Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Ingin Berpisah


Sesampainya di rumah, Tia mengetuk pintu dengan keras hingga membuat Hendra membuka pintu dengan terburu-buru.


"Iya-iya, sebentar ...!!" seru Hendra sembari berlari kecil dari ruang tengah.


Hendra terkejut ketika melihat sang adik sudah kembali dengan wajah yang kesal.


"Kamu kok udah pulang, Dek? Pak Rey mana, kok kamu sendirian?" tanya Hendra sambil melongok ke luar.


"Nanti aja Kak aku ceritain." sahut Tia sembari ngeloyor masuk ke kamarnya.


Terdengar suara pintu kamar yang ditutup dengan keras oleh Tia, membuat Hendra merasa yakin kalau ada sesuatu yang tidak beres antara adiknya dan Rey.


Hendra beranjak masuk setelah menutup dan mengunci kembali pintu utama rumah itu. Ia duduk di ruang tengah yang berbatasan langsung dengan dinding kamar, berharap ia bisa mendengar kalau-kalau sang adik sedang menangis.


Namun tak ada suara tangisan, atau hardikan dari Tia. Tak lama kemudian justru pintu kamar Tia terbuka dan sang adik tampak keluar sudah dengan pakaian santai sambil menggenggam sebuah benda.


Hendra segera bangkit dan bertanya pada sang adik.


"Mau ngapain, Dek?"


"Aku mau buang kalung ini, Kak." sahut Tia sembari menunjukkan kalung pemberian Rey di tangannya.


"Kenapa dibuang?"


"Kalung ini punya Susan, mendiang istri Rey. Dia yang selama ini selalu muncul di mimpi aku, Kak. Dia marah sama aku karena enggak suka aku dekat sama Rey."


"Kenapa enggak kamu kembaliin aja ke Pak Rey?"


"Aku enggak mau ketemu dia lagi, Kak."


"Mau enggak mau, kamu masih terus ketemu dia di kantor, Dek. Kalian kan satu divisi."


"Aku mau resign!"


Hendra tersentak, "Jangan gegabah kamu, Dek! Jaman sekarang cari kerjaan tuh susah! Masa cuma soal pribadi begitu bikin kamu ngelepasin pekerjaan??"


"Kalo aku enggak resign, toh nantinya juga kemungkinan besar Pak Rey yang bakal depak aku dari divisi itu, Kak. Itu justru lebih tidak terhormat daripada aku yang ngajuin resign."


Hendra terdiam sejenak, "Sebenernya kalian kenapa sih? Tadi berangkatnya baik-baik aja, kok pulang jadi kayak perang dunia ke tiga??"


Tia pun mulai bercerita runtutan yang tadi ia alami di rumah Rey, Hendra menyimak dengan seksama.


"Selama ini ... kamu belum pernah ngalami kejadian kayak gitu kan, Dek? Padahal ... tadi Kakak cuma becanda loh ke Pak Rey, tapi malah kejadian beneran." ujar Hendra.


"Becanda apa?"


"Kakak tadi sempet becandain Pak Rey, bilang kalo kamu itu suka kesurupan kalo di tempat yang baru dan ada sesuatunya. Gitu ...."


"Ya ... itu sih kebetulan aja, Kak. Mungkin emang Susan masih belum rela gara-gara merasa di saat-saat akhir hidupnya justru suaminya enggak peduliin dia. Apalagi ... kalung kesayangannya malah dikasihin ke cewek lain."


"Terus dia merasuki kamu? tapi kamu bisa tetep denger dan sadar, Dek?"


Tia mengangguk, "Dia enggak sepenuhnya menguasai aku, Kak. Aku enggak mau, aku cuma kasih dia ruang untuk bisa menyelesaikan urusannya sama Rey. Habis itu ya ... udah, dia pergi. Mudah-mudahan Susan udah bener-bener tenang."


"Ya udah, besok kamu kembaliin aja kalung itu ke Pak Rey. Biar dia simpan, jangan kamu buang. Kasihan, pasti itu barang yang berharga buat Pak Rey dan mendiang istrinya."


Dengan berat, Tia akhirnya setuju.


*


Tia melangkah tanpa semangat menyusuri setiap jengkal lantai tempatnya bekerja. Ia melihat Rey tampak sedang duduk di lobi kantor dengan tertunduk lesu.


Itu dia orangnya, mending gue balikin sekarang aja kalungnya. batin Tia.


Ia melangkah menghampiri Rey, kebetulan hari itu ia datang lebih awal dari biasanya karena berencana untuk menaruh kalung itu di laci meja kerja Rey.


Mendengar suara hentakan sepatu yang semakin mendekat, membuat Rey menoleh.


Rey lantas berdiri seperti menyambut kedatangan Tia.


"Tia, kamu ...." sapa Rey, namun terhenti ketika Tia mengambil sebuah kalung dari dalam tas.


"Saya mau kembalikan kalung milik mendiang istri Anda, Pak Rey." ucap Tia dengan tegas sembari menyodorkan kalung indah itu.


Rey terhenyak, "Kenapa kamu kembalikan?"


"Buat apa saya nyimpen barang milik orang lain? Saya tau, itu kalung Susan. Anda kasih ke saya karena enggak bisa lupain dia dan merasa bersalah kan? Anda melihat ada kemiripan saya sama Susan, makanya memilih saya untuk jadi penggantinya. Iya kan??"


Rey terdiam sejenak, "Iya, itu benar. Tapi enggak semuanya benar, Sayang. Saya benar-benar jatuh cinta sama kamu, Tia."


Rey menatap Tia dengan tatapan penuh penyesalan.


"Kenapa kamu harus mengundurkan diri?" tanya Rey.


"Saya tidak bisa kalau harus bekerja bersama dengan orang yang bikin saya tidak nyaman. Permisi." tegas Tia.


Rey kembali terdiam, ia hanya bisa menatap Tia yang melangkah menjauh menuju ke ruang kerja mereka.


Aku enggak nyangka kalau bakal begini jadinya. Kalau aku tau, lebih baik aku menahan diri supaya enggak mengutarakan perasaan ke Tia. batin Rey.


"Pak Rey, tumben duduk di sini?" tegur salah seorang petugas kebersihan yang datang dan hendak membersihkan lobi.


"Euh, enggak apa-apa. Kamu mau bersih-bersih di sini ya?"


"Iya Pak."


"Hmmm ... ya sudah, saya ke ruangan saja. Yang bersih ya?" ujar Rey sembari tersenyum.


"Siap, Pak."


Rey melangkah santai menuju ruang kerjanya, ia dapat membayangkan bagaimana situasi kerjanya jika harus berdekatan dengan Tia, pasti akan sangat canggung.


Ia pun memutuskan untuk berbalik arah menuju area parkir. Rey kembali menuju mobilnya, dan membuat penasaran salah satu petugas keamanan yang sedang berjaga pagi itu.


"Pak Rey mau kemana?" tanya sekuriti itu dengan sopan.


"Saya mau pulang." sahut Rey sembari membuka pintu mobilnya.


"Loh, ada yang ketinggalan ya Pak?"


Rey tak menjawab, ia hanya tersenyum getir dan mulai memegang setir. Perlahan namun pasti, mobilnya merangkak meninggalkan area kantor.


Ternyata Teguh yang saat itu sedang merokok di luar area kantor melihat Rey yang pergi pagi itu.


Ia berjalan menghampiri sekuriti yang tadi sempat bertanya pada Rey.


"Pak, itu Pak Rey mau kemana?" tanya Teguh.


"Oh, katanya sih mau pulang, Mas."


"Pulang? Kenapa?"


"Saya juga kurang tau, Mas. Mungkin ada yang ketinggalan."


"Hmmm ... ya udah, makasih ya Pak?" ucap Teguh.


"Iya Mas, sama-sama."


Teguh melangkah memasuki gedung kantor dengan membawa segelintir pertanyaan di benaknya, namun ia berusaha menepikan dan terus melangkah menuju ruang divisinya.


Terlihat Tia sedang duduk di depan layar komputernya. Teguh tak banyak bicara, ia langsung menghampiri rekannya yang terlihat serius itu.


"Ngapain, Ti? Jam segini udah sibuk aja." sapa Teguh.


Tia tak menyahut, jemarinya tetap lincah berloncatan di atas papan keyboard dengan tatapan mata yang fokus ke arah layar.


Teguh yang penasaran akhirnya ikut melihat ke layar komputer di meja kerja Tia, matanya sontak terbelalak.


"Ka-kamu, apa-apaan Ti? Kamu mau resign??" seru Teguh, tak percaya.


"Iya, aku mau cari kerja di kantor lain."


"Loh, kenapa? Di sini tuh udah paling bagus, Ti. Bonafid, bosnya baik, enak lah! Kurang apa lagi coba?? Lagian kamu kan belum lama kerja di sini?"


"Enggak apa-apa kok."


Teguh merasa heran dan menyayangkan jika Tia harus resign. Ia pun berusaha mengalihkan pembicaraan agar Tia sejenak melupakan niatannya untuk menyelesaikan surat pengunduran dirinya.


"Eh Ti, tadi tuh Pak Rey pergi naik mobil. Pas aku tanya ke satpam bilangnya mau pulang. Ada apa sih?"


Tia terhenyak, ia sontak berhenti mengetik dan menatap Teguh.


"Aku juga enggak tau, Mas. Aku kan bukan siapa-siapanya." sahut Tia, tegas.


Pasti ada sesuatu nih antara Tia dan Pak Rey, sikap mereka pagi ini aneh semua! pikir Teguh.


****