
"Tia, tunggu!!" seru Igan memanggil gadis yang berlari menjauh itu.
"Kok tiba-tiba Tia ada di sini, Bun? Kayaknya tadi Igan pulang enggak sama Tia kan?" tanya Bintang agak berbisik pada Bulan.
"Kayaknya sih begitu. Mungkin Tia ada perlu, makanya ke sini. Tia pasti salah paham liat Igan sama Danisha barusan!" sahut Bulan.
"Mudah-mudahan bisa diomongin baik-baik dan enggak ganggu hubungan mereka." harap Bintang.
"Hmmm ... itu tadi siapa, Tante?" tiba-tiba Danisha memberanikan diri bertanya pada Bulan karena penasaran.
"Oh, itu tunangannya Igan. Kayaknya ... dia salah paham dengan kejadian barusan." sahut Bulan.
"Saya ijin susul mereka ya Tante, Om? Saya mau bantu Igan jelasin semuanya. Saya juga enggak minat kok jadi pelakor." ujar Danisha.
"Ya-ya, silakan. Tolong kamu jelaskan ke Tia ya kejadian yang sebenarnya gimana? Om yakin, dia enggak segampang itu nerima penjelasan Igan. Cewek kan selalu begitu." timpal Bintang dengan santai.
"Ehhem!" Bulan mendadak berdehem sambil melirik suaminya.
Bintang meringis lalu merangkul pundak sang istri dengan mesra.
Danisha segera berlari menyusul Igan yang sedang mengejar Tia sampai keluar gerbang.
"Maaf ya Bin, Mbak Bulan. Gara-gara kedatanganku dan Danisha malah bikin kacau semua." ucap Hendrawan, menyesal.
"Enggak ... bukan, ini bukan salah siapa-siapa kok, Hen! Calon mantuku aja yang lagi salah paham. Mudah-mudahan Igan dan Danisha bisa meyakinkan dia."
"Kamu ... keliatannya setuju banget ya Bin dengan hubungan mereka?"
"Iya, karena aku tau dari keluarga siapa dia berasal, aku juga tau kepribadiannya bagaimana. Jadi ... enggak ada alasan buat enggak setuju." sahut Bintang, yakin.
Hendrawan tersenyum dan manggut-manggut.
Sementara itu di luar gerbang ....
"Tia, tolong berhenti! Dengerin saya dulu!" Igan berhasil meraih tangan Tia lalu menahannya untuk pergi.
Igan dan Tia sama-sama mengatur napasnya sejenak. Igan menggenggam erat tangan Tia.
"Kenapa kamu ke sini enggak bilang ke saya?" tanya Igan dengan lembut.
Mendengar pertanyaan itu justru membuat Tia bereaksi frontal. Ia balik badan menghadap Igan lalu menatapnya dengan lekat.
"Kamu takut ketauan, Mas?" tukas Tia.
Igan berdecak, "Bukan Sayang ... bukan begitu! Mendingan kita masuk aja dulu ke rumah, kita bicarain ini sambil duduk. Kamu salah paham, Sayang ...." bujuk Igan.
"Enggak usah lah, Mas. Saya ke sini cuma mau ngembaliin ini." tegas Tia seraya menarik tangan Igan, lalu membalik telapak tangannya untuk menerima sebuah ponsel.
Igan menatap ponselnya dengan heran.
"HP Mas ketinggalan di kursi tamu. Kayaknya habis terima telepon dari Pak Bintang, enggak langsung disimpen lagi." terang Tia sebelum Igan bertanya, karena ia tahu kalau Igan tak menyadari jika ponselnya tertinggal.
"Ya udah, saya permisi." pamit Tia.
"Tia, tunggu dulu!!" seru Danisha yang sudah hampir mendekat.
Tia mengerutkan dahi menatap Danisha.
"Apa Mas Igan sudah cerita banyak tentang saya ke kamu, sampai-sampai kamu sudah tau nama saya?"
"Bukan, tadi Om Bintang yang sebut nama kamu. Igan enggak cerita apapun soal kamu ke aku." sahut Danisha dengan cepat saat sudah berdiri di dekat Igan dan Tia, karena tak mau Tia semakin salah paham.
Tia bergeming, ia masih menatap Danisha dan Igan secara bergantian dengan tatapan penuh curiga.
"Udahlah, saya pamit!" tukas Tia, kemudian.
Igan langsung menggenggam tangan Tia untuk menahannya pergi.
"Kamu kan enggak pakai motor ke sini, saya anterin ya?" bujuk Igan.
"Siapa bilang enggak pakai motor? Saya naik ojek kok tadi! Kak Hendra enggak ngijinin saya naik motor sendiri."
"Ya ... maksudnya, kamu enggak naik motor sendiri kan? Makanya, ayo saya anter pulang?"
"Tia, kamu enggak perlu curiga sama aku dan Igan. Aku udah tau kok Igan udah tunangan. Kenalin, aku Danisha." ujar Danisha seraya mengulurkan tangannya pada Tia sambil tersenyum ramah.
"Kamu tau darimana kalau Mas Igan udah tunangan? Kalian ... temen deket?" selidik Tia.
Danisha menggeleng, "Aku tau dari mulut ke mulut di lingkungan agensi ku. Kebetulan, ada salah satu temanku sesama model di agensi itu yang suka banget sama Igan. Dia cari info tentang Igan, dan ... akhirnya tau kalo Igan udah tunangan." jelas Danisha sambil tersenyum ramah.
"Tenang aja, aku enggak pernah berminat untuk jadi pelakor." imbuh Danisha sambil tersenyum.
Tia tersenyum tipis, kemudian dengan malu-malu melirik ke arah Igan.
"Tuh ... kamu denger kan, Sayang?" rayu Igan.
"Tapi yang tadi aku liat di taman, apa??" Tia kembali terlihat kesal.
"Bukan apa-apa, aku hampir jatuh tadi dan Igan tolong aku." sahut Danisha dengan cepat.
Tia kembali melirik ke arah sang kekasih. Lalu dengan wajah polos dan memelas, Igan mengangguk-angguk membenarkan ucapan Danisha.
"Jangan sampai kamu nyesel Tia, gara-gara enggak percaya lelaki setia dan jujur kayak Igan." Danisha terus memberi masukan bagi Tia agar mempercayai penjelasannya dan Igan.
Tia terdiam sejenak, kemudian menghela napas dalam.
"Ya udah, aku percaya." ucap Tia, mantap.
Wajah tampan Igan lantas sumringah saat sang kekasih kembali percaya padanya.
"Alhamdulillah ... makasih ya, Sayang!" ucap Igan seraya mengecup ujung jemari tangan Tia yang lentik.
Danisha pun tersenyum senang karena bayangan akan dicap sebagai pelakor musnah sudah.
"Ya udah yuk, saya anterin pulang?" ajak Igan.
"Kamu enggak mau saya ketemu dulu sama orang tua kamu, Mas?" celetuk Tia, menatap Igan dengan lekat.
"Astagfirullah ... iya-iya, sampe lupa! Ayo kita temui Ayah sama Bunda, sekalian kamu kenalan sama Om Hendrawan, papanya Danisha."
Mereka bertiga melangkah memasuki gerbang, lalu bergabung bersama para orang tua di taman rumah Erlangga.
Melihat kedatangan anak-anak mereka dan Tia, Bintang, Bulan dan Hendrawan tampak sumringah.
"Assalamu'alaikum ...." ucap Tia dengan senyum mengembang saat sudah berada di dekat Bintang, Bulan, dan Hendrawan.
"Wa'alaikum salam ...." ketiganya menyahut dengan suara nyaris berbarengan.
"Tia, sini duduk. Kita ngobrol bareng." ajak Bulan dengan hangat.
"Euh ... maaf Bu mungkin lain waktu saja. Hari ini saya tidak bisa lama-lama." tolak Tia dengan halus.
"Oh begitu ...." sahut Bulan, menyayangkan.
"Tia, kenalin ini Papaku." celetuk Danisha yang sudah berada di dekat Hendrawan.
Tia menoleh ke arah Hendrawan dan Danisha, lalu tersenyum.
"Salam kenal, Om. Saya Tia." ucap Tia dengan sopan.
Hendrawan memandangi Tia dengan lekat.
Pantas Igan menyukai gadis ini, dia cantik juga dan keliatannya gadis yang baik. batin Hendrawan.
"Pa, kok enggak kenalan sama Tia?" bisik Danisha.
Hendrawan tergagap, "Oh, i-iya. Saya Hendrawan, Nak Tia. Panggil saja Om Hendra." sahutnya.
Dahi Tia berkerut lalu tersenyum riang, "Sama seperti nama kakak saya, Om." timpalnya.
"Oh ya? Pasti kakak kamu juga ganteng kan, kayak saya?" kelakar Hendrawan.
Semua tertawa mendengar candaan Hendrawan, kemudian Tia mengangguk mantap.
"Iya Om, Kak Hendra ganteng kayak Om." sahut Tia sambil tersenyum lebar.
Tiba-tiba ponsel Tia berdering, Hendra meneleponnya. Tia pamit untuk menerima telepon kemudian menjauh dari yang lain.
"Ya Kak?" ucap Tia, to the point.
"Kamu di mana, Dek?"
"Masih di rumah Mas Igan. Udah selesai Kak urutnya?"
"Udah, barusan. Kamu masih lama di sana?"
"Hmmm ... enggak sih, kenapa? Kak Hendra perlu sesuatu?"
"Iya, kakak mau minta tolong kamu gantiin sprei di kamar kakak. Bau minyak urutnya kakak enggak suka!"
Tia meringis, "Oh ... ya udah, nanti aku gantiin deh. Sebentar lagi aku pulang kok."
"Kamu hati-hati ya nanti pulangnya? Salam buat semua. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam ...."
Mendengar Tia berbincang di telepon, membuat Danisha penasaran.
Tia nyebut-nyebut nama Hendra yang habis diurut, apa jangan-jangan itu Hendra yang dibegal?? pikir Danisha.
"Hmmm ... maaf, kayaknya saya harus pulang sekarang. Kak Hendra butuh saya di rumah. Oh iya, Kak Hendra titip salam untuk semua katanya." pamit Tia kembali mendekat di taman.
Bintang dan Bulan mengangguk dan tersenyum.
"Salam kenal juga buat Nak Hendra ya?" sahut Hendrawan.
Tia tersenyum, "Iya, Om."
"Hmmm ... Tia, kakak kamu kenapa? Sorry, tadi ... aku denger kamu bilang dia habis diurut?" celetuk Danisha.
"Dia habis dibegal, badannya memar-memar terus kakinya pincang. Makanya diurut." sahut Tia.
"Oh ... I see!! Berarti betul dia!" seru Danisha seraya menjentikkan jarinya.
Tia dan yang lainnya menatap heran pada Danisha.
"Kenapa, Dan? Kamu kenal?" tanya Igan.
"Ya, dia yang aku sama Darren tolong. Kita sama-sama ke klinik, tapi dia diantar sama police." sahut Danisha, antusias.
"Iya betul, Kak Hendra pulang diantar polisi sampai rumah." ujar Tia.
"Tia, boleh aku ikut ke rumah kamu?" pinta Danisha.
"Kamu mau apa ikut Nak Tia, Dan?" tanya Hendrawan.
"Aku mau jenguk Hendra, Pa."
"Tapi Hendra butuh istirahat lho, Dan ...." ujar Hendrawan.
"Enggak apa-apa kok Om, kalau memang Danisha mau ikut." ujar Tia dengan ramah.
"Bener enggak apa-apa?" Hendrawan memastikan.
"Iya Om, enggak apa-apa kok." sahut Tia sambil tertawa kecil.
"Ya sudah, Om juga mau ikut ke sana. Mau lihat Hendra versi muda." Hendrawan lagi-lagi melucu.
Bintang tertawa, "Ya sudah, kalau begitu kita semua ke sana jenguk Hendra. Bunda mau ikut?" ujarnya.
"Boleh." sahut Bulan, antusias.
Tia tak menyangka jika semuanya berempati pada kakaknya, ia bersyukur telah mengenal orang-orang baik seperti mereka.
****