
Danisha mengambil ponselnya, lalu memencet nama Darren yang tercatat berkali-kali meneleponnya, namun tak terjawab saat dini hari sampai beberapa menit yang lalu.
"Dan, akhirnya nelepon gue juga lu! Ngapain aja sih, ditelponin enggak jawab-jawab??" omel Darren saat menerima telepon dari sang adik.
Danisha terdiam, ia seperti tercekat dan tak bisa bicara. Hanya air mata yang deras membasahi pipinya.
"Dan, halo?? Do you hear me?"
"Darren ... help me ...!!" suara Danisha terdengar pilu.
"Hey, what happened?? Where are you?"
Danisha masih terus terisak, hingga membuat Darren panik.
"Dan, lagi di mana sih? Biar gue jemput."
"No, enggak usah Darren. Gue yang bakal ke kantor lu, ini gue lagi di taksi."
"Oh, ya udah. Gue tunggu ya?"
Air mata terus mengalir deras bak air bah yang bersumber dari kepedihan hati Danisha. Ia bertekad untuk menemui Siska dan tante Vio secepatnya dengan bantuan Darren.
Beberapa saat kemudian, taksi yang Danisha tumpangi sudah tiba di depan kantor biro pariwisata milik Darren.
"Pak, berapa saya harus bayar?" tanya Danisha.
"Yang orderan pertama di aplikasi itu Rp 38.000, Mbak."
"Selebihnya?"
"Kalo selebihnya terserah Mbak aja, saya juga pengin bantu tadi."
Danisha mengangguk, ia segera mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan lalu dilipat dan disodorkan pada pengemudi itu.
"Ini Pak, terima kasih sudah bantu saya."
Pengemudi itu melihat lipatan uang yang Danisha sodorkan, "Mbak, itu kebanyakan."
"Enggak Pak, dibanding niat tulus Bapak untuk bantu saya. Terima ya, Pak. Saya ikhlas."
"Terima kasih ya Mbak? Mudah-mudahan masalah Mbak cepet ada titik terang, dan orang-orang yang sudah menjebak itu cepet ketangkep."
Danisha tersenyum, "Aamiin, makasih banyak ya Pak? Saya masuk dulu."
"Iya Mbak, silakan."
Danisha melangkah ke dalam kantor kakaknya itu, dan disapa oleh beberapa karyawan yang melihatnya. Danisha hanya mengangguk sambil melempar senyum tipis pada mereka.
Ia langsung masuk ke ruang pimpinan, yaitu ruangan Darren.
"Dan?" Darren terkejut melihat kondisi adiknya dengan mata yang sembab dan tampak kalut.
Danisha tak kuat lagi menahan sedih, airmatanya kembali tumpah. Darren segera bangkit lalu memeluk sang adik, ia berusaha menenangkannya.
"Hey, what's wrong?" tanya Darren dengan lembut.
"Siska ... dia jebak gue, Darren! Gue benci dia!" sahut Danisha, nyaris histeris.
"Dia jebak gimana maksudnya??"
Danisha pun mulai menceritakan kronologi kejadian yang ia alami.
Darren menarik napas panjang, ia tak menyangka jika kekhawatirannya semalam itu terbukti.
"Kita harus bilang ini ke Papa." tegas Darren.
"No ...!! Jangan bilang ke Papa, gue enggak mau Papa tau soal ini. Makanya gue cerita ini ke lu, Darren!"
"Kenapa? Justru Papa itu orang yang paling berhak tau, Dan!"
"Tapi gue enggak mau! Lu tau kan, hubungan gue sama Papa itu baru membaik. Kalo dia sampe tau, pasti dia marah besar ke gue! Bisa-bisa, gue bakal dikembaliin ke Aussie!"
"Kalo memang itu yang terbaik buat lu, kenapa enggak lu ikutin aja??"
"Ish!!"
Danisha duduk dengan kasar di sofa ruang kerja Darren, sedangkan Darren mondar-mandir di ruang kerjanya. Ia juga ikut bingung.
*
Diam-diam Darren bercerita pada papanya tentang apa yang menimpa Danisha. Hendrawan jelas sangat shock, ia tak henti-hentinya merutuk.
Ia pun bergegas menghubungi Bintang dan Bulan untuk meminta saran sekaligus meminta bantuan hukum bagi putrinya.
Dengan sigap, semua prosedur pelaporan kepada pihak berwajib pun dilakukan. Danisha pasrah ketika tahu kalau Darren sudah memberitahu pada papa mereka, dan bahkan sudah meminta bantuan pengacara andal sekelas Bulan.
Danisha pun sudah melakukan pemeriksaan di rumah sakit terkait kondisinya saat terbangun di kamar hotel. Semua itu dijadikan bukti untuk melakukan pelaporan.
Berkat bantuan banyak pihak, akhirnya Siska dan tante Vio berhasil ditemukan dan digelandang ke kantor polisi.
Setelah diperiksa, ternyata tante Vio diketahui sebagai seorang mucikari. Ia banyak menjadikan gadis-gadis sebagai anak buahnya untuk melayani pria hidung belang.
Siska adalah salah satunya. Ia yang frustasi karena karir modelingnya hanya jalan di tempat karena perangai buruknya yang hobi mabuk-mabukan dan hidup bebas sudah diketahui pihak agensi.
Suatu ketika ia bertemu tante Vio dan diiming-imingi bayaran besar jika ia mau bergabung menjadi anak buahnya.
Karena kondisi ekonominya yang mulai memprihatinkan, akhirnya Siska mau menerima tawaran tante Vio. Sejak itu, karir sebagai model hanya ia jadikan sampingan. Siska lebih banyak menerima tawaran menemani pria hidung belang yang berani membayarnya mahal.
Namun, ketika ia ketahuan hamil akibat hubungan bebasnya dengan banyak lelaki, tante Vio memintanya untuk mencarikan pengganti.
Siska teringat Danisha, ia pun mematok harga fantastis jika ia berhasil menggaet Danisha sebagai pengganti dirinya. Tante Vio setuju, mereka pun menyusun rencana untuk mengelabui Danisha hingga terjadilah peristiwa malam itu.
Siska dan tante Vio pun dijebloskan ke dalam penjara. Namun hal itu tak serta merta membuat Danisha bernapas lega, ia justru merasa ingin mengakhiri hidupnya ketika ia dinyatakan hamil.
Ia sangat depresi hingga terus mengurung diri di dalam kamar. Semua orang yang mengenalnya merasa sangat iba, begitupun Igan, Tia, terlebih Hendra.
Mereka bertiga datang menjenguk ke rumah Danisha, untuk memberi dukungan moril dan menguatkannya.
Darren mempersilakan mereka bertiga untuk coba membujuk Danisha agar mau keluar kamar.
Danisha tetap tidak mau keluar kamar, ia hanya membukakan kunci pintu kamarnya dan membiarkan ketiga tamu dan kakaknya untuk masuk.
"Danisha ... lama ya kita enggak ketemu? Kangen deh pengin ngobrol bareng lagi kayak dulu." ujar Tia dengan hangat.
Danisha tak bergeming, ia hanya melirik tamu-tamunya dan Darren.
"Dan, ini aku bawain peralatan lukis. Kali aja kamu pengin melukis, biar enggak bosen." imbuh Igan.
Sedangkan Hendra tak berkata apa-apa, ia hanya berdiri mematung menatap gadis yang ia kagumi itu tampak kurus dan kuyu.
"Enggak usah kasih gue makanan lagi, gue enggak mau makan!" sahut Danisha dengan suara yang parau.
"Dan ... kamu harus makan ya? Biar kamu enggak sakit." bujuk Tia.
Danisha menggeleng sambil tetap menatap ke arah jendela kamarnya.
"Aku suapin ya? Mau?" Tia kembali membujuk.
Namun lagi-lagi Danisha menolak.
"Kak, coba dong Kakak ngomong. Bujuk dia biar mau makan." bisik Tia pada Hendra.
Hendra tampak bingung, ada sorot kesedihan di matanya.
"Hen, tolong bujuk dia. Siapa tau dia mau kalo sama kamu." pinta Darren.
Tak lama kemudian Hendrawan masuk juga ke dalam kamar putrinya, tapi ia hanya terdiam. Ia sudah cukup hancur melihat kondisi putrinya yang terpuruk.
Hendra melangkah perlahan mendekati Danisha, lalu duduk di sebelahnya.
Danisha menoleh ke arah Hendra, lalu menatapnya.
"Mau apa?" tanya Danisha.
"Aku ... boleh enggak nyuapin kamu?" ucap Hendra.
Danisha menggeleng.
"Tapi kamu butuh makanan buat nutrisi badan kamu, Dan."
"Aku enggak butuh nutrisi apapun! Kalau aku makan, pasti anak setan ini juga ikut makan di rahimku! Aku enggak mau dia hidup!" seru Danisha penuh amarah.
Igan, Tia dan Hendra beristigfar lirih, mereka menyayangkan Danisha berpikir seperti itu namun mereka juga tak bisa menyalahkannya.
"Dan ... kamu enggak usah pikirin bayi di perut kamu, pikirin aja dulu kesehatan kamu. Kamu harus sehat, Dan. Kami semua di sini khawatir liat kondisi kamu begini, kami semua sayang sama kamu." ucap Tia.
Danisha tersenyum sinis, "Kalian semua sayang sama aku? Itu karena kalian teman dan keluargaku! Kalo bayi ini sampe lahir, pasti enggak akan ada orang lain yang sayang sama aku. Mereka kira aku ini cewek nakal, perempuan kotor!"
"Aku masih muda, masa depanku harusnya masih panjang! Tapi gara-gara mereka dan lelaki ba***ngan itu, hidupku ancur!!" imbuh Danisha.
"Kamu enggak usah khawatir, Sayang. Papa akan jagain kamu terus." Hendrawan angkat bicara.
Danisha menoleh ke arah papanya, namun tak berkata apa-apa.
"Hmmm ... Dan, kita duduk di taman aja yuk? Kamu butuh udara segar lho!" ajak Tia.
Darren pun mendukung usul Tia, mereka semua mendukung Danisha agar bisa tabah dan mau keluar dari kamarnya.
Danisha tersenyum penuh arti, ia mengangguk.
Sambutan gembira terdengar saat Danisha mau keluar kamarnya. Mereka semua keluar kamar dan berjalan menuju depan rumah, dimana taman itu berada.
Namun tak disangka, Danisha justru berlari menuju ruang makan dan mengambil sebilah pisau yang ada di keranjang buah.
Semua berteriak panik melihat kejadian itu.
"Dan, are you crazy?? give me the knife!!" bentak Darren, panik.
"Let me die, i don't wanna live like this!" ujar Danisha, putus asa.
"Danisha, kamu jangan nekat!" pekik Igan.
"Dan ... ayo sini, kasih pisaunya ke aku. Kita ngobrol yuk? Kamu bisa cerita apa aja ke aku, oke?" bujuk Tia.
"Percuma! Enggak ada gunanya aku hidup, aku udah enggak punya masa depan!"
"Siapa bilang?? Setiap orang berhak hidup dan bahagia dengan hidupnya, Dan!" tegas Igan.
"Aku enggak bakal bisa bahagia kalau ada bayi haram ini! Apa kata orang kalau tau aku punya bayi tanpa suami??"
"Pasti ada yang mau jadi suami kamu, Dan!" Hendra buka suara.
Danisha tertawa, "Siapa ...? Siapa, hah?? Mana ada lelaki yang mau nikah sama cewek korban perko***n?? Bullshit!!"
"Anak ini enggak pernah diharapkan, aku enggak mau ada dia!!" seru Danisha.
"Anak itu enggak tau apa-apa, Dan! Jangan salahkan dia! Dia berhak hidup." tegas Hendra.
"Enggak!!"
"Aku mau jadi ayahnya, asal kamu mau ikhlas nerima kenyataan dan berhenti untuk merutuki nasib." tegas Hendra.
Pernyataan Hendra barusan sontak membuat semua yang ada di ruangan itu terperangah. Mereka tak percaya dengan apa yang Hendra ucapkan.
"Kak??" Tia menatap kakaknya dengan seksama, memastikan jika kakaknya berucap dengan kondisi sadar sepenuhnya.
"Iya, aku mau nikah sama kamu Danisha. Asal kamu mau nerima aku yang cuma seorang sekuriti. Dari awal, aku sudah jatuh hati sama kamu, tapi aku enggak berani bilang karena kamu terlalu sempurna buat aku." tutur Hendra.
Hendrawan terhenyak, ia terasa seperti tertampar. Ia lantas teringat ucapannya waktu di dalam mobil saat ia meragukan pekerjaan Hendra yang hanya seorang sekuriti. Ia pun merasa keberatan jika putrinya dan Hendra saling mencintai.
Ya Tuhan, maafkan kesombongaku selama ini ... Mungkin ini teguran keras untukku. batin Hendrawan.
Danisha tertegun, situasi itu dimanfaatkan Hendra untuk mendekat dan mengambil pisau yang ada di genggaman Danisha lalu ia lempar jauh-jauh.
"Maaf, mungkin aku terkesan memanfaatkan situasi demi egoku sendiri. Tapi, memang itu yang aku rasa begitu ketemu kamu." ucap Hendra, lembut.
Danisha menatap mata Hendra dengan lekat. Matanya tampak berkaca-kaca.
"Nak Hendra, apa kamu yakin dengan ucapan kamu barusan? Saya tidak mau Danisha hanya diberi harapan palsu, cuma untuk menyenangkannya sesaat."
"Insyaa allah, saya yakin Om. Tapi ... saya tidak bisa menjamin kekayaan buat anak Om, saya cuma bisa bilang kalau saya benar-benar tulus menyayangi Danisha, dan ikhlas menerimanya. Soal harta, saya akan tetap berusaha menafkahi sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab."
Hendrawan mengangguk, lalu ia menepuk pundak Hendra beberapa kali. Matanya pun terlihat berkaca-kaca.
"Bagaimana Sayang, kamu dengar sendiri kan apa yang Hendra bilang?" tanya Hendrawan pada putrinya.
Danisha masih tertegun, ia tampak tidak percaya.
"Jangan dipaksa Om, biar Danisha berpikir dulu. Danisha juga pasti butuh waktu. Saya tidak akan memaksa." ujar Hendra, bijaksana.
Hendrawan kembali mengangguk dan menepuk pundak Hendra dengan penuh kagum.
Kenapa Tuhan rencanakan semua ini? Kenapa Hendra baru utarakan perasaannya pas gue lagi begini?? Apa gue pantas buat lelaki sebaik dia? batin Danisha.
****