Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Lampu Hijau


Pernyataan dari Kay pun ramai diberitakan di berbagai media, membuat semua pihak kembali tercengang. Mereka tak menyangka jika seorang produser musik terkenal sekaligus pemilik label rekaman bonafide berbuat hal sepicik itu.


Ilona dan Yongki pun tak luput dari cibiran para netizen yang memenuhi kolom komentar di media sosial mereka masing-masing. Kata-kata pedas menjadi santapan mata mereka ketika membaca beragam komentar tersebut.


"Kurang ajar si Igan!!" gumam Yongki dengan geram.


*


Sementara itu, Igan yang sudah membuat laporan ke pihak berwajib saat pulang dari acara klarifikasi kemarin, sejenak bisa bernapas lebih lega.


Ia sedang duduk santai sambil menonton berita di televisi dengan didampingi sang bunda.


"Alhamdulillah ya Bun, masalah bisa cepat selesai. Walaupun belum bener-bener selesai, tapi paling enggak biang keladi dari masalah itu udah ketauan." ucap Igan.


"Iya Nak, tinggal tunggu proses hukumnya bagaimana. Tapi bunda yakin, mereka pasti dapat ganjaran." sahut Bulan.


"Kay gimana ya, Bun? Apa dia juga ikut diseret ke meja hijau walaupun Igan udah cabut laporan buat dia?" tanya Igan.


"Dia juga bakal dimintai keterangan oleh polisi, dan kalau memang dia dianggap bersalah, mungkin bakal bernasib sama."


Igan menghela napas, "Setiap perbuatan pasti ada konsekuensinya ya, Bun?"


Bulan tersenyum dan mengangguk, "Itulah kenapa kita harus hati-hati dan berpikir dulu sebelum bertindak, supaya enggak menyesal." sahut Bulan sembari mengelus pundak putranya.


"Iya Bun." Igan pun tersenyum.


"Oh iya, rencana kamu selanjutnya apa Nak? Nama baik kamu kan sudah kembali bersih, mungkin tawaran-tawaran manggung, rekaman, atau yang lain bakal dateng lagi, Nak!" tanya Bulan.


Igan terdiam sejenak, "Igan ... kayaknya mau coba kerja di kantornya Ayah dulu deh, Bun. Igan masih kecewa di dunia hiburan, orang-orang yang awalnya percaya banget sama Igan tapi banyak yang gampang oleng gara-gara berita yang belum tentu bener!" sahutnya, kecewa.


Bulan kembali tersenyum, "Ya sudah, Ayah juga pasti seneng kalau tau kamu mau coba mengenal dunia bisnis. Kamu kan memang harusnya belajar memimpin perusahaan Nak supaya bisa mewarisi usahanya Ayah."


"Iya, Bun. Hmmm ... kalau Igan sekarang ke kantornya Ayah, gimana Bun?"


Bulan terkejut, "Serius? Kenapa kamu antusias banget sekarang?" tanya Bulan dengan senyum mengembang.


Igan mengangguk, "Daripada di rumah aja, bosen Bun! Lagian Igan mau ketemu ... eh, enggak-enggak. Enggak jadi."


Igan langsung membungkam mulutnya sendiri, sebelum akhirnya ia tersenyum salah tingkah.


"Hayo ... mau ketemu siapa? Kok enggak diterusin ngomongnya?" ledek Bulan.


Igan mengulum senyum, jelas sekali pemuda tampan itu sedang salah tingkah di depan sang bunda.


"Ng ... enggak kok Bun, bukan siapa-siapa." elak Igan, tersipu.


"Ayo cerita, masa mau umpet-umpetan sama bunda?" desak Bulan dengan lembut.


Igan terdiam sejenak, ia dan bundanya sling menatap.


"Hmmm ... Bunda inget enggak, waktu Igan bilang ... pengin deket sama gadis, yang anak temennya Ayah?" tanya Igan, hati-hati.


Bulan mengerutkan alisnya, berusaha mengingat apa yang dimaksud oleh sang putra.


"Siapa ya? Bunda kok lupa, Nak?" Bulan balik bertanya.


Igan tersenyum, "Tia, Bun ... yang kerja di kantornya Ayah juga, inget kan?"


"Oh ... Tia? Iya-iya, kalau dia sih jelas bunda kenal dan inget. Dia kan yang udah bantu kita biar kamu cepat terlepas dari pengaruh Ilona." sahut Bulan, sumringah.


Igan kembali terlihat sumringah


"Jadi kamu mau ketemu sama Tia? Makanya pengin ke kantornya Ayah?" Bulan kembali bertanya.


Igan tersenyum, "Boleh kan, Bun?" bujuk Igan.


"Boleh ... tapi hati-hati ya?" sahut Bulan.


"Pasti, Bun. Ya udah, Igan siap-siap dulu ya Bun?"


"Iya Nak ... Bunda kasih tau Ayah ya kalau kamu mau ke kantor?"


"Jangan Bun, jangan! Enggak usah, biar jadi kejutan aja buat Ayah." cegah Igan, terburu-buru.


"Oh? Oke ...." timpal Bulan, tersenyum.


"Ya udah Bun, Igan jalan sekarang ya?" pamit Igan seraya mencium punggung tangan bundanya.


"Hati-hati ya, Nak? Salam buat Ayah dan Tia." pesan Bulan.


Bulan tergelak, "Ah kamu nih!" timpal Bulan dengan tersipu.


Igan ikut tergelak sebelum akhirnya ia beranjak keluar mengendarai mobilnya menuju kantor sang ayah.


Setelah berkendara beberapa lama, akhirnya Igan sampai di kantor ayahnya. Dengan memakai baju kasual dipadu celana jeans, bertopi hitam dan berkaca mata, ia tampak sangat mempesona.


Ia berjalan menyusuri area parkir menuju ke tangga. Igan memang lebih suka menaiki tangga daripada lift jika memang tidak sedang terburu-buru.


"Selamat pagi, Mas Igan?" sapa Hendra yang saat itu sedang bertugas.


Igan menoleh karena ia tidak melihat Hendra yang sedang berdiri di pojok area parkir.


"Eh, Mas Hendra? Pagi juga, maaf saya enggak merhatiin kalo Mas Hendra lagi berdiri di situ. Apa kabar, Mas?" sahut Igan seraya mengulurkan tangan, mengajak Hendra berjabat tangan.


Hendra menyambut jabat tangan Igan, "Alhamdulillah baik, Mas. Tumben ke kantor, mau ketemu Pak Bintang ya?"


"Hmmm ... iya Mas. Oh iya, Tia masuk kan hari ini?"


Hendra mengerutkan dahi, "Masuk kok, memangnya ada apa Mas?"


"Ah enggak, enggak apa-apa kok. Tanya aja. Ya sudah, saya naik dulu ya, Mas?" pamit Igan dengan ramah dan sopan.


"Silakan Mas, silakan." sahut Hendra.


Igan kembali melangkah masuk ke area gedung dan menapaki anak tangga satu persatu hingga menuju ke lantai dua, dimana ruang kerja sang ayah berada.


Banyak yang menyapa Igan dengan ramah saat berpapasan, karena Igan memang orang yang baik, ramah dan sopan.


Igan berdiri di depan pintu kayu berukuran besar dan tinggi dengan ukiran di sebagian sisinya.


Tangan kanannya mulai mengetuk pintu tebal itu tiga kali. Terdengar sahutan suara ayahnya yang penuh wibawa dari dalam ruangan.


Igan membuka pintu lalu melangkah masuk, tampak sang ayah tengah fokus menatap ke layar komputernya.


"Assalamu'alaikum, Yah. Lagi sibuk ya?" sapa Igan.


Bintang mendongak lantaran mendengar suara putra semata wayangnya. Senyuman pun terukir di wajah tampannya.


"Eh, kamu Nak? Kok enggak ngabarin ayah kalo mau dateng?" sahut Bintang, sumringah.


Bintang beranjak menyambut kedatangan putranya, "Sini duduk, kamu mau bantuin ayah kerja?" goda Bintang.


"Hmmm ... kalo boleh." sahut Igan cengengesan, membuat Bintang tertegun sejenak tak percaya.


"Boleh banget lah!! Ayah malah seneng kalau kamu ikut bergabung di perusahaan ini, mau enggak mau ... kamu juga bakal mewarisi semua ini, Nak! Jadi kamu ...."


"Iya Yah, iya ... Igan juga udah mulai tertarik kok belajar bisnis, ajarin Igan ya Yah?" sahut Igan dengan lembut, memotong kalimat sang ayah.


"Iya, pasti ayah bimbing kamu. Jangan khawatir. "


Ayah dan anak itu langsung berbincang hangat dan seru, banyak hal yang mereka perbincangkan hingga saat sore tiba dan jam kantor hari itu usai.


"Kamu mau pulang bareng ayah kan, Nak?" tanya Bintang seraya fokus menyimpan file di perangkatnya.


"Hmm ... Igan enggak langsung pulang deh kayaknya."


"Lho, memangnya mau kemana?"


"Igan mau ... ketemu seseorang dulu, Yah. Boleh kan?"


"Siapa? Dimana?"


"Tia, Yah." sahut Igan, malu-malu.


"Oh ... Tia? Rupanya ada orang lain yang mau kamu temui di sini selain ayah ya?" Bintang menggoda putranya.


"Euh ... hehehe, tau aja sih Yah?" Igan tertawa dengan pipi memerah karena malu.


"Ya sudah sana. Tapi kamu hati-hati ya? Jangan pulang malem-malem." pesan Bintang, mempersilakan.


"Makasih ya Yah? Igan jalan dulu. Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikum salam ...."


Keliatannya anakku ada hati sama anakmu, Fan. Kalau memang mereka saling cinta, aku mendukung hubungan mereka. Kamu juga pasti senang kan? batin Bintang, seolah berbicara dengan mendiang Taufan, ayah Tia.


****