Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Pertemuan Terakhir


"Mereka siapa, Mi?" tanya Yongki, heran.


Maya tak menjawab, mata tuanya hanya menatap ke arah Hendra dan Tia secara bergantian.


"Jadi, Anda benar Maya?" tanya Hendra, menegaskan.


"Iya, saya Maya. Kamu siapa, Nak?"


"Saya anaknya almarhum Pak Taufan, Anda pasti kenal kan?" sahut Hendra dengan wajah serius.


Maya tersentak, ia menatap Hendra makin intens.


"Ka-kalian ... anak-anaknya Mas Taufan?" tanya Maya seakan tak percaya.


Hendra dan Tia tak menyahut.


"Boleh kami duduk di sini? Saya pengin ngobrol-ngobrol sama kalian." pinta Maya, penuh harap.


"Apa yang mau Anda obrolin sama kami?" tukas Hendra.


"Mi, mereka ini siapa?" Yongki mengulangi pertanyaannya.


"Yongki, mereka ini anak-anak dari mantan suami Mami dulu." sahut Maya, menjelaskan.


"Oh ...." - Yongki manggut-manggut - "Kenalin, saya Yongki." ucapnya seraya mengulurkan tangan.


Hendra dan Tia terdiam sejenak, lalu saling pandang sebelum akhirnya mau menjabat tangan Yongki.


"Boleh kan kami ikut gabung di sini?" tanya Yongki, ramah.


Hendra mengangguk dengan sungkan, "Ya udah, silakan."


"Kapan Mas Taufan, hmmm ... maaf maksud saya, ayah kalian meninggal?" tanya Maya.


"Belum terlalu lama." sahut Hendra, singkat.


"Kenapa? Apa ayah kalian sakit?"


Hendra menatap tajam ke arah Maya, memorinya kembali memutar tentang kenangan pahit itu.


"Ya, Ayah sakit." sahut Hendra, seperlunya.


Obrolan mereka terjeda karena seorang waitress datang mengantarkan makanan yang dipesan oleh Hendra dan Tia tadi.


"Oh iya Mbak, saya sekalian pesan ya?" celetuk Yongki pada waitress yang sedang menaruh makanan dan minuman milik Hendra dan Tia.


"Boleh, Mas." sahut sang waitress.


Yongki menyebutkan makanan dan minuman yang ia pesan untuknya sendiri dan sang mami, kemudian dicatat oleh waitress itu.


"Kalian sudah dewasa sekarang, gagah dan cantik. Mas Taufan pasti bangga kalau lihat anak-anaknya sudah tumbuh dewasa. Dan kamu, sangat mirip dengan ayahmu." puji Maya sembari terus memandangi wajah Hendra dan Tia.


Hendra memalingkan wajahnya, ia merasa jengah terus ditatap oleh Maya. Walaupun ... tatapannya itu seperti tatapan ibu yang kagum pada anaknya, tapi ia merasa tak nyaman karena Maya bukanlah ibunya.


"Saya tau, kalian pasti marah sama saya. Kalian anggap saya sebagai perusak rumah tangga orang tua kalian kan? Saya sudah lama sebenarnya ingin berkunjung ke rumah kalian, tapi ... kondisi saya baru mulai sehat sekarang ini. Kebetulan ketemu kalian di sini." ucap Maya dengan suara agak bergetar.


"Mau apa ke rumah kami? Mau liat bagaimana hasil kelakuan Anda ke orang tua kami, gitu?"


"Bukan, saya justru mau minta maaf sama keluarga Mas Taufan."


Hendra hanya tersenyum sinis, ia sudah terlanjur kecewa dengan apa yang dilakukan Maya pada keluarganya, karena Hendra sudah lebih besar dan lebih mengerti ketika peristiwa itu terjadi, sedangkan Tia masih belum mengerti saat itu.


"Tolong kalian maafkan Mami saya, karena setiap orang punya masa lalu kan? Sekarang Mami sudah sering sakit-sakitan. Liat aja fisiknya, jadi jauh lebih tua dibanding umurnya." ujar Yongki.


Makanan dan minuman yang dipesan Yongki pun datang, sedangkan Hendra dan Tia sudah menghabiskan makanan dan minuma mereka terlebih dulu.


"Kami permisi." ucap Hendra, singkat seraya bangkit dari kursinya.


"Tunggu, jangan pergi dulu sebelum kalian memaafkan saya." pinta Maya sembari menatap mengiba pada Hendra dan Tia.


Hendra mendengus lirih seraya memalingkan wajah, ia tampak masih memendam kecewa yang teramat dalam.


Tia melihat Maya, ia merasa batinnya terus meronta agar mau memaafkan wanita tua itu. Makin lama ia melihat Maya, ia merasa ada sesuatu yang ia sendiri tak tahu.


"Kak, maafin aja ... kasian." bujuk Tia sembari menatap penuh arti pada kakaknya.


Hendra sejenak membalas tatapan sang adik, ia tahu jika adiknya sedang berusaha menyampaikan sesuatu lewat tatapan mata, walaupun ia belum tahu itu apa.


"Ya sudah, kami maafkan Anda, Bu Maya." ucap Hendra, berusaha ikhlas.


"Betul kalian mau maafkan saya dengan tulus?" tanya Maya.


"Ya ... untuk saat ini, jujur aja saya masih berusaha untuk maafin Anda dengan tulus, karena saya masih belum bisa sepenuhnya melupakan perbuatan Anda." sahut Hendra, tak munafik.


"Tapi kami yakin suatu hari nanti, kami bisa memaafkan Anda dengan ikhlas, walaupun mungkin tidak bisa melupakan yang sudah terjadi." imbuh Tia, bijak.


Maya menatap Tia dengan kagum lalu mengusap lembut lengan gadis itu seraya berkata, "Terima kasih ya, Nak?" manik mata Maya seakan berbinar.


Tia tersenyum hangat, lalu mengangguk.


"Ya udah Dek, pulang yuk?" ajak Hendra.


Tia mengangguk, "Yuk?" sahutnya seraya meraih tas cangklongnya kemudian menjinjing tas belanjaannya.


"Hati-hati ya ...." ucap Yongki.


Tia menoleh, lalu tersenyum dan mengangguk. Ia kembali berjalan menuju pintu keluar dan pulang.


"Mami sudah merasa tenang sekarang, karena sudah minta maaf dengan orang-orang yang dulu pernah mami kecewakan." celetuk Maya dengan tatapan menerawang dan senyum yang mengembang.


Yongki terdiam menatap maminya yang tampak bahagia namun wajah kuyunya kembali tampak sedikit pucat.


"Mi, ayo makan dulu? Habis makan kita langsung pulang aja ya? Mami keliatan pucat tuh, Yongki enggak mau Mami kecapekan." ujar Yongki.


Maya tersenyum lalu mulai memakan makanan yang berbeda menu dengan sang anak.


*


Pada waktu tengah malam, Tia bermimpi kembali bertemu dengan Maya di sebuah tanah lapang. Ia melihat wanita tua itu memakai pakaian putih panjang, sedang berjalan menuju ke suatu arah.


Tia hanya melihatnya dari jarak beberapa meter tanpa ada komunikasi. Ia terus menatap Maya yang terus melangkah lurus dengan pasti, sendirian.


Hingga saat Maya sudah mulai menjauh dari pandangan Tia, tiba-tiba tampak sebuah cahaya putih yang membentuk seperti lorong muncul beberapa meter di depan Maya.


Tia tersentak, ia bingung tiba-tiba muncul sebuah lorong cahaya di tanah lapang yang seakan tak berbatas itu.


Maya tampak berjalan tanpa ragu menuju lorong itu. Namun sebelum ia benar-benar memasuki lorong cahaya itu, Maya sempat menoleh ke arah Tia lalu tersenyum sembari mengangguk pada Tia, seolah-olah ia pamit.


Tia terkesiap, ia hanya berdiri mematung dan menatap kepergian Maya hingga sosoknya menghilang bersama lenyapnya lorong cahaya tersebut.


Tia membuka mata dengan napas yang tersengal. seakan tadi ia berhenti bernapas sejenak.


"Bu Maya, dia ...." gumam Tia disela-sela napasnya yang masih memburu.


****