Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Kehilangan


Igan, Tia dan keluarga Erlangga merasa prihatin dengan kasus Danisha. Bulan yang awalnya dimintai tolong oleh Hendrawan untuk mendampingi anak gadisnya itu selama menjalani proses hukumnya, terpaksa menolak dengan alasan kesehatannya yang tidak baik.


Hendra tampak lebih banyak murung sejak sang mantan tunangan menghadapi kasus hukum itu.


Namun di tengah-tengah kegundahannya, ia mendapat dua kabar baik. Pertama, ia diangkat menjadi kepala divisi keamanan di kantor untuk menggantikan pejabat lama yang purna tugas.


Artinya, ia tak perlu lagi ikut jaga malam dan hanya mengatur jadwal para petugas keamanan di kantor tersebut, dan urusan administrasi lainnya.


Kabar kedua, adiknya memberi kabar bahwa ia sedang mengandung anak pertamanya. Hal itu sangat dinanti oleh keluarga besar mereka, karena artinya akan semakin melengkapi kebahagiaan keluarga mereka.


Hendra memilih lebih fokus untuk bekerja, menambah tabungan dan memperbaiki kualitas dirinya, karena jujur ia merasa sudah waktunya berumah tangga. Ia ingin kelak mendapatkan jodoh yang baik. Namun hatinya masih terpaut dengan Danisha, walau sudah coba untuk melupakannya sesuai apa yang Danisha pinta.


Banyak rekan sejawat, bahkan sang adik sendiri berusaha mengenalkan dan bahkan menjodohkannya dengan beberapa gadis. Tapi, Hendra belum merasa yakin.


*


Waktu terus berjalan, kandungan Tia pun semakin membesar dan sudah waktunya untuk melahirkan.


Igan dengan sigap membawa istrinya menuju ke sebuah rumah sakit, namun di waktu yang sama pula sang ibunda juga harus dilarikan ke rumah sakit akibat sakit ginjal yang beberapa waktu belakangan semakin parah, hingga mengharuskannya untuk rutin cuci darah.


Tetapi Igan tak diberitahu karena ia sebelumnya sudah memberitahu ayahnya terlebih dahulu jika Tia sudah ada tanda-tanda akan melahirkan hari itu.


Saat Tia sudah berada di ruang bersalin, Hendra menungguinya di luar ruangan. Sedangkan Igan berada di dalam untuk menemani sang istri dalam proses persalinan.


Saat Tia berada dalam proses yang mempertaruhkan nyawa, ponsel Igan tiba-tiba bergetar di dalam saku celana panjangnya. Namun ia tak pedulikan. Ia terus mendampingi sang istri yang bermandi peluh akibat mengejan dan rasa sakit dari kontraksi yang dirasa.


Ponselnya kembali bergetar, dan lagi-lagi Igan tak menghiraukan. Sampai akhirnya, suara tangis bayi terdengar nyaring memecah kesunyian ruang bersalin tersebut.


"Alhamdulillah ...." ucap syukur terlontar dari mulut Igan dengan spontan.


"Selamat ya Pak, bayinya laki-laki. Sehat dan normal." Dokter yang menangani proses persalinan Tia mengucapkan selamat sembari menggendong bayi yang terlihat bongsor itu.


"Terima kasih, Dok."


Seorang suster membawa Igan junior itu ke sebuah ruangan untuk dibersihkan terlebih dahulu sebelum diazankan oleh sang ayah.


Igan memeluk Tia yang masih kepayahan.


"Sayang, alhamdulillah anak kita normal dan sehat! Makasih ya karena kamu udah jaga dia dari dalam kandungan. Makasih juga kamu udah berjuang demi anak kita, sampai dia bisa lahir." ucap Igan kemudian mengecup lembut pipi dan kening sang istri.


Tia tersenyum lemah, kemudian mengangguk. Tak lama kemudian, Igan junior itu sudah kembali digendong oleh suster dan diserahkan kepada Igan, untuk diazankan.


Suasana haru dan khidmat sangat terasa ketika suara merdu Igan mengumandangkan azan di telinga putra sulungnya. Tia sampai menitikkan air mata bahagia.


Setelah selesai, bayi tersebut dibaringkan dalam dekapan sang bunda. Saat Igan tengah asyik memandangi bayi beserta istri cantiknya, tiba-tiba ia teringat ponselnya yang tadi beberapa kali sempat bergetar.


"Sayang, sebentar ya? Tadi HP Mas getar terus." ujar Igan seraya merogoh saku untuk mengambil ponselnya.


Tia hanya mengangguk menanggapinya.


"Ayah??" gumam Igan dengan wajah cemas.


"Kenapa, Mas?" tanya Tia.


"Ayah tadi telepon pas kamu lagi proses melahirkan, jadi Mas enggak angkat."


"Ya udah Mas telepon balik aja, siapa tau penting."


Igan mengangguk lalu beranjak ke sudut ruangan untuk menelepon sang ayah.


"Assalamu'alaikum, Yah? Maaf tadi Igan lagi ...."


"Nak, Bunda Nak ... Bunda ...." suara sang ayah terdengar parau sambil terisak.


Mata Igan membulat, "Bunda kenapa, Yah??"


Bukan jawaban, melainkan suara tangisan pilu yang ia dengar dari sang ayah di seberang telepon.


Igan mematikan sambungan telepon, lalu bergegas mendekati istrinya yang masih terbaring lemah bersama bayi mereka.


"Sayang, kayaknya Bunda lagi gawat. Tadi Ayah nangis terus di telepon. Mas ke rumah Ayah dulu ya?" ujar Igan, pamit.


"Iya Mas, enggak apa-apa kok. Biar aku ditemenin Kak Hendra dulu. Hati-hati ya, Mas?"


"Iya Sayang, Mas usahain secepatnya balik lagi ke sini. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam ...."


Igan melangkah cepat keluar ruangan tersebut. Di kursi tunggu, tampak Hendra yang juga terlihat panik.


"Mas Hen, saya titip Tia sama baby ya? Saya mau pulang dulu."


"Langsung ke rumah sakit Medika aja, Dek." ujar Hendra.


Kedua alis Igan terangkat, "Rumah sakit Medika??" tanya Igan.


"Iya, Dek. Tadi Pak Hendro, drivernya Pak Bintang telepon ke saya, katanya disuruh ngabarin kalau Bu Bulan dibawa ke sana."


"Oh, iya-iya. Oke, makasih ya Mas? Saya ke sana sekarang."


"Hati-hati ya, Dek!"


Igan mengangguk, lalu berlari menuju lift agar lebih cepat sampai ke basemen dimana mobilnya terparkir.


*


"Sus, ruangan pasien atas nama ibu Cahya Rembulan dimana ya?" tanya Igan dengan cepat pada petugas resepsionis, karena ponsel ayahnya tidak ada respon.


Seorang petugas tampak cekatan mengecek data pasien beserta nomor kamarnya di komputer.


"Di paviliun Anggrek. Dari sini lurus, belok kanan mentok, lalu belok kiri. Dekat ruang hemodialisa." sahut petugas itu dengan ramah.


"Baik, terima kasih."


Igan kembali setengah berlari menuju ruangan yang tadi disebutkan.


Beberapa meter sebelum memasuki ruangan itu, ia mendengar suara isak tangis dalam ruangan yang hendak ia tuju.


Langkahnya terhenti sejenak, ia coba memastikan asal suara tangis itu. Kemudian melangkah perlahan mendekat ke ruangan yang dimaksud.


Matanya terbelalak ketika melihat ayahnya sedang meratapi tubuh sang istri yang sudah tertutup kain putih.


"Ada apa ini?? Siapa yang Ayah tangisi?? Mana Bunda??" gumam Igan sembari terus mendekat perlahan dan matanya sibuk menyapu seisi ruangan.


"Ayah?? Bunda mana??" Igan memberanikan diri bertanya pada ayahnya.


Bintang menoleh, ia langsung bangkit dan memeluk sang putra.


"Bunda ... Bunda udah ninggalin kita, Nak! Bunda udah enggak ada ...." ujar Bintang lirih, tak kuat menahan sedih akibat kehilangan separuh jiwanya.


Igan terperangah, ia terkejut bukan main. Tak pernah terbayangkan kalau sang bunda akan pergi begitu cepat, bahkan disaat yang bersamaan dengan lahirnya sang cucu pertama.


Igan melangkah pelan mendekati ranjang dimana raga tak bernyawa sang bunda berada.


"Bunda ...!!! Kenapa Bunda pergi sekarang?? Igan baru mau cerita ke Bunda sama Ayah, kalau Tia udah melahirkan, Bun ... Anak Igan udah lahir, Bun ...!!" raung Igan, emosional.


Pak Hendro yang entah datang dari mana tiba-tiba mengelus pundak sang majikan muda untuk menenangkannya.


"Mas Igan ... yang sabar ya, Mas ... Ini sudah takdir dari Allah, kita harus ikhlas. Kasihan Ibu kalau keluarganya enggak ikhlas begini ...." bujuk Pak Hendro.


Namun, rasa kehilangan bak menghujam ke dalam lubuk hati ayah dan anak yang ditinggal pergi orang yang sangat mereka sayangi itu untuk selamanya.


****