Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
One Step a Head


"Tia, lebih baik kamu pulang saja dan istirahat. Hendra mana, kok saya enggak lihat dia dari tadi?" Perintah Bintang pada Tia seraya celingukan mencari keberadaan Hendra.


"Hendra hari ini ijin Pak, sakit." Sahut Irwan, Kepala Divisi HRD.


"Oh ...." Ucap Bintang, singkat.


"Saya sudah agak baikan kok Pak. Nanti saja pulangnya kalau acara sudah selesai, sambil menunggu kondisi saya benar-benar kuat untuk setir motor sendiri." Ucap Tia.


"Oh ... begitu? Ya sudah, kamu istirahat saja dulu di sini ya?" Ujar Bintang.


"Baik Pak Bintang, terima kasih." Ucap Tia.


Para staf yang tadi ikut mengerumuni Tia di ruang serbaguna pun mulai membubarkan diri, termasuk Bintang dan Igan untuk kembali ke lobi kantor karena acara belum usai.


Namun Tami dan Jeni memilih untuk tetap menemani Tia di ruangan tersebut. Rey juga tak beranjak dari sana, ia tetap duduk sambil memandang Tia.


"Udah Pak Rey ke lobi aja lagi nonton acaranya, Tia biar kita yang jagain." Seloroh Tami.


"Enggak Tam, saya pengin di sini aja." Tolak Rey.


"Kamu tadi sebenernya kenapa sih Ti? Kok tiba-tiba ambruk dari kursi?" Tanya Jeni.


Tia terdiam, ia termenung karena kembali teringat tentang kejadian aneh yang baru saja ia alami.


"Kamu sakit Tia?" Tanya Rey.


"Enggak, saya baik-baik aja Pak."


"Terus kenapa tiba-tiba pingsan?"


"Saya juga heran, mendadak semua jadi gelap."


Tami, Jeni dan Rey kompak saling tatap. Macam-macam dugaan bermain di benak mereka, mulai dari anemia, kurang tidur, hingga stres. Namun Tia menampik semua dugaan itu dan berusaha menenangkan rekan-rekannya tersebut.


Sementara itu di lobi kantor, Igan dan orang tuanya masih menyaksikan rangkaian acara yang masih berlangsung.


"Yah, Bun, yang tadi pingsan itu dari divisi apa?" Tanya Igan tiba-tiba.


"Memang kenapa, Nak?" Bintang balik bertanya.


"Enggak apa-apa Yah, cuma ... Igan kenal sama dia."


"Kamu kenal sama Tia? Kenal di mana?" Selidik Bintang.


"Hmmm ... ceritanya panjang Yah."


Dalam hati Igan bersyukur karena ayahnya langsung menyebut nama gadis itu. gadis yang senyumannya tak pernah ia lupa namun tidak dengan namanya.


"Dia dari divisi promosi, belum setahun kok kerja di sini."


"Iya Yah, dia punya kakak yang kerja di sini juga kan?"


"Kok kamu tahu?"


"Kan Igan tadi bilang kalau Igan kenal ...." -Igan berbisik ke telinga ayahnya- "Yah, Igan mau ketemu dia dulu ya? Mau ngobrol."


Bintang agak terkejut, ia sontak menoleh ke arah sang istri dengan mimik wajah bertanya-tanya.


"Kenapa Yah?" Tanya Bulan kala melihat ekspresi wajah suaminya.


"Ah enggak apa-apa kok Bun, Igan cuma mau ketemu seseorang dulu. Mau ngobrol." Sahut Igan dengan cepat sembari tersenyum.


"Siapa? Di mana?" Selidik Bulan.


"Tia, staf bagian promosi yang tadi pingsan. Igan kenal sama dia, Bun."


"Oh ... ya sudah." Sahut Bulan, santai.


Tanpa ragu, Igan segera bangkit dari duduknya dan beranjak menuju ruangan di mana Tia sedang beristirahat.


Derap langkah Igan yang cepat dan tiba-tiba kembali hadir di depan Tia, membuatnya terhenyak.


"Hai, gimana keadaan kamu Tia?" Sapa Igan dengan ramah dan senyum nan menawan.


Loh, ngapain Mas Igan ke sini lagi? Batin Tia bertanya-tanya.


"Ya ampun, Mas Igan kok tahu nama dia? Emang kenal di mana Mas?" Tanya Tami, heran sekaligus tak percaya.


Igan kembali tersenyum lalu duduk berhadapan dengan Tia dengan jarak sekitar dua meter.


"Ada lah, saya sama Tia ini kenal enggak sengaja dan ini pertemuan kami ketiga kalinya, juga secara enggak sengaja." Ujar Igan dengan santai.


"Wah, kalo kata orang-orang ... ketemu enggak sengaja sampe tiga kali itu bisa jadi pertanda jodoh loh, Mas!" Seloroh Tami.


Rey yang masih berada di ruangan itu juga mendadak merasa gelisah dan tak nyaman. Hatinya panas mendengar kata-kata barusan.


"Hmmm ... maaf Mas Igan, Tia mau saya anterin pulang aja soalnya biar dia bisa istirahat di rumah." Ucap Rey tiba-tiba.


Tia, Tami dan Jeni saling menatap mendengar ucapan Rey.


"Tapi Pak, saya bisa pulang sendiri kok nanti. Enggak usah anterin saya, makasih ...." Tolak Tia, lagi.


Igan menangkap gelagat kekurangsukaan dari Rey terhadap dirinya, namun bukan Igan namanya jika ia menyerah begitu saja.


"Oh ... Tia beneran sakit? Ya sudah, ayo saya anterin pulang. Sekalian saya mau ada acara di tempat lain." Ujar Igan, santai.


"Loh, memangnya Mas Igan tahu rumah Tia di mana?" Tanya Rey, agak ketus.


"Belum, justru itu saya mau anterin dia biar tahu." Sahut Igan sambil tersenyum penuh arti kepada Rey.


"Sudah Mas, mending saya aja. Tia itu tanggung jawab saya di kantor, dia kan staf saya." Rey bersikukuh ingin mengantar Tia pulang.


Igan menghela napas lalu dihembuskan perlahan, kemudian bangkit.


"Ya sudah kalau begitu, saya permisi dulu. Cepat sehat ya Tia!" Ujar Igan sambil menatap gadis cantik itu dengan senyuman hangat.


Tia pun tersenyum manis, walaupun awalnya ia terlihat canggung.


Senyuman itu yang bikin gue enggak bisa lupain dia. Semoga gue bisa terus lihat senyumannya sepanjang hidup gue. Batin Igan.


Igan pun beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Ketika sedang berjalan, ia berpapasan dengan seorang OB lalu sebuah ide pun mendadak hinggap di otaknya.


"Eh, maaf Pak. Bisa minta tolong?" Ucap Igan pada OB yang ternyata Bang Jack itu.


"Oh, iya Mas. Ada apa?" Tanya Bang Jack, sopan.


"Bapak tolong ke ruang serbaguna terus panggilin orang yang tinggi pake kacamata yang lagi nemenin Tia di sana. Bilang, dia dipanggil sama Pak Bintang disuruh ke lantai tiga." Ujar Igan sambil tersenyum.


"Oh ... beres Mas." -Bang Jack mengacungkan jempolnya, namun ia tampak heran lalu kembali bertanya kepada Igan- "Tapi Mas, kayaknya barusan saya liat Pak Bos ada di lobi sama bundanya Mas. Kenapa Pak Rey disuruhnya ke lantai tiga?" Tanya Bang Jack dengan mata yang membulat.


"Udah ... bilang aja begitu." Desak Igan.


"Hmmm ... ya udah deh."


"Makasih ya Pak?" Ucap Igan.


"Maap nih Mas, panggilnya jangan 'Pak' tapi panggil aja 'Bang'. Orang sini pada manggil saya Bang Jack, Mas. Biar berasa mudaan gitu ... hehehe ...." Seloroh Bang Jack dengan gaya khasnya.


"Oh, oke-oke. Bang Jack kan? Thanks ya Bang?" Ujar Igan sambil menjabat tangan Bang Jack dengan akrab.


Bang Jack tersenyum lalu bergegas untuk melaksanakan perintah Igan.


Igan tersenyum lebar, ia tampak sangat senang dan berjalan cepat meninggalkan lokasi.


"Permisi Pak Rey, Bapak dipanggil sama Pak Bos di lantai tiga." Ujar Bang Jack setibanya di ruang serbaguna.


Rey sempat terkejut dan tak percaya pada ucapan Bang Jack.


"Di lantai tiga? Emang ada apa?" Tanya Rey.


"Ya saya enggak tahu Pak, saya kan cuma disuruh nyampein. Udah ya Pak, saya permisi." Pamit Bang Jack kemudian melenggang keluar ruangan, meninggalkan Rey yang tampak bingung.


"Udah, Pak Rey temui Pak Bintang aja. Saya enggak apa-apa kok." Ujar Tia.


"Iya Pak, nanti Tia biar saya sama Jeni yang anterin. Saya boncengin Tia, terus Jeni bawain motornya Tia. Pulangnya kan kita bisa boncengan nanti." Ujar Tami memberi masukan.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Kalian hati-hati ya?" Pesan Rey.


"Beres, jangan khawatir deh Pak." Timpal Jeni.


Tia, Jeni dan Tami pun berjalan keluar ruangan. Tami dan Jeni tampak menjaga Tia karena takut ia kembali tak sadarkan diri tiba-tiba.


Di area parkir, langkah mereka terhenti ketika ada sebuah mobil yang berjalan mendekat ke arah mereka. Tia, Tami dan Jeni menepi untuk menghindari mobil yng kian mendekat itu.


Namun mobil itu justru berhenti di depan mereka. Kaca pintu mobil itu perlahan terbuka, dan tampaklah seseorang yang tersenyum ke arah mereka.


"Mas Igan??" Ucap Tami dan Jeni berbarengan, sedangkan Tia hanya tampak terkejut namun tak bersuara.


"Biar saya aja yang anterin Tia, Mbak." Ucap Igan kepada Tami dan Jeni.


Tami dan Jeni saling pandang, mereka bingung.


"Tapi kami sudah bilang ke Pak Rey, mau antar Tia pulang." Sahut Tami.


"Sudah enggak apa-apa. Kalian takut dimarahi sama dia? siapa tadi namanya? Rey??"


Tami dan Jeni masih tertegun, bingung.


"Kalau kalian dimarahi, lapor ke saya. Biar nanti jadi urusan saya." Tegas Igan.


"Tapi gimana kita mau laporan ke Mas Igan, orang Mas Igan aja sibuk." Seloroh Jeni.


Igan hanya melempar senyum kemudian kembali membujuk Tia untuk mau ia antar pulang, akhirnya Tia pun masuk ke dalam mobil Igan dan melaju pulang.


"Terus motornya Tia gimana, Tam?" Tanya Jeni ketika mobil Igan sudah menjauh dari area kantor.


"Ya udah lah, biarin aja di sini. Aman! Soal besok Tia berangkat ngantor naik apa, kan ada ojol!" Tukas Tami.


Jeni manggut-manggut, lalu keduanya kembali ke dalam gedung menuju lobi untuk kembali bergabung dengan staf yang lain.


***