
Tak sampai satu jam kemudian Hendra sudah kembali berada di pelataran rumah sakit. Ia bergegas menyusuri koridor untuk menuju ke ruang perawatan sang adik di lantai dua.
Namun ketika Hendra memasuki ruang perawatan sang adik, ia terkejut karena melihat salah satu rekan kerjanya berada di sana sedang menemani Tia.
"Assalamu'alaikum." ucap Hendra.
"Wa'alaikum salam. Alhamdulillah Kak Hendra udah dateng lagi." sahut Tia sumringah.
"Kamu enggak apa-apa kan, Dek?"
Tia menggeleng, "Enggak apa-apa kok, Kak."
"Lu dari rumah, Hen?" tanya Ujang, salah satu rekan kerja Hendra di kantor.
"Iya Jang, ambil baju. Lu kok bisa ada di sini?"
"Gue ditugasin Pak Bos buat jaga di sini, Hen. Katanya tadi adek lu diancam orang."
"Pak Bos??"
"Iya Kak, tadi Mas Igan telepon terus aku cerita kalo Ilona dateng dan ngancam aku. Mungkin Mas Igan yang minta biar Kang Ujang ditugasin ke sini." papar Tia.
"Hmmm ... bisa jadi. Tapi enggak ada yang dateng ke sini lagi kan, Jang?"
"Enggak ada, aman kok."
"Syukur deh. Eh, gue ke kantin dulu ya beli makan siang."
"Gue nitip ya Hen, nasi campur aja sama es teh." ujar Ujang.
"Iya, beres. Dek, kamu sama Ujang dulu ya?"
"Iya Kak."
Hendra bergegas keluar untuk menuju kantin rumah sakit.
*
Pukul tujuh malam, Igan bersama kedua orang tuanya datang berkunjung ke rumah sakit. Mereka membawa parsel buah dan dua kotak bolu coklat dan tiramisu.
"Assalamu'alaikum ...." ucap Bulan ketika Hendra membukakan pintu ruang perawatan itu.
"Wa'alaikum salam ... Wah, ada Pak Bintang, Bu Bulan sama Mas Igan rupanya? Mari-mari, silakan masuk!" Hendra mempersilakan.
"Terima kasih Hendra. Oh iya Tia, gimana kondisi kamu? Maaf ya kami baru bisa jengukin kamu kemari." sapa Bulan seraya melangkah masuk dan mendekati Tia.
"Alhamdulillah mulai baikan kok Bu. Maaf jadi merepotkan semuanya." sahut Tia.
"Jangan sungkan begitu, Tia. Kamu sudah kami anggap keluarga." imbuh Bintang.
Tia dan Hendra tersipu, mereka tak menyangka bahwa bos dan keluarganya itu sangat baik.
"Terima kasih ya Pak, Bu, sudah menyempatkan menjenguk Tia. Mas Igan juga sudah sering datang ke sini." ucap Hendra.
Bintang beserta istri dan anaknya tersenyum ramah pada Hendra lalu mengangguk. Mereka pun berbincang hangat dan santai layaknya sebuah keluarga.
"Oh iya, Ujang tadi sudah datang kemari kan?" tanya Bintang.
"Sudah Pak, tapi tadi jam lima dia pulang. Katanya sesuai perintah dari kantor seperti itu." sahut Hendra.
"Iya, memang saya kasih jam kerja tambahan buat dia di sini supaya Tia tetap ada yang jagain kalau kamu harus ada urusan keluar."
"Iya, terima kasih banyak Pak atas kebijakannya. Dan ... maaf saya belum bisa kembali bertugas di kantor."
"Enggak masalah Hen, kamu urus saja dulu adik kamu supaya cepet pulih dan bisa pulang dari rumah sakit."
Hendra tersenyum, jujur saja ia merasa jadi tak enak hati karena kebaikan yang begitu tulus dari keluarga bosnya.
"Oh iya, besok kan hari libur. Igan boleh nginep di sini enggak malam ini buat nemenin Mas Hendra jagain Tia?" Igan meminta izin pada ayah dan ibunya.
Bintang dan Bulan saling pandang lalu tersenyum.
"Euh ... enggak perlu, Mas! Saya bisa kok jagain Tia sendiri." tolak Hendra dengan terburu-buru.
Bintang dan Bulan mengerutkan dahi saat mendengar penolakan Hendra yang terkesan tak suka dengan niat baik Igan. Namun Bintang langsung teringat oleh ucapan putranya yang bercerita tentang sikap Hendra yang memintanya menjauhi Tia.
Tia pun merasa tak enak hati pada Igan atas penolakan kakaknya itu.
"Kakak?" gumam Tia, coba menegur Hendra.
"Kenapa Hen? Apa Igan ngerepotin kalau dia ikut jagain Tia di sini?" tegur Bintang.
Hendra langsung salah tingkah, ia bingung harus menggunakan alasan apa yang tepat.
"Saya rasa ... Igan justru akan jadi teman ngobrol kamu yang asik lho Hen selama jagain Tia." ujar Bintang.
"Iya Mas, saya juga pengin ikut jagain Tia sebagai penebus kesalahan saya gara-gara lengah waktu jalan bareng Tia." imbuh Igan.
Hendra terdiam, ia merasa jika Igan harus menjauhi sang adik demi keselamatannya.
"Oh iya, tadi waktu Ilona datang ke sini dia ngomong apa aja, Ti?" tanya Bulan.
"Euh ... dia bilang supaya saya jauhin Mas Igan, Bu. Intinya dia ngancam saya, kalo saya enggak jauhin Mas Igan kondisi saya bakal enggak aman katanya." sahut Tia.
"Berani sekali dia datang langsung ke sini dan ancam kamu ya?" Bulan geleng-geleng kepala, heran dengan kelakuan Ilona.
"Tapi saya sudah rekam percakapan tadi waktu dia ke sini, diam-diam saya rekam pakai HP saya. Soalnya saya yakin dia datang kemari punya tujuan tertentu."
"Bisa saya dengarkan hasil rekamannya?" pinta Bintang.
Tia mengangguk lalu mengambil ponselnya yang selalu ia letakkan di sebelah kiri tubuhnya, agar mudah ia raih dan relatif tersembunyi.
Ia memutar audio hasil rekaman percakapannya dengan Ilona pagi tadi di depan Igan dan keluarganya, juga Hendra.
"Apa mendingan Ilona dilaporin aja ke polisi, Bun?" saran Igan.
"Iya, begitu lebih bagus Nak. Hendra bisa ajukan laporan ke polisi supaya Lona tidak bisa berbuat lebih jauh." sahut Bulan.
"Iya, ayah juga setuju. Dia harus dikasih pelajaran supaya jera. Apalagi tadi dia sesumbar kalau enggak takut dibui, coba aja kita lihat bagaimana prakteknya. nanti kalau sudah dijemput polisi. Ya kan??" timpal Bintang.
Igan tersenyum simpul, ia pun membayangkan bagaimana raut wajah mantan rekan duetnya nanti ketika sudah menjadi seorang pesakitan.
"Nah, Mas Hendra kapan mau masukin laporan?" tanya Bulan.
Hendra gelagapan, ia tampak bingung.
"Kakak harus secepatnya buat laporan ke polisi soal Ilona, Kak! Aku enggak mau dia dateng lagi dan berbuat nekat." pinta Tia dengan sangat.
"Tapi ... apa ada jaminan kalau Ilona masuk penjara terus hidup kamu bakal tenang walau tetap dekat sama Mas Igan, Dek?" tukas Hendra yang membuat semua mata menatapnya penuh heran.
"Kak Hendra kok ngomongnya gitu sih??" tegur Tia dengan mata membulat menatap Hendra.
"Hendra, saya paham maksud ucapan kamu. Sekarang juga, saya akan sampaikan sebuah rahasia yang selama ini saya pendam." ucap Bintang dengan tenang namun berwibawa.
"Ra-rahasia??" Hendra mengulangi kata yang menarik perhatiannya.
"Ya. Sebetulnya ... kamu dan Tia itu adalah anak dari sahabat baik saya sejak kuliah, Taufan."
Bintang mulai menceritakan mengenai hubungan persahabatannya dengan mendiang ayah Hendra dan Tia, semua hal yang selama ini masih ia simpan rapat-rapat atas kesepakatan dengan mendiang Taufan.
"Ketika saya tau Igan mulai menaruh hati pada Tia, saya tidak melarang karena saya tau kepribadian kamu dan adik kamu seperti apa. Saya juga kenal betul sifat dan karakter ayah kalian, jadi ... tidak ada salahnya kalau Igan dan Tia coba menjalani hubungan yang lebih dari sekedar teman." Bintang menghela napas sejenak lalu menatap Igan, Hendra dan Tia secara bergantian.
"Tapi ... rupanya kamu terlalu khawatir kalau Tia akan berada dalam bahaya kalau terus dekat dengan Igan, betul begitu kan, Hen? imbuh Bintang tetap dengan nada santai, tenang namun penuh wibawa.
Hendra mengangguk pelan, " Saya cuma tidak mau adik saya kenapa-napa, Pak. Karena saya rasa, pasti akan selalu ada orang yang tidak suka dengan kesuksesan Mas Igan dan berusaha menghancurkannya. Saya takut ... Tia bakal jadi sasaran terus." paparnya.
Bintang tersenyum, "Kamu memang seorang kakak yang luar biasa hebat dan bertanggung jawab, Hendra! Saya bangga melihat sikap kamu, dan pasti orang tua kalian juga bahagia melihat kerukunan kalian. Tapi ... percayalah, Igan pasti akan selalu berusaha menjaga Tia."
"Iya Mas, saya juga enggak mau kalau Tia kenapa-napa lagi karena saya. Tapi bukan berarti saya rela jauh dari Tia."
Hendra tertegun, ia menoleh ke arah sang adik yang duduk bersandar di bantal di atas ranjang rumah sakit.
"Kalau kamu sendiri bagaimana, Dek??" tanya Hendra pada Tia.
Tia sontak celingukan dan salah tingkah.
"Ba-bagaimana apanya, Kak??" Tia pura-pura tidak mengerti.
"Lho ... jangan pura-pura enggak ngerti lah Dek. Kita udah ngobrol panjang lebar lho ini!" tegur Hendra.
Tia meringis, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Jadi gimana dengan kamu, Ti? Apa kamu masih mau dekat dengan Igan atau lebih nyaman menjauh?" Bulan ikut angkat bicara sambil menatap dalam pada manik mata gadis pujaan sang putra.
Lagi-lagi Tia merasa salah tingkah, sikapnya tampak gugup. Ia membetulkan rambutnya yang tergerai ke muka, lalu ia selipkan di belakang telinga.
"Sa-saya ... jujur saja ingin tau lebih lanjut dulu tentang perasaan Mas Igan ke saya bagaimana. Soalnya selama ini, kami baru sekedar dekat saja. Mas Igan belum pernah sekalipun mengutarakan perasaan ke saya." tutur Tia dengan hati-hati.
"Iya Tia, saya memang belum pernah nembak kamu karena saya masih coba memantapkan hati. Tapi sekarang, hati saya sudah yakin memilih kamu." sahut Igan.
"Ma-maksud, Mas Igan??" Tia coba ingin mendapat kejelasan.
Igan beranjak dari duduknya lalu berdiri tepat di depan ranjang Tia. Ia menatap gadis manis nan cerdas itu dengan lekat, seakan tak ingin berpaling lagi darinya.
"Hari ini, di depan kedua orang tua saya dan kakak kamu, saya mau meminta kamu jadi wanita istimewa di hati saya. Saya mau, kita jalani hubungan yang istimewa lebih dari sekedar teman. Kamu mau enggak jadi pasangan hidup saya nantinya, Celestia Amanda??" ucap Igan, mantap sembari terus menatap lekat gadis pujaannya.
Bulan dan Bintang tersenyum menyaksikan sang putra yang mantap mengutarakan perasaan dan niat baiknya pada Tia. Hendra pun sebetulnya ikut bahagia menyaksikan itu semua, namun sebagai orang yang bertanggung jawab pada diri Tia, dia tidak mau gegabah.
Wajah Tia sontak merona, ia tersenyum malu dan menunduk untuk menyembunyikan gejolak rasa di hatinya.
"Bagaimana Tia, bilang saja 'Iya' kalau kamu juga ada perasaan yang sama dengan putra saya. Tapi kalau kamu rasa Igan bukan pilihan yang baik, tolak saja. Tidak ada paksaan buat kamu mengiyakan." ujar Bintang, bijaksana.
"Gimana Kak Hendra?" tanya Tia, lirih.
"Jangan tanya kakak, tanya hati kamu Dek. Kan kamu yang mau menjalani." sahut Hendra dengan menahan senyum.
Tia terdiam sejenak, ia berulang kali mengatur napasnya yang memburu karena rasa gugup.
"Bismillahirrohmanirrohim, iya Mas saya mau." jawab Tia, mantap dengan senyum manis membingkai wajahnya.
"Alhamdulillah ...." ucap Igan penuh syukur.
Bintang dan Bulan tersenyum bahagia, begitu pun dengan Hendra.
"Nah, mulai sekarang hubungan kalian sudah punya status istimewa. Tapi ingat ya, tetap jaga diri masing-masing. Ingat norma, adab dan etika di negara dan agama kita. Tunggu sampai halal. Oke?" nasihat Bulan untuk Igan dan Tia.
Igan dan Tia tersenyum, mereka mengangguk dengan mantap dan kompak.
Taufan, anak-anak kita sudah resmi jadian. Aku yakin kamu senang kan? batin Bintang sembari tatapannya menerawang ke langit-langit kamar tersebut.
****