Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Berakhir


Sehari berselang, Danisha dipanggil pihak berwajib karena diduga telah melakukan penganiayaan hingga hilangnya nyawa seseorang.


Jenazah Rey ditemukan oleh asisten rumah tangganya yang pagi-pagi datang untuk melakukan aktivitas.


Asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Rey memang selalu kembali ke rumahnya pada sore hari, jika Rey sudah pulang bekerja.


Hendrawan yang baru tiba di rumah hari itu pun sangat terkejut melihat kedatangan petugas polisi yang menjemput anak gadisnya.


"Maaf Pak, saya rasa ini ada kesalahan. Anak saya enggak mungkin melakukan itu, enggak mungkin Pak!" Hendrawan bersikeras membela Danisha, karena ia tak tahu menahu soal kejadian malam itu.


"Kalau Bapak atau yang bersangkutan ingin memberikan penjelasan dan pembelaan, silakan ikut ke kantor. Tapi sesuai prosedur yang ada, saudari Danisha harus kami bawa ke kantor untuk kami mintai keterangan."


"Tapi kata siapa Pak kalau anak saya pelakunya?? Apa ada buktinya??"


"Bukti dari CCTV di rumah korban, Pak. Kami terus mengembangkan kasus ini, untuk itu saudari Danisha harus ikut kami."


Hendrawan menoleh ke arah putrinya yang hanya menunduk.


"Dan, kamu bilang dong Nak kalo bukan kamu pelakunya!! Papa enggak percaya, pasti bukan kamu kan??" desak Hendrawan.


Danisha mengangkat kepala, lalu menatap wajah papanya yang tampak shock dan panik.


"Papa yang kuat ya?" ucap Danisha, lirih.


Hendrawan terperangah dan heran karena putrinya tampak pasrah saat petugas membawanya ke dalam mobil polisi.


"Danisha!! Nak, kamu bilang dong ke polisi kalo bukan kamu pelakunya!!" seru Hendrawan sambil berjalan cepat mengejar Danisha yang sudah duduk diapit oleh petugas di dalam mobil polisi.


Tampak air mata mengalir di pipi gadis itu melihat papanya yang berusaha untuk mempertahankannya, dan tidak rela polisi membawanya.


Maafin Danisha, Pa ... Danisha belum berani cerita ke Papa sekarang. Maafin Danisha .... batin Danisha, merintih pedih.


Hendrawan menangis melihat mobil yang membawa putrinya sudah tak terlihat di ujung jalan perumahannya.


Ia segera berlari masuk ke dalam rumah dengan tergopoh-gopoh lalu mulai menelepon seseorang dengan ponselnya.


*


Menjelang malam, Darren yang mendadak kembali ke Indonesia karena mendapat kabar dari papanya itu pun tak kalah shock. Ia yang sedang merancang acara pertunangan dengan sang kekasih pun akhirnya tak bisa fokus.


"Ayo kita ke kantor polisi sekarang!" ajak Hendrawan, tergesa-gesa.


"Papa udah kasih tau Hendra belum?" tanya Darren.


Hendrawan menepuk dahinya, "Kenapa papa bisa sampai lupa ya?! Ka-kamu deh yang kasih tau ke Hendra."


Darren mengangguk lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelepon calon adik iparnya.


"Hen, kamu bisa ikut aku sama Papa ke


polsek Kebon Manggis sekarang??"


DEG


Mendadak Hendra panik, ia khawatir jika hal ini ada kaitannya dengan Danisha.


"Kantor polisi??" tanya Hendra.


"Iya, Danisha Hen!" tegas Darren.


Astagfirullah, bener kan?? Pasti ada kaitannya sama Danisha. Ya Allah ... akhirnya polisi tau tentang kejadian itu, Dan! batin Hendra.


"Halo, Hen??"


"Iya, iya-iya. Nanti saya nyusul ke sana."


*


"Hen, apa kamu tau kejadian itu?" tanya Darren.


Hendra terdiam sejenak, "Danisha memang datang ke rumah saya dini hari kemarin. Dia cerita semuanya."


"Ah ... ****!!! Itu anak bandel banget sih, udah jelas-jelas dilarang ke klub lagi masih aja nekat!!"


"Darren, jangan emosi! Kamu justru bikin pikiran papa makin kacau!" omel Hendrawan.


Hendra memegang pundak calon kakak iparnya itu, "Sabar dulu, jangan emosi Kak. Saya yakin Danisha enggak akan dihukum berat, karena dia cuma mau membela diri."


"Iya, tapi dengan dia ada urusan sama hukum begini kan jadi bikin malu!"


"Selamat malam, dengan keluarga saudari Danisha? Silakan ikut saya, tapi tolong jangan lama-lama karena jam besuk tahanan hanya sebentar." suara seorang petugas membuyarkan emosi Darren.


"Oh iya, baik Pak." sahut Hendrawan.


Mereka berjalan mengikuti petugas yang tadi mengajak mereka membesuk Danisha.


Tampak Danisha sedang duduk di sebuah kursi dalam sebuah ruangan yang dijaga ketat.


"Sayang ... anak papa, ayo pulang, Nak! Papa enggak mau kamu di sini! Ayo pulang, Nak ...!!" Hendrawan langsung sentimentil begitu melihat kondisi putrinya.


"Papa ... Papa yang kuat ya? Mudah-mudahan semua ini enggak berlarut-larut. Ini memang bukan murni kesalahan Danisha, Pa. Danisha cuma lagi berusaha mempertahankan diri, supaya enggak jadi mangsa untuk kedua kalinya sama lelaki brengsek itu! Tapi ... tetap aja, Danisha harus tanggung jawab karena udah ngilangin nyawa orang." sahut Danisha, berusaha tegar.


"Papa bakal minta sama istrinya Om Bintang, Tante Bulan supaya mau dampingi kasus kamu." ucap Hendrawan.


"Iya Dan, kemungkinan lo dapat keringanan hukuman pasti ada. Kalau bisa sih, bisa langsung bebas. Gue udah ada rencana ngadain acara engagement sama Sherley tau!" seloroh Darren.


Danisha tersenyum getir, lalu mengangguk lemah. Matanya sontak menatap sang tunangan yang sedari tadi hanya berdiam diri.


"Mas Hendra, aku harap Mas jangan nungguin aku. Mas Hendra berhak bahagia sama wanita lain yang jauh lebih baik." ucap Danisha dengan mata berkaca-kaca.


Hendrawan, Hendra dan Darren terkejut mendengar permintaan Danisha.


"Kamu ngomong apa sih, Dan?" tegur Hendra.


"Aku serius, Mas. Enggak usah tunggu aku. Mas Hendra harus nikah sama gadis lain yang lebih baik."


"Kamu kira saya ini lelaki apa, Dan?? Kita bahkan udah tunangan!"


"Aku mau putusin pertunangan ini, supaya enggak jadi beban buat kita."


"Dan, lo jangan gila deh! Udah bagus ada Hendra yang tulus sama lo, kenapa lo harus kecewain dia sih??" omel Darren yang tak habis pikir dengan keputusan sang adik.


Danisha tersenyum getir namun sejurus kemudian bibirnya bergetar hebat, pertanda ia sedang merasakan kepedihan mendalam dalam hatinya.


"Gue emang udah gila, Darren. Tapi paling enggak, gue enggak nyiksa lelaki setulus dan sebaik Hendra buat terus nunggu proses hukum gue sampai selesai dan bebas. Lama atau sebentar, gue pasti tetep ngerasain jeruji besi kan??"


"Tapi Dan ...."


"Udah, Mas. Mulai sekarang, antara kita udah enggak ada apa-apa lagi. Mas Hendra enggak ada ikatan dan kewajiban lagi ke aku. Makasih karena udah tulus cinta sama aku." tukas Danisha sambil bersikap dingin pada Hendra.


"Darren, tolong jagain Papa. Jangan kabur ke Aussie terus lo buat pacaran!" celetuk Danisha kemudian, berusaha mencairkan suasana yang sangat penuh kepedihan hati.


Hendra tercekat, lidahnya kelu. Ia ingin sekali menolak keputusan Danisha, tapi gadis itu terus bersikap dingin padanya.


Saya tau kamu sengaja begitu supaya bisa cepat ngelupain hubungan kita, dan supaya saya bisa cepat move on dari kamu kan, Dan?? Kamu itu gadis yang baik, Danisha. Saya juga mau kamu bahagia, entah dengan saya atau lelaki lainnya. batin Hendra.


****