat mata Hendra berbinar. Ia tak menyangka jika CEO tempatnya bekerja akan sebaik itu.
"Terima kasih banyak Pak Bintang, nanti akan saya sampaikan ke adik saya."
Kunjungan para petinggi perusahaan Erlangga itu ditemani Galih tak berlangsung lama karena mereka harus segera kembali ke kantor.
Tia yang duduk di ruang tengah sejak tamu-tamu itu datang pun merasa sangat beruntung karena langsung mendapat rekomendasi dari si empunya perusahaan untuk merekrutnya jadi karyawan. Soal nilai, Tia optimis akan lolos seleksi karena ia memang gadis yang cerdas dari segi akademik selama ia berstatus sebagai pelajar hingga tingkat mahasiswa.
***