Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Nekat


Tiga hari kemudian, Bintang sudah diperbolehkan pulang oleh dokter yang merawatnya. Igan yang ada jadwal manggung di sebuah acara bersama Ilona, meminta izin sebentar kepada pihak manajemennya untuk menjemput ayahnya pulang dari Rumah Sakit.


Sesampainya di rumah, Bintang meminta Igan untuk berbincang sejenak.


"Gan, duduk sini Nak. Ayah mau bicara dulu."


Igan melihat arlojinya lalu berujar, "Hmmm ... tapi Igan sebentar lagi harus pergi, Yah."


"Nanti kamu pulang jam berapa?" Tanya Bintang.


"Enggak sampai malam kok, Yah."


"Tapi nanti pulang ke sini kan?" Tanya Bulan sebelum beranjak menuju dapur.


"Hmmm ... insyaallah Bun."


"Kapan Ayah dapat waktu luang dari anak Ayah? Biar kita bisa ngobrol banyak, Nak .... Ujar Bintang, agak merajuk.


" Nanti ya Yah ... Beberapa hari ini Igan sibuk buat promosi lagu baru, jadi lagi sering diundang kesana-kemari."


"Hmmm ... ya sudah lah, begini ini nasib orang tua yang anaknya sudah terkenal. Jadi enggak bisa sewaktu-waktu ketemu, harus nunggu jadwalnya kosong dulu, baru deh bisa!" Gerutu Bintang.


Igan tersenyum, lalu memeluk ayahnya.


"Walaupun Igan sibuk, Igan enggak pernah lupa doain Ayah sama Bunda. Igan sayaaang banget sama Ayah dan Bunda." Bisik Igan di telinga ayahnya.


Bintang memeluk putra tercinta itu dengan erat lalu menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.


"Ayah percaya Nak, kamu memang anak kebanggaan Ayah dan Bunda." Ucap Bintang.


"Ya sudah, sekarang Igan pamit dulu ya Yah?" Pamit Igan seraya melepaskan pelukannya pada sang ayah.


Bintang mengangguk lalu berujar, "Hati-hati ya Nak?"


"Iya Yah ... Assalamu'alaikum ...." Pamit Igan seraya mencium punggung tangan ayahnya.


"Wa'alaikum salam ...."


Igan menuju dapur terlebih dahulu untuk pamit pada sang bunda, baru kemudian bergegas pergi dengan mobilnya.


Sesampainya di lokasi acara, Igan segera menuju ruang make up dan bertemu Ilona yang sedang didandani oleh penata rias.


"Kamu darimana Gan? Dari tadi aku tungguin loh!" Tegur Ilona.


"Dari rumah." Sahut Igan singkat.


"Kok tumben? Bukannya kamu kemarin pulangnya ke apartemen?"


"Enggak apa-apa, lagi pengin balik aja ke rumah." Sahut Igan berbohong, ia sengaja tidak memberitahu Ilona kalau ayahnya sakit dan baru keluar dari Rumah Sakit.


"Lima belas menit lagi Mbak Lona sama Mas Igan perform, siap-siap ya?" Seru seorang kru mengingatkan.


"Oke!" Sahut Igan dan Ilona bersamaan.


Waktu untuk pasangan duet fenomenal itu tampil pun tiba, riuh tepuk tangan penonton makin menyemarakkan acara tersebut.


Mereka tampil memukau dengan membawakan lagu teranyar yang masih bertema cinta dan romantisme. Tepuk tangan dan sorak sorai penonton pun terdengar saat Ilona melakukan aksi panggung yang membuat iri siapapun yang melihat.


Ya, Ilona selalu berinisiatif untuk berlaku romantis dengan Igan agar mendukung suasana saat menyanyikan lagu. Igan pun sangat perofesional, ia menanggapi dan menyambut baik perlakuan romantis dari Ilona di atas panggung. Hingga mereka dijadikan pasangan duet terfavorit oleh masyarakat.


Setelah menuntaskan penampilannya di panggung, Igan pun pamit untuk menuju ke sebuah rumah produksi bersama manajernya.


Igan mendapat tawaran bermain film, ia ingin menemui pihak rumah produksi untuk mengetahui informasi lebih detail.


"Lon, aku duluan ya?" Pamit Igan pada Ilona.


"Mau kemana?"


"Mau ke PH sama Bang Jio." Sahutnya sambil mengecek isi tasnya.


"PH mana? Ikut dong? Aku enggak ada kerjaan lagi nih hari ini." Pinta Ilona.


"Eh, jangan! Ini urusan kerja, masa mau ikut?" Tolak Igan.


Tiba-tiba ponsel Igan berdering, rupanya sang manajer melakukan panggilan video.


"Ya Bang, gue lagi siap-siap." Ujar Igan langsung saat menerima panggilan tersebut.


"Oke. Bokap lu gimana Gan, udah baikan? Sori ya gue belom sempet jengukin. Nanti deh sekalian balik dari PH sama lu." Ucap Jio, manajer Igan.


Mendengar ucapan Jio, kontan membuat Ilona terkejut dan langsung bertanya pada Igan.


"Eh, ada Ilona? sori Gan, sori. Ya udah deh, lu buruan jalan ya? Gue lagi OTW ke lokasi." Pungkas Jio mengakhiri panggilan video.


Ah, Bang Jio tuh! Jadi denger kan si Lona! Gerutu Igan dalam hati.


"Gan, jawab dong?" Tegur Ilona.


"Iya, Ayah emang habis sakit tapi sekarang udah sehat kok. Udah ya Lon, aku buru-buru. Bye!" Igan bergegas meninggalkan Ilona yang tampak kesal.


Ilona mengambil tasnya lalu beranjak keluar lokasi. Ia menaiki mobilnya dan melaju membelah padatnya lalu lintas ibukota.


Ilona menyempatkan mampir ke sebuah supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan pokok yang habis persediaan di rumahnya, lalu membeli makanan ringan dan juga buah-buahan segar.


Setelah itu melanjutkan lagi perjalanannya hingga di depan sebuah rumah megah, ia menghentikan laju mobilnya. Ilona membunyikan klakson untuk memanggil petugas keamanan yang berjaga di pos.


"Selamat siang, maaf ada keperluan apa Mbak?" Sapa Pak Yopi dengan sopan.


"Saya Ilona, teman dekatnya Dirgantara Erlangga. Bisa saya ketemu sama Ayahnya Dirgantara? Saya dengar beliau sakit dan habis dirawat." Jawab Ilona dari dalam mobil dengan membuka kaca pintu mobilnya.


"Oh, sebentar saya tanyakan dulu ya Bapak mau terima tamu atau tidak, siapa tahu sedang istirahat." Ucap Pak Yopi.


"Eh Pak, enggak usah tanya segala deh ... langsung bukain aja gerbangnya. Kalau ayahnya Dirgantara lagi istirahat, pasti ada istrinya kan di dalam?"


"Ibu Bulan ada tapi saya juga harus tanya dulu, siapa tahu sedang sibuk." Timpal Pak Yopi.


Ilona terdiam, jujur ia merasa kesal. Tapi ia tidak mungkin menyerobot masuk begitu saja, pasti akan membuat dia makin dibenci oleh Bintang.


Akhirnya setelah menunggu sekitar sepuluh menit di dalam mobil, Pak Yopi kembali muncul dari dalam rumah megah itu dan berjalan menghampiri Ilona.


"Gimana Pak, boleh kan?" Tanya Ilona antusias sebelum Pak Yopi benar-benar mendekat.


"Iya Mbak, boleh. Silakan masuk." Sahut Pak Yopi seraya membukakan pintu gerbang.


Senyuman tampak merekah di bibir tipis Ilona. Ia kemudikan mobilnya memasuki halaman rumah orang tua Igan tersebut.


Ilona turun dari mobil sambil menjinjing sebuah keranjang berisi buah-buahan segar yang tadi ia beli di supermarket.


Dengan percaya diri ia melangkah masuk ke dalam rumah, suara hentakan sepatu berhak tinggi yang ia pakai terdengar lebih keras saat memasuki ruang tamu rumah megah yang tampak sunyi itu.


"Permisi ....!! Assalamu'alaikum ... Tante, Om?" Ucap Ilona memberi salam untuk memberitahu pemilik rumah kalau ia sudah ada di dalam.


"Wa'alaikum salam ... Mbak Ilona ya? Kata Ibu, silakan duduk dulu Mbak. Ibu masih di atas sama Bapak. Tunggu dulu ya Mbak?" Sahut Marni, salah satu asisten rumah tangga di sana.


"Oh, iya Bi." Ilona duduk dengan anggun di kursi tamu yang tampak elegan.


"Mau minum apa Mbak?" Tanya Marni.


"Hmmm ... enggak usah Bi, saya enggak lama-lama kok."


"Oh, begitu? Ya sudah, saya permisi ke belakang lagi ya Mbak?"


Ilona mengangguk sambil tersenyum. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam sling bag nya, lalu tampak mengetik sambil senyum-senyum.


Tak lama kemudian, Bulan datang sendiri menemui Ilona. Gadis itu segera bangkit lalu menjabat tangan Bulan dengan lembut.


"Kamu datang sendirian?" Tanya Bulan.


"Iya Tante, tadi Igan mau ke PH sama manajernya." Sahut Ilona dengan tetap tersenyum.


"Oh ...."


"Maaf ya Tante saya baru sempat jenguk ke sini. Om gimana kabarnya? Apa sudah sehat?"


"Alhamdulillah ayahnya Igan sudah baikan. Kamu tahu darimana kalau ayahnya Igan sakit?"


"Dari ... dari Igan, Tante."


Hmmm ... Igan harusnya enggak usah bilang ke Ilona kalau Ayah lagi sakit, akhirnya malah dia datang menjenguk. Untung Ayah lagi tidur, kalau sampai tahu, pasti enggak suka. Batin Bulan.


Maaf Tante, aku terpaksa bohong. Batin Ilona.


Suasana sejenak hening, namun dering ponsel Ilona memecah keheningan. Ilona segera mengambil ponsel dari dalam tas, lalu menerima panggilan telepon yang ternyata dari Igan.


"Halo Gan?" Sapa Ilona.


Gan?? Apa yang telepon itu Igan? Batin Bulan bertanya.


***