
Hari istimewa bagi perusahaan Erlangga pun tiba. Sejak pagi suasana kantor sudah tampak meriah dengan banyaknya pernak-pernik yang dipasang di penjuru gedung.
Beberapa staf yang didapuk selaku panitia acara tampak sibuk mempersiapkan segala sesuatunya di area lobi kantor agar acara tersebut dapat berjalan lancar.
Semua staf duduk di kursi yang telah disediakan tanpa mengelompokkan divisi. Tia bersama Jeni dan Tami duduk bersebelahan, lalu Rey berada agak ke belakang namun ia tetap dapat melihat Tia dengan jelas. Sedangkan Teguh dan Gugun mewakili divisi mereka untuk menjadi panitia acara.
Acara dimulai pukul sembilan pagi dengan diisi beragam acara, mulai dari sambutan-sambutan, penampilan dari para pengisi acara yang diselingi acara makan-makan, lalu diakhiri dengan doa penutup.
Bintang dan Bulan tampak hadir selaku pemilik sekaligus pendiri perusahaan tersebut. Setelah memberi kata sambutan, Bintang turut duduk bersama para stafnya untuk menikmati rentetan acara yang disuguhkan.
Riuh tepuk tangan dan sorak sorai para staf pun pecah ketika Igan ikut hadir dalam acara tersebut. Ya, Igan hadir tentu saja karena ia adalah putra tunggal sang pemilik perusahaan sekaligus ia ingin menyumbangkan suara emasnya.
Tia pun tampak antusias melihat penampilan seorang Dirgantara Erlangga yang tak hanya rupawan dan bersuara emas, namun ia juga berhati baik.
Ya Allah, Pak Bintang pasti bangga banget ya punya anak sebegitu hebatnya! Udah tampan, badannya tinggi atletis, senyumnya bikin klepek-klepek, sorot matanya teduh, terus suaranya bagus pula! Andaikan gue bisa punya suami kayak Mas Igan .... Batin Tia, berkhayal.
"Ti, kamu tau enggak itu siapa?" Tanya Jeni saat Igan sedang tampil menyanyikan lagu.
"Tau, itu Mas Igan kan?" Sahut Tia tanpa memalingkan wajahnya dari Igan.
"Iya, dia itu putra tunggal big boss kita loh! Calon pewaris perusahaan. Semoga aja, kalo dia udah jadi bos kita ... aku belum keburu pensiun." Seloroh Jeni sambil tersenyum.
Tia tertawa mendengarnya, lalu kembali fokus menikmati penampilan pria tampan itu.
Rey diam-diam memperhatikan Tia yang tampak tersihir oleh kehadiran Igan, ada sorot penuh cemburu di matanya. Dengan segera, ia berjalan mendekat ke arah kursi dimana Tia berada lalu duduk tepat di sebuah kursi yang tengah ditinggal pemiliknya.
Tia agak terkejut ketika menyadari tiba-tiba Rey sudah berada di sampingnya, sedangkan Tami dan Jeni yang berada di sisi lainnya tampak tak memperhatikan.
"Bagus ya suaranya?" Celetuk Rey pada Tia.
"Iya Pak." Sahut Tia.
"Kamu ... suka?" Tanya Rey sambil menatap Tia, dalam.
Tia yang tadinya cuek mendadak bingung dan salah tingkah. Belakangan, Rey sering menatapnya seperti itu. Sebuah tatapan dalam dan penuh makna, yang biasanya hanya dilakukan oleh seseorang yang memiliki perasaan khusus.
Namun gestur tubuh Tia menyiratkan kata 'iya' atas pertanyaan Rey barusan. Ia tak dapat menyembunyikan rasa kagum berlebihnya itu pada sang artis.
Rey menghela napas dalam lalu mengarahkan pandangannya ke arah Igan, kemudian ia hembuskan dengan perlahan.
Tia terdiam. Ia sepertinya semakin menyadari bahwa Rey memiliki perasaan khusus terhadapnya, karena itu bukan kali pertama baginya menerima perlakuan seperti itu dari seorang pria yang diam-diam menaruh hati padanya.
"Ti, nanti jangan pulang dulu ya? Saya mau bicara, penting." Pinta Rey.
DEG !!!
Pak Rey mau ngomong apa ya? Batin Tia, penasaran.
Tia hanya mengangguk. Namun tiba-tiba ia merasa agak pening, dan anehnya ia sudah berada di tempat yang berbeda.
Tia celingukan karena bingung sedang berada di mana, karena yang ia lihat saat itu bukanlah keriuhan pesta di kantornya, melainkan sebuah kamar di dalam rumah bercat coklat muda dengan dua pilar besar bak penopang di bagian depan.
Gue di mana ini? Tanya Tia dalam hati.
Ia berjalan mendekati sebuah ranjang bergaya klasik, lalu melihat seorang wanita muda sedang terbaring lemah tak berdaya.
Wajahnya yang tirus dan pucat cukup membuat Tia yakin kalau ia sedang menderita sakit yang cukup serius.
Tia menatap wanita yang sejatinya cantik, dengan hidung mancung dan dagu bak lebah bergantung itu. Ia menatapnya dengan lekat.
Siapa dia? Tanya Tia dalam hati.
Tetapi ia terus berpikir, kenapa wanita itu muncul dan menyebutkan namanya kepada Tia padahal mereka sama sekali tak saling kenal.
Pasti ada sesuatu yang berhubungan sama wanita itu. Pungkas Tia dalam hati.
Tia kembali merasa pening, lalu ia merasa semua terasa gelap dan berat. Samar-samar suara gaduh merambat ke indera pendengarnya, ia pun mendengar ada suara-suara yang terus memanggilnya.
"Tia, Tia, sadar Tia! Kamu kenapa? Tia, bangun!" Suara itu terdengar jelas di telinga, disertai bau minyak yang mengandung aromaterapi yang menusuk hidungnya.
Dengan rasa yang berat Tia membuka matanya, semua masih terlihat samar. Ia kembali memejamkan mata, lalu berusaha untuk kembali fokus agar dapat melihat dengan baik.
"Puji Tuhan kamu udah sadar Ti! Kita semua khawatir sama kamu." Ucap Jeni, bersyukur.
Tia menoleh sekeliling, ia bingung kenapa semua mata jadi tertuju padanya?
Ia berusaha bangkit dari posisinya yang terbaring untuk duduk.
"Kamu kenapa Tia? Ada yang sakit?" Tanya Rey dengan lembut.
"Kamu minum dulu ya?" Bujuk Tami seraya menyodorkan segelas teh manis hangat pada Tia.
Tia masih membisu dan tampak kebingungan. Ia hanya menuruti Tami untuk meneguk minuman hangat itu.
"Gimana, udah mendingan?" Tanya Tami.
Tia mengangguk namun tetap celingukan.
"Kamu kenapa sih Ti? Kok tahu-tahu pingsan gitu?" Tanya Jeni.
"Kita ke klinik aja ya biar kamu diperiksa sama dokter." Ajak Rey.
Namun Tia dengan cepat menolak dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu mau saya antar pulang aja, Ti?" Tanya Rey, masih dengan suara lembut.
"Ng-enggak usah Pak, saya enggak apa-apa kok." Tolak Tia.
"Tapi kamu tiba-tiba pingsan gitu loh tadi, saya khawatir." Ucap Rey penuh kesungguhan.
Tami dan Jeni saling melempar senyum penuh arti saat melihat reaksi Rey yang tampak begitu cemas dengan kondisi Tia.
"Enggak Pak, beneran saya enggak apa-apa kok." Elak Tia.
Dari luar ruang istirahat itu, tampak para staf yang tadi mengerubungi Tia perlahan mulai menyibak dan menyingkir, seperti sedang memberi jalan kepada seseorang.
Tanpa diduga, tampak Bintang dan Igan datang menuju tempat di mana Tia sedang berada.
Tia terkejut bukan main, jantungnya berdegup kencang kala Igan semakin mendekat ke arahnya.
"Rey, kenapa anak buahmu?" Tanya Bintang kepada Rey.
"Sa-saya juga tidak tahu Pak, tiba-tiba saja Tia pingsan." Sahut Rey.
"Apa kamu perlu dibawa ke rumah sakit, Tia? Ada keluhan apa yang kamu rasa sekarang?" Tanya Bintang langsung kepada Tia.
"Ti-tidak ada Pak, saya merasa baik-baik saja. Tadi itu ... saya cuma merasa pusing." Sahut Tia dengan sedikit tertunduk.
Tia terus menunduk dan tanpa ia sadari ada dua pasang mata yang tengah menatapnya penuh simpati sekaligus empati padanya.
***