
Flash back
Ketika Igan dan Ilona sudah berada di dalam mobil dan kembali ke rumah, Igan jadi lebih banyak diam. Ia tampak lebih konsentrasi dan mengurangi kecepatan laju mobilnya.
"Kamu kenapa Gan kok jadi lambat begini nyetirnya? Trauma sama kejadian tadi?" Tegur Ilona.
"Trauma sih enggak, cuma hati-hati. Takut ada yang naik motor kayak cewek tadi biar enggak fatal akibatnya. Untung tadi aku langsung rem, kalo enggak ... bisa gawat!"
"Kejadian tadi itu jelas-jelas yang salah dia, enggak hati-hati bawa motornya. Harusnya dia enggak kamu biarin pergi gitu aja, Gan!"
"Udah enggak apa-apa, dia tadi gugup karena habis beli obat buat Ayahnya. Dia malah sempat ngasih liat isi dompetnya lo, ya aku enggak tega lah orang lagi prihatin begitu. Lagian mobil ku cuma lecet sedikit kok."
"Ih kamu tuh terlalu baik orangnya, bisa-bisa dimanfaatin sama orang. Apa jangan-jangan ... karena tadi cewek jadi kamu luluh?"
"Jangan ngaco deh!" Timpal Igan.
Tak terasa mereka pun tiba di rumah. Ilona segera keluar mobil dengan wajah yang tak sumringah. Ia bergegas menuju taman rumah lalu duduk.
"Hmmm ... tuh anak udah berasa kayak rumah sendiri aja, main selonong." Gerutu Igan lirih.
Saat ia hendak keluar mobil, tanpa sengaja ia menunduk dan melihat sebuah ponsel tertelungkup di bawah dasbor mobilnya.
"HP siapa nih?" Ujarnya lirih seraya memungut benda pipih berwarna hitam itu.
Igan coba menekan tombol on/off ponsel itu untuk melihat layar utamanya, dan tampak lah foto Ilona di latar belakang layar ponsel pintar itu.
"Lo, punya si Lona nih. Kok ada di bawah sih?"
Igan membawa ponsel itu lalu keluar mobil dan masuk ke dalam, ia sengaja tidak langsung memberikan ponsel itu ke Ilona dengan maksud untuk mengerjainya.
Di ruang tengah ia melihat Ayahnya yang duduk santai sambil menonton berita di televisi.
"Gan, sudah antar Bunda, Nak? Sapa Bintang ketika melihat putranya sudah kembali.
"Sudah Yah." Sahut Igan kemudian ikut duduk di dekat sang ayah.
"Terus teman kamu itu mana? Sudah pulang ke rumahnya?"
"Enggak, belum kok. Dia lagi duduk di taman, biarin aja lah."
"Kenapa enggak disuruh pulang aja dulu? Ayah kok kurang suka ya kalau ada perempuan main ke rumah lelaki tapi enggak tahu waktu."
"Igan juga kaget waktu tiba-tiba dia bilang udah ada di depan rumah pagi tadi, tapi ya ... udah lah, enggak mungkin diusir juga kan?" Timpal Igan sambil terkekeh.
"Iya sih tapi jangan dibiasakan begitu lo, Ayah benar-benar enggak suka. Walaupun kamu anak lelaki, tapi tetap harus jaga pergaulan."
"Iya Yah, Igan paham kok."
"Nah, harus paham. Bunda mu juga dulu enggak pernah sekalipun begitu, dan Ayah justru jadi segan."
"Hehehe ... pantesan Ayah sampai setia nunggu Bunda dulu." Seloroh Igan sambil tertawa.
"Itu karena Bunda mu memang layak untuk diperjuangkan. Nanti suatu saat kamu juga bakal ketemu seseorang yang bikin hatimu yakin kalau dialah yang terbaik."
Mendengar hal itu, entah kenapa tiba-tiba Igan teringat kejadian saat di jalan tadi. Ia terbayang senyum manis si gadis yang entah siapa namanya.
"Gan ...!! Igan, kamu lihat ponselku enggak??" Seru Ilona tiba-tiba sambil berlari kecil menuju ruang tengah.
Ayah dan anak yang tengah berbincang itu pun sontak terperangah melihat tingkah Ilona.
"Lon, apaan sih teriak-teriak gitu? Ada Ayahku lo, enggak malu kamu?" Tegur Igan dengan tegas.
"Eh sori-sori, maaf ya Om saya panik. HP saya hilang, enggak tahu di mana. Gan, tolong bantu cariin dong?!"
"Memang tadi kamu taruh di mana?" Tanya Bintang dengan penuh wibawa.
"Saya taruh di tas Om, saya ingat kok." Sahut Ilona dengan nada panik.
"Cewek itu siapa?" Tanya Igan.
"Cewek yang tadi naik motornya kayak orang mabok itu lo, yang nyerempet mobil kamu?!"
"Ya terus apa hubungannya HP kamu enggak ada di tas sama cewek itu?"
"Ya bisa aja kan dia curi?? Dia bilang kan Ayahnya lagi sakit, lumayan banget tuh kalau dijual buat biaya berobat, iya kan?" Cerocos Ilona berusaha meyakinkan Igan.
"Jangan asal tuduh kamu Lon, dosa!"
"Aku enggak asal tuduh, tapi bisa aja kan begitu?"
"Nih HP kamu! Tadi aku temuin di lantai bawah dasbor mobil." Ujar Igan sembari menyodorkan ponsel Ilona yang tadi ia temukan.
"Loh, kok bisa ada di kamu Gan?" Sahut Ilona dengan wajah keheranan.
"Kan barusan aku bilang, aku nemu di bawah dasbor mobil. Nih ambil! Mungkin jatuh waktu aku rem mendadak tadi."
Ilona menerima ponselnya, lalu segera ia masukkan ke dalam tasnya.
"Memangnya tadi mobil kamu diserempet, Nak?" Tanya Bintang.
"Iya Om, tadi ada cewek naik motor sembarangan banget sampai mobil Igan jadi lecet." Sahut Ilona tanpa diminta.
Bintang menatap dengan tatapan tak suka kepada Ilona dan seolah-olah memintanya untuk diam.
Ilona pun menyadari tatapan Ayah Igan tersebut, lalu ia tertunduk dan terdiam.
"Iya Yah, kecelakaan kecil kok. Lecetnya juga cuma sedikit, enggak masalah." Sahut Igan.
"Oh ...." - Bintang bangkit dari duduknya lalu merapikan kembali jas yang ia pakai - "Ya sudah, Ayah mau berangkat dulu. Kamu ikut ya Nak? Biar kamu tahu situasi di perusahaan Ayah seperti apa."
"Harus ya Yah? Atau ... lain kali aja gitu?" Sahut Igan, berusaha menolak.
"Ya sekarang aja, enggak ada salahnya kan?" Desak Bintang.
"Hmmm ... ya udah deh Yah, Igan yang nyetir ya?"
"Enggak usah, biar Hendro aja. Nanti kamu juga diantar pulang lagi sama dia."
"Oh, ya udah."
"Gan, aku boleh ikut enggak?" Bisik Ilona.
"Oh iya, Ayah cuma ajak kamu ya, Nak." Ujar Bintang kepada Igan, sambil melirik tajam ke arah Ilona.
Sial nih Ayahnya Bintang, denger aja sih gue bisik-bisik minta ikut! Kayaknya keinginan gue bisa dapetin Igan bakal susah kalau sikap Ayahnya masih begitu ke gue! Gerutu Ilona dalam hati.
Igan menatap Ilona, jujur ada perasaan tak enak hati ketika melihat sikap Ayahnya yang tampak jelas tidak menyukai Ilona. Namun, ia pun tak menyalahkan Ayahnya, karena memang ia akui jika sikap Ilona terlalu berani.
"Kamu di sini dulu aja ya Lon, aku ikut Ayahku dulu." Ujar Igan coba membesarkan hati Ilona yang ia tahu pasti sakit hati.
Ilona hanya mengangguk dengan raut wajah sendu, lalu memilih duduk di taman. Sepertinya taman di rumah Bintang sudah menjadi area favorit Ilona.
Di perjalanan, Bintang yang duduk berdampingan dengan sang putra pun banyak memberi nasihat dan saran, termasuk dalam memilih calon pendamping.
Bintang secara blak-blakan mengutarakan pendapatnya tentang Ilona, walaupun saat di rumah tadi ia sudah dengan gamblang menilai Ilona.
Bintang melarang Igan untuk berhubungan lebih dari sekedar teman dengan Ilona, ia merasa gadis itu tipe wanita yang terlalu egois. Bintang bahkan secara tegas tidak akan merestui jika ternyata Igan dan Ilona mempunyai hubungan spesial.
Igan mendengarkan setiap nasihat yang Ayahnya berikan, ia yakin bahwa orang tuanya tidak akan mau anaknya salah memilih jalan hidup termasuk dalam memilih pasangan.
***