Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara

Sang Perfeksionis 2 : Dirgantara
Bertemu Lagi


"Kak, aku ngerasa artis nyebelin itu lagi ada masalah deh." Bisik Tia kepada Hendra yang tengah duduk berdampingan.


"Ya iya lah Dek, sekarang ini masalahnya. Dia harus tanggung jawab biayain empat motor sekaligus." Sahut Hendra sambil tersenyum.


"Ih bukan Kak, ada lagi ...."


"Jangan sotoy ah, udah biarin aja. Yang penting masalah dia ke motor kita ini cepat selesai. Harusnya sekarang kita udah naruh berkas lamaran kamu di perusahaan Erlangga."


Tia terdiam, ia tak mau banyak bicara dulu karena situasinya sedang tidak memungkinkan.


Sementara itu Ilona tampak sedang menelepon seseorang dengan ponselnya, menjauh dari orang-orang yang tengah duduk menunggu motornya diperbaiki.


Setelah selesai menelepon, Ilona duduk di sebuah kursi yang berseberangan dengan Tia namun berjarak sekitar lima meter.


Tia sesekali mencuri pandang ke arah Ilona yang tampak gusar. Ia selalu berganti posisi duduknya dan sering melihat ke layar ponsel untuk melihat jam.


Selang dua puluh lima menit kemudian datang sebuah mobil lalu berhenti di depan bengkel tersebut. Raut wajah Ilona yang semula tampak gelisah sontak berubah sumringah. Ia dengan cepat bangkit dari duduknya dan berjalan cepat mendekati mobil itu.


"Ah, finally sampai juga!!" Ujar Ilona, girang.


Tampak seorang lelaki bertubuh gemuk dan berkepala agak plontos keluar dari mobil warna hitam, sedangkan seorang lagi keluar dari pintu sebelah kanan mobil.


Netra Tia terpana pada sosok yang baru saja keluar dari pintu sebelah kanan mobil tersebut. Tampak seorang pemuda tampan berkaca mata hitam, bertopi warna putih, memakai kemeja denim dipadu celana panjang warna putih, dan bersepatu merk terkenal dengan model yang keren.


"Itu kan ... cowok yang ...." Celetuk Tia, lirih.


"Kenapa Dek?" Tanya Hendra, heran.


"Itu cowok yang pernah aku ceritain kalau mobilnya keserempet motorku waktu itu, Kak."


Hendra memandangi lelaki yang dimaksud oleh adiknya.


Kayak enggak asing sama lelaki itu, tapi .... Batin Hendra.


"Mana aja motor yang harus kamu urus?" Tanya pria agak plontos yang tak lain adalah Om Bono kepada Ilona.


"Ini Om, semuanya. Om bisa kan tolong handle di sini? Biar aku bisa pulang dulu terus siap-siap ke acara nanti?" Sahut Ilona sembari menunjuk empat motor yang berjejer dan sedang ditangani oleh para mekanik.


"Ya udah kamu pulang sama Igan aja, biar Om yang nungguin di sini dan urus pembayarannya." Ujar Om Bono.


Igan tampak melihat sekeliling dan orang-orang yang sedang menunggu di sana, kemudian tatapannya terhenti ketika melihat sosok Tia di antara orang-orang tersebut.


Itu gadis yang pernah enggak sengaja nyerempet mobil gue, apa dia kena tabrak Lona juga? Batin Igan bertanya-tanya.


Tak disangka, Igan pun perlahan melangkah mendekati Tia. Tia menatap Igan dengan rasa khawatir.


Dia ngapain deketin ke sini? Apa sekalian mau minta ganti rugi mobilnya waktu itu? Bisa gawat nih! Batin Tia, was-was.


"Kamu yang waktu itu ....?" Tanya Igan ketika sudah tepat berdiri di depan Tia.


"I-iya Mas, tapi saya belum ada uang buat bayar kerusakan mobilnya. Saya baru mau ngelamar kerja sebenarnya, tapi ternyata ada insiden begini. Maaf ya Mas?" Sahut Tia,


Melihat adiknya terlihat cemas membuat Hendra segera berdiri.


"Memang mobilnya rusak parah, Mas?" Tanya Hendra.


Igan menoleh ke arah Hendra, hatinya bertanya-tanya.


Siapa nih cowok, apa pacarnya?


"Oh, enggak kok Mas. Mobil saya cuma tergores sedikit, enggak masalah." Sahut Igan sambil tersenyum.


"Berarti tidak usah ada ganti rugi?" Tanya Hendra ingin menegaskan.


"Enggak, enggak usah." Sahut Igan.


"Igan! Yuk anterin aku balik?" Ajak Ilona ke Igan dengan suara lantang membuat semua mata mengarah padanya.


"Igan? Hmm ... maaf, apa ini Mas Igan Erlangga?" Tanya Hendra.


Igan menoleh ke arah Hendra dan menjawab, "Iya, saya Igan. Kenapa, Mas?"


"Ya jelas kamu familiar sama Igan, dia kan terkenal, artis!" Seloroh Ilona yang sudah berjalan mendekati mereka.


"Iya, saya juga tahu. Tapi saya pangling lihat Mas Igan penampilannya beda." Sahut Hendra.


"Memangnya Mas ini kerja di kantor ayah saya?" Tanya Igan.


"Iya Mas, saya petugas keamanan."


"Oh, cuma satpam?" Celetuk Ilona, nyinyir.


"Namanya siapa, Mas?" Tanya Igan tanpa mempedulikan celetukan Ilona.


"Saya Hendra, Mas. Ini adik saya, Tia."


Igan sontak menoleh ke arah Tia dan tersenyum.


Oh, namanya Tia. Syukurlah ternyata mereka cuma kakak beradik. Batin Igan.


"Kalian kakak adik? Kok enggak mirip?" Tanya Ilona.


"Emangnya enggak boleh kalau kakak adik terus enggak mirip? Udah yuk, katanya mau balik?" Timpal Igan lalu mengajaknya pergi dari sana.


"Ayo lah, dari tadi kan aku ngajak kamu balik." Jawab Ilona, kesal.


"Kamu tunggu di mobil dulu ya?" Pinta Igan pada Ilona.


"Jangan lama-lama ya?" Ujar Ilona kemudian ia beranjak setelah Igan mengangguk.


"Hmmm ... tadi kamu bilang mau ngelamar kerja, di mana?" Tanya Igan pada Tia.


Tia tertegun mendengar pertanyaan Igan yang tampak perhatian padanya.


"Di perusahaan Erlangga, Mas." Sahut Hendra, sedangkan Tia masih tertegun melihat Igan.


"Oh begitu? Semoga bisa diterima ya di sana." Ujar Igan.


Mereka sontak terkejut ketika terdengar suara klakson berkali-kali dari mobil Ilona.


"Sudah dipanggil pacarnya tuh, Mas." Ujar Hendra.


"Bukan, dia bukan pacar saya. Ya sudah, saya pergi dulu. Tia, goodluck ya nanti!" Ucap Igan sambil tersenyum.


"Iya, terima kasih Mas Igan." Sahut Tia, malu-malu.


Igan bergegas menuju ke mobil Ilona dimana gadis itu sudah menunggunya dengan kesal.


"Kan aku udah bilang jangan lama-lama!" Sambut Ilona sangat ketus ketika Igan memasuki mobil.


Igan hanya menghela napas tanpa menggubrisnya, namun itu justru membuatnya semakin kesal karena merasa tidak dipedulikan.


"Kamu tuh kenapa sih kalau lagi sama cewek itu pasti cuekin aku? kita rekan duet, harusnya jaga perasaan supaya bisa lebih dekat, itu juga berpengaruh loh buat penampilan kita." Ujar Ilona.


"Ya aku tahu Lon, kita ini rekan duet. Tapi kamu juga harus tahu batas untuk enggak terlalu mengekang urusan pribadi aku. Aku cuek itu karena omongan kamu keterlaluan, Lon! Enggak seharusnya kamu ngomong sekasar itu ke orang lain, termasuk mereka."


"Kasar gimana? Emang merekanya aja yang ngeselin!"


"Ah udah lah, kamu mau aku anterin balik enggak?"


"Ya iya lah, kan kita mau ada acara bareng nanti."


"Ya udah, jangan bahas yang tadi lagi."


"Oke-oke, terserah kamu aja! Aku emang enggak pernah ngerasain nyaman di dunia ini, enggak ada yang sayang sama aku! Aku benci semuanya, aku benci!!!" Teriak Ilona penuh emosi.


Igan terdiam lalu menatap Ilona dengan heran.


Ini cewek kenapa sih, kok tahu-tahu histeris? Batin Igan bertanya-tanya.


***