
Menyadari Tia yang masih menatapnya dalam, Ilona merasa tak terima. Ia pun mendekati Tia dan mulai mengomel.
"Ngapain lu ngeliatin gue mulu??" Hardik Ilona kepada Tia.
Hendra segera mengamankan Tia di belakang punggungnya lalu menatap tajam ke arah Ilona.
"Sebaiknya kamu tanggung jawab atas insiden ini. Gara-gara kamu, aktivitas kami semua jadi terhambat." Tegas Hendra.
Ketika Ilona hendak menjawab, Tia meminta supaya semuanya menepi agar tak menimbulkan kemacetan lagi.
Beberapa pengendara yang tidak mengalami luka ataupun kerusakan kendaraan memilih untuk segera melanjutkan perjalanan.
Namun Hendra dan Tia tidak langsung pergi karena kondisi motor mereka rusak dan harus dibawa ke bengkel.
"Kamu punya SIM enggak?" Tanya Hendra kepada Ilona.
"Ya punya lah!" Sahutnya, ketus.
"Coba lihat!" Pinta Hendra.
Ilona menatap tajam ke arah Hendra, lalu mulai sibuk mencari-cari kartu identitas yang diminta.
"Gimana, ada enggak SIM-nya?" Tegur Hendra yang berwajah ganteng dan manly itu.
"Ada kok, tapi enggak tahu nih keselip di mana?!" Sahut Ilona, mulai panik.
"Kamu habis mabuk ya?" Celetuk Tia, dan sontak membuat Ilona melotot ke arahnya.
"Oups!! Aku benar ya ngomongnya?" Ledek Tia.
"Udah Dek, sssttt ...!!" Ujar Hendra lirih, namun Tia justru tersenyum puas.
Tia kemudian coba melongok ke dalam mobil Ilona, matanya tampak sedang menelisik kondisi di dalam mobil.
"Heh, ngapain lu lihat-lihat mobil gue? Mau nyuri ya?!" Hardik Ilona kepada Tia seraya mendekat.
Tangan kanan Ilona tampak mencengkeram lengan Tia namun Tia dengan cepat menghempaskan tangan Ilona dan menatapnya dengan tajam.
"Coba kamu cari di mobil, barangkali barang yang kamu cari ada di dalam." Ujar Tia dengan nada tegas tanpa memalingkan tatapannya dari wajah Ilona.
Ilona tak menggubris omongan Tia, ia tetap saja mengorek-orek isi tasnya.
"Dibilangin enggak percaya!" Celetuk Tia.
"Bisa diam enggak?! Ilona kembali menghardik.
"Jangan marah-marah terus Mbak, nanti suaranya serak loh kalau nyanyi. Kenapa enggak coba dilihat aja di dalam mobil, siapa tahu memang jatuh?" Timpal Hendra coba menahan emosinya.
Ilona mendengus kesal, lalu dengan kasar membuka pintu mobilnya dan mulai mencari benda pipih yang hanya sebesar genggaman tangan, namun sangat penting untuk izin berkendara itu.
Dan benar saja apa yang dikatakan Tia, SIM yang Ilona cari-cari beserta dompetnya ternyata ada di dalam mobil, ada di jok belakang.
Ia pun segera memungut dompetnya lalu menyodorkan SIM kepada Hendra.
"Nih, lihat kan?!" Ujarnya sembari menyodorkan.
Hendra memeriksa SIM itu lalu memasukkannya ke dalam saku.
"Eh, apa-apaan lu? Balikin enggak SIM gue!"
"Kalau mau SIM ini balik, ikut kami ke bengkel untuk beresin motor-motor yang rusak itu." Tegas Hendra sembari menunjuk ke arah motornya dan dua motor lagi yang tampak rusak.
Ilona kemudian menoleh ke arah Hendra dan Tia, lalu menudingkan jari telunjuknya ke arah mereka.
"Kalian mau meras gue?"
"Meras gimana sih Mbak, orang jelas-jelas cuma mau minta tanggung jawab! Bukan mereka doang kan yang minta ganti, kami juga! Katanya artis, mau kita beritain di wartawan apa gimana nih? Apa mau kita laporin polisi sekalian??" Desak salah seorang pengendara motor yang juga jadi korban insiden itu.
"Lu pikir gue enggak punya duit, hah?? Gue pasti bayar, berapapun!"
"Ya udah kalau emang punya duit, ayo ke bengkel sekarang!" Tukas Tia.
"Kalian ini pasangan nyebelin ya? Beneran cocok!" Sahut Ilona.
Tia dan Hendra saling pandang lalu berusaha menahan tawa.
Pasangan jidat lu, orang kita kakak adik juga! Batin Tia berkata.
Akhirnya mereka bersama menuju sebuah bengkel terdekat. Ilona tampak sangat kesal dengan Tia dan Hendra, terlebih pada Tia. Ilona menganggap Tia menjadi biang kesialannya.
"Itu cewek emang pembawa sial! Waktu itu dia naik motor buru-buru dan nyerempet mobil Igan, sampai-sampai Igan cuekin gue! Sekarang giliran gue yang berurusan langsung sama dia, UH!!!" Gerutu Ilona sambil memukul setir.
Ketika ia sedang menyetir, tiba-tiba ponselnya berdering. Ilona dengan malas mengambil ponsel yang ia letakkan begitu saja di atas dasbor mobilnya.
"Ya Om?" Ucap Ilona saat menerima panggilan telepon yang ternyata dari Om Bono.
"Kamu di mana Lon?"
"Di jalan, Om."
"Euh? Lokasi acara apa, Om?"
"Loh, kamu lupa? Tadi Igan telepon ke Om nanyain kamu, katanya kamu diteleponin enggak respon terus. Kalian kan mau manggung di mal Artha buat acara launching produk?"
Seketika Ilona terkejut dan mengerem tiba-tiba. Ia baru ingat kalau pagi itu ada acara manggung di mal Artha bersama Igan, karena jadwalnya diubah sehari lebih cepat.
"Lon? Kamu dengar kan?"
Belum hilang rasa panik Ilona karena lalai mengingat jadwal, ia harus kembali terkejut kala mendengar rentetan bunyi klakson yang memekakkan telinga dari para pengendara di belakang mobilnya.
Ditambah lagi seorang pengendara motor tampak menggedor-gedor kaca mobilnya dari sebelah kiri sambil menatap dengan emosi.
"Mbak, turun!" Seru pengendara motor itu sambil terus menggedor kaca mobilnya.
"Apaan lagi sih?!" Gerutu Ilona sambil mengarahkan setir mobilnya untuk menepi.
"Ada apa sih??" Tukas Ilona ketika keluar dari dalam mobil sambil menggenggam ponselnya.
"Lihat nih slebor motor saya, pecah gara-gara tadi situ ngerem mendadak." Ujar lelaki berusia empat puluh tahunan yang tadi menggedor-gedor kaca mobil Ilona.
"Lona? Ada apa?" Tanya Om Bono yang masih tersambung via telepon.
"Sebentar Om, ini lagi ada masalah sedikit."
Ilona menghela napas yang terasa sesak di dadanya, lalu ia hembuskan dengan cepat seraya menunduk dengan kedua tangan memegang kepala, ia tampak sangat tertekan.
"Gimana urusannya nih?" Tegur lelaki itu.
"Ya udah ikut saya ke bengkel, sekalian sama motor-motor yang di depan itu tuh!"
Lelaki itu menoleh ke arah Hendra, Tia dan dua pengendara motor lain yang berada beberapa meter di depan, tampak sedang menunggu Ilona untuk kembali jalan.
"Habis nabrak motor itu juga ya?" Tanya lelaki itu, heran.
"Iya, kenapa? Mau ikut enggak? Saya banyak acara nih!"
"Emang situ aja yang sibuk, saya juga!" Sahut lelaki itu, tak mau kalah.
"Saya kan artis, jelas lebih sibuk lah." Ujar Ilona, sombong.
"Bodo amat! Situ juga bukan artis idola saya, yang penting sekarang urusan motor saya beres. Saya mau antar barang nih!"
"Alah, timbang slebor pecah doang! Ya udah ayo!"
Ilona kembali masuk ke dalam mobilnya dan melaju mengikuti motor-motor yang ada di depan menuju bengkel.
"Kamu nabrak orang Lon?" Tanya Om Bono.
Ilona terkejut saat mengetahui masih tersambung telepon dengan Om Bono.
"Oh, i-iya Om. Ini mau ke bengkel, biar enggak pada rewel tuh orang-orangnya. Nyebelin!"
"Mau ke bengkel mana?"
"Belum tahu Om, lagi ngikutin orang-orang yang naik motor tuh di depan."
"Ya udah kamu hati-hati ya? Jangan lupa acaranya nanti jam sebelas."
"Iya Om."
Panggilan telepon pun berakhir. Ilona terus mengikuti motor Hendra juga yang lain, dan akhirnya tiba di sebuah bengkel yang cukup besar.
Ilona keluar dari dalam mobil lalu menuju ke bagian kasir bengkel tersebut.
"Mbak, itu motor empat saya yang urus biayanya tapi saya enggak bisa nunggu di sini, saya ada acara. Ini kartu nama saya, nanti telepon aja sekalian kasih nomor rekening. Uangnya saya transfer nanti." Ujar Ilona seraya menyodorkan kartu nama.
"Oh, maaf Mbak di sini tidak bisa seperti itu. Sekarang yang datang harus langsung bayar di tempat, tidak bisa sistem transfer." Jawab kasir itu.
"Loh, kenapa enggak bisa? Ini kan bengkel besar, bisa lah sistem begitu? Atau ... mana manajernya sini, saya mau ngomong!"
"Maaf Mbak, enggak bisa. Itu cuma bisa untuk member tetap bengkel ini."
"Saya ini artis loh Mbak, kenal saya kan? Saya Ilona Lupita, penyanyi yang terkenal partner duetnya Dirgantara. Tahu dong pasti?"
"Iya Mbak, saya tahu tapi maaf soal sistem pembayaran yang tadi Mbak minta itu tidak bisa kami layani."
Masa gue harus jadi member di bengkel ini sih? Kan jauh dari rumah gue, males!! Gerutu Ilona.
Ilona mendengus kesal karena ia tak memegang uang tunai di dompetnya, jadi tidak bisa memberi uang langsung kepada para 'korban' sehingga ia bisa segera pulang dan bersiap menuju ke acara.
Lengkap banget kesialan gue hari ini, terus gimana dong? Acara satu setengah jam lagi mulai, dan gue masih berantakan gini! Gerutu Ilona dalam hati.
Tia yang melihat Ilona keluar dari dalam setelah bicara dengan kasir dengan wajah yang lesu, coba menelisik. Tiba-tiba intuisinya menangkap sesuatu dari diri Ilona.
***