Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Awal Yang Baik


Tia jadi penasaran dengan ucapan Rey mengenai hadiah itu. Ia berniat untuk membuka kotak hadiah yang Rey beri secepatnya ketika ia sudah kembali ke rumah.


Tiba-tiba pintu ruangan tersebut terdengar diketuk, Tia pun bergegas menghampiri dan membukakan pintu.


"Loh, Mas Igan?" Tanya Tia terkejut ketika melihat Igan tengah berdiri di depan pintu ruang perawatan Hendra.


Igan tersenyum dan berujar, "Ada yang kelupaan."


"Apa?" Tanya Tia penasaran.


"Saya lupa minta nomor HP kamu sekalian ada yang mau saya bicarakan, boleh?"


"Buat apa Mas Igan minta nomor HP Tia?" Tanya Rey tiba-tiba.


"Buat saya pribadi, kalau saya mau bicara sama Tia. Kenapa, kok kelihatannya Anda keberatan?" Tukas Igan dengan wajah serius.


"Oh, enggak kok. Silakan aja. Saya cuma heran, tadi Mas Igan sudah pamit tapi ternyata balik lagi cuma mau minta nomor HP nya Tia." Tukas Rey.


"Saya rasa enggak ada yang salah, toh saya balik lagi juga dengan sopan dan ketuk pintu dulu, enggak langsung membuka pintu tanpa permisi seperti yang Anda lakukan tadi." Sindir Igan kepada Rey.


Menyadari suasana mulai memanas antara dua lelaki itu, Tia pun segera melerai.


"Sudah Pak Rey, saya mau bicara dulu sama Pak Igan ya?" Ucap Tia.


"Saya temani." Ujar Rey.


"Jangan berlebihan, Bung! Tia cuma mau bicara sama saya, enggak perlu didampingi. Ingat, status Anda itu cuma atasan divisinya, enggak lebih!" Tukas Igan mulai kesal dengan sikap Rey yang berlebihan memperlakukan Tia.


"Pak Rey tolong temani Kak Hendra dulu ya? Saya mau bicara sama Pak Igan. Maaf sebelumnya, jadi merepotkan." Pinta Tia.


Rey menahan amarahnya karena Tia yang meminta. Ia pun merelakan Tia untuk pergi dan bicara berdua dengan Igan.


Tia dan Igan berjalan menyusuri lorong rumah sakit dan menuruni tangga untuk menuju ke kantin.


"Tia, kamu jangan sebut saya 'Pak' di depan Rey. Toh dia juga panggil saya 'Mas', kan saya masih muda." Tegur Igan sambil tersenyum penuh percaya diri pada Tia saat sedang berjalan bersama menuju kantin.


"Oh, ya sudah kalau gitu." Sahut Tia dengan membalas senyuman.


Tak lama kemudian mereka sampai di kantin rumah sakit. Saat itu suasana kantin tidak ramai, hanya ada beberapa pengunjung yang sedang membeli makanan dan sedang menyantap makanan di sana.


Tia dan Igan memesan makanan untuk dibungkus sekaligus untuk dimakan mereka berdua di sana, lalu memilih kursi yang berada di ujung ruangan untuk duduk dan berbincang sembari menunggu pesanan mereka siap.


"Mas Igan mau bicara apa?" Tanya Tia mengawali perbincangan.


"Hmmm ... saya mau bicara jujur aja sih ke kamu. Saya kepikiran dari tadi makanya saya balik lagi ke sini."


"Jujur soal apa Mas?"


"Hmmm ... tadi yang Rey cerita, soal dia dikerjain seseorang itu ... saya yang suruh." Ujar Igan.


"Astagfirullah!! Kok Mas Igan gitu sih ke Pak Rey?" Pekik Tia.


"Sssttt ...!! Jangan kenceng-kenceng!" Sergah Igan sembari membekap mulut Tia.


"Mas Igan kok jahat sih ngerjain Pak Rey kayak gitu? Pantesan Pak Rey kelihatan marah dan enggak suka ke Mas Igan." Ujar Tia.


"Dia itu memang dari awal udah enggak suka waktu lihat saya ngobrol sama kamu, makanya saya kerjain sekalian. Memang kamu sama dia pacaran?"


"Eh, enggak kok! Siapa yang pacaran sama Pak Rey?" Seru Tia, mengelak.


"Tapi Rey kelihatan perhatian banget ke kamu. Saya yakin, dia itu naksir deh ke kamu."


"Hmmm ... iya sih, Pak Rey memang terasa jauh lebih perhatian ke saya dibanding staf lainnya. Malah tempo hari saya dikasih kado." Papar Tia dengan polos.


"Kado? Kamu ulang tahun?"


Tia menutup mulutnya karena baru menyadari bicaranya yang keceplosan.


"Beneran kamu ulang tahun? Kapan?"


Tia mengangguk lalu menyahut, "Dua hari lalu, Mas."


"Wah, ternyata deketan sama ulang tahun perusahaan Erlangga dong?" Ujar Igan, antusias.


Tia kembali mengangguk dan tersenyum.


"Makasih ya Mas? Saya juga enggak nyangka kalau Pak Rey bisa tahu tanggal ulang tahun saya, tiba-tiba dikasih kado. Tapi belum saya buka sih kadonya."


"Kenapa?"


"Belum mau aja."


"Loh, biasanya kan orang kalo dikasih kado tuh seneng dan penasaran isi kadonya apa. Memang kamu enggak pengin tahu isinya apa?"


"Iya, tapi saya enggak seperti orang biasanya Mas."


"Hehehe ... bisa aja kamu. Maksudnya kamu enggak kayak orang biasanya tuh gimana, bisa lihat hantu? Bisa lihat masa depan atau ... bisa kembali ke masa lalu?" Ledek Igan.


Tia terdiam, ia merasa Igan tidak bisa ia ajak bicara mengenai hal-hal di luar nalar. Tia yakin kalau Igan akan menertawakannya jika ia bercerita tentang kemampuannya melihat kejadian yang akan datang, atau bisa melihat petunjuk melalui mimpi.


Tak lama kemudian, pesanan mereka pun datang. Mereka mulai santap siang sembari berbincang santai.


"Oh iya Tia, nomor HP kamu berapa? Saya minta ya?" Ujar Igan kemudian menyeruput es jeruk pesanannya.


"Memangnya Mas Igan sempet ya ngobrol sama saya yang bukan siapa-siapa?"


"Jujur, saya merasa nyaman ngobrol sama kamu. Kira-kira ... kamu mau enggak berteman sama saya?" Tanya Igan.


"Berteman?"


"Iya, berteman. Soalnya kalau saya langsung ajak jadian pasti kamu enggk mau, kita kan baru beberapa kali ketemu." Ledek Igan.


Tia tertawa kecil, "Mas Igan bisa aja."


"Gimana, kita mulai jadi teman enggak nih?" Tanya Igan, menegaskan.


Tia mengangguk lalu tersenyum manis. Hati Igan kembali berdesir melihat betapa manisnya senyum Tia.


Ya Allah ... senyuman itu benar-benar buat aku enggak mau berpaling. Semoga Engkau meridai usahaku untuk bisa lebih dekat dan mengenal gadis cantik yang ada di dekatku ini Ya Rabb. Batin Igan, berharap.


"Kenapa Mas, kok bengong?" Tegur Tia.


"Euh? Ng-enggak ... oh iya, saya minta nomor HP nya boleh? Kan kita udah sah jadi teman?" Ujar Igan.


Tia mengangguk, ia mengeluarkan ponselnya lalu memberikannya pada Igan.


"Ketik dulu nomor HP nya Mas Igan ya? Nanti saya kirim chat." Ujarnya.


Igan menerima ponsel Tia lalu mulai mengetikkan nomor ponselnya, setelah itu ia kembalikan lagi ke Tia. Gadis cantik itu segera mengecek isi kontak yang baru saja Igan ketikkan di ponselnya, matanya sontak membelalak dan tertawa riang.


"Mas Igan apaan deh, ngasih nama kontak sendiri begini?" Celetuk Tia diiringi rinai tawa yang membuat Igan turut tersenyum riang.


"Kenapa? Biar kamu langsung senyum kalau saya telepon, hehe ...."


Tia lagi-lagi tersenyum memandangi layar ponselnya yang menampilkan kontak dengan nama Temanku yang Tampan dan berisi nomor ponsel milik Igan.


"Ayo sekarang kamu telepon ke nomor saya, biar saya simpan nomornya." Pinta Igan, menagih janji.


"Oh iya lupa." Sahut Tia kemudian menelepon nomor HP Igan.


Igan tersenyum melihat layar ponselnya yang terpampang sebuah nomor baru milik Tia.


"Oke, makasih ya Tia. Saya simpan nomor kamu." Ucap Igan.


"Saya pengin lihat dong Mas Igan simpan nomor saya pakai nama apa?" Pinta Tia dengan gayanya yang manis dan sedikit manja.


"Eits, kalau itu rahasia ...." Sahut Igan dengan ekspresi jahil.


"Ih ... curang!!" Protes Tia sambil mencubit pelan lengan Igan.


Mereka tertawa bersama menikmati awal kebersamaan mereka dengan status berteman. Keduanya tampak sangat akrab kendati itu baru pertemuan yang ketiga bagi mereka.


Tia, mudah-mudahan ini jadi awal yang baik buat kita. Berawal dari teman baik, semoga bisa jadi suatu hubungan yang lebih baik dan indah ke depannya buat kita. Harap Igan dalam hati.


Baru kali ini gue merasa langsung nyaman kenalan sama cowok. Tapi gue sadar, gue bukan apa-apa. Gue harus tahu diri dan jangan berharap lebih. Batin Tia.


***